Suara petir yang menggelar tersebut mengejutkan semua orang yang ada di tepi Jurang Dewa. Puluhan anak menjadi ketakutan dan beberapa diantaranya menangis.
Beberapa Tetua segera bergerak untuk menenangkan anak-anak. Sementara Tetua Ma Hua dan Patriak Guo Jin segera melesat kearah Yu Lian.
Yu Lian sendiri sudah menangis sambil menjerit-jerit ketakutan memanggil kakeknya, lututnya gemetar melihat pemandangan di hadapannya.
Patriak Guo Jin dan Tetua Ma Hua yang sudah berjarak dua meter dari Jembatan Kabut Petir, menghentikan langkahnya saat melihat kearah atas jembatan, tepatnya di atas kepala Yu Lian.
Dua buah benda melayang satu meter di atas kepala Yu Lian. Kedua benda tersebut berupa sebuah Kitab dan Cambuk yang tali cambuknya tergulung rapi, dengan pegangannya yang ujungnya berbentuk kepala naga.
Cambuk itu mengeluarkan Aura yang kuat. Aura yang menandakan bahwa cambuk tersebut merupakan Pusaka Langit, yaitu senjata pusaka yang di buat oleh para Dewa.
Di sampul Kitab yang melayang itu, tertulis kata "Kitab Cambuk Naga Api". Hal itu juga menjelaskan bahwa cambuk yang melayang bersama kitab itu bernama Cambuk Naga Api.
Sesaat kemudian terdengar suara seorang lelaki sepuh yang dikenali Guo Jin sebagai suara leluhur sekte mereka, Zhu Long. Hanya saja kali ini suaranya yang terdengar tanpa terlihat wujudnya.
"Jin'er...bocah perempuan ini berjodoh dengan Cambuk Naga Api, namun tidak berjodoh untuk berlatih di Alam Kultiva Naga. Bimbinglah bocah perempuan ini untuk menguasai semua jurus yang ada di dalam Kitab Cambuk Naga Api."
"Baik Leluhur.. titah Leluhur akan hamba patuhi." Jawab Guo Jin.
Sebelum Zhu Long pergi kembali ke Alam Kultiva Naga, ia juga berpesan agar Guo Jin terus melakukan tes untuk mencari anak pilihan yang akan berlatih di Alam Kultiva Naga.
Selain itu, Zhu Long juga berpesan agar Guo Jin berhati-hati. Karena kemunculan Cambuk Naga Api, Sekte Lembah Dewa akan menjadi incaran sekte aliran sesat ataupun para pendekar berwatak jahat yang menginginkan Kitab dan Cambuk Naga Api.
Beberapa saat setelah hilangnya suara Zhu Long, perlahan-lahan Kitab dan Cambuk Naga Api turun dan berhenti setelah berada dua jengkal dari wajah Yu Lian yang masih terlihat ketakutan.
Yu Lian menatap kedua benda tersebut dengan takut dan juga keheranan. Benaknya dipenuhi dengan pertanyaan, bagaimana kedua benda tersebut bisa melayang sendiri.
"Lian'er... ambillah kitab dan Cambuk itu. Sekarang kedua benda itu menjadi milikmu."
Mendengar suara Kakeknya, dengan tangan yang gemetar Yu Lian meraih kitab menggunakan tangan kirinya. Sedang tangan kanannya meraih cambuk.
Saat tangannya menggegam Cambuk Naga Api, Yu Lian merasakan sesuatu yang hangat mengalir melalui tangannya dan menyebar ke seluruh tubuh.
Sesaat kemudian Yu Lian dapat merasakan tubuhnya menjadi segar dan terasa ringan. Yu Lian membalikan badan lalu melangkah ke arah kakeknya dan Guo Jin yang berada tak jauh dari dirinya berada.
Yu Lian memeluk Kakeknya, Tetua Ma Hua memeluk cucunya dengan berbagai perasaan. Satu sisi dirinya merasa sedih karena Yu Lian bukan sosok pilihan untuk berlatih di Alam Kultiva Naga.
Namun di sisi lain, Tetua Ma Hua juga merasa gembira karena Yu Lian mendapat berkah dari Dewa. Walau ada kekhawatiran akan keselamatan Yu Lian karena memiliki pusaka langit di usianya yang masih belia.
"Tetua Ma, perintahkan tetua lain untuk mengantarkan anak-anak kembali ke orang tuanya. Setelah itu kumpulkan seluruh Tetua Sekte. Kita adakan pertemuan di Aula Sekte."
"Baik Ketua.." Tetua Ma melepaskan pelukan Yu Lian, lalu melangkah kearah para Tetua Sekte dan anak-anak.
"Lian'er.. Kamu ikut ke Aula dengan Kakek Guo ya nak." Guo Jin mengelus rambut Yu Lian.
"Iya Kek.."
Berbeda dengan anak-anak lain, Yu Lian sudah terbiasa memanggil Guo Jin dengan panggilan Kakek. Hal ini karena Yu Lian sudah sering diajak oleh Kakeknya dan bertemu dengan Guo Jin dalam urusan yang berkaitan dengan sekte.
