Malam pun tiba, waktunya para pekerja pulang kerumahnya masing-masing, termasuk Devita.
Devita sedang menunggu Bus di sebuah halte, kebosanan pun hinggap pada diri, di ambilnya sebuah benda pipih miliknya dari dalam tas sangkilnya.
Devita sedang asik berseluncur dimedia sosial nya, Tiba-tiba seseorang merampas ponsel milik Vita dengan sangat cepat, dan orang itu berlari meninggalkan Vita yang masih syok, saat dia tersadar, dia baru menyadari seorang pencuri sudah berhasil mengambil ponsel miliknya.
"Pencuriii,, Pencuriii,," teriak Devita.
Devita berusaha mengejar pencuri itu, suasana jalan sudah sangat sepi tidak ada yang bisa di minta bantuan untuk mengejar si pencuri itu.
Devita terus mengejarnya tanpa rasa lelah dan tanpa ingin menyerah, untung lah Devita juara 2 lari maraton waktu di Sekolah Menengah Pertama.
Sampai di ujung sebuah gang, si pencuri itu tersudut karena itu adalah jalanan buntu.
"Tuan, saya mohon kembalikan ponsel miliku, itu harta benda saya satu-satunya," pinta Devita dengan sangat harap.
Seringai licik muncul di wajah si pencuri itu.
"Kau ingin ponsel mu kembali kan?" tanya pria itu.
"Iya, saya mohon kembalikan," jawab Devita dengan memohon.
"Ambillah." Si pencuri itu menyerahkan ponsel milik Devita yang masih berada di tangannya.
Devita mendekat berniat ingin mengambil ponsel miliknya, dengan langkah perlahan Devita semakin mendekat, ada rasa takut sebenarnya, tapi Devita mengsampingkan rasa takut itu.
'Hap
Tubuh mungil Devita di rengkuh dengan sangat kurang ajarnya, Tawa yang terdengar sangat menyeramkan memenuhi gang buntu itu.
"Aaaakkhhhhhh.
Devita memberontak dengan teriakan dan isakan, saat ini rasa takut lah yang ada di dirinya.
"HAHAHAH, Wanita bodoh, kau sangat harum," Ucap Pria itu dengan tawa yang menggema.
Si Pria itu berusaha ingin mencium wajah ayu Devita, tapi Devita yang terus saja melakukan perlawanan membuat si Pria itu kesulitan untuk melakukan tujuan hinanya.
Bug
Tiba-tiba tubuh kekar si pencuri itu terhuyung jatuh karena seseorang datang menyerangnya, seseorang itu adalah Pria yang belum sempat di lihat wajahnya dengan Devita karena tangan Devita keburu di tarik agar menjauh dari si pencuri itu.
Devita di sembunyikan di balik tubuh tegap, tinggi gagah orang itu.
"Kau diamlah disini," ucap pria itu dengan suara dingin.
"Suara itu?" Devita merasa pemilik Suara barinton yang menyelamatkan nya sangat familiar di telinga nya.
"Tutup mata mu." ucap pria itu lagi, seperti sapi di cocok hidungnya, Devita menurut dengan ucapan pria itu.
Devita yang sedang memejamkan matanya hanya bisa mendengar suara pukulan demi pukulan dan tarikan nafas yang sangat berat.
Sekitar 5 menit Devita masih memejamkan matanya, tiba-tiba ada tangan kekar menyentuh lengannya.
"Buka lah, kau tidak apa-apa?" perintah pria itu sekaligus bertanya dengan wajah yang nampak khawatir.
Perlahan Devita membuka matanya, dan mengangkat kepalanya untuk melihat malaikat yang telah menyelamatkan nya.
Matanya melebar tatkala siapa yang telah menyelamatkan nya itu.
"Tu-Tuan Jas," Ucap Devita dengan gugup, dan apa tadi? Devita memanggilnya dengan sebutan Tuan Jas, sungguh menggemaskan.
"Apa kau tidak apa-apa, apa yang terluka, dimana pria brengshek itu menyentuhmu." Entah ada apa dengan pria itu yang ternyata adalah Daniel Carroll, baru kali ini dia sangat mengkhawatirkan seseorang sampai segitunya.
Daniel terus memeriksa tubuh Devita, memutar tubuh gadis itu dan memutar nya kembali, itu yang terus dia lakukan.
"Aku tidak apa Tuan," lirihnya.
"Haaaahhh, syukurlah kalau kau tidak apa-apa, aku tak akan mengampuni siapapun itu yang berani menyakiti mu." Daniel menghela nafas dengan lega dan langsung membawa tubuh mungil gadis didepannya ke dalam dekapannya.
Devita hanya diam, rasa terkejut nya masih menyergap dirinya.
"Ada apa dengan Tuan Jas ini?" Ucap Devita dalam hati.
Daniel melepaskan dekapannya dan langsung menggandeng tangan kecil Devita menuju mobil mewahnya.
"Ke Apartemen Zen," titah seorang Daniel dengan nada datarnya.
"Baik Tuan." jawab Zen, sebenarnya Zen tengah merasa heran dengan gadis yang di bawa Bosnya itu, mobil berjalan membelah kota yang sudah terlihat sepi itu, sesekali Zen mencuri pandang lewat kaca untuk melihat wajah wanita yang di bawa Bosnya itu.
"Jaga mata mu Zen, atau ku congkel untuk santapan Yibu," Ujar Daniel dengan garangnya. Yibu itu nama peliharaan Daniel yang berada di Mansion nya.
"Maaf Tuan," tegas Zen.
