Setelah mengantarkan Puspa, Daniel dan Devita langsung menuju Apartemen yang Daniel maksud dengan Zen yang menjadi supirnya, selama perjalan Devita hanya diam sambil memainkan ponsel nya, sesekali Daniel melirik Devita tapi yang di lirik tidak sama sekali meresponnya.
Daniel juga bingung harus memulai pembicaraan itu dari mana, Zen yang asik menyetir sesekali melihat Devita dan Daniel dari kaca spion yang ada di atas kepalanya, Zen juga menyadari kecanggungan yang ada pada keduanya.
"Ekhemm,, Nona Devita, bagaimana dengan kuliah mu?" Yang memulai bicara bukannya Daniel melainkan Zen, mata Daniel memicing tidak suka.
"Kuliah ku? oohhh iya, tinggal satu semester lagi aku akan wisuda Tuan." jawabnya, Devita menjawab sedikit kaku karena pertanyaan itu yang tiba-tiba.
"Berarti sekitar enam bulan lagi ya Nona?" tanya Zen lagi.
"So kenal So dekat sekali, ciih." Daniel menggerutu dalam hatinya.
"Iyah Tuan, sekitar enam bulan lagi." jawab Devita dengan tersenyum manis pada Zen, yang semua Devita merasa kalau Zen itu kaku tapi setelah berbincang Devita tak lagi merasakan kecanggungan itu.
"Setelah lulus kuliah, rencananya kau akan beker..."
"Bekerja di kantor ku, tidak usah banyak tanya kau Zen, sokenal sekali, serasa disini aku seperti orang ketiga." Daniel memotong ucapan Zen dengan menendang belakang jok mobil sekalian, dia mulai geram dengan Zen yang so kenal dengan Devita.
Devita mengulum bibirnya, karena menahan tawanya, melihat Zen yang terkena omelan Daniel.
"Maaf Tuan." Hanya itu yang Zen ucapkan.
"Aku tau sekarang kenapa Tuan Daniel perduli dengan Nona Devita, karena kepribadian nya dan karena paras cantiknya, andai yang bertemu Devita itu aku duluan." Gumam Zen dalam hati.
"ZEN BATLA!!!" Seperti tau apa yang Zen pikirkan Daniel melotot dan memanggil nama lengkap Zen, itu bertanda dia sudah sangat muak.
"Maaf Tuan." jawaban itu lagi yang Zen ucapkan.
Mobil telah memasukkan pelataran Apartemen yang menjadi tujuan Daniel, perlahan Zen memarkirkan di parkiran khusus petinggi.
"Ini kan Apartemen yang sama dengan Apartemen yang fi tempati Tuan jas." Gumam Devita.
"Ayo turun," ajak Daniel.
"Iyah Tuan,"..
"Zen bawakan tas Devita." titah seorang Daniel.
"Tidak usah Tuan, saya bisa membawanya sendiri." Tolak Devita.
"ZEN!!" Daniel memanggil nama Zen karena tidak ingin ada penolakan.
"Baik Tuan." Zen mengambil tas besar yang ada di tangan Devita.
"Biar saya Nona yang membawakan nya," ucap Zen.
"Baiklah, terimakasih Tuan Zen." dengan hqti yang tidak enak, Devita terpaksa memberikan Tas itu.
Mereka berjalan dengan beriringan, menaiki lift secara persamaan, di dalam lift keheningan pun tercipta sampai pada lantai ke 29 Lift itu berhenti, pintu lift terbuka secara perlahan dan ketiganya pun keluar.
Ada beberapa pintu di lantai 29, Zen yang berjalan mendahului, Zen membuka salah satu pintu itu yang terdapat di paling pojok, membuka dengan sandi password dan pintu itu pun terbuka.
"Silahkan Tuan Nona." ucap Zen mempersilahkan.
Daniel dan Devita memasuki kamar itu, Devita melihat ke sekelilingnya, kamar yang sudah terisi penuh dengan sofa dan TV besar sekalian, walau kamar apartemen ini tidak seluas yang ada di lantai 30 milik Daniel tapi kamar ini cukup luas dan terkesan mewah.
"Zen Kau boleh pulang." titah Daniel, entah itu mengusir atau apa Zen pun mengerti.
"Baik Tuan." Zen pun berbalik dan keluar dari kamar itu.
"Mari Saya tunjukkan kamar tidurmu."ajak Daniel.
Daniel berjalan memimpin, menaiki anak tangga dan menuju pintu kamar yang ada di sisi kanan, membukanya secara perlahan dan nampaklah kamar tidur yang bernuansa Eropa.
Devita merasa kagum dengan arsitektur kamar itu.
"Tuan apa Ini kamarku, luas sekali. " tanya Devita.
" Iya ini bener kamarmu, Maaf aku menempatkan kamu di satu gedung Apartemen denganku. biar aku bisa memantau mu, kau tahu kan kamarku berada di atas lantai ini, kalau kamu membutuhkan apa-apa kau bisa langsung menemuiku di kamar. "ujar Daniel panjang lebar.
"Baik tuan saya mengerti, tapi apa ini nggak terlalu mewah untuk saya. "
"Tidak, kamar ini memang bekas kamarku yang tidak lagi ku pakai, Memangnya kenapa kau tidak nyaman?"
