Luka itu sudah mengering kini Aurin di ajak Rara keluar dari rumah Raka yang sudah memenjarakan nya kurang lebih dua bulan setengah hari ini entah si iblis kerasukan apa dia memperbolehkan ku pergi dengan Rara.
"Non, sudah siap." ucap Rara yang menunggu Aurin dari tadi matanya terpesona gaun selutut berwarna maroon membuat kulit nya terlihat cerah kuning langsat made in INDONESIA.
"Non cantik banget." ucap Rara terpesona dengan kecantikan Aurin sementara Aurin tersipu malu.
"Ra, emang boleh sama Tuan Raka keluar.??" tanya Aurin sekali lagi dia masih bimbang dan ragu.
"Yakin Non, dia sendiri menghukum saya suruh ngajak Non shopping." ucap Rara serius matanya menatap Aurin.
"Katanya Non gak pernah shopping." celetus Rara.
Sialan dasar kutu kupret umpat Aurin.
Aurin mengambil tas nya lalu melangkah keluar dengan muka kesal Rara mengikuti dari belakang.
"Non, mau kemana." ucap Rara yang melihat arah langkah Aurin menuju ruangan kerja Raka.
Aurin tetap melangkah tak mendengarkan ucapan Rara saat Aurin membuka pintu semua orang yang ada didalam melihat ke Aurin dengan sorot mata tajam dengan pede nya Aurin melangkah didepan empat orang itu sementara Max dia tetap setia dibelakang Raka.
Raka terpesona dengan Aurin saat Aurin sudah sampai di depan Raka dia melihat orang yang hidup di ruangan itu seperti patung tak berbicara sedikit pun dari kejauhan Rara melihat dengan cemas.
"Mau apa kau kesini." ucap Raka tatapan mata nya masih fokus melihat Aurin.
"Maaf Tuan Raka yang terhormat, karna sudah menganggu waktu anda." ucap Aurin sambil menunduk hormat sementara semua pria di situ memperhatikan nya dengan senyuman diwajahnya.
Raka bangun dan menarik Aurin keluar dari ruangan itu karna sedari tadi tatapan temannya tak henti memandang Aurin.
"Kau mau aku bunuh." ucap Raka dengan mata elang tangan nya mencengkram tangan Aurin kuat.
"Tuan sakit." ucap Aurin sambil memegang tangan Raka supaya berhenti mencengkram nya.
"Saya mau minta uang." ucap Aurin cepat saat itu Raka melepaskan tangan nya.
"Ngomong dari tadi." ucap Raka tangannya masuk ke kantong nya dan menyerahkan kartu atm nya.
"Belanja sepuasnya biar aku semangat kerjanya." ucap Raka lalu melangkah pergi meninggalkan Aurin.
"Oh makasih Tuan Raka yang baik hati." ucap Aurin sambil tersenyum dia pun pergi dari situ dengan bersiul.
"Rara ayo." ucap Aurin yang melihat Rara masih berdiri dipinggir pintu saat melihat Aurin Rara langsung melangkah menuju Aurin.
Saat keluar dari rumah itu Rara mengandeng tangan Aurin dengan sedikit tersenyum semua penjaga disitu menunduk hormat melihat Aurin.
Pintu mobil terbuka disana penjaga tersenyum menyuruh Aurin masuk ke mobil mereka berdua masuk diperjalanan Aurin melihat aktifitas orang begitu bebas dan tersenyum tanpa beban.
Sesampainya di Mal Rara turun duluan dia membuka pintu buat Aurin saat Aurin melihat mal itu pikirannya terbayang dengan Nanda setiap sebulan sekali Nanda pasti membawa Aurin kesini membelikanya es cream kesukaannya.
"Non." ucap Rara yang melihat Aurin diam tak bergerak seakan sedang melamun.
"Oh yah." ucap Aurin melangkah masuk ke mal itu Rara dibelakang nya.
"Ra, sini." ucap Aurin yang melihat Rara dibelakang nya dan membawa tasnya Aurin dihati Aurin dia gak enak tatapan mata semua orang disitu menatap nya.
"Nona, maaf saya dibelakang saja." ucap Rara menunduk sopan belum sempat Aurin menjawab seseorang tiba tiba memeluknya dengan erat dan menangis di pelukan Aurin.
