Keadaan di sekitar tampak menyeramkan, para Paspampres yang mengawal Paloma sudah tak bernyawa lagi.
Baku tembak terjadi dengan begitu cepat, Paloma bahkan tak mampu menahan air matanya yang jatuh begitu deras karena ketakutan.
Paloma melihat Austin yang tertembak disampingnya, wajah Austin tampak pucat karena banyak mengeluarkan darah dari beberapa luka tembak yang dia miliki di tubuhnya.
"Dik, kamu harus lari dari sini sekarang juga. Ka Austin akan mengalihkan perhatian mereka. Sebisa mungkin kamu harus berlari sampai menemukan rumah warga di sekitar sini, mereka pasti akan menolongmu." Austin menatap wajah Paloma yang terus menangis bergetar ketakutan.
Paloma tidak pernah menyangka kalau ia bisa dihadapkan dengan situasi seperti sekarang.
"Tidak Ka, Paloma tidak mau. Paloma tidak mungkin meninggalkan Ka Austin disini lagipula aku takut Ka, aku tidak bisa berlari kakiku benar-benar lemas." Paloma masih terus terisak disamping Austin.
"Kau harus kuat Dik, kau pasti bisa. Kau tenang saja, Ka Austin akan baik-baik saja. Tak lama lagi Polisi akan sampai disini jadi, kamu tidak perlu takut ataupun cemas. Kalau kita tetap bersama kita berdua akan mati."
Austin menggenggam tangan Paloma, meyakinkannya bahwa ia akan baik-baik saja. Meskipun sebenarnya dia sendiri tidak yakin dengan kondisi tubuhnya saat ini, mengingat ada beberapa luka tembak yang terus mengeluarkan darah sejak tadi.
"Ini, ambil pistol ini untuk jaga-jaga. Jika ada yang mendekat kau harus langsung menembaknya, jangan biarkan mereka hidup karena kita tidak tahu apa maksud dan tujuan penyerangan ini." Austin memberikan satu pistol miliknya pada Paloma
"Cepat pergi, Kakak akan menarik perhatian mereka agar kau bisa lari, waktu kita tidak banyak lagi." Austin mendorong tubuh Paloma dan berlari menjauh darinya.
Paloma tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia harus kuat untuk menghadapi keadaan ini. Hanya dirinya sendiri yang bisa dia andalkan.
"Aku harus kuat demi Ka Austin dan Paspampres yang sudah berkorban untukku."
Paloma berusaha menguatkan hatinya sendiri, dia harus berlari secepatnya dan mencari rumah warga agar bisa selamat.
Baru saja Paloma berlari, dia mendengar suara tembakan lagi. Paloma tak peduli, ia harus berlari untuk bisa keluar dan kabur dari tempat ini.
Belum lama berlari, tiba-tiba Paloma dihadang oleh sekelompok orang. Mereka mengepung Paloma agar tidak bisa lari lagi.
Sekolompok orang itu menggunakan penutup kepala dengan senjata laras api panjang di tangan. Paloma mengarahkan pistol yang ia pegang ke salah satu anggota mereka.
"Kami tidak akan menyakiti anda Nona, ikutlah secara sukarela dengan kami."
Salah satu anggota dari kelompok itu maju ke depan, dia tidak menggunakan penutup kepala seperti anggota yang lain.
Dia memiliki jenggot dengan bekas luka goresan pedang yang cukup besar di wajahnya, sepertinya ia adalah pemimpin di kelompok itu.
"Siapa kalian? Apa yang kalian inginkan? Apa kalian tidak tahu konsekuensi apa yang akan kalian dapatkan setelah ini?"
Paloma berusaha untuk menunjukkan kalau ia tidak akan takut kepada mereka, meskipun tangannya terlihat bergetar sambil memegang pistol.
Pemimpin kelompok itu berjalan semakin mendekat pada Paloma, seperti tidak takut dengan pistol yang dipegang oleh Paloma.
Dengan penuh rasa takut, Paloma menarik pelatuk pistol tersebut tanpa tahu kemana arah peluru mengarah. Seumur-umur baru sekarang Paloma memegang senjata api.
Melihat kesempatan untuk bisa lari, Paloma melangkahkan kakinya lagi berlari secepat mungkin dari sana.
Tidak mau kehilangan kesempatan, lelaki dengan luka diwajahnya itu menembakkan peluru bius ditubuh Paloma dan membuat Paloma pingsan.
"Bawa dia ke mobil kita harus segera pergi dari sini sebelum polisi datang. Pastikan tidak ada saksi mata dan yang tersisa!"
Anak buahnya membawa tubuh Paloma ke dalam mobil yang tidak jauh dari sana, ia ikut masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan tempat tersebut.
Pemimpin anggota itu menelepon seseorang dan berbicara dalam bahasa Inggris. "Aku sudah mendapatkan paketnya, jangan lupa untuk mentransfer apa yang sudah Anda janjikan."
Dia lantas menutup telepon dan berkata kepada anak buahnya untuk menyiapkan pesawat mereka untuk segera berangkat ke Itali. Dia tak mau membuang waktu terlalu lama berada di negara ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 133 Episodes
Comments
Nia Kurota Ayu N
2
2021-11-22
0
LA
kenapa paloma ngak melawan sih seharusnya ank presiden itu harus bsa bela diri
2021-11-22
0
noona jekey💜💜💜
masih nyimak jalan ceritanya😁
2021-09-09
0