Sepulang kuliah Devita sudah stand by di depan gedung Universitasnya terlihat Dia sedang menunggu seseorang, tiba-tiba seorang pria datang langsung merangkulnya.
'' Pulang bareng yuk,'' ajak Jonathan.
'' Maaf Jo, aku sudah punya janji dengan seseorang,'' tolak Devita secara halus.
Terlihat sekali Jo merasa kecewa karena ajakannya untuk kesekian kalinya tertolak lagi, dengan kilat Jo merubah ekspresi mukanya dari kecewa dengan biasa, memberikan senyumnya dengan terpaksa.
''Ya sudah tak apa, Mungkin lain kali.'' ucap Jo masih dengan tangan yang merangkul Devita.
'' Maaf ya Jo, bener deh kali ini aku benar-benar ada janji dengan seseorang, nanti lain kali deh kita pulang bareng, oke.'' ucap Devita menghibur Jo.
'' Iya aku selalu menunggu waktu itu, ngomong-ngomong kamu nungguin siapa?'' Joo bertanya dengan mata yang mengedar mencari seseorang yang di tunggu Devita.
''Sepertinya sih belum datang, cuman nggak tahu deh,'' jawabnya.
Jo dan Devita hanyut dengan canda guraunya, pergerakan kasar dari tangan yang menghempas tangan Jo yang berada di pundak Devita, membuat keduanya menoleh ke arah samping.
Muka yang datar dengan Tatapan yang tajam Menghujam ke arah Jonathan.'' Jngan kau coba menyentuh Vita, atau tanganmu akan terpisah dari tempatnya.'' ucapan yang membuat pendengar merinding terlontar dari bibir seorang Daniel Carroll.
Jo menatap heran, Apa maksud dari ucapannya? pikirnya, mata mereka saling menatap menyiratkan Persaingan di antara keduanya.
Devita yang ada di tengah-tengah mereka merasakan Hawa menyeramkan dari tatapan keduanya,
'' Jo aku duluan yeah.'' Devita langsung menarik tangan Daniel tanpa menunggu jawaban Jo, karena tidak ingin ada persitegangan yang akan mengundang perhatian banyak orang.
Emosi Daniel seakan sirna karena genggaman lembut dari tangan Devita. senyuman tipis Terlukis indah di bibir Daniel.
" Genggamlah terus tanganku Vit.'' ucapan Daniel membuat Devita langsung melepaskan tangannya dari tangan Daniel. raut wajah Daniel langsung berubah muram.
'' Kenapa dilepas?'' tanya Daniel.
'' Maaf Tuan kalau saya sudah lancang.'' Ucap Devita dengan Lirih.
'' Aku tidak keberatan, walau kau menggenggam tanganku sampai seumur hidupmu.'' Seakan tidak ingin terhanyut dalam ucapan Daniel, Devita langsung mengalihkan pembicaraan nya.
'' Tuan, acara pernikahan rekan bisnis Tuan kapan?'' pertanyaan Devita membuat Daniel tersenyum karena Daniel sangat tahu, Devita bertanya seperti itu hanya untuk mengalihkan pembicaraan.
M**enggemaskan.
'' Iya sudah, jika kau masih malu- malu.'' Ucap Daniel, Devita memalingkan wajahnya karena menahan tawanya.
''T**uan jass ini, selalu saja bergurau,'' Batinnya.
Daniel berjalan mendahului Devita yang masih terpaku di tempat, saat sudah berada di samping mobil dan ingin membuka pintu, Daniel menoleh ke kirinya untuk mencari Devita.
'' Kenapa masih disitu?" teriak Daniel.
Devita yang masih melamun, langsung tersadar dengan teriakan Daniel.
''Eeh iya Tuan." Devita menuju mobil Daniel.
.
Mereka sudah di dalam mobil dan kali ini Daniel tidak memakai jasa Zen untuk menyetir, entah kerasukan apa, hari ini Daniel melonggarkan jadwal Zen, tentu asisten itu senang karena belum pernah Zen diberi hari leha-leha dengan Daniel.
