Tadi malam pertama kalinya Ardi tidur satu ranjang bersama istrinya, karena Lisa menangis hingga tertidur di sisi ranjang. Ardi mengangkat tubuh istrinya ke atas ranjang
Ting-ting. Ting-ting
Ardi mengambil ponsel dengan mata masih mengantuk, saat Ardi ngemambil ponselnya ternyata ponsel istrinya yang memasang alarm pukul 06.00. Ardi melihat istrinya yang masih tertidur pulas
" Maafkan aku, aku tidak bermaksud membuatmu takut semalam, aku juga tidak tau kenapa semalam tidak bisa mengontrol emosiku, kau mau kemana, kenapa memasang alarm sepagi ini." Batin Ardi
Ardi turun dari ranjang dirinya langsung masuk ke dalam kamar mandi. Ardi langsung menyalakan shower untuk membasih tubuhnya, tapi pikirannya tetap teringat perkataan Livino
" Jika dia hamil itu anakku."
Itu lah yang terus terdengar di telinga Ardi
" Apa aku bisa mempertahan pernikahan kita, atau kau akan memilih kekasih kecilmu, dengan cara apa aku harus membuatmu mencintai aku lagi." Batin Ardi
Ting-ting. Ting-ting
Lisa bangun mengambil ponselnya yang berbunyi dirinya langsung duduk mengumpulkan nyawanya karena Lisa pikir masih pukul 06.00 . Ardi setelah mandi langsung melangkahkan kakinya keluar, langkah Ardi terhenti saat melihat istrinya sedang duduk sambil menyandarkan kepalanya. Lisa menekan ponselnya lalu matanya membulat sempurna saat melihat sudah pukul 07.00. Lisa langsung memakai sandal rumahnya lalu dirinya langsung lari menuruni tangga masih memakai baju tidur dan bando panda. Ardi yang melihat istrinya lari dirinya mengikuti kemana istrinya pergi
" Taksi." panggil Lisa langsung masuk mobil
" Pak, tolong cepat ke bandara."
" Baik nona."
Ardi langsung memberhentikan taksi
" taksi."
Ardi langsung masuk
" Pak, tolong ikuti mobil depan."
" Baik, tuan."
" Pak tolong lebih cepat." Ucap Lisa
" Baik nona."
Lisa sudah melihat jam terus, karena supir taksinya tetap mengemudi dengan kecepatan sedang
" Pak, saya saja yang menyetir."
" Tapi nona."
" Tolonglah pak, saya buru-buru."
" Baiklah nona."
Lisa tuker posisi duduk dengan supir taksi dirinya langsung mengemudi dengan kecepatan tinggi
" Pak, lebih cepat."
" Baik tuan."
Supir taksi itu mengemudi dengan kecepatan tinggi
" Apa Lisa tau, aku mengikutinya, hingga Lisa meminta dirinya yang menyetir." Batin Ardi
Lisa sebenarnya tidak mengetahui suaminya mengikutinya, dirinya hanya fokus pandangan matanya ke depan, agar cepat sampai ke bandara. Setelah menempuh perjalanan 34 menit Lisa sampai di bandara. Lisa langsung turun dari mobil
" Pak, ini uangnya."
" Nona, ini ke banyakan."
" Ambil saja."
Lisa langsung lari. Ardi tetap mengikuti istrinya, ingin tau siapa yang akan di temui istrinya. Lisa sampai di hadapan Livino, dirinya langsung memeluk Livino sambil mengangkat kedua kakinya. Ardi mata membuat sempurna, saat melihat yang di temui istrinya
" Kak, aku pikir tidak bisa bertemu kaka." Ucap Lisa sambil tersenyum
" Memang kenapa sayang, kenapa kesiangan?" Tanya Livino sambil tersenyum
" Kak, kenapa wajah Kaka bengkak, apa Kaka habis berkelahi?" Tanya Lisa sambil memegang pipi Livino
" Tidak sayang, mana mungkin Kaka berkelahi."
" Lalu kenapa. Jika Kaka tidak melakukan kesalahan pasti tidak akan di pukul. Lisa tau, Kaka pasti habis menggoda istri orang iya kan hingga di pukul?"
" Sepertinya begitu sayang." Jawab Livino sambil tersenyum
" Istri siap yang Kaka goda hah, secantik apa dia?" Tanya Lisa memasang wajah cemberut
" Haha, siapa lagi kalau bukan istrinya Ardi Setiawan." Jawab Livino sambil tertawa
" Apa Ardi ke apartemen Kaka?"
" Iya sayanng, kenapa wajahmu sangat pucat?"
" Tidak apa-apa kak, Lisa kurang enak badan."
" Lisa, aku tau kau menyebunyikan sesuatu, wajah pucatmu itu seperti syok, apa yang terjadi semalam, apa Ardi melakukan hal kasar padamu." Batin Livino
Ardi yang melihat kemesraan istrinya dirinya langsung pergi dari bandara dengan raut wajah sangat kecewa
" Kak, kenapa melamun?"
