Ardi sampai di rumah dengan wajah di tekuk yang sudah di tunggu oleh Santi
" Pagi pak CEO." Sapa Santi dengan ramah
" Bentar saya ganti baju dulu." Jawab Ardi dengan suara dingin dan tatapan mata tajam yang tidak bisa di artikan
Lalu Ardi masuk dirinya langsung menaiki tangga langsung masuk kamar
" Siapa yang bikin marah pak CEO pagi-pagi, kenapa sudah memasang wajah dingin." Batin Santi
Setelah ganti baju Ardi langsung turun lagi
" Pagi sayang."
" Mah, Ardi pergi ke kantor dulu."
" Tidak sarapan, kenapa wajahmu sudah di tekuk pagi-pagi sayang?"
" Tidak apa-apa mah, Ardi pergi dulu."
Ardi langsung berjalan keluar. Ardian menuruni tangga
" Pagi mah."
Mirna melamun tidak mendengar sapaan suaminya, pikiran yang mulai kacau, dengan sikap anak dan menantunya yang tiap hari tidak pernah ada akurnya
" Aku bahkan menjadi orang tua tidak bisa berbuat apa-apa untuk mereka." Batin Mirna
Ardian mendekati istrinya
" Mah, pagi-pagi sudah melamun, apa yang kau pikirkan?" Tanya Ardian sambil memegang tangan Mirna
" Eh ayah, tidak memikirkan apa-apa."
" Ardi kenapa tidak sarapan mah, Lisa juga sudah pukul 09.00 belum turun?"
" Tidak tau yah, memang dari tadi belum melihat Lisa."
" Apa Lisa sakit mah, Lisa bukan orang yang malas bangun?"
" Ya sudah aku lihat Lisa dulu yah."
Mirna menaiki tangga di ikuti oleh suaminya karena penasaran menantunya belum bangun. Mirna melihat Bi Ira yang sudah membawa sapu dan kain lap
" Bi, sudah bawa sapu, memangnya di kamar tidak ada orang?"
" Pagi nyonya, pagi tuan, iya memang tidak ada orang."
Mirna dan Ardian hanya mengangguk saat di sapa
" Nona muda, memang kemana Bi?"
" Nona muda, sudah pergi dari pagi nyonya."
" Mungkin Lisa di rumah sakit ganti jam kerja mah, itu kenapa berangkat pagi-pagi." Ucap Ardian karena melihat istrinya kuatir
" Tidak tuan, nona muda pergi masih memakai baju tidur dan hanya membawa ponselnya, dengan wajah yang sangat pucat."
Ardian langsung mendekati kamar Ardi, dirinya langsung membuka pintu kamarnya. Ardian sangat terkejut saat melihat semua barang-barang berserakan di lantai. Banyak pecahan beling parfum di lantai
" Ayah, apa yang Ardi lakukan, kenapa mereka bertengkar sampai semua barang berjatuhan, apa Lisa pulang ke rumah orang tuanya?"
Wajah Mirna makin murung setelah melihat dalam kamar anaknya
" Tidak tau mah, apa mungkin Lisa ke rumah sakit mah, mamah jangan murung seperti itu, semoga hubungan mereka masih bisa di perbaiki."
" Ayah, sendainya saja dulu aku tidak menyuruh mereka putus semuanya tidak akan seperti ini."
" Mah, jangan terus menyalahkan diri sendiri, semuanya sudah terjadi."
" Iya ayah."
" Bi, bersih-bersihnya harus hati-hati ya, jangan sampai mengenai kaki."
" Iya nyonya."
...****************...
Ardi setelah di ruangan kerjanya langsung membuang semua dokumennya. Semuanya berserakan di lantai
" Apa kau tidak bisa memberi aku kesempatan, kau bahkan rela memasang alarm masih pagi, hanya untuk menemui Livino, apa kau tidak bisa menghargai aku sebagai suamimu."
Santi yang melihat pak CEO berbicara sendiri sambil membuang semua dokumen di lantai dirinya sudah mulai gemetar. Santi terus menundukkan kepala karena takut dengan pak CEO
" Siapa kira-kira istri pak CEO, kenapa bisa membuat pak CEO semarah ini tanpa takut, ya Tuhan lindungi aku, jangan sampai pak CEO melampiaskan ke marahannya padaku, melihat saja aku sudah bergidik ngeri, apa lagi kalau di marahin, kenapa juga pak CEO Ardian menyuruh menjadi asisten anaknya, bukan asisten pak CEO saja, untung saja aku tidak memiliki penyakit jantung, kalau memiliki penyakit jantung mungkin sudah meninggal dari kemarin, dari awal kerja dengan pak CEO Ardi, tapi tidak pernah sedikit pun tersenyum." Batin Santi
Tok-tok. Tok-tok
Santi mendekati pintu lalu dirinya langsung membuka pintunya
" Pagi pak." Sapa Santi dengan ramah
" Iya." Jawab Yoga langsung masuk mendekati Ardi
" Pak CEO, anak siapa yang mengacak-acak, hingga semua dokumen berserakan di lantai?"
