Weekend 3

Karena merasa diabaikan Zahra pergi sendiri ke bawah bukit di bagian lain.

" Semuanya nggak ada yang peduli padaku..." gumam Zahra.

Disaat seperti ini Zahra teringat kedua orangtuanya.

" Ayah ibu, Zahra merindukan kalian..." batin Zahra sambil menitikkan airmatanya.

Tak terasa Zahra terus berjalan sampai di sebuah sungai di bawah perbukitan. Zahra turun ke sungai duduk di atas batu bermain - main air untuk menghilangkan kesedihannya.

Sementara di tempat lain, Arya berteriak memanggil Zahra. Namun tak ada sahutan, Arya khawatir terjadi apa - apa dengan Zahra.

" Zahraaa...!!!"

Berkali - kali Arya memanggil tapi Zahra tak menyautinya. Tak lama Ferdi, Lucky dan Reyhan kembali turun menghampiri Arya.

" Ar, lho kenapa...? Bingung gitu, siap -siap ya kita liburan ke Bali..." ucap Lucky bersemangat.

" Cihh... liburan aja yang lho pikirin. Kalian tidak lihat Zahra hilang..." jawab Arya kesal.

" Apaaa....? Adek gue hilang. Lho jangan bercanda Ar....?" ucap Ferdi kaget.

" Kalian lihat aja sendiri, dari tadi gue cari nggak ketemu..." saut Arya.

" Kita harus mencarinya kemana Ar..? Mungkin ada tempat yang ingin di kunjungi Zahra...?" tanya Lucky.

" Mana gue tau, emang gue bapaknya..." kata Arya.

Mereka berempat terus mencari Zahra ke seluruh bukit. Mereka khawatir Zahra tidak ditemukan karena hari sudah sore. Di tengah jalan mereka bertemu dengan pekerja di perkebunan.

"Maaf pak, apa kalian melihat seorang gadis lewat di tempat ini..." tanya Ferdi.

" Tadi kami melihat seseorang menuruni bukit, mungkin menuju ke arah sungai di bawah sana..." jawab salah seorang pekerja.

" Terima kasih pak..." ucap Reyhan.

Mereka berempat menuruni bukit mencari sungai yang di tunjukkan pekerja kebun teh itu. Mereka berteriak memanggil Zahra. Sampai di pinggir sungai mereka melihat Zahra duduk di atas batu sambil bermain air.

" Zahraaaa..." teriak Ferdi.

Zahra menoleh ke belakang, disana sudah ada empat orang laki - laki yang tadi meninggalkannya. Zahra diam saja tak menyauti panggilan mereka. Akhirnya mereka berempat berjalan mendekat ke arah Zahra.

"Dek, kamu kalau mau pergi bilang - bilang dong. Biar kita nggak khawatir...?" ucap Ferdi.

" Masih inget kalau ada aku disini...?" saut Zahra tanpa menoleh.

" Maaf, kami nggak sengaja ninggalin kamu tadi..." ucap Reyhan.

" Kita pulang, udah mau maghrib..." ucap Lucky.

" Zahra, ayo pulang..." ajak Ferdi.

" Zahra mau pulang kalau di gendong..." saut Zahra masih marah.

" Arya, lho yang gendong. Lho kan yang kalah tadi lomba lari..." ucap Lucky.

" Gak mau, biarin aja tinggal disini kalau nggak mau jalan..." saut Arya datar.

" Woii...lho mau ninggalin adek gue disini. Gue bantai lho semua..." teriak Ferdi.

" Ya udah, lho aja yang gendong. Diakan adek lho..." jawab Reyhan santai.

" Ayah Ibu...Zahra pengen ikut kaliaaannn...." teriak Zahra.

" Zahraaa... jangan asal kalau ngomong. Ayo kita pulang sekarang..." kata Ferdi marah.

" Kalian pergi saja, aku nggak butuh kalian...." teriak Zahra sambil menangis.

" Sudah kalian pulang aja dulu, biar gue yang bujuk Zahra pulang..." ucap Arya pelan pada teman - temannya.

"Lho yakin bisa bujuk Zahra pulang...?" tanya Ferdi.

"Iya, lho percaya sama gue. Sekarang kalian pergi sana..." usir Arya sambil tersenyum.

" Awas kalau terjadi apa - apa sama adek gue. Lho gue kubur di tempat ini..." ancam Ferdi.

" Setidaknya gue nggak mati sendirian...hahahaa..." seringai Arya.

" Sialan lho..." umpat Ferdi.