" Tidak apa-apa sayang, Kaka hanya sedikit berat meninggalkanmu."
" Kak, tapi karirmu lebih penting, sudah sana."
" Baiklah sayang."
Livino dan Lisa saling berpelukan lagi. Lisa mulai pusing mengingat kejadian semalam
" Kuatkan aku, jangan sampai aku pingsan, lalu membuat Kaka kuatir." Batin Lisa
Livino masih memeluk erat Lisa. Lisa pingsan di pelukan Livino. Livino merasa badan Lisa lemas dirinya melonggarkan sedikit. Setelah menyadari Lisa pingsan Livino langsung mengangkat tubuh Lisa, lalu ada seorang ibu yang menghampiri Livino
" Tuan muda, istrimu pingsan?"
" Iya bu."
" Apa mau ibu carikan taksi?"
" Boleh bu."
Ibu itu menarik koper Livino, lalu langsung mencarikan taksi setelah dapat Livino langsung masuk mobil
" Terimakasih bu."
" Tidak apa-apa, hati-hati, semoga istrimu cepat sembuh."
" Terimakasih bu."
" Sama-sama tuan muda."
. " Mau kemana tuan muda?"
" Ke apartemen Zx, pak."
" Baik tuan muda."
Supir taksi itu langsung melajukan mobilnya. Setelah menempuh perjalanan 20 menit Livino sampai di depan apartemen. Livino langsung mengangkat tubuh Lisa
" Tuan muda, biar saya yang bawa kopernya."
" Baik pak."
Supir itu membawa kopernya lalu mengikuti Livino hingga sampai di depan pintu apartemen
" Terimakasih pak."
" Iya sama-sama tuan muda."
Livino langsung merebahkan tubuh Lisa di sofa, dirinya menatap wajah Lisa penuh dengan pertanyaan, karena Livino sudah kenal dari kecil tentu tau ketakutan Lisa. Setelah 10 menit Lisa sadar
" Kak, kita di mana." Tanya Lisa yang masih berbaring
" Sudah jangan bertanya, tenangkan saja pikiranmu."
" Aku tau, kaka tidak akan pernah bisa di bohongi." Batin Lisa
Lisa langsung duduk lalu dirinya melihat sekelilingnya
" Kak, kita di apartemen?"
" Iya sayang, sayang tolong jangan bohongi Kaka, ada apa sebenarnya, aku tau, kau memiliki trauma setelah di culik saat kecil, kau kenapa, apa yang Ardi lakukan, apa dia menyakitimu?"
" Tidak kak, hanya saja semalam Ardi membanting semua barang yang ada di kamar jadi aku takut kak."
" Apa tidak menyakitimu?"
" Tidak kak?"
Livino menatap tajam mata Lisa, dirinya menemukan sesuatu yang di tutupi oleh Lisa
" Lisa, sekuat apa pun kau berbohong, aku tidak pernah bisa di bohongi, tapi aku juga tidak ingin ikut campur dalam rumah tangga kalian." Batin Livino
"Kak, sendainya kau tau, pasti kau sangat marah, saat Ardi memperlakukan aku seperti Gadis murahan, aku tidak ingin membuat kau tidak tenang, maafkan aku yang tidak bisa jujur padamu, aku hanya ingin kau pergi ke Paris tanpa memikirkan masalahku, aku sangat beruntung memilikimu, kau selalu ada di saat aku butuhkan." Batin Lisa
" Kak, aku minta maaf, karena aku Kaka ketinggalan pesawat."
" Tidak apa-apa sayang, masih bisa besok Kaka berangkat, apa kau mau mandi?"
" Tentu saja, aku harus bekerja."
" Mandi sana, di lemari Kaka ada baju wanita, sepertinya pas di tubuhmu."
" Apa!"
" Kenapa kau teriak."
" Apa kaka setiap malam membawa wanita ke apartemen?" Tanya Lisa dengan tatapan mata tajam
" Apa yang kau pikirkan, itu baju Olin, Kaka saat itu membelikan baju untuk Olin."
" Kak Olin di sini?"
" Tidak, itu satu bulan yang lalu, karena Olin saat itu bertengkar sama suaminya."
" Oh. Lisa mandi dulu kak."
" iya sayang."
Lisa langsung mandi. Setelah 15 menit dirinya keluar dari kamar mandi
" Ayo cepat kak, Lisa sudah telat ."
" Baik sayang."
Livino mengantarkan Lisa ke rumah sakit Harapkan
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 211 Episodes
Comments
🌻Ruby Kejora
2Like disini
Semangat sllu
2021-04-02
1
Aysel
lanjut nyicil baca 😥😥😥😥
2021-04-02
1
Mommy_Asya
6 like untuk mu thor.
Semangat 💪
Salam hangat dari "Aku (tetap) Milikmu"
2021-03-28
1