Mata Yao Han terbuka perlahan, beberapa kali mengerjap untuk menyesuaikan cahaya yang mengenai matanya. Dia kemudian menyadari berada dalam posisi berbaring dan hal yang dilihatnya adalah langit biru dengan beberapa awan kecil yang bergerak pelan. Uniknya awan itu berwarna emas.
Dahinya mengerut, lalu karena merasa ada yang aneh, dia mengubah posisi menjadi duduk. Mata Yao Han melebar dan napasnya sempat terhenti saat melihat tempat sekitarnya yang sangat asing dan tidak pernah dalam bayangannya sekalipun.
"Dimana aku? Tempat apa ini?"
Sejauh mata Yao Han memandang, hanya ada air yang luas. Yao Han sempat menjerit pelan menyadari dia sedang duduk diatas air yang sangat jernih.
"Aku bisa duduk diatas air? Ajaib..." gumam Yao Han.
Kesenangan Yao Han tidak lama karena jantungnya berdebar kencang, wajahnya cemas karena dia sama sekali tidak tahu tempat dia berada sekarang. Ingin berteriak minta tolong dan berharap ada seseorang, tetapi selain dirinya tidak ada orang atau sesuatu pun disana.
"Aduh... tempat apa ini? Bagaimana caranya aku kembali?" Yao Han menggaruk kepalanya frustasi dan ingin menangis.
"Tenanglah, anak muda."
Yao Han merasa jantungnya berhenti sejenak, dengan penuh waspada dia membalikkan badan untuk melihat si pemilik suara yang mengejutkannya.
Sekitar lima langkah darinya ada seorang pria serba putih. Mulai dari rambut, alis, kumis, janggut panjang, dan pakaiannya. Wajahnya terlihat seperti pria berusia tiga puluhan tahun, serta menampilkan wajah ramah dan senyuman hangat.
"Aku minta maaf jika mengejutkanmu. Mendekatlah, aku tidak akan menyakitimu."
Yao Han sedikit ragu, tetapi melihat pembawaan pria itu, dia mendekat. Pria serba putih itu duduk di kursi giok dan ada meja giok bundar didepannya.
Ketika Yao Han sudah satu langkah di depan meja giok, pria itu mengibaskan tangannya kemudian muncul sebuah kursi giok yang sama persis dengan kursi yang dia duduki.
'Woah, hebat! Paman ini pasti penyihir!'
"Tidak seperti yang kau pikirkan, aku bukanlah penyihir."
"Eh?" Yao Han menatap pria itu kagum, 'Paman ini ternyata juga bisa membaca pikiran... hebatnya.'
"Kenapa kau tidak duduk saja agar kita bisa berbincang lebih leluasa?"
Yao Han tersadar dan duduk. Lalu menangkupkan tangan dan sedikit membungkuk.
"Paman, namaku Yao Han. Maafkan sikap lancangku sebelumnya."
Sikap sopan Yao Han memang berkat ajaran dari Nenek Yue yang mengajari untuk selalu hormat pada orang yang lebih tua. Selain itu juga dikarenakan aura aneh yang terpancar dari pria itu yang membuatnya tampak berwibawa.
Pria itu tertawa kecil, "Aku tidak memikirkan hal kecil seperti itu. Tidak perlu memperkenalkan diri, aku sudah mengetahui namamu. Tepatnya aku tahu tentang dirimu sejak lahir sampai kita bertemu saat ini."
Yao Han menggaruk pipinya, menatap pria itu sedikit canggung, "Lalu... bolehkah aku mengetahui nama Paman?"
"Aku biasa dipanggil Bai Tian. Kau bisa memanggilku Paman Bai. Agar lebih akrab, aku akan memanggilmu Han'er."
'Langit putih? Nama yang cocok sekali dengan penampilan Paman,' batin Yao Han yang sejenak lupa jika pria bernama Bai Tian ini mampu membaca pikirannya, "Baiklah, Paman Bai."
Bai Tian mengangguk pelan, tidak berkomentar atas isi hati Yao Han terhadap namanya.
"Boleh aku tahu siapa Paman Bai sebenarnya?"
"Siapa aku tidak terlalu penting karena aku bukanlah tokoh utama dalam cerita ini."
"Maaf, Paman, aku tidak mengerti apa yang Paman katakan."
"Kita bertemu karena takdir langit yang kau miliki dan aku disini untuk memberikan sedikit bimbingan padamu."
Perkataan Bai Tian membuat Yao Han kebingungan.
"Paman, aku hanya anak berumur sepuluh tahun. Tolong sederhanakan kalimat yang Paman sampaikan."