" Cepat pergi sana keburu malem..." usir Arya.

Setelah ketiga temannya pergi, Arya mendekati Zahra dan duduk di sampingnya. Sejenak Arya berpikir pernah mengalami kejadian seperti ini sebelumnya.

" Za, kita pulang ya...? udah mau maghrib. Emangnya kamu mau ketinggalan sholat maghrib...?" rayu Arya.

" Nanti kalau ada hantu gimana...? Atau jangan - kamu bukan....?" ucap Arya lagi tapi tak melanjutkan kalimatnya.

" Kamu mau bilang kalau aku ini hantu..." teriak Zahra sambil berdiri.

Sejenak mereka berdua diam. Zahra dan Arya teringat pada masa lalu mereka masing - masing.

" Tidak mungkin..." kata mereka bersamaan.

" Kamu bilang apa tadi...?" tanya Zahra

" Tiii...tidak apa - apa. Ayo kita pulang, udah sore..." jawab Arya gugup.

" Tapi, saya masih betah disini..." ucap Zahra pelan.

" Gimana kalau besok pagi kita kesini lagi. Kamu bisa menikmati waktu disini sepuas kamu..." rayu Arya. Arya sudah lupa kalau Zahra itu bawahannya. Arya hanya tak suka melihat Zahra bersedih.

" Tapi, mas Arya temenin Zahra ya...?" pinta Zahra.

" Iya, besok saya temenin kamu disini. Kita berangkat selepas shubuh, biar bisa melihat mentari muncul dari celah pepohonan. Kamu pasti suka..." ucap Arya. Tanpa sadar Arya begitu perhatian pada Zahra.

" Ya udah pulang, tapi Zahra capek..." kata Zahra.

" Sini aku gendong. Cepat naik sini...?" ajak Arya.

" Mas Arya yakin mau gendong Zahra...?" tanya Zahra

" Iya, cepetan... sebelum saya berubah pikiran..." jawab Arya.

Zahra sangat senang ternyata Arya sangat baik. Zahra tersenyum di gendongan Arya.

" Mas Arya masih kuat, ini jalannya naik. Zahra turun aja deh..." kata Zahra.

" Udah nggak apa - apa, saya masih kuat kok..." jawab Arya walaupun kakinya sudah terasa berat.

" Kita istirahat dulu mas, pasti capek gendong Zahra dari bawah sana..." ucap Zahra lalu turun dari gendongan Arya.

" Harusnya dari tadi Za, kamu turun dari punggungku. Kakiku rasanya udah mau patah semua..." batin Arya.

" Ya udah, kita istirahat sebentar terus pulang..." kata Arya.

" Mas Arya, besok pagi jadi kan ke sungai lagi...?" tanya Zahra.

" Iya, kan saya udah bilang tadi. Arya tidak akan pernah mengingkari janjinya..." ucap Arya.

" Ya udah, yuk kita jalan lagi..." ajak Zahra sambil berjalan mendahului Arya.

" Nggak mau di gendong lagi...?" tanya Arya.

" Nggak usah, Zahra masih bisa jalan sendiri. Nanti mas Arya pingsan gendong Zahra terus..." jawab Zahra sambil tersenyum.

Mereka akhirnya sampai di Villa tepat waktu maghrib.

" Kamu mandi dulu sana, setelah itu aku bakalan masakin makanan yang enak buat kamu..." ucap Arya.

" Beneran mas Arya mau masak, emangnya nggak capek...?" tanya Zahra.

" Nggak apa - apa kan banyak yang bantuin. Pokoknya kamu terima beres aja..." kata Arya sambil mengacak - acak rambut Zahra lalu pergi ke kamarnya.

Setelah sholat Isya' Zahra keluar dari kamarnya. Zahra mendengar suara gaduh di dapur. Ternyata Arya dan teman - temannya sedang memasak. Zahra duduk di meja makan sambil melihat aktifitas mereka. Tiba - tiba Reyhan menghampirinya.

" Selamat malam tuan putri, ada yang anda butuhkan...?" tanya Reyhan sambil membungkukkan badannya.

" Saya mau lemon tea hangat.." ucap Zahra walaupun heran dengan tingkah keempat orang di depannya.

" Saya akan membuatnya tuan putri, ada yang anda butuhkan lagi.." ucap Reyhan yang di jawab gelengan kepala oleh Zahra.

" Lama - lama bisa gila aku disini..." gumam Zahra sambil berjalan ke ruang tamu.