"Tidak, bukan begitu Tuan kamar ini sangat nyaman, tapi ukuran saya yang hanya asisten pribadi Tuan sangatlah berlebihan." ucapan Devita membuat Daniel menautkan alisnya, dia pun baru ingat kalau dia pernah mengucapkan yang Devita akan menjadi asisten pribadinya.
"Oh tidak, Zen juga sama, mendapatkan fasilitas seperti ini hanya saja beda gedung apartemen."jawab Daniel.
jawaban Daniel membuat hati Devita merasa lega dia tidak ingin diperlakukan istimewa.
"Sebaiknya kamu istirahat, Aku akan kembali ke kamarku. " ucap Daniel
Daniel berjalan menuju pintu kamar tapi suara Devita menghentikan langkahnya.'' Terimakasih Tuan, kau sudah baik dengan ku." Ucap Devita.
Daniel membalikkan tubuhnya menghadap Devita, senyum yang terlukis di bibir Devita membuat jantung Daniel seakan berdetak dengan sangat kencang.
"Tidak perlu sungkan denganku, dan satu lagi. Jangan memberikan senyum itu pada pria lain kecuali aku, aku permisi. " Daniel pun berlalu keluar.
Devita menghela nafas dengan pelan, melihat ke sekeliling kamar dan menjatuhkan tubuhnya di ranjang King size milik nya sekarang."Nyaman sekali, berbeda dengan kamarku yang sebelumnya. " Gumamnya.
Yaa Kamar itu sangat jauh berbeda dengan kamar dia yang sebelumnya, karena yang sebelumnya hanya menggunakan kasur lantai yang sudah tidak layak lagi terpakai.
Devita memandang langit-langit kamar dengan mata sendunya, Dia teringat dengan orang tuanya.
" Mama, Ayah. semoga kalian disana Tenang Walau disini aku menderita, tapi ketahui lah saat ini ada seseorang pangeran yang ku anggap sebagai penyelamat ku." Devita terus bermonolog sendiri sampai akhirnya rasa kantuk menyerang dirinya, tidak membutuhkan waktu lama, Devita sudah hanyut dalam mimpinya.
.
Hari sudah mulai gelap tapi Devita belum juga bangun dari tidurnya, sampai ada suara dari arah dapur yang sukses membuat Devita terbangun.
Devita perlahan mengerjapkan matanya, bangun dari tempat tidurnya menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya. setelah mencuci muka Devita keluar dari kamar dan menuruni anak tangga dia mencari asal suara dentuman benda yang ternyata berasal dari arah dapur.
Devita melihat seorang pria menggunakan Apron dengan spatula di tangannya dan ternyata dia adalah Daniel yang sedang memasak untuk makan mereka.
Daniel menyadari kehadiran Devita. "kau sudah bangun, apa kau lapar? sebentar lagi masakan jadi kita akan makan bersama, kau duduk lah." ujar Daniel..
Bukannya duduk Devita malah menghampiri Daniel.
"Tuan sedang memasak apa?" tanya Devita
"Nasi goreng, Apa kau suka? " jawabnya.
"Suka bahkan sangat suka . "Devita menjawab dengan excited karena memang dia sangat menyukai nasi goreng.
"Oh ya, Kebetulan sekali ya, aku memasak nasi goreng karena stok makanan tidak ada hanya yang ada beras, makanya aku masak nasi goreng. " ucap Daniel dengan tangan yang masih mengaduk-aduk nasi di wajan.
Daniel pun telah menyelesaikan acara masaknya Devita yang punya inisiatif menyiapkan piring untuk dirinya dan Daniel di atas meja makan. pemandangan kompak itu akan membuat mata yang melihatnya iri seketika.
Daniel dan Devita duduk berhadapan dengan nasi goreng yang di piring masing-masing, mereka makan dengan keheningan dan deheman dari Daniel memecah keheningan itu.
"Ehem, Nona Vita apa kau bisa menemaniku menghadiri acara pernikahan rekan bisnis ku?" tanya Daniel.
Devita tidak langsung menjawab, Dia Tengah berpikir dengan ajakan Daniel.
'' Iya aku mau,'' jawab Devita.
''Benarkah kau mau?'' Daniel tidak menyangka Devita dengan cepat menyetujui ajakannya.
Devita menganggukkan kepalanya diiringi Senyum manisnya.
"Sebenarnya ini pernikahan Paman dari rekan bisnis ku, Arka Aditama dia adalah rekan bisnisku dan yang menikah adalah Tama asisten sekaligus pamannya. " Daniel memulai cerita dan Devita mendengarkan dengan diamnya.
"Pamannya? berarti yang menikah sudah tua kalau itu pamannya?" Devita bertanya dengan rasa penasarannya.
"Tidak. dia bahkan seumuranku, apa aku terlihat tua? "ucap Daniel sedikit bergurau.
"Oh bukan itu maksudku, kau tidak tua Tuan hanya saja kau dewasa. "jawab Devita dengan mengakhiri kata dengan sedikit memelankan suara.
Daniel terkekeh atas jawaban Devita.
Bersambung..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 231 Episodes
Comments
Arin
🤣🤣Zen kasian bngt si kamu....sabar ya zen
2022-10-01
0
Ayu Dan Restu
maaf baru yimak. visualnya rhor
2021-05-02
2
Yani mulyani
jarang bngt yaa sang Presdir ....baik bngt ..pintar masak jg.... keliatan udah bucin lagii
2021-04-30
2