Ardi bangun dari duduknya lalu melihat istrinya yang masih makan sambil menunduk. Ardi mendekati istrinya lalu dirinya langsung mencium kening istrinya sekilas. Lisa langsung menengok pada suaminya dirinya menatap mata suaminya dengan tatapan tajam yang tidak bisa di artikan
" Dasar ba."
Lisa melirik ke ibu mertua dan ayah mertuanya. Mirna dan Ardian hanya tersenyum melihat anak dan menantunya
" Sayang, hati-hati bawa mobilnya dan jangan lupa makan siang." Ucap Ardi sambil tersenyum manis pada istrinya
" Sial, kenapa bajingan ini mengambil kesempatan di depan kedua orang tuanya, aku sudah tersenyum manis begini, kalau marah karena ciuman tidak mungkin, siap-siap saja apa yang akan aku lakukan nanti malam." Batin Lisa
" Sayang, kenapa tidak jawab?" tanya Ardi
Dert...deret..
Ponsel Lisa berbunyi. Lisa tidak menjawab perkataan suaminya dirinya langsung lari keluar setelah membaca pesan dari Ria. Ardi yang melihat istrinya lari dirinya langsung mengikuti istrinya. Lisa langsung menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dirinya pergi ke apartemen Livino
" Santi, Ayo ikuti mobil Lisa."
" Baik, pak CEO."
Santi terus mengikuti kemana perginya mobil Lisa. Setelah 17 menit Lisa sampai dirinya langsung turun lalu berjalan masuk ke dalam apartemen Zx. Santi juga memberhentikan mobilnya
" Santi, kau di sini saja."
" Baik pak CEO."
Ardi langsung berjalan mengikuti istrinya masuk ke dalam apartemen
" Ada apa prsedir mengikuti nona Lisa, jangan-jangan nona Lisa istrinya, tapi tidak mungkin, jika istrinya mana mungkin pak CEO merelakan nona Lisa dan dokter Livino bermesraan." Batin Santi
Lisa mendekati Livino yang bertengkar dengan ibunya. Lisa melihat Livino sudah menetes air mata dirinya langsung memeluk Livino
" Sayang, kenapa kau ada di sini?" Tanya Livino dengan suara serak
" Aku kesini karena tidak ingin kalian bertengkar."
Livia diam sambil meneteskan air matanya. Setelah 1 menit Livino dan Lisa melepaskan pelukannya
" Kak, kasih kesempatan padanya." Ucap Lisa sambil menghapus air mata di pipi Livino memakai ke dua tangannya
" Tidak, untuk apa dia kesini, bukankah dulu dia membuang aku seperti sampah, apa ada waktu buat aku tidak, hanya papah yang menemaniku." Jawab Livino masih meteskan air matanya
" Livino, kasih mamah kesempatan untuk menjadi ibumu yang baik, jika kau menginginkan mamah berhenti dari karir mamah, mamah siap, tolong jangan benci mamah." Ucap Livia dengan lirih
" Apa mamah, jangan pernah berharap kau menjadi mamah aku, kau hanya wanita asing buatku. Jika kau tidak egois, aku tidak akan pernah pergi ke Paris!." Bentak Livino
Lisa menatap Livia dengan kasihan
" Tante maafkan Lisa, yang tidak pernah bisa menaseti kak Livino." Batin Lisa
" Kak, setiap orang memiliki kesempatan kedua, tolong Kaka jangan seperti ini." Ucap Lisa sambil memegang kedua tangan Livino
" Sayang, jika kau membelanya lebih baik kau pergi dari apartemen ini."
Deg, detak jantung Lisa sangat kencang, ini pertama kalinya Livino menyuruh Lisa pergi
" Aku harus berbuat apa agar kau mengerti kak, aku ingin kau mengakui tante sabagai mamah." Batin Lisa
Air mata Livia semakin deras, ini memang kesalahan Livia karena memilih karirnya dari pada rumah tangganya dulu, bahkan dirinya mengabaikan anak dan suaminya hanya untuk karir. Livia langsung berlutut di kaki Livino
" Livino, mamah mohon tolong maafkan mamah, katakan dengan cara apa agar mamah bisa menebus kesalahan di masalalu."
" Meski kau berlutut di hadapanku, aku tidak akan pernah memaafkanmu, kau ingat saat aku merindukanmu, menelponmu puluhan kali, bahkan kau tidak mengangkatnya, alasan apa yang bisa kau berikan sekarang, sibuk atau apa, jika memang sibuk apa tidak ada waktu untuk menelpon balik setelah selesai."