Yoga tetap memanggil pak CEO meskipun sahabatnya, tapi karena sekarang masih jam kerja. Ardi tidak menjawab pertanyaan Yoga. Ardi langsung menatap tajam yang tidak bisa di artikan pada Yoga
" Siapa yang membuatnya marah pagi-pagi." Batin Yoga
Yoga langsung duduk di sofa. Ardi mendekati Yoga dirinya langsung duduk di samping Yoga
" Yoga, apa yang harus aku lakukan, agar dia mencintaiku?"
" Apa yang harus aku jawab, kenapa aku kesini di saat yang tidak tepat, bukankah masih jam kerja, kenapa membahas masalah pribadi." Batin Yoga
" Apa yang kau pikirkan?"
" Tidak ada pak CEO, aku juga tidak tau, harus jawab apa."
" Santi, rahasia pembicaraan ini. Jika bocor kau siap-siap di pecat, di sini hanya ada kau. Jika pembicaraan ini sampai ke telinga anak kantor, saya tidak akan segan-segan memecatmu."
" Baik pak Yoga."
" Apa kau yakin ingin mendapatkan cintanya, setelah apa yang Livino ucapkan, apa kau sudah menanyakan perkataan Livino pada istrimu?"
" Sudah."
" Dia jawab apa?"
" Sudah pernah."
" Apa!, aku tau, kau sangat mencintainya, tapi apa kau benar-benar tidak memandang statusnya?"
" Tidak peduli, mau dia sudah pernah dengan pria mana pun, yang penting aku bisa mendapatkan hatinya, apa kau memiliki cara?"
" Hahaha, kau seorang CEO, tapi tentang itu saja tidak paham, buat dia hamil, itu satu-satunya cara buat mempertahankan hubungan kalian."
" Mana mungkin, di sentuh saja dia tidak mau, bagai mana membuatnya hamil?"
" Kau menikah belum melakukan apa-apa?" Tanya Yoga dengan raut wajah bingung
" Kalau aku sudah melakukannya, mana mungkin aku bertanya padanya, sudah pernah apa belum, tapi dia bukan gadis yang suka seperti itu, meski aku sudah mendengar jawabaan dari mulutnya, tapi aku masih tidak percaya."
" Hahaha, Ardi itu karena terlalu cinta, mungkin saja orang tua dia tidak setuju dengan Livino, itu kenapa dia melakukan itu, kau kenapa marah-marah?"
" Dia menemui Livino di bandara, bahkan memasang alarm pukul 06.00. dia bangun pukul 07.00. Dia langsung lari memanggil taksi masih menggunakan baju tidur karena takut tidak bisa bertemu dengan Livino, aku sebagai suami tidak tau harus berbuat apa agar mereka itu mengakhiri hubungannya."
" Ardi sabar, aku yakin suatu saat dia bisa kembali padamu, Livino akan pergi ke Paris, selama dia pergi, kau berusaha mendekatinya seperti kau mengejar dia saat SMA dulu, setidaknya kau memiliki waktu untuk memperjuangkan cintamu lagi, tanpa ada orang ke tiga."
" Iya kau benar, terimakasih karena sudah memberi saran untuk aku."
" Santai saja, aku tau, kau sangat tergila-gila padanya, aku pikir kau sudah melupakan dia."
" Tidak mungkin, selama di Inggris aku selalu terbayang-bayang oleh senyuman manisnya, bahkan aku hampir gila setelah tau Lisa memiliki kekasih."
" Selamat berjuang."
" Iya sekali lagi terimakasih Yoga."
" Sama-sama pak CEO."
Ardi tersenyum kembali setelah di kasih saran oleh sahabatnya
" Siapa istri pak CEO, kenapa tidak menyebut namanya, dari tadi aku sudah memasang telinga agar tau siapa nama istrinya, tapi hanya dia." Batin Santi
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 211 Episodes
Comments
Hiatus
aku mampir, nyicil dulu ya bacanya
2021-03-29
0
Nyai iia
hadir kembali dengan like..
jangan lupa feed back yak😊
"i will die in love"
2021-03-20
1
@M⃠ⁿꫝieʸᵃɴᵉᵉʰʜɪᴀᴛ𓆊🎯™☂⃝⃞⃟ᶜᶠ
semangat hadir
2021-03-19
1