Tak lama Arya datang membawa lemon tea pesanan Zahra sambil duduk di sampingnya.

" Kamu masih marah dengan kejadian tadi Za...?" tanya Arya.

" Nggak, asal mas Arya nggak lupa sama janji yang tadi..." jawab Zahra.

" Iya, saya janji besok kita pergi kesana lagi..." ucap Arya.

" Kita makan sekarang, semuanya udah siap..." kata Arya lagi.

Mereka berlima makan dengan tenang, Zahra tak menyangka mereka bisa memasak makanan yang sangat lezat. Selesai makan merekapun tak mengizinkan Zahra membereskan meja makan. Zahra diajak Arya ke samping Villa melihat langit di malam hari yang sangat cerah.

.

.

.

TBC

🌕️🌕️🌕️

Terimakasih untuk para pembaca, semoga karya saya bisa menjadi hiburan yang menarik untuk kalian....

🌌🌌🌌

.

.

.

Episodes
1 Sendiri
2 Melihatmu menangis
3 Perkenalan
4 Janji
5 12 tahun telah berlalu
6 Menghilangkan lelah hati
7 Refreshing
8 Tugas Kampus
9 Magang
10 Sabar, Zahra...!!!
11 Berusaha untuk bertahan
12 Tetap bertahan
13 Weekend 1
14 Weekend 2
15 Weekend 3
16 Menikmati waktu bersama
17 Kembali beraktifitas
18 Mengenal keluarga Dirgantara
19 Merasakan kasih sayang orangtua
20 Menjaga hati
21 Hatiku takkan goyah
22 Semakin dekat
23 Tak bisa jauh darimu
24 Mama bikin ulah lagi
25 Kepulangan Hasan
26 Salah paham
27 Mengunjungi makam Ayah Ibu
28 Pulang ke rumah Rey
29 Pura - pura sakit
30 Jaga jarak
31 Liburan ke Bali
32 Menikmati malam di pantai
33 Menikmati malam di pantai
34 Menikmati malam di pantai
35 Terabaikan lagi
36 Kuatkanlah hatiku
37 Aku harus bisa hidup mandiri
38 Sakit
39 Maafkan aku
40 Pulang ke Jakarta
41 Kembali bekerja
42 Ke Bogor
43 Bertemu Kakek
44 Touring
45 Sore hari di penginapan
46 Pemandangan dari atas bukit
47 Berkeliling kota Bandung
48 Hari yang melelahkan
49 Persiapan ulang tahun kakek
50 Memantapkan hati
51 Menjelang peresmian panti asuhan
52 Peresmian Panti Asuhan dan Surprise untuk kakek
53 Merasa jauh
54 Rasa itu tak bisa hilang
55 Monas
56 Semakin dekat waktu bertemu dengannya
57 Sidang skripsi
58 Firasat
59 Membuat kenangan
60 Musibah
61 Bukit Kenangan
62 Membuang rasa kecewa
63 Tak ingin jauh darimu
64 Hati yang kalut
65 Kapan kau kembali
66 Setiap nafasku adalah do'a untukmu
67 Demi Mama
68 Menyelesaikan masalah
69 Ku berserah kepadaMu
70 Wisuda
71 Masa lalu Mama
72 Persiapan pernikahan
73 Tak sanggup melepasmu
74 Pernikahan
75 Pernikahan (2)
76 Bertahanlah
77 Sadar
78 Menghirup udara pagi
79 Pulang ke rumah Mama Ririn
80 Melelahkan
81 Reyhan & Alina
82 Hatiku sedang bahagia
83 Menikmati suasana malam hari
84 Sepi tanpamu
85 Rindu bertemu
86 Mencari kesibukan
87 Apa yang sebenarnya terjadi...?
88 Mengungkap masa lalu
89 Bersama keluarga
90 Seperti ada yang hilang
91 Liburan bersama
92 Berjalan bersamamu
93 Bermain di pantai
94 Pantai di pagi hari
95 Kembali ke kantor
96 Hukuman
97 Semakin ku sayang padamu
98 Mengunjungi Panti
99 Menuju bukit kenangan
100 Rangkaian Cinta di Bukit Kenangan
101 Merindukanmu
102 Hadiah terindah
103 Masalah
104 Maaf
105 Asisten untuk Fahri
106 Sepi tanpamu
107 Pulang
108 Permintaan Mama
109 Rencana Pernikahan
110 Cemburu
111 Lamaran
112 Menanti hari bahagia
113 Malam sebelum pernikahan
114 Hari Bahagia
115 Hari Bahagia
116 Resepsi pernikahan
117 Indahnya bersama kekasih halal
118 Kejutan tak terduga
119 Kita adalah saudara
120 Bahagia bersamamu
121 Merangkai mimpi di Bukit Kenangan
122 Buah Cinta
123 Kebahagiaan kita
124 Keinginan anak atau bundanya...?
125 Sabar Arya....!!!
126 Menanti hadirmu
127 Anugerah terindah
Episodes