Air mata Livino semakin deras dirinya mengingat kenangan masalalunya. Dulu dirinya seperti sampah yang tidak di anggap, sekarang wanita di hadapannya ingin di akui sebagai ibunya. Deg, detak jantung Lisa sangat kencang, pikiran dirinya mulai tidak karuan, dirinya melihat peristiwa ini mengingatkan dirinya saat berlutut dengan pria yang kini menjadi suaminya
" Kenapa semakin sakit hatiku saat melihat adegan ini." Batin Lisa
" Tante, kasih kak Livino waktu untuk menenangkan pikirannya, aku tau, tidak mudah untuk menerimanya lagi, karena posisi kak Livino, aku sudah merasakannya."
" Diam, aku tidak akan pernah mengakuinya. Jika kau masih ingin aku mengakuinya, kau pergi dari apartemenku!." Bentak Livino
Lisa langsung meneteskan air matanya
" Kak, tolong jangan pernah mengusir aku. aku hanya ingin menemanimu." Ucap Lisa dengan lirih
Livino langsung memeluk Lisa, seperti pria kecil Livino menyadarkan kepalanya di dada Lisa. Lisa membelai rambut Livino dengan lembut
" Tante tolong pergi dari sini, biarkan kak Livino istirahat."
" Baiklah Lisa, tolong jaga Livino."
" Tante tenang saja."
Livia keluar dari apartemen masih meneteskan air matanya. Livino langsung terduduk di lantai sambil menangis. Lisa juga ikut duduk di lantai
" Kak, aku paham perasaan Kaka, tapi jangan usir aku dari apartemen, biarkan aku menemanimu di sini." Ucap Lisa dengan lirih
Livino menjawab dengan anggukan kepala. Lisa membangunkan Livino lalu dirinya langsung memapah Livino masuk ke dalam apartemen Livino. Livino duduk di sofa sambil menyadarkan kepalanya di dada Lisa. Setelah beberapa menit pikiran Livino mulai tenang lalu dirinya langsung mengangkat kepalanya. Livino menatap mata Lisa
" Sayang, karena kau sudah ada di sini, Kaka ingin membicarakan tentang Ardi, kenapa dia meninggalkanmu dulu."
" Kak, hubunganku bersama Ardi sudah tidak ada, tidak perlu ada yang di jelasin lagi. Jika Kaka meminta aku bertemu di restoran 99 hanya untuk membicarakan Ardi, jangan membuang waktu aku kak, aku sebagai dokter, aku selalu di tunggu banyak pasien, yang jelas tidak ada lagi tempat untuk Ardi, aku tau kau pasti membelanya."
" Tidak sayang."
" Lisa sampai kapan membenci Ardi, kau bahkan tidak ingin mendengar penjelasan aku, aku hanya ingin kau tau, Ardi memutuskanmu agar kau fokus belajar." Batin Livino
" Kak, kenapa kau ingin menceritakan tentang bajingan itu, aku sudah ingin terlepas dari pernikahan ini, tapi kau tidak memahami aku." Batin Lisa
Setelah Lisa tidak keluar-keluar dari apartemen Livino. Ardi langsung berjalan keluar apartemen. Pikiran Ardi tidak karuan dirinya mengingat tentang kejadian 5 tahun yang lalu
" kenapa melihat kejadian tadi, dadaku sangat sesak, kenapa aku melihat Lisa yang berlutut tadi." Batin Ardi
Ardi sampai di parkiran
" Ayo Santi kita pergi ke kantor." ajak Ardi dengan wajah murung
" Baik pak CEO."
Santi dan Ardi masuk mobil lalu langsung melajukan mobilnya ke kantor. Ardi menatap keluar jendela dengan tatapan kosong, setelah melihat peristiwa tadi pikiran dirinya sudah tidak karuan. Santi melihat atasannya dengan tatapan kosong, dirinya menyetir sambil sedikit takut. Jika mengingat kejadian kemarin, saat atasannya marah-marah
" Semoga saja pak CEO tidak memarahiku, kemarin untung saja ada pak Yoga, aku harus menyiapkan mental yang kuat agar tidak takut pada pak CEO yang tiap hari wajahnya selalu dingin." Batin Santi
Setelah menempuh perjalanan 37 menit Santi dan Ardi sampai. Ardi turun di ikuti oleh Santi. Setelah masuk ke dalam ruangannya Ardi langsung duduk sambil merenung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 211 Episodes
Comments
Nyai iia
Selamat pagi author😊
👍👍👍 hadir...
feed back nya ditunggu ya😊
"i will die in love"
2021-03-26
0
👑Meylani Putri Putti
2like langsung
2021-03-16
0
Sang Dewi
mampir lagi ka
2021-02-21
1