"Selamat pagi Pak Presiden, perkenalkan nama saya Agen Ronald dari FBI dan ini Agen Catheline dari CIA."
Kevin Hendrawan menyambut jabat tangan kedua Agen tersebut, mereka baru saja tiba di Indonesia dan langsung pergi ke Istana Bogor bertemu dengannya.
"Terima kasih atas kedatangan kalian kesini, saya sangat berterima kasih karena bisa mendapatkan bantuan dari agen-agen handal FBI dan CIA."
Siang itu mereka mengadakan rapat bersama dengan Kapolri, Menteri Luar Negeri, Menteri Kemenkumham dan beberapa Staf Khusus Presiden termasuk Rangga.
Agen Catheline menyodorkan beberapa lembar foto kepada Presiden, ia menjelaskan bahwa saat ini orang yang mereka curigai adalah foto orang tersebut, berdasarkan hasil penyelidikan yang di kirimkan detektif Indonesia pada mereka.
"Namanya Gael Avignon warga Perancis, dia pemimpin kelompok teroriss bernama Butterfly dia juga seorang pembunuh bayaran mantan agen CIA. Kami curiga dia disewa oleh seseorang untuk menculik nona Paloma."
"Lalu ada di mana dia sekarang?" Pak Kapolri angkat suara.
"Kami belum bisa memastikan Pak Kapolri, dia sering berpindah-pindah tempat dan mengganti indentitasnya. Terakhir yang kami tahu dia ada di Turki, dia pandai memanipulasi agen kami yang mengikutinya."
"Kalau begitu apa langkah selanjutnya yang harus kita ambil?" Kali ini Menteri Kemenkumham berbicara.
"Pak Presiden tenang saja, untuk selanjutnya serahkan pada kami. Kami mungkin akan membutuhkan beberapa agen handal dari Indonesia untuk ikut dalam misi ini."
Agen Ronald menjelaskan beberapa misi yang akan mereka lakukan kedepannya, dia baru saja mendapat informasi dari anak buah yang ditugaskan untuk mencari Gael Avignon bahwa saat ini dia sedang berada di Hawaii.
"Baiklah kalau begitu, para agen dan detektif kami sudah siap kapanpun kalian akan pergi."
Pak Presiden tersenyum penuh harap menatap kedua Agen di depannya. Dia berharap mereka bisa menangkap ******* itu, agar Paloma dapat ditemukan.
Bella yang berdiri tidak jauh dari sana berpura-pura meninggalkan ruang rapat menuju ke toilet untuk menelepon seseorang.
Milan
Paloma berjalan memasuki tempat diselenggarakannya acara pelelangan berada. Semua mata sontak menatap kearah Paloma dengan kagum, apalagi bagi para lelaki hidung belang rasanya mereka ingin sekali membawa Paloma ke kamar hotel saat itu juga.
"Puncak acara pelelangan kita telah tiba, didepan Tuan dan Nyonya adalah barang terakhir yang akan kami lelang. Karena barang ini masih fresh maka akan kami tawarkan dengan harga yang paling tinggi diantara semua barang yang sudah kami lelang sebelumnya, dan sekedar informasi ... dia adalah putri Presiden."
Semua orang langsung ribut mendengarkan apa yang disampaikan auctioneer. Mereka tidak menyangka jika acara pelelangan kali ini berbeda dengan yang lain.
Memang sebelumnya ada beberapa manusia yang ikut diperjual belikan dalam acara lelang, namun baru sekarang ada seorang putri Presiden yang ikut dilelang.
Jika sudah begini, beberapa orang mundur tidak ikut menawar karena tidak mau berurusan dengan kepala suatu Negara, bukan hanya harta yang jadi taruhan, tapi juga nyawa mereka.
"Kita buka dengan harga satu million dollars."
Air mata Paloma menetes mendengarkan orang-orang saling menawar memperebutkan dirinya.
Entah dosa apa yang sudah dilakukan Paloma sehingga ia harus merasakan penderitaan ini. Kalau bukan karena kesepakatan gila yang diberikan Albert, ia tidak akan pernah mengikuti pelelangan ini dan sudah melarikan diri dari sini.
Hati Paloma terasa sakit menusuk, ia terus menangis dibalik topeng yang ia pakai.
Akan ada Up tiap hari yaa guys
jangan lupa Like 🌹
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 133 Episodes
Comments
xixi
lanjut ngga ya... lanjut ajalah hehe
2021-09-03
0
Zarida Jennifer
paspampers koq kebule2an bela charter !! musuh dlm slimut dunk !
2021-07-17
0
Mely Sianturi
Paloma syantikkk
2021-04-22
0