Mentari pagi menyejukkan hati sebagian manusia yang bisa mensyukuri nya, tapi lain halnya dengan seorang gadis yang masih tertidur dengan selimut tebalnya.
Tok Tok Tok
Suara ketukan pintu yang menggema di ruangan kecil nan sempit itu, tapi sang pemilik kamar tidak kunjung bangun.
"Nona muda, sudah bangun belum?" teriak Oji dari balik pintu.
"Non, kita sarapan sama-sama yuk dengan Surti juga." sambungnya.
Oji terus saja memanggil Nona muda nya tapi tak kunjung mendapatkan sahutan dari dalam, Oji memberanikan diri untuk membuka pintu dan ternyata memang tidak di kunci.
Di lihat nya Nona mudanya yang masih tertidur di bawah selimut tebalnya.
"Non bangun yuk udah siang nih, kami belum sarapan karena menunggu Nona untuk sarapan bersama." Ucap Oji dengan lembut.
Curiga karena tidak mendapatkan sahutan, Oji memberanikan diri untuk membuka selimut itu, dan nampaklah gadis yang sedang memeluk kaki nya yang terlihat gemetaran dengan wajah pucatnya.
"Astaga Nona muda kenapa?" Oji pun panik, di tempelkan punggung tangannya ke kening nona mudanya, ternyata demam tinggi.
"Ya ampun Nona sakit, aku harus bagaimana ini."..
"Aah aku akan bicara pada nyonya Sari." Oji berlalu keluar untuk mencari Sari, dan ternyata Sari sedang berada di ruang TV dengan anak kesayangan nya.
"Nyonya maaf mengganggu, ini saya mau beritahu, kalau Nona muda Devita sakit, dia demam tinggi." Ujar Oji dengan paniknya.
"Terus urusan saya apa, biarlah dia demam nanti juga sembuh sendiri." ketus Sari.
"Iyah biarlah Oji, kalau dia sakit kan ada kemungkinan dia untuk mati kan, hahaha." Ucapan yang terlontar dari mulut Chloe membuat Oji mengeram marah.
"Maaf sekali lagi, kalau Nyonya dan Nona Chloe tidak ingin mengurus Devita, setidaknya tidak usah menyumpahinya, saya yang akan membawa Nona muda Devita ke rumah sakit." Setelah dengan beraninya berbicara seperti itu pada 2 majikannya, Oji berlalu untuk ke kamar Devita lagi.
"Hah pembantu ga tau diri, berani-beraninya dia berbicara dengan tidak sopannya," gerutu Sari.
"Iyah Mih, segala panggil si anak sial itu dengan 'Nona muda' jelas-jelas aku yang nona mudanya," protes Chloe.
"Sudah lah biarkan dia, lepas ini kita tendang dia dari rumah ini, dasar pembantu ga tau diri," timpal Sari.
Oji berusaha memapah tubuh Devita, Oji yang badannya lebih kecil dari Devita memang aga sedikit kesulitan.
Oji seorang pemuda berumur 18 tahun, dia anak dari tukang kebun sebelumnya, dan dia hanya lulusan Sekolah menengah Akhir, karena keterbatasan biaya, Oji tidak meneruskan ke Universitas walau dia sangat ingin.
"Nona saya mohon Nona harus kuat," lirihnya.
Sampai di depan gerbang, Oji nampak kesulitan mencari kendaraan untuk ke Rumah sakit.
"Aduuhh bagaimana ini," Gumam nya.
Tidak berselang lama, sebuah mobil berwarna Hitam Brigh berhenti di depa Oji dan Devita, seorang pria memakai baju serba hitam, turun dan menghampiri.
"Ada apa ini?" tanya seorang pria itu yang ternyata Kemal, orang kepercayaan Daniel.
"Maaf Tuan, apa boleh saya menumpang di mobil Tuan, anak majikan saya sakit Tuan, dia harus segera di periksa." Ucap panik Oji.
