Paloma mengerjapkan matanya berulang kali sambil memegang kepalanya yang sakit karena pusing.
Paloma mencoba mengingat-ingat apa yang telah ia alami, dia memperhatikan sekeliling ruangan itu yang tampak pengap dan kotor. Ia tak yakin ada dimana dia sekarang ini.
Bunyi pintu dibuka dan seorang pria paruh baya masuk kedalam ruangan dimana Paloma berada.
"Selamat siang Nona Paloma Hendrawan, selamat datang di Italia." Pria paruh baya itu duduk di kursi yang dibawakan oleh anak buahnya.
"Anda siapa, mengapa membawa saya sampai ke Itali?!" Paloma berbicara dengan nada suara setengah berteriak, dia ingin terlihat berani dan tidak takut pada pria itu.
"Hahaha ... Nona Paloma sangat berani ternyata, tidak salah kalau selama ini orang-orang mengatakan bahwa putri Presiden Kevin Hendrawan adalah orang hebat dan tidak takut akan apapun. Aku sampai takut mendengar ucapan Anda, Nona."
Pria paruh baya yang bernama Albert Hall menatap Paloma dengan pandangan mengejek, ia tahu kalau Paloma hanya sedang berusaha menutupi ketakutannya saja.
"Cih, Anda pikir saya takut dengan Anda. Katakan apa maumu!" Paloma masih berbicara dengan nada tinggi, menahan amarah maupun rasa takutnya
"Baiklah aku akan to the point saja karena aku bukan orang yang suka berbasa-basi. Aku akan membuat kesepakatan denganmu Nona Paloma."
Albert mengambil sebuah tab dari tangan anak buah yang berdiri disampingnya, dia memperlihatkan sebuah video dimana ayah dan bunda Paloma berada. Mereka sedang duduk di sofa sudut di dalam kamar.
"Apa maksud Anda menunjukkan video ini?"
Paloma semakin resah melihat ayah dan bundanya yang tampak menangis. Mereka pasti sedang bersedih karena dia diculik, begitu pikiran Paloma.
"Ini adalah video terbaru dari kedua orangtuamu. Kau tenang saja karena saat ini mereka baik-baik saja, tapi jika kamu tidak mengikuti apa perintahku. Mereka berdua akan mati sekarang juga."
"Brengsek!"
Paloma mencoba berdiri dari tempat tidurnya, namun belum sempat dia melangkah Paloma kembali terduduk disana. Kakinya lemas bahkan kepala Paloma kembali berdengung karena sakit.
Entah apa yang terjadi pada tubuh Paloma, mungkin karena pengaruh obat bius yang mereka berikan, pikirnya. Apalagi dia sama sekali belum makan sejak kejadian penculikan itu.
Tawa Albert menggema di dalam ruangan. "Kau tidak akan berani melawanku Nona, karena nyawa kedua orang tuamu ada ditanganku dan jika kau macam-macam. Aku akan langsung menelepon anak buahku yang ada di Istana Merdeka untuk membunuh orang tuamu saat ini juga. Kau tidak ingin bukan melihat orang tuamu tinggal menjadi mayat?"
Paloma menatap Albert Hall dengan tajam, ia mengepalkan kedua tangannya hingga memutih menahan amarah. Paloma ingin sekali menendang pria sombong di depannya.
"Saya tidak takut dengan ancaman Anda. Anda pikir Anda bisa membobol pertahanan di Istana Merdeka? Jangan bermimpi Bapak tua!"
Paloma sengaja meledek pria paruh baya itu, tidak akan mudah bagi mereka menembus pertahanan di Istana Kepresidenan.
Albert meremas tab yang ada ditangannya, wajahnya tampak memerah menahan amarah. Dia tidak mau terpancing dengan perkataan Paloma.
"Apa kau kenal dengan Bella, Nona Paloma?."
Albert ingin memancing rasa penasaran Paloma, ia yakin setelah menyebutkan nama Bella, Paloma pasti akan menyetujui kesepakatan yang dia buat.
"Bella adalah salah satu anak buahku yang bebas keluar masuk di dalam Istana Kepresidenan. Bahkan yang aku tahu, dia sangat dekat dengan Ibu Negara, bundamu."
Paloma mematung mendengarkan ucapan Albert, bagaimana mungkin Bella Joyo menjadi anak buah orang ini.
Bella sudah dianggap seperti keluarga mereka sendiri, karena kemanapun Ibu Negara pergi dia selalu ada disampingnya.
Ya, Bella juga salah satu Paspampres yang ditugaskan untuk menjaga dan melindungi Ibu Negara hampir 10 tahun masa kepemimpinan ayahnya, Bella selalu bersama mereka.
Bella layaknya anggota Paspampres yang lain yang mengamankan Presiden seumpama sebuah perisai. Dia adalah seorang tentara Angkatan Darat yang terkenal hebat diantara anggota kesatuannya.
Meskipun Bella seorang perempuan, tapi ia tidak pernah takut akan apapun selama dia terjun dalam medan peperangan.
Waktu pendaftaran Paspampres dibuka, Bella sangat antusias mengikuti setiap syarat yang diberikan yaitu, kemampuan berenang sejauh 500 meter, menyelam tanpa alat, mahir menembak, memiliki kemampuan bela diri sabuk cokelat, bisa berjalan cepat satu kilometer maksimal tujuh menit dan bisa membaca mimik serta gerakan tubuh. Semua itu berhasil Bella lalui hingga dia dipercayakan menjadi salah satu Paspampres.
Paloma tahu jika dia berhasil diculik seperti ini pasti ada campur tangan orang dalam yang berkhianat, tapi Paloma sama sekali tidak menyangka kalau Bella orang yang sudah dekat bahkan sudah dianggap seperti keluarga, tega mengkhianati mereka dan tugasnya sebagai seorang Paspampres.
"Bagaimana Nona Paloma, apa Anda tertarik dengan kesepakatan yang akan aku berikan?"
Albert yakin kali ini Paloma tidak akan bisa menolak lagi karena mengingat sosok Bella yang sangat dekat dengan Ibu Negara dan orang kepercayaan Presiden.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 133 Episodes
Comments
Ely
nyimak.. dulu
2021-12-19
1
Mely Sianturi
Paloma pemberani😇
2021-04-22
1
Muna Anuy
like
2021-04-17
1