''Kenapa juga aku merasa kesal saat ada yang memuji orang itu.'' Devita melangkahkan kakinya menuju Daniel yang tidak menyadari kedatangan Devita karena Daniel sedang berseluncur di benda pipihnya.
.
.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
''Daniel.'' panggil Devita dengan wajah yang di tekuk.
Daniel menoleh ke asal suara, benda pipih yang semula di tangan langsung di masukan ke sakunya, senyum Daniel mengembang saat orang yang di tunggu datang juga.
Alis tebal Daniel hampir menyatuh tatkala melihat wajah gadisnya di tekut dengan bibir yang mengerucut.
''Kamu kenapa? ada masalah?'' tanya Daniel dengan lembut.
''Tidak, kamu sedang apa di sini, aku kan tidak meminta mu menjemput ku,'' ketus Devita.
Daniel terkekeh karena menganggap ketusan Devita itu adalah suatu tanda dia sudah tidak memasang benteng besar sebagai pemisah.
Wajah Devita terus di pandanginya. ''Menggemaskan.'' Batin Daniel.
''Aku memang sengaja menjemput mu, ingin mengajak kau makan siang.'' jawabnya.
''Tapi kan bisa menunggu di dalam mobil,'' Ucap Devita masih dengan nada ketus.
''Memangnya kenapa kalau aku menunggu mu di luar mobil?'' Daniel masi belum mengerti arah ucapan Devita.
''Kau sedang menjadi Perhatian para wanita yang di sana, Apa memang kau sengaja?'' ucapan Devita membuat Daniel menoleh ke arah yang ditunjuknya, senyum lebar Daniel terlukis.
''Kau cemburu?'' sarkah Daniel.
''Aku cemburu, ya ga mungkin lah, memangnya kau siapa.'' Devita berkata dengan suara sepelan mungkin.
''Kalau memang benar iya, ini suatu kebanggan untuk ku.'' ucapnya Daniel menggoda Devita.
''Come on, temani aku makan siang,'' Daniel berlalu duluan untuk memasuki mobilnya.
Hati Daniel saat ini sangat bahagia, kecemburuan Devita menandakan, rasa itu mulai ada, tapi mungkin Devita belum menyadarinya.
.
Mereka berdua sudah berada di restoran yang terbilang bukan restoran kaleng-kaleng yang menyajikan makanan dari berbagai belahan dunia seperti Prancis, Belanda serta Amerika, yang datang pun harus menunjukkan sebuah Card khusus, yang entah untuk apa.
Di meja sudah disajikan beberapa hidangan yang sangat menggugah selera.
ada Amuz dari Perancis ada juga Tugu Kuntskring Paleis dari Belanda dan ada Faberge Chocolate Pudding sebagai pencuci mulutnya dan masih bnyak lagi.
''Ini semua siapa yang akan memakannya?'' Tanya Devita dengan wajah Syoknya.
''Kita, kalau tidak habis bisa di takeaway.'' jawab Daniel dengan nada bergurau.
''Lepas makan ini bisa-bisa aku berubah jadi babi.'' gumam Devita yang masih terdengar di telinga Daniel.
''Kamu tidak akan menjadi seekor babi, dengan hanya memakan makanan ini Vita.'' Ucap Daniel gemas.
''Iya kah?''..
''He'em, makanlah.'' Daniel merasa sangat bahagia melihat wajah Devita yang teramat polos.
Untuk membayangkan Saat Devita di siksa dengan keluarga nya saja, Daniel merasa tidak mampu, bagaimana bisa gadis sebaik Devita tidak mendapatkan perlakuan yang sepantasnya seorang keponakan.
Tring
Sebuah pesan masuk ke ponsel Daniel, yang berisi.
Pekerjaan yang Tuan berikan ke saya, sudah saya kerjakan, waktu sadarnya bisa sampai 8 jam dari pertama tertelan.
Itulah isi dari pesan yang masuk di ponsel Daniel.
Senyum Daniel mengembang saat melihat Devita tengah memakan makanan yang di pesannya.
''Kamu tidak makan?'' Tanya Devita saat melihat Daniel hanya memperhatikan nya dia makan.
''Aah iya aku makan kok.'' Mereka pun makan dengan sunyi.
.
Di Kediaman Maharani.
''Pokoknya nanti saat Devita datang, kita akting dengan sebaik mungkin.'' Ucap Chloe pada Mami dan Papi nya.
''Tapi apa dia tidak akan curiga.'' tanya Sari.
''Tidak Mi, dia tidak akan curiga kalau akting kita terlihat nyata.'' jawab Chloe.
''Huh, kalau saja tidak untuk merebut semua harta ini, Papi tidak akan mau repot-repot harus berakting seperti ini,'' keluh Santos.
''Papi harus bisa ya, kalau tidak! kita akan kehilangan ini semua, aku tidak ingin jatuh miskin Papiiiii,'' rengek Chloe.
''Iya iya, Papi akan berusaha walau sebenarnya enggan,'' pasrah Santos.