"Mari segera naik," Kemal membantu Oji untuk memasukkan tubuh Devita ke dalam mobil bagian tengah, Devita sudah tidak sadarkan diri entah sejak kapan.
"Terimakasih Tua, sudah membantu kami," Ucap Oji tulus.
"Ini sudah tugas saya," jawab Kemal dingin.
"Nona Devita kenapa bisa seperti ini?" Pertanyaan Kemal membuat Oji keheranan.
"Tuan kenal Nona Devita?" tanya Oji penasaran.
"Iyah beliau adalah gadisnya Bos saya," jawabnya.
"Maksudnya bagaimana Tuan," Oji semakin ingin tahu.
"Nona Devita adalah calon istri Bos saya,"..
"Calon istri? apa Bos tuan yang bernama Jonathan?" tanya Oji.
"Bukan,"..
Suasana hening kembali, Oji masih memikirkan penyataan pria yang sedang mengemudi itu.
Mobil berhenti di sebuah rumah sakit besar, Kemal dengan sigap mengangkat tubuh mungil Devita, ada desiran aneh yang di rasakan Kemal saat melihat wajah cantik walau pucat itu.
"Tidak, tidak boleh aku menyukai gadis bos ku sendiri," gumamnya dalam hati.
.
.
Sekarang Devita sedang di periksa seorang dokter di sebuah ruangan khusus yang di pesan oleh Kemal.
"Astaga kenapa aku bisa seceroboh ini, aku bahkan belum mengabari si Bos," Gumamnya.
Akhirnya Kemal menelpon Zen untuk mengabari kalau gadis Bosnya itu masuk rumah sakit.
Di sebuah kantor di ruangan meeting, Daniel tengah melakukan pertemuan para pemegang saham, Zen yang memang hanya berdiri di belakang Daniel mendapatkan panggilan telepon dari nomor Kemal sala satu anak buahnya si Bos.
Zen keluar ruangan setelah meminta izin pada Tuannya.
Perbincangan di telepon.
"Halo, ada apa Kem, cepat katakan," Ucap tegas Zen.
"Hey Zen, bisakah kau berbicara santai dengan ku," Ucap Kemal di sebrang sana.
"Tidak usah bermain-main Kem, cepat kataka," desak Zen.
"Baiklah, tolong beritahu Si Bos, kalau gadisnya sekarang berada di rumah sakit," Ucap santai Kemal.
"Nona Devita sakit? kenapa baru mengabari Bodoh," omel Zen.
"Sengaja agar kau yang terkena hukuman, Hahah." dengan usilnya Kemal tertawa dan mematikan telponnya dengan sepihak.
"Sial, si Kemal benar-benar keterlaluan, aku harus berbicara bagaimana pada Daniel," Gumamnya risau.
Dengan langkah yang lesu, Zen kembali ke ruangan meeting itu berniat untuk memberitahukan kabar ini
"Tuan saya bisa bicara sebentar," lirih Zen.
"Bicaralah," jawabnya.
"Nona Vita," Zen menggantung ucapannya.
"Ada apa dengan dia?" tanya Daniel dengan sangat tidak sabarnya.
"Nona Devita masuk Rumah sakit," Ucapnya dengan raut wajah yang tidak biasa.
BRRAAKKK.
Daniel menggebrak meja, sampai penghuni ruangan meeting itu menegang, ya mereka sangat tau dengan sifat Daniel yang sangat Arrogan dan yang pasti Kejam.
"KENAPA KAU BARU MEMBERITAHU KU, HAH!!" Bentak Daniel pada Zen.
Para pemegang saham terlihat ketakutan, keringat dingin bercucuran di dahi mereka.
"Maafkan saya Tuan, saya juga baru mendapatkan kabarnya," jawab Zen.
"Meeting di tunda." Tanpa berpamitan, Daniel berlalu keluar dengan diikuti Zen di belakangnya.
"Cepat Zen." titah Daniel yang sudah duduk di mobil, ada raut khawatir di wajahnya.
"Tunggu aku Vita ku," Gumam nya.
