Hana yang mendengar berita tentang penculikan Paloma begitu syok, ia menelepon ponsel papanya untuk menanyakan perihal berita yang beredar.
Papa Hana dan Kevin Hendrawan juga berteman baik, mereka adalah teman masa kecil hingga sekarang.
Hana bersama beberapa pengawalnya berangkat menuju Istana Merdeka untuk menemui Bunda Poly. Mereka sudah tiba di Indonesia sekitar setengah jam yang lalu.
Hana ingin mendengar kejadian detailnya secara langsung dari Rangga, sebagai Staf Khusus Kepresidenan.
Hana, Paloma, dan Rangga sebenarnya bersahabat sejak dulu. Mereka sama-sama satu sekolah dengan Rangga sebagai kakak kelas.
Rangga diangkat menjadi Staf Khusus Kepresidenan karena skill dan kepintarannya, meskipun terbilang masih sangat muda ia dipilih oleh Presiden secara langsung untuk menjadi salah satu stafnya.
Selama diperjalanan menuju Istana Merdeka Hana menangis mengingat Paloma, ia begitu khawatir dengan keadaan sahabatnya. Entah bagaimana Paloma sekarang, apa dia baik-baik saja, apa dia terluka. Hana begitu takut membayangkan apa yang akan terjadi pada Paloma.
Sesampainya di Istana Merdeka, Hana masuk ke dalam namun terlebih dahulu diperiksa menggunakan detector. Meski Hana sering masuk keluar Istana, tapi Hana tetap mengikuti protokol yang ada.
Di halaman depan Istana Merdeka berdekatan dengan kolam air mancur dan berdiri sebuah tiang bendera dari beton setinggi tujuh belas meter, Hana berdiri dengan tenang sembari menunggu dia selesai diperiksa.
"Bibi, bagaimana keadaanmu?" Hana mendekati Poly Irawan yang tampak pucat dengan mata yang bengkak.
Sejak dari Jepang sampai di Indonesia, Poly tidak berhenti menangis. Ia bahkan melewatkan makan siangnya.
Poly Irawan memeluk Hana dengan erat, mereka larut dalam kesedihan mengingat Paloma yang tidak tahu ada dimana saat ini.
"Hana, Bibi takut terjadi sesuatu pada Paloma. Tidak tahu sekarang dia ada dimana, Bibi sangat takut Hana. Bibi tidak sanggup kalau terjadi apa-apa padanya."
"Bibi tidak perlu khawatir, paman Kevin pasti bisa menemukan Paloma secepatnya. Papa juga akan ikut membantu mencari keberadaan Paloma, Bi."
Hana mengusap lembut punggung Poly Irawan, dia berusaha menenangkan Bunda Paloma sahabatnya meski ia sendiri pun juga khawatir dengan keadaan Paloma.
Setelah Poly beristirahat di kamarnya, Hana keluar mencari Rangga yang sedang menunggunya di Gedung Bina Graha yang memang digunakan untuk Kantor Staf Presiden. Mereka bertemu dan berbicara panjang lebar tentang kronologi penculikan Paloma tadi siang.
"Lalu, apa ka Austin sudah sadar Rangga?"
"Dia masih kritis Han, kata dokter harapan hidup Austin sangatlah kecil. Meskipun nanti dia bisa melewati masa kritisnya, tapi dia akan koma. Austin mendapatkan banyak luka tembak dan kehilangan banyak darah, padahal dia satu-satunya saksi kunci di tempat kejadian yang berhasil selamat. Para bedebah itu bekerja sangat rapi, tidak ditemukan bukti apapun di TKP. Kalau saja Austin bisa secepatnya sadar kita pasti bisa menangkap bedebah-bedebah itu!"
Rangga mengusap wajahnya frustasi, Paloma dan Hana sudah dia anggap seperti adiknya sendiri.
Rangga tak akan mampu membayangkan apa yang akan terjadi pada Paloma kalau mereka belum juga bisa menemukannya.
"Lalu dimana paman Kevin? Apa pak Bambang sudah melakukan Konferensi Pers?" Hana menatap Rangga dengan mata sembab, dari tadi dia tidak berhenti menangis.
"Pak Presiden sedang rapat dengan Kapolri dan beberapa Menteri saat ini, mereka sedang mengatur strategi apa yang harus dilakukan mengingat berita ini sudah heboh sampai keluar negeri. Takutnya berita ini akan berdampak pada sektor ekonomi dan pariwisata. Mereka menganggap Negara kita tidak lagi aman karena anak Presiden bisa diculik di negaranya sendiri."
Rangga menarik nafas kasar. "Aku yakin ada orang dalam yang bekerja sama dengan bedebah sialan itu!"
Hana mengangguk mengiyakan, mereka berdua larut dalam pemikiran masing-masing.
Banyak yang harus dilakukan oleh Kevin Hendrawan. Selain putri satu-satunya yang menghilang, ia juga harus memikirkan nasib Negaranya saat ini. Kevin semakin tertekan sekarang, ia tidak tahu bagaimana keadaan Paloma. Dia merasa bodoh karena tidak bisa menjaga harta paling berharga milik dia dan Poly.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 133 Episodes
Comments
sari ariswati
lha mafia nya siapa sih😂
2022-04-28
1
Reanza
Baca sampai sini dulu
2021-04-02
1
Aam Sumiati
Siapa dalang di balik penculikan Paloma???
2021-03-08
1