Guo Jin dan Yu Lian menghampiri Tetua Ma yg telah selesai memberi instruksi kepada para tetua sekte. Tampak puluhan Tetua Sekte bergerak mengantar anak-anak kembali ke orang tua mereka.
Yu Lian, Tetua Ma Hua dan Guo Jin melangkah bersama menuju ke Aula Sekte
Tak lama kemudian, ketiganya telah sampai di Aula Sekte. Tetua Ma Hua segera membunyikan Lonceng besar setinggi satu meter itu sebanyak tiga kali.
Tak lama para tetua mulai berdatangan ke Aula Sekte dan menduduki kursi yang berjumlah enam puluh buah. Setiap kursi memiliki nomor yang menandakan peringkat Tetua yang mendudukinya.
Lima belas menit kemudian seluruh Tetua Sekte telah hadir di ruang Aula. Tersisa dua kursi yang belum diduduki. Kursi Tetua nomor satu dan tiga.
Kursi Tetua nomor satu diduduki oleh Yao Zhi dan kursi nomor tiga oleh Yu Ma. Keduanya bersahabat baik dan merupakan murid kesayangan Guo Jin.
Tujuh tahun lalu Yao Zhi mendapat misi untuk membantu Kaisar Wu Mao mengatasi kekacauan yang terjadi di ibukota.
Walau masih berusia tiga puluh tahun, Yao Zhi sudah memiliki kepandaian yang tinggi. Bahkan tertinggi setelah Guo Jin dan Tetua Ma Hua.
Kekacauan itu disebabkan oleh kelompok aliran hitam yang bekerja sama dengan beberapa bangsawan yang ingin mengambil alih kekuasaan Kaisar.
Dengan menebar kekacauan, kelompok ini berharap rakyat kehilangan kepercayaan kepada sang Kaisar. Sehingga para bangsawan akan mendapatkan simpati dan dukungan rakyat untuk melakukan kudeta terhadap kaisar..
Kedatangan Yao Zhi dan beberapa pendekar dari sekte aliran putih lainnya, berhasil membalikan keadaan.
Bersama pasukan elit kaisar, akhirnya dalam waktu tiga bulan, para pengacau berhasil ditumpas. Dan ibukota kembali menjadi damai.
Para bangsawan yang menjadi dalang kekacauan tersebut ditangkap dan kemudian dihukum mati oleh Kaisar Wu Mao.
Saat hendak kembali ke Sekte Lembah Dewa, Yao Zhi menerima permohonan dari Bangsawan Lin Bao untuk mengawal putrinya yang bernama Lin Hua.
Lin Hua adalah seorang gadis berusia dua puluh dua tahun dan memiliki kecantikan surgawi, membuat setiap lelaki yang menatapnya enggan untuk memalingkan wajahnya.
Lin Hua berencana mengunjungi Kakek dari pihak ibunya. Karena situasi keamanan yang belum kondusif, akhirnya Lin Bao meminta Yao Zhi untuk mengawal Putrinya dengan bayaran yang tinggi.
Sebenarnya Yao Zhi ingin menolak permintaan tersebut dan ingin segera kembali ke Sektenya, namun saat menatap wajah Lin Hua, hati Yao Zhi bergetar.
Di satu sisi, Lin Hua pun merasakan hal yang sama saat menatap wajah Yao Zhi. Hatinya bergetar memandangi ketampanan wajah Yao Zhi.
Dengan alasan dirinya tak akan berangkat jika Yao Zhi tidak mengawalnya, maka Yao Zhi pun akhirnya memenuhi permintaan Bangsawan Lin. Tentu saja bukan karena bayarannya yang tinggi.
Pada hari yang ditentukan akhirnya rombongan Putri Bangsawan Lin berangkat.
Namun setelah tiga hari perjalanan, Bangsawan Lin mendapat kabar bahwa rombongan putrinya telah diserang oleh sekelompok pembunuh bayaran. Semua pengawal dan dayangnya tewas. Sementara nasib Yao Zhi dan Lin Hua tidak diketahui kabarnya hingga kini.
"Ketua ... Seluruh Tetua sudah hadir di ruang pertemuan" Suara Tetua Ma Hua menyadarkan Guo Jin dari lamunannya saat menatap kursi Tetua nomor satu.
****
Salam Noveltoon
Hai Reader Setia Noveltoon...
Mohon Dukungan Like, Vote dan Ratingnya untuk Pendekar Tiga Dunia ya..
Oh iya Pendekar Tiga Dunia akan Update 1 Chapter setiap hari pada pukul 19:00 WIB.
Kritik dan saran yang membangun, sangat dinanti oleh Author agar Novel pertama ini dapat menjadi lebih baik lagi.
Terimakasih.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 305 Episodes
Comments
Yuda Suastika
njuuut
2024-06-18
0
Solar Lardi
lanjutkan
2023-08-25
0
MrQues Ques
golongan belia=15-29 tahun
golongan budak2=1-14 tahun
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2023-07-17
0