Hanya 10 menit perjalanan, akhirnya Zen dan Daniel tiba di Rumah sakit yang masih di bawa naungan Daniel juga.
Daniel berjalan dengan gagahnya, melewati beberapa karyawan yang menunduk hormat pada Daniel, tapi memang jiwa Arrogannya tidak bisa di hilangkan Daniel hanya melewatinya saja.
Tiba di depan ruangan VVIP terlihat ada Kemal dan seorang Pemuda belasan tahun yang sedang duduk di kursi depan raungan.
Kemal yang melihat kedatangan Daniel langsung berdiri.
"Tuan," Kemal menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat.
BUG
Daniel melepaskan pukulannya ke wajah tampan Kemal.
"Dasar tidak berguna, kenapa kau tidak memberi tahu ku sedari awal, Hah." Ucap Daniel dengan meninggikan suara.
"Maafkan saya tuan," Ucap Kemal menundukan kepalanya dengan sembari melirik Zen yang ada di belakang tubuh tegap bosnya.
Zen terlihat sedang mengulum senyumnya, saat melihat Kemal mendapatkan bogeman dari Daniel.
"*Awas kau ya." Kemal memicingkan matanya dengan sangat tajam ke arah Zen yang masih menahan tawanya.
"Sebenarnya mereka ini siapa," gumam Oji yang melihat 3 pria dewasa sedang berkumpul*.
Seorang Dokter keluar dari ruangan itu.
"Tuan Carroll," Dokter itu memberi salam dengan cara yang sama dengan yang Kemal lakukan.
"Bahkan Dokter saja hormat pada pria itu, sebenarnya dia itu siapa?" Oji terus bertanya-tanya.
"Jelaskan," Ucap dingin Daniel.
"Nona Devita mengalami dehidrasi parah Tuan, tapi sekarang Nona Devita sudah lebih baik, setelah di berikan infus, biarkan dia istirahat," jelas sang Dokter.
"Kau boleh pergi," usir Daniel.
"Baik Tuan, saya permisi." Dokter itu berlalu pergi dari hadapan Daniel.
Mendengar penjelasan Dokter yang memeriksa keadaan Devita, amarah Daniel memuncak kembali.
"Bagaimana bisa, Vita ku mengalami dehidrasi parah seperti itu, ada yang bisa jelaskan," Ucap Daniel dengan nada yang sedikit meninggi.
Zen dan Kemal melihat ke arah Oji yang sedang duduk di pojokan itu.
"Ada apa mereka, kok melihat ku dengannya tatapan seperti itu," batin Oji.
"Hey anak muda, jelaskan," Ucap Daniel.
"Aku?" tunjuk Oji pada dirinya sendiri.
"Ya kau, siapa lagi Bodoh!" maki Daniel.
Oji pun menceritakan sangat detail, sampai ucapan Sari dan Chloe di ceritakan juga.
Mata Daniel memerah, menandakan dia sangat marah.
"Zen, lakukan sekarang," Ucap Daniel dengan sangat dingin.
"Baik Tuan." Zen berlalu pergi.
Daniel melangkahkan kakinya menuju ruangan dimana Devita di rawat.
Saat Daniel membuka pintu kamar rawat Devita, mata Daniel langsung tertuju pada gadis yang tertidur di sebuah ranjang rumah sakit yang mewah itu, dengan wajah pucatnya dan tanpa mengurangi kadar kecantikan seorang Devita Maharani membuat Daniel terenyuh.
Daniel duduk di ranjang sembari tangannya mengusap lembut kepala Devita.
"Aku akan membalaskan nya sayang, demi dirimu." 'Cup' Daniel mencium kening Devita dengan jeda sangat lama.
BERSAMBUNG..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 231 Episodes
Comments
Bundane Adit
galak amat sih daniel😌😌
2023-01-21
1
Ainul Inayah
andai saja bener ada laki" yg bener" membela perempuan sampe begitu ..
2022-11-30
1
nobita
wah wah Devita kau gadis yg sangat beruntung... di kelilingi para pria" cakep
2021-08-31
0