'' Tuan, Tuan Zen kemana?'' pertanyaan sepele Devita membuat Daniel memuramkan wajahnya.
''Apa kau merindukan nya? sampai kamu menanyakan seseorang yang tidak ada disini.'' Ujar Daniel dengan muka datarnya.
''Tidak Tuan, saya hanya menanyakan nya saja.''jawabnya.
''Zen, saya liburkan.'' Ucap Daniel dengan mode dingin.
Devita hanya menganggukkan kepalanya.
Mobil Daniel melaju dengan cepat, sampai di suatu butik Daniel memarkirkan mobil nya tepat di depan pintu kaca.
''Ayok turun,'' ajaknya.
Devita yang masih memperhatikan sekitarnya dan berpikir, untuk apa dirinya di bawa ke ini.
''Iya Tuan,''..
Devita dan Daniel berjalan beriringan, setiap langkah keduanya selalu mendapatkan tatapan heran para orang yang berada di dalam butik.
Bukan hanya tatapan heran, ada juga yang menatapnya iri, karena mereka menganggap Devita adalah wanita beruntung yang bisa berjalan beriringan dengan adik dari sang pemilik butik ini.
''Selamat datang Tuan Muda Daniel, ada yang bisa saya bantu?'' tanya Fadillah pengurus butik itu.
''Carikan gaun yang cocok untuk nya, dan satu lagi carikan yang istimewa." Ucap Daniel.
''Baik Tuan, mari Nona.'' Fadillah berjalan memimpin ke suatu jejeran lemari kaca yang menyimpan gaun-gaun mewah dan istimewa, Devita berjalan dengan canggung.
''Bagaimana kalau yang ini Nona?'' tanya Fadillah menunjukan gaun berwarna merah marun dengan Belahan tajam di dadanya.
''Maaf ka, itu terlalu terbuka.'' jawaban Devita membuat Fadillah tersenyum tipis.
Fadillah berjalan lagi dengan Devita yang membuntut di belakang nya.
''Kalau yang ini?'' Tanya Fadillah lagi, dengan menunjukkan gaun berwarna biru tanpa lengan dan berbentuk kemben.
Devita membelalak melihatnya, dia pun menggeleng dengan senyum kakunya.
Dengan sabarnya Fadillah terus menunjukkan gaun-gaun koleksi butik yang di beri nama CR Boutique itu.
Sudah 8 gaun yang di tunjukkan Fadillah, tapi Devita tidak ada yang di rasa cocok untuk dia kenakan, dan sampai ke Lemari kaca yang paling pojok dengan desain yang paling sederhana dari gaun-gaun sebelumnya, Devita menunjuknya.
''Saya mau yang itu.'' Ucap Devita dengan senyum manisnya menunjuk ke gaun yang berwarna Nude yang sangat cocok jika di padukan di kulit putih nya.
''Sungguh selera yang standar.'' Gumam sala satu karyawan butik.
Bagaimana karyawan itu tidak berpandangan seperti itu, pasalnya. Gaun yang di pilih Devita memang sangat sederhana dengan panjang selutut dan desain sedikit mute di dada dan panjang tangan yang seperempat tapi tidak menghilangkan kesan girlnya.
Daniel menghampiri Devita, karena Daniel merasa heran, hanya memilih gaun sampai hampir setengah jam.
''Sudah ketemu yang cocok?'' Tanya Daniel, Devita mengangguk dan menunjuk ke arah gaun yang masih ada di lemari kaca di unung ruangan.
Daniel tersenyum dengan pilihan Devita. ''Sungguh wanita yang sederhana, pandangan wanita pencinta harta tidak ada di dirinya.'' Gumam Daniel.
''Ambilkan Pilihannya, dan rias dia.'' titah seorang Daniel.