Bai Tian tertawa pelan, "Baiklah, aku bicara terlalu tiba-tiba. Kau bingung karena berada ditempat yang sangat asing. Hal ini dikarenakan sebuah kejadian yang menimpamu, apa kau ingat?"
"Hm, seingatku sebelumnya aku berada di pinggir sungai, sedang bermeditasi."
Bai Tian mengangguk pelan, "Benar. Jadi kau tidak mengetahui kejadian setelahnya. Aku akan menunjukkan sesuatu, coba kau perhatikan."
Bai Tian mengayunkan tangan kanannya, dua meter dari arah samping keduanya sekumpulan air membentuk sesuatu. Sebuah cermin besar. Yao Han tidak kaget lagi dengan apa yang dilakukan Bai Tian, menganggap pria itu sebagai orang sakti.
Cermin itu menunjukkan sesuatu dengan sangat jelas. Yao Han terpana ketika melihat dirinya sendiri di cermin tersebut.
"Oh, itu aku-!" Yao Han berseru pelan.
"Ya, itu adalah dirimu yang sedang bermeditasi pada saat sebelum kejadian yang menimpamu dan membuatmu bertemu denganku. Perhatikan terus, aku harap kau tidak terkejut nantinya."
Yao Han penasaran dengan ucapan Bai Tian, jadi dia kembali memperhatikan cermin dalam diam.
Firasat Yao Han menjadi tidak enak semakin lama melihat dirinya dalam cermin. Benar saja, kejadian selanjutnya bahkan sangat mengejutkan. Dia melihat dirinya tersambar petir emas dan tubuhnya hanyut ke sungai. Batu yang selalu dia duduki saat bermeditasi di pinggir sungai menjadi debu.
Pikirannya mendadak kosong, wajahnya pucat, dan jantungnya berdetak kencang. Yao Han larut dalam kekosongan pikiran dan tidak menyadari cermin besar ajaib itu berubah menjadi air kembali.
Bai Tian diam memperhatikan Yao Han dan sengaja tidak menegurnya, menunggu Yao Han sadar dengan sendirinya.
"P-Paman, itu artinya... aku sudah... mati? Aku mati tersambar petir? Lalu tempat ini... inikah alam baka?" Yao Han bertanya lirih dan sedikit terbata. Pandangan matanya masih sedikit kosong dan wajahnya juga masih pucat.
"Kau salah tentang kau sudah mati. Kalau kau sudah mati, bukan tempat ini yang kau tuju."
"Lalu tempat apa ini?"
"Ini adalah alam peralihan, alam antara kehidupan dan kematian."
Yao Han diam sejenak untuk berpikir, kemudian dia mengambil sebuah kesimpulan.
"Berarti aku belum mati? Apa mungkin aku sedang sekarat atau semacamnya?"
"Sederhananya begitu. Kau yang saat ini didepanku adalah roh atau semacam sebuah kesadaran, sementara tubuh fisikmu sedang berada di suatu tempat di daratan kau tinggal."
Disatu sisi Yao Han merasa senang belum mati, disisi lain dia khawatir tentang tubuh fisiknya. Seberapa parahkah luka yang didapat tubuhnya akibat sambaran petir?
"Tidak perlu khawatir tentang tubuh fisikmu, ada seseorang yang menemukan, membawa, bahkan merawatnya."
Yao Han tidak meragukan ucapan Bai Tian, lalu dia menghembuskan napas lega. Dia harus berterimakasih pada siapapun orang baik tersebut.
"Kemunculan petir emas secara alami jarang terjadi dan membawa pertanda khusus. Dalam kasusmu, petir emas itu merupakan pertanda bagus."
"Apanya yang bagus dari tersambar petir, Paman?" Yao Han merasa ada yang salah dengan pikiran Bai Tian.
"Mungkin kau akan menganggapku gila atau semacamnya, tetapi petir emas itu adalah hadiah langit atas harapanmu."
Catatan:
Arti kata 'Yao' pada nama Yao Han berarti obat. Nama marga ini terinspirasi dari nama tokoh Yao Lao (Immortal Destiny) dan Yao Chen (Battle Through The Heaven).
Paman Ling yang nama lengkapnya Ling Tian di versi sebelumnya, saya ubah menjadi Bai Tian. 'Bai' artinya putih, 'Tian' artinya langit. Bai Tian berarti Langit Putih, merujuk pada penampilan uniknya yang serba putih.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 242 Episodes
Comments
💪👍👍👍
2024-01-30
1
Ahmad Pahim
mampir,,
2023-04-26
0
Ipeb DoAnk Ns
Oohh... ternyata penikmat ID n BTTH jg rupanya ....
2023-01-22
0