Perkataan Daniel yang sangat menyeramkan di telinga Devita membuat tubuh mungil Devita beringsut menjauh dari Daniel.
"Heey kau kenapa? Hem," Daniel merasa heran, karena melihat Devita seperti orang yang ketakutan.
"Aku tak mau di jadi korban mu." ucapan Devita membuat Daniel tercengang, mulut terbuka alis yang terangkat, sungguh menggemaskan.
Zen menahan tawanya karena mendengar penuturan gadis yang ada bersama Bosnya.
"Zen!!" tegur Daniel yang tau kalau Asistennya itu sedang mentertawakan nya.
"Maaf Tuan," Ucap Zen lagi.
Sampailah mereka di pelataran Apartemen mewah, Zen turun lebih dulu untuk membukakan pintu untuk Tuannya.
"Aku ingin pulang, aku tidak ingin kesini," lirih Devita.
"Ya nanti aku antarkan pulang, tapi kita kesini dulu oke." Ucap Daniel lembut, seraya berbicara pada anak kecil saja.
"Aku tidak menyangka, Tuan yang terkenal dengan ke Arrogannya bisa bersikap manis seperti ini dengan seorang gadis, aku jadi penasaran dengan wajahnya." Gumam Zen dalam hati.
Zen berusaha ingin melihat wajah gadis membelakangi nya itu, tapi suara Deheman dari seorang Daniel Carroll membuat nyali Zen ciut.
"Kau bisa pulang Zen," perintah Daniel.
"Baik Tuan," jawabnya.
Daniel menggandeng kembali tangan Devita, dan menariknya dengan lembut untuk berjalan masuk menuju pintu masuk Gedung Apartemen itu.
Zen berlalu pergi setelah memastikan Tuannya masuk ke gedung Apartemen yang di tinggalinya.
"Tuan, buat apa Tuan membawa saya ke sini," tanya Devita.
"Ingin mengajak kau makan bersama." jawab Daniel yang sedang asik dengan ponselnya.
Lift yang menuju lantai 30 akhirnya sampai, keduanya keluar dengan Daniel lah sebagai pemimpin jalan dan Devita hanya mengekor.
Pintu di terbuka setelah Daniel menekan Pasword nya.
Ini ke-dua kalinya Devita datang ke Apartemen milik Daniel, tapi Devita tetap saja terkagum dengan isi nya.
"Kau duduklah dulu." Daniel berlalu pergi setelah melepaskan Jasnya dan menaruhnya di sandaran sofa mewahnya.
Devita duduk di sofa dengan mata yang terus memperhatikan sekitarnya.
"Apa dia anak sultan?" gumanya.
"Apa mungkin dia seorang Mafia?" gumaman nya kali ini membuat dirinya sendiri bergidik ngeri.
Setelah 20 menit berlalu, Devita yang sedang memainkan ponselnya yang sempat di rampas pencuri tadi, sekarang sudah ada di tangannya kembali, Devita mencium aroma masakan yang membuat perutnya berbunyi.
"Baunya nikmat sekali, apa dia yang memasak," gumamnya.
"Heeyy nona, kemarilah," terdengar suara Daniel memanggilnya.
Devita mencari asal suara itu yang ternyata dari dapur.
"Duduklah, cicipi masakan ku, semoga cocok di lidahmu,"..
Devita duduk dan menatap makanan yang ada di hadapannya, makanan berjenis Western Rosemary chicken with sauteed vegetables, makanan dengan berbahan filet dada ayam yang di panggang dengan sayuran jagung dan wortel di sekelilingnya.
"Makanlah," Ucap Daniel dengan memberikan sedikit senyumannya yang membuat Devita salah tingkah.
"Kenapa, kamu ga suka sama makanan Western?" tanya Daniel karena melihat masakan nya yang tak kunjung di sentuh Devita.
"Bukan, bukan tidak suka, tapi..
Lagi lagi ucapan Devita harus terpotong karena Daniel.
"Sudah lah, biar aku yang suapin ya." Daniel mengambil alih sendok dan garpu yang ada di tangan Devita, perlahan di potongnya potongan filet ayam itu dan mengarahkannya ke mulut mungil Devita.
Devita dengan terpaksa harus membuka mulutnya, perlakuan manis Daniel membuat Devita seakan-akan gadis yang sangat istimewa.
Beberapa suapan masuk ke mulut Devita, Devita menyudahkan makannya karena merasa kenyang.
"Kau sungguh sudah kenyang?" tanya Daniel memastikan.
Devita hanya mengaggukan kepalanya.
"Baiklah, biar ku makan sisanya." Ucap Daniel dengan santai, membuat mata Devita mendelik.
"Jangan Tuan, itu kan bekas bibir saya." cegah Devita, membuat tangan Daniel yang ingin menyuap tertahan.
"Tak apa, sebentar lagi juga, bibir mu akan jadi milik ku." Daniel berucap dengan gaya Arrogannya, tanpa memikirkan perasaan Devita.
"Maksud Tuan apa?" tanya Devita dengan lantang.
"Tidak, saya hanya bergurau," kilah Daniel,
Devita bernafas lega..
Tbc
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 231 Episodes
Comments
Iiq Rahmawaty
gurau'an mu bikin jantungku mau copot lho tuan😆😆
2022-01-06
0
Khairani Khairani
baca yg ke3 x nya😁😁 sangkin suka nya liat kisah daniel dan devita. masih menahan buat baca cerita anak nya🤭🤭
2021-12-08
9
nobita
thor.. karya mu is the best... mantap
2021-08-28
18