''Baik Tuan, mari Nona.'' Ucap Fadillah menunjukkan jalan ke arah ruang ganti khusus.
Devita yang belum mengerti masih berdiri mematung dengan wajah polosnya.
''Hey kenapa melamun, sudah sana.'' tegur Daniel menyadarkan lamunan Devita.
''Iyah.''..
''Apa yang sedang di lamunkannya, tiada hari tanpa melamun.'' Gumam Daniel setelah Devita berlalu mengikuti langkah Fadillah.
Tiga puluh menit lamanya Daniel menunggu di sofa dengan menyibukkan diri sendiri dengan ponselnya.
Tag
Tag
Tag
Suara pijakan sepatu berhils bersahutan.
Daniel menoleh ke asal suara yang berasal dari arah Devita tadi berlalu.
Mata Daniel terpaku dengan keindahan yang di lihatnya, Penampilan Devita bagaikan Dua orang yang berbeda. karena penampilan Devita dengan riasan natural dan rambut yang di hias dengan jepit bunga sangat kontras dengan penampilan Devita yang terkesan cuek dengan penampilan.
Para karyawan dan pengunjung butik sama terpakunya dengan penampilan Devita, mata mereka seakan tersihir untuk diam tanpa berkedip.
Devita yang merasa di perhatikan beberapa orang merasa gugup, rona merah menghiasi pipi cuby nya.
''Tuan jangan pandang aku seperti itu.'' ucapan Devita membuat Daniel tersadar dengan keterpanahnya.
''Aah iyah maaf.'' Daniel terkekeh dan bangkit dari duduknya menghampiri Devita yang masih berdiri di tempatnya.
Devita sama terpanahnya pasalnya Devita melihat Daniel dengan penampilan yang berbeda dari sebelumnya, memakai kemeja hitam dengan Jass yang berwarna senada dengan gaun yang di pakai Devita terkesan serasi jika di lihatnya.
'' Amazing, sudah siap?" ..
Devita mengangguk ragu.
''Tidak usah gugup di pesta nanti, dan aku pinta panggil aku jangan memakai embel-embel Tuan, bisa?'' pinta Daniel.
''Lalu aku memanggilnya dengan sebutan apa?'' pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir tipis Devita.
''Bagaimana panggil dengan nama saja?'' tanya Daniel.
''Tidak Tuan, saya tidak terbiasa.'' Tolak Devita dengan halus.
''Maka biasakanlah, atau kau mau memanggil ku dengannya, Sayang.'' Goda Daniel.
''Iih apah sih,'' lirih Devita.
''Ya sudah, maka dari itu biasakanlah memanggil ku dengan nama ku saja, Daniel.'' Ucapnya.
''Tapi Tuan.''..
''Daniel.'' ucap Daniel mengingatkan.
Devita mengigit bibir bawahnya, Devita tidak tau dengan dia mengigit bibirnya seperti itu membuat Daniel langsung salah tingkah.
Para karyawan menyaksikan interaksi Daniel dengan Devita yang begitu hangat, yang mereka tau Daniel adalah manusia terdingin dan tersombong di muka bumi ini.
Bersambung..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 231 Episodes
Comments
Tuubanasukha
pangil mas aja....
2021-04-11
2
Yantidianurhasyanti
panggil sayang🤗☺️☺️ tuan jass memang ngarep ..tapi apa vita g peka sih sama godaan tuan jass nya😇😁😁
2021-03-30
3
Desy Puspita
Ansyem serem amaat tangannya mau di lepas. Lu kata berbiii😭😭 Daniel Bebek emang suka ngadi".
Jo sama aku aja deh, kamu sih ngapain pakek mepet sama 🧚♀🧚♀.Bgitu ya pas denger suara Vita dia jadi manut nurut begitu.
Dih pegawainya minta getok tuh, asli wkwk. Ahaay kode di panggil sayang itu Vitaa masa kgak ngarti😂😂
2020-12-14
7