''Kita harus bisa,'' timpal Sari.
.
Devita sudah selesai dengan makanan yang di piringnya, Daniel pun sama.
''Pudingnya dimakan dong buat cuci mulut.'' ucap Daniel setelah mengelap mulutnya.
''Aku coba sedikit saja ya, soalnya aku sudah kenyang sekali, dan kenapa mata ku sulit sekali di ajak kompromi.'' Devita berbicara dengan mata yang sudah sayu, karena rasa kantuk yang tiba-tiba menyergap dirinya.
''Kau mengantuk?'' tanya Daniel.
Devita hanya mengangguk.'' Bagus,'' gumam Daniel dalam hati.
Tidak menunggu waktu lama Devita tertidur dengan menyenderkan kepalanya di sandaran kursi, dengan sigap Daniel mengangkat tubuh mungil Devita menuju mobilnya yang sudah ada Zen di dalamnya.
''Tuan, Nona Devita kenapa?'' tanya Zen dengan panik, karena melihat Devita yang berada dalam gendongan Daniel.
''Jangan banyak tanya, jalankan saja mobilnya menuju ke Apartemen, sekarang!'' Titah Daniel dengan suara tinggi, Daniel sudah duduk dengan memangku kepala Devita yang tengah tertidur pulas.
''Baik Tuan.''..
''Sebenarnya Nona Devita kenapa, kalau Nona Devita hanya tertidur tidak mungkin tidak terbangun saat suara Tuan Daniel meninggi.'' Gumam Zen dalam hati.
Tiba-tiba matanya melebar kala memikirkan sesuatu, ''Apa jangan-jangan, Tuan Daniel akan berbuat macam-macam.'' lanjut nya.
''Jangan kau berfikir macam-macam Zen, cepat jalankan saja mobilnya.'' ..
Daniel bener-bener bisa menebak isi fikiran Asisten nya ini, bagaimana bisa? entahlah.
Zen mengendarai mobil dengan hati yang was-was. Jika sampai dugaan dia benar, Zen akan bertekad untuk Risgn, tekat Zen sudah bulat kala itu.
Entah karena apa dia begitu perduli pada Devita tapi hanya itu lah tekat Zen.
Mobil sudah berhenti di lobi Gedung Apartemen,
dengan perlahan Daniel mengeluarkan tubuh Devita dan mengangkat nya dengan kelembutan.
''Tuan mari saya bantu untuk membawa Nona Devita ke kamarnya.'' Ucap Zen menawarkan jasa.
''Berani kau menyentuhnya, tangan kau akan hilang dengan hitungan detik,'' ancam Daniel.
''Tapi Tuan.''..
''Sudah, kau ikuti saja aku jika memang ingin tahu alasannya.'' Ucap Daniel yang sudah berlalu pergi.
''Tuan meminta ku untuk ikut dengan nya?'' Gumam Zen merasa heran,
Apa sebenarnya rencana Tuannya ini.
Zen berlari kecil untuk menyusul Tuannya yang sudah hampir memasuki Lift.
''Terlalu banyak berfikir.'' sindir Daniel.
''Maaf Tuan.''
Tombol yang di tekan di angka 29 sudah berhenti di tujuan.
Daniel keluar dari lift dengan Zen yang masih membutut.
Daniel menggendong tubuh Devita seakan tidak merasakan beban sama sekali.
dengan Berhati-hati Daniel merebahkan tubuh mungil Devita di atas ranjang quin size.
Senyum Daniel mengembang kala melihat wajah polos Devita yang tertidur lelap.
''Mimpi indah bidadari ku.'' Gumam Daniel dengan tangan yang terus mengusap kepala Devita.
Sakit, iya sakit serta sesak yang ada di hati. itu yang di rasakan Zen saat ini saat meliha Daniel yang memperlakuakan Devita dengan manisnya.
Zen yang selama ini belum menyadari tentang perasaan anehnya untuk Devita, saat ini Zen baru sadar akan perasaan nya itu.
Zen yang masih melamun di ambang pintu kamar Devita, tidak sadar kalau Daniel sudah berdiri di hadapannya.
''Apa yang kau pikirkan tentang diriku tadi semua tidak terbukti bukan.'' Ucapan Daniel cukup mengejutkan Zen.
''Iya Tuan, maafkan saya.'' Zen menundukkan kepalanya.
''Ikut aku ke ruang tamu, aku akan mengatakan rencana ku padamu.'' Daniel berlalu melewati tubuh Zen.
''Tutup pintunya dengan perlahan, jangan sampai suara yang kau ciptakan akan mengganggu istirahat Devita.'' Ucap Daniel lagi.
Bersambung..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 231 Episodes
Comments
Arin
critany seru bngt Thor....☺️
2022-10-01
0
Febri Ana
cuss lanjut thor mantap
2021-08-21
0
Dirah Guak Kui
berarti rencana jahatnya Santos gagal dong
2021-05-20
1