Updated 127 Episodes

1
Sendiri
2
Melihatmu menangis
3
Perkenalan
4
Janji
5
12 tahun telah berlalu
6
Menghilangkan lelah hati
7
Refreshing
8
Tugas Kampus
9
Magang
10
Sabar, Zahra...!!!
11
Berusaha untuk bertahan
12
Tetap bertahan
13
Weekend 1
14
Weekend 2
15
Weekend 3
16
Menikmati waktu bersama
17
Kembali beraktifitas
18
Mengenal keluarga Dirgantara
19
Merasakan kasih sayang orangtua
20
Menjaga hati
21
Hatiku takkan goyah
22
Semakin dekat
23
Tak bisa jauh darimu
24
Mama bikin ulah lagi
25
Kepulangan Hasan
26
Salah paham
27
Mengunjungi makam Ayah Ibu
28
Pulang ke rumah Rey
29
Pura - pura sakit
30
Jaga jarak
31
Liburan ke Bali
32
Menikmati malam di pantai
33
Menikmati malam di pantai
34
Menikmati malam di pantai
35
Terabaikan lagi
36
Kuatkanlah hatiku
37
Aku harus bisa hidup mandiri
38
Sakit
39
Maafkan aku
40
Pulang ke Jakarta
41
Kembali bekerja
42
Ke Bogor
43
Bertemu Kakek
44
Touring
45
Sore hari di penginapan
46
Pemandangan dari atas bukit
47
Berkeliling kota Bandung
48
Hari yang melelahkan
49
Persiapan ulang tahun kakek
50
Memantapkan hati
51
Menjelang peresmian panti asuhan
52
Peresmian Panti Asuhan dan Surprise untuk kakek
53
Merasa jauh
54
Rasa itu tak bisa hilang
55
Monas
56
Semakin dekat waktu bertemu dengannya
57
Sidang skripsi
58
Firasat
59
Membuat kenangan
60
Musibah
61
Bukit Kenangan
62
Membuang rasa kecewa
63
Tak ingin jauh darimu
64
Hati yang kalut
65
Kapan kau kembali
66
Setiap nafasku adalah do'a untukmu
67
Demi Mama
68
Menyelesaikan masalah
69
Ku berserah kepadaMu
70
Wisuda
71
Masa lalu Mama
72
Persiapan pernikahan
73
Tak sanggup melepasmu
74
Pernikahan
75
Pernikahan (2)
76
Bertahanlah
77
Sadar
78
Menghirup udara pagi
79
Pulang ke rumah Mama Ririn
80
Melelahkan
81
Reyhan & Alina
82
Hatiku sedang bahagia
83
Menikmati suasana malam hari
84
Sepi tanpamu
85
Rindu bertemu
86
Mencari kesibukan
87
Apa yang sebenarnya terjadi...?
88
Mengungkap masa lalu
89
Bersama keluarga
90
Seperti ada yang hilang
91
Liburan bersama
92
Berjalan bersamamu
93
Bermain di pantai
94
Pantai di pagi hari
95
Kembali ke kantor
96
Hukuman
97
Semakin ku sayang padamu
98
Mengunjungi Panti
99
Menuju bukit kenangan
100
Rangkaian Cinta di Bukit Kenangan
101
Merindukanmu
102
Hadiah terindah
103
Masalah
104
Maaf
105
Asisten untuk Fahri
106
Sepi tanpamu
107
Pulang
108
Permintaan Mama
109
Rencana Pernikahan
110
Cemburu
111
Lamaran
112
Menanti hari bahagia
113
Malam sebelum pernikahan
114
Hari Bahagia
115
Hari Bahagia
116
Resepsi pernikahan
117
Indahnya bersama kekasih halal
118
Kejutan tak terduga
119
Kita adalah saudara
120
Bahagia bersamamu
121
Merangkai mimpi di Bukit Kenangan
122
Buah Cinta
123
Kebahagiaan kita
124
Keinginan anak atau bundanya...?
125
Sabar Arya....!!!
126
Menanti hadirmu
127
Anugerah terindah

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!