Tiga tahun berlalu semenjak kematian suami, orang tua dan kakak nya. Kini Lin Meime hanya hidup berdua bersama anak nya Xun JeHa, meskipun masih merasakan kesedihan, namun melihat tingkah anak nya yang lucu dan polos, sedikit meringankan beban pikiran nya.
Xun JeHa saat ini sudah berumur delapan tahun dan tumbuh menjadi seorang bocah laki-laki tampan, meskipun mempunyai penyakit dalam yang nyaris tidak bisa disembuhkan namun itu tidak membuat bocah itu minder. dirinya masih tetap bisa bermain bersama teman sebaya nya meskipun jika dia terlalu letih bermain maka penyakitnya akan kambuh.
Dengan kondisi fisik nya jelas bahwa jalan menjadi seorang pendekar layak nya sang ayah telah tertutup, namun saat ini itu bukanlah sesuatu yang menggangu pikiran bocah kecil tersebut.
Bocah kecil itu hanya ingin melihat ibu nya tersenyum dan tidak menangis tiap malam, sungguh meskipun masih berumur delapan tahun namun JeHa bisa mengetahui betapa berat beban pikiran ibu nya. Itu pula yang membuat JeHa sebisa mungkin menurut dan tidak menyusahkan apalagi sampai membuat ibu nya marah.
Sebenarnya dengan usia dan paras cantik yang dimiliki Lin Meime, tidak akan sulit baginya mencari pengganti dari mendiang suami nya. Namun Xun Mu adalah cinta pertama bagi nya, tak kan mudah menggantikan dan menghapus kenangan-kenangan indah mereka berdua.
Mungkin dikarenakan beban pikiran yang sangat berat, akhirnya Meime pun jatuh sakit, Ketua Yan sudah berupaya mencari tabib terbaik di sekitar area gunung pinus, namun setiap tabib yang datang hanya bisa geleng-geleng kepala.
Meskipun secara fisik dan lahiriah tidak apa-apa namun secara batin, Meime amat tertekan. Kehilangan hampir semua orang yang dicintai nya dalam satu malam adalah pukulan telak bagi nya. Tak ada gairah hidup lagi dimata nya, bahkan air mata pun selalu tertumpah saat pikiran nya kembali mengenang saat-saat bersama dengan orang orang yang ia kasihi.
Semakin hari kondisi Meime pun semakin memprihatinkan, kini tubuhnya hanya berbalut kulit. Wajah nya yang dahulu cantik, saat ini nampak sayu dan tua. JeHa yang mengetahui keadaan ibu nya hanya bisa bersedih, sungguh dirinya belum siap kehilangan satu satu nya keluarga yang dimiliki nya.
Setelah sakit selama sebulan, akhirnya Meime pun menghembuskan nafas terakhirnya. Xun JeHa yang mengetahui bahwa ibu nya telah meninggal dunia hanya bisa menangis dan meronta.
Tatapan bocah laki laki itu nampak kosong, dia sudah dua jam lebih duduk termenung di depan pusara kedua orang tua nya, telah kering air mata nya. yang tersisa hanya kesedihan mendalam di dada.
Kini diri nya akan hidup di dunia ini sebatang kara, tanpa orang tua, saudara maupun sanak famili. Entah apa yang akan terjadi esok, bocah itu hanya bisa merenungi nasibnya dengan meneteskan air mata.
Nampak jelas kerinduan akan sosok ayah dan ibu nya, namun dia juga sadar bahwa orang tua nya telah tiada dan meskipun dia menangis sepanjang hari itu tak kan menghidupkan kembali orang tua nya dari kematian.
Rumah itu kini kosong, hanya ada bocah kecil yang menempati. Hilang sudah keceriaan di wajah nya, hilang pula tawa dan senyum yang biasa nya selalu ia pasang untuk ibu nya, semua berganti dengan kehampaan dan kesedihan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 274 Episodes
Comments
Abbie Jard
🤣🤣🤣🤣
MC nya TER ABAIKAN di cerita ini 🤣🤣
mayan yang penting MC nya udah dapat nasi kotak walau pun jadi pemeran figuran 🤣🤣🤣
2024-04-07
0
Marni Honey
ad bawang y
2022-03-24
1
mochi
😭😭😭😭
2022-01-12
0