"Nanda." tangis Aurin dia merasa sangat rindu akan kebersamaan nya dulu sementara semua mata disitu melihat Aurin Rara berusaha memanggil Aurin.
"Non." panggil Rara dia takut Raka melihat nya saat itu Aurin melepaskan air matanya di hapus.
"Kamu gak papa.??" tanya Aurin matanya sangat Khawatir Nanda pun mengeleng.
"Aurin, maaf waktu itu aku kasar sama kamu aku takut kehilangan kamu." ucap Nanda memegang tangan Aurin.
"Nanda, lupain aku karna aku sekarang sudah menikah." ucap Aurin dia pun melepaskan tangan Nanda.
"Kita bisa pergi dari sini." ucap Nanda serius mata Aurin menatap Nanda.
"Semua sudah terlambat Nan." ucap Aurin Rara yang sedari tadi Mendengar pembicaraan mereka tersentuh.
"Aurin, aku gak bisa nerima ini semua." ucap Nanda dia mengeluarkan air mata.
"Kenangan dulu begitu sangat manis bercanda ria sambil belajar itu penyemangat hidup tapi takdir berkata lain semua harus dibuang dan tak di ambil karna jika itu terulang kembali semua orang yang kita sayang akan pergi meninggalkan kita." ucap Aurin sambil menunduk dia tak bisa melihat Nanda orang yang selalu ada buat nya dulu.
"Maaf Nanda aku harus pergi." ucap Aurin lalu pergi dari situ saat Nanda ingin mengejar dia dihalangi Rara.
"Tuan mohon kerjasama nya." ucap Rara lalu menyusul Aurin.
Aurin keluar dari mal itu sambil menangis dia menyetop taksi yang melewat didepan nya Rara melihat itu dia langsung memanggil supir Tuan Raka dan mengejar nya.
Aurin pergi menuju taman yang biasa dia kesitu dengan Nanda dia benar benar sangat merindukan Nanda kenapa harus hari ini.
Aurin duduk dikursi sambil menangis dia mengingat kenangan indahnya dengan Nanda hatinya begitu teriris.
"Non." panggil Rara dia langsung memeluk Aurin.
"Non, menangis lah Rara akan mendengarkan semua cerita Non." ucap Rara sambil mengelus rambut Aurin yang terurai karna tidak dikuncir.
"Ra, entah kenapa perasaan ini masih sakit." ucap Aurin sambil memegang hatinya.
Rara mengapus airmata Aurin dia mengerti apa yang di rasakan Aurin percintaan yang rumit tidak direstui orang tua nya bahkan Ibunya Aurin meninggal karna Ibunya Nanda.
Harta Tahta Aurin begitu rumit dia selalu menderita baik segi Harta Tahta serta dirinya diapun sekolah dengan hasil kerja keras nya.
Dipukul ditampar dihina bahkan di musuhi satu kampung semua orang tidak mau berteman dengan Aurin karna dia anak dari seorang *******.
Sesuci itu kah kalian menghinaku kadang Aurin ingin bunuh diri tidak kuat dengan segala cobaan nya tapi dia berhasil melewati itu karna datang Nanda yang memberi semangat di saat Aurin terpuruk bahkan Nanda melindungi Aurin dari kejamanya mulut tetangga.
Mungkin rasa itu akan berhenti menjadi rasa benci karna Ibunya Nanda membunuh Ibunya Aurin yang tidak tau apa salahnya sampai tega hati melakukan hal keji ini dengan kejam.
Tangis Aurin makin mengeras saat dia mengingat Ibunya tidak ada pesan terakhir bahkan jasadnya dia tidak melihat entah itu dimana air matanya tumpah dengan deras nafasnya sudah tak beraturan.
Rara pun mengelus rambut Aurin dia pun mengapus air matanya merasakan tenang setelah mencurahkan isi hatinya yang begitu sakit dia rasakan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 136 Episodes
Comments
Siti Homsatun
kasihan Aurin. sabar Aurin.😩😩
2021-10-11
0
Sonya Tanod
buat aurin mandir thor jadi wanita kuat
2021-05-23
1
Suky Anjalina
kasih aurin
2021-03-14
0