BRAKKKKK
Pintu kamar Devita di tendang dengan sangat kuatnya dengan dua wanita yang berhati iblis itu.
Devita yang sedang tertidur, langsung terbangun karena terkejut.
Byuurr
Segelas air jeruk di siramkan tepat di wajah cantik Devita.
"Anak sialan, gara-gara kamu, kita semua kena masalah." Sari berbicara dengan nada sangat tinggi.
Chloe yang bertolak pinggang dengan membusungkan dadanya hanya memperhatikan dengan tatapan meremehkan.
"Seret saja Mih sampah ini." Ucapan Chloe memang sudah teramat keterlaluan.
Dengan emosi yang membara, Sari berjalan menghampiri Devita yang sedang menangis dan langsung menarik lengannya dengan sangat kasar.
"Bangun kamu, kau benar-benar anak sial ya." Sari menyeretnya tanpa ampun.
Sari menyeret lengan Devita sampai ke belakang rumah yang terdapat sebuah kolam berenang besar.
"Tante, salah Vita apa?" lirih Devita.
"Salah kamu ya karena kamu hidup." timpal Chloe.
"Kau benar sayang, coba saja waktu itu kau ikut dengan ke-dua orang tua mu ke Neraka, hidup kami akan tenang sekarang." Sari berbicara sangat melampaui batas, bahkan perkataan yang tidak pantas pun terlontarkan begitu saja.
Sari dan Chloe sejenak saling pandang, mereka seakan memberi kode isyarat khusus yang bahkan Devita sendiri tidak tau apa itu.
BYUUUUURRRR.
Sari dan Chloe sangat tahu kalau Devita itu tidak bisa berenang, tapi dengan sengajanya mereka berdua mendorong tubuh Devita ke kolam berenang dengan bersamaan.
"To-loong Tan-te." Teriakan Devita seakan hiburan bagi 2 wanita itu.
dengan bahagia nya kedua wanita itu tertawa dengan sangat kencang.
"HAHAHA, enyah kau dari muka bumi ini," cetus Chloe.
Devita masih berusaha menyelamatkan dirinya sendiri, tapi memang dia tidak bisa berenang ya yang pasti akan sulit.
"ASTAGAA, Kalian apa-apaan HAH!!!" Bentak Santos yang baru saja datang karena mendengar keributan di halaman belakang.
"Biarkan saja Pih, biar gadis sialan ini menyusul kedua orang tuanya." ucap Chloe.
"Dasar tidak berguna, kalau dia mati di rumah ini, kita semua yang akan di penjara, BODOH!!" Omel Santos.
Ucapan Santos membuat Sari dan Chloe panik.
"Oh iya kau benar suami ku," Ucap Sari dengan paniknya.
"Ojiiiiii." teriak Santos memanggil pembantu pria yang bekerja sebagai tukang kebun itu.
"Saya Tuan," jawab Oji.
"Angkat dia ke sini." tunjuk Santos ke arah kolam, Devita yang sudah lemas hanya bisa berusaha mengambil nafas dari permukaan.
Mata tukang kebun itu melebar karena terkejut.
"Nona muda," lirihnya.
Tanpa aba-aba, Oji menceburkan dirinya untuk menyelamatkan Nona mudanya.
Ketiga manusia tak berhati itu bukannya ikut menolong tapi malah meninggalkan Oji yang tengah kesulitan membawa tubuh Devita yang sudah melemas itu.
Sekarang Devita sudah di baringkan di tepi kolam, dan Oji sedang berusaha membantu Devita agar bernafas dengan teratur lagi.
"Nona, saya mohon bertahanlah." Gumam Oji.
Oji meletakan kedua telapak tangannya di dada Devita, dan dengan sangat perlahan Oji mulai memompa dada Nona mudanya dengan telapak tangan nya.
Butuh beberapa percobaan memang tapi Syukur nya Oji berhasil membuat Devita batuk dengan air yang keluar dari dalam mulutnya.
"Nona bagaimana bisa, Nona tercebur di kolam?" tanya Oji dengan raut wajah khawatir.
Devita tidak menjawab nya melainkan hanya menangis, Oji yang melihat Nona mudanya menangis Oji langsung paham apa yang sebenarnya terjadi.
"Apa ini ulah para manusia tak berhati itu, Nona?" tanya Oji dengan nada pelan.
Devita hanya menganggukan kepalanya.
"Astaga, kenapa mereka begitu kejam," Gumam Oji.
Dari kejauhan di sebuah tembok besar ada seseorang yang sedang mengintip memperhatikan sedari tadi.
"Halo Bos, gadis itu rupanya hidup sangat menderita, bahkan baru saja gadis itu mendapatkan siksaan keji dari keluarga nya, dan gadis tuan di ceburkan di kolam berenang sampai pingsan." Ucap pria itu dengan seseorang di sebrang sana.
...
"Baik Bos." pria itu menutup sambungan telepon itu, dan berlalu pergi dari tempat persembunyian nya.
Di sebuah ruangan Kantor seorang Pria sedang mengamuk dengan brutalnya, apapun yang ada di hadapannya menjadi korban keberutalannya, dari laptop, telepon kantor, sampai mesin Print pun menjadi bulan-bulannya.
"Rupanya ancaman ku tidak sama sekali membuat mereka takut." Dengan nafas yang memburu dan emosi yang menggebi, dengan tangan yang bergerak meraih ponselnya yang berada di meja kerjanya Daniel menelpon seseorang.
Ya pria itu adalah Daniel, ia marah mendengar kabar Devita sedang mendapatkan siksaan dari keluarga nya sendiri. dan benar, pria yang mengintai di tembok besar itu adalah orang suruhan Daniel untuk mengawasi gadinya itu.
"Bereskan semuanya." hanya itu yang di ucapkan Daniel, dan langsung memutuskan sambungan telepon itu.
"Kita lihat bagaimana hadiahku datang dengan tiba-tiba." Gumam nya dengan wajah yang menyeringai.
Ceklek.
"Astaga Tuan, ada apa?" tanya Zen yang terkejut melihat isi ruangan Tuannya seperti habis terkena guncangan gempa 9skala richter, iya itulah yang tepat untuk menggambarkan isi ruangan itu.
"Bereskan semuanya, saya pergi dulu karena ada urusan." tanpa mendengar jawaban dari mulut Assisten nya, Daniel berlalu pergi.
Ya pegitu lah sifat Daniel yamg sangat semena-mena, sifat Arogannya bahkan tidak akan luntur karena memang sifat itu sudah mendarah daging di dirinya.
Zen hanya membuang nafasnya dengan kasar.
"Apa ada yang mau dengan mu jika sifatmu selalu saja begini," Gumam nya dengan lirih.
Zen mengambil ponselnya dari saku jasnya untuk menelpon ketua Ob dan memerintahkan beberapa Ob untuk membereskan kekacauan yang di buat Bosnya sendiri.
.
.
Daniel menjalankan mobilnya ke sebuah Rumah besar yang nampak kosong dan tak terawat dari luar tapi ternyata saat nampak di dalamnya siapapun akan terpukau melihat nya.
Daniel memarkirkan kendaraan nya di pelataran rumah mewah itu.
"Selamat datang Tuan," sapa penjaga di depan pintu masuk.
Daniel menjawab dengan deheman saja dan berlalu melewati ke dua penjaga pintu itu.
Daniel menuju ke ruangan tengah dan duduk di sebuah sofa single yang di khusus kan untuk nya.
"Bagaimana Kemal, apa pekerjaan yang ku berikan sudah kau kerjakan." Tanya Daniel dengan sangat dingin.
"Sudah Tuan, semua sudah beres." jawab Kemal, pria yang tadi mengawasi Devita dari balik tembok.
"Bagus,"..
"PENJAGA!!" teriak Daniel.
2 Penjaga yang ada di depan berlarian menuju Tuannya dengan tergesa-gesa.
"Iy-iya Tuan," jawab lirih penjaga satu.
Sebagian yang tahu Tuan Daniel yang Arogan itu akan berbuat apa jika sudah berteriak seperti itu, hanya bisa menelan ludahnya dengan sulit.
"Mendekatlah," Ucap Daniel.
Kedua penjaga itu mendekat dengan tunuh yang gemetar.
BUG
BUG
BUG
BUG
BUG
BUG
Tiga pukulan di masing-masing penjaga Daniel berikan, Kedua penjaga itu hanya meringis tapi tidak berani mengelak.
"Kalian boleh pergi." Usir Daniel dengan gaya Arogannya.
Ya begitulah cara Daniel melampiaskan amarahnya, dengan memukuli seseorang saja emosi nya bisa menyurut.
"Baik Tuan, terimakasih."..
What!!! Terimakasih?? bahkan penjaga yang di pukuli Tuannya masih bisa mengucapkan kata 'Terimakasih', apa pukulan gila itu di anggapnya sebagai hadiah dengan 2 penjaga itu, Sungguh GILLA!!!.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 231 Episodes
Comments
Iiq Rahmawaty
eh buseh kesel ama siapa yg kena bogem siapa😪
2022-01-06
0
Endang Purwati
Yaa Alloh tuulluunngg...dipukul kok bilang ma kasih...padahal mereka gak salah...
pleaseee tuan Daniel...iiihhh..jangn kezaaammm....😭😭😭😭
2021-07-10
1
Evanafla
aneh ... lampiaskan bukan pada mereka
2021-06-04
1