"Jin'er...Apakah kau bersedia memenuhi permintaan egois ku ini?"
Zhu Long melakukan hal ini karena dirinya pun tidak mengetahui siapa anak terpilih tersebut, karena Dewa Naga masih merahasiakannya.
"Tentu saja Leluhur... Sebuah kewajiban bagi hamba untuk melaksanakan semua perintah Leluhur."
Selama ini Guo Jin yang hanya mengetahui nama pendiri Sekte Lembah Dewa, tak menyangka akan bertemu leluhurnya meski dalam Wujud Rohnya saja.
Sebuah kebahagian besar dirasakan Guo Jin dengan mendapat perintah langsung dari Sang Leluhur Sektenya tersebut.
"Jin'er...Apakah ada ada sesuatu yang ingin kau tanyakan."tanya Zhu Long saat menatap Wajah Guo Jin yang terlihat menyimpan sebuah kekhawatiran.
"Benar Leluhur.. Apakah tidak berbahaya seorang bocah tanpa tenaga dalam untuk melewati Jembatan Kabut Petir itu?. Karena hamba tersambar petir dan mengalami luka saat menapaki jembatan tersebut."
Memahami kekhawatiran Guo Jin tersebut, Zhu Long tertawa kecil sebelum menjelaskan lebih lanjut perihal Jembatan Kabut Petir.
Bagi seorang bocah kecil yang belum memiliki tenaga dalam, tidak akan tersambar oleh petir saat menapaki Jembatan tersebut, melainkan hanya terdorong mundur atau terpental beberapa meter saja tanpa mengalami luka.
Hal ini berlaku bagi mereka yang tidak terpilih, namun bagi bocah yang terpilih untuk berlatih di Alam Kultiva Naga, hal itu tidak berlaku. Bahkan anak kecil tersebut akan mendapat berkah dari Dewa Naga.
Kabut yang mengeluarkan petir di jembatan tersebut sebenarnya merupakan kumpulan energi alam yang dipadatkan oleh Dewa Naga. Karena besarnya energi tersebut maka timbullah percikan Petir Keemasan di sekitar jembatan.
"Jin'er.. waktu ku tak lama lagi di alam manusia ini. Lakukanlah tes itu besok pagi hingga menjelang tengah hari, jangan lebih dari waktu itu karena akan berbahaya melakukannya setelah matahari tergelincir ke barat."
"Baik Leluhur.. hamba akan melakukan semua perintah Leluhur sebaik mungkin." jawab Guo Jin antusias.
"Terimakasih Jin'er...Aku akan menunggu anak yang terpilih itu di Alam Kultiva Naga, selamat tinggal Jin'er." Zhu Long menjentikan jarinya. Perlahan tubuhnya memudar lalu menghilang dari pandangan Guo Jin.
Seiring dengan hal itu, waktu yang seolah berhenti kembali bergerak seperti semula.
Tetua Ma Hua dan Tetua lainnya akhirnya dapat menggerakkan kembali tubuhnya dan mereka terkejut menemukan Ketua Sekte mereka sedang dalam posisi berlutut.
Tetua Ma Hua dan sembilan tetua lainnya, tidak menyaksikan apa yang terjadi saat kemunculan Zhu Long hingga kepergiannya dari hadapan Guo Jin.
Hal itu membuat Tetua Ma dan Tetua yang lain menjadi heran dengan posisi Ketua Sekte mereka yang sedang berlutut menghadap Jembatan yang berkabut dan mengeluarkan petir tersebut.
Menyadari situasi sudah kembali normal, Guo Jin bangkit dan menghampiri rombongan Tetua Ma Hua dan Lainya.
Guo Jin Lalu menjelaskan apa yang baru saja dia alami, tentang kemunculan Zhu Long yang merupakan sosok pendiri Sekte Lembah Dewa.
Guo Jin juga memberi tahu tugas yang harus dia lakukan bersama seluruh tetua Sekte, Namun Guo Jin masih merahasiakan tujuan utama dari tugas tersebut.
Mereka pun kembali ke Aula Sekte untuk membahas lebih lanjut tentang hal-hal yang harus mereka lakukan keesokan harinya.
**
Sementara itu di siang hari pada hari yang sama saat terjadinya fenomena aneh di Tebing Jurang Dewa.
Di sebuah rumah makan terbaik di sebuah desa yang berjarak puluhan kilometer dari Lembah Dewa, tampak seorang pria tampan berjubah kuning keemasan bersama seorang wanita cantik dan anak kecil sedang menyantap sajian yang di hidangkan dengan lahap.
Awalnya anak kecil tersebut menjadi pusat perhatian para pengunjung rumah makan tersebut. Hal ini karena keanehan pada penampilannya yang berbeda dari anak-anak lain.
Sekujur tubuh anak kecil itu dipenuhi semacam tato yang menyerupai sisik ular yang berwarna hitam dengan sedikit corak kuning. Sisik itu seukuran ibu jari lelaki dewasa. Hanya pada bagian mata, hidung dan mulutnya saja yang tidak terdapat tato sisik ular tersebut.
Namun Anak lelaki itu dan kedua orang yang bersamanya, terlihat sudah terbiasa dengan tatapan heran para pengunjung rumah makan.
Saat sedang asik menyantap makanan mereka, tiba-tiba selarik sinar kuning keemasan yang entah darimana asalnya, menerpa tubuh anak kecil tersebut.
Tubuh kecil yang dibalut jubah kuning keemasan itupun terpental beberapa meter dan jatuh ke lantai.
"Chan'er..!!" teriak sang perempuan cantik seraya melompat kearah anak laki-laki yang tak lain adalah puteranya.
Dari gerakan lompatannya itu, seluruh pengunjung rumah makan tersebut menyadari bahwa perempuan tersebut seorang pendekar.
Lelaki tampan itu bertindak yang sama dengan perempuan cantik yang tak lain adalah isterinya.
Perempuan cantik itu segera memeluk tubuh puteranya yang dalam keadaan tak sadarkan diri. Sementara sang suami segera memeriksa kondisinya, dan tak lama kemudian menyalurkan tenaga dalam untuk menstabilkan kondisinya.
Selang beberapa saat, sang anak lelaki itu pun tersadar.
"Ayah... Ibu.."
"Chan'er.. syukurlah kau sudah sadar nak." Perempuan cantik itu pun kembali memeluk putera semata wayangnya itu.
"Zhi Gege..apa yang terjadi dengan putera kita? Cahaya apa yang barusan menerpa tubuhnya? Bagaimana kondisinya sekarang?" cecar wanita cantik itu kepada sang suami. Terlihat kekhawatiran yang besar dirasakan oleh perempuan itu
Mendengar rentetan pertanyaan dari sang isteri, lelaki tampan itu hanya tersenyum masam. Karena dia juga tidak mengerti dengan apa yang baru saja terjadi.
"Hua'er aku pun tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, namun melihat kondisi Chan'er yang baik baik saja, sepertinya tidak terjadi hal yang serius. Sebaiknya kita segera melanjutkan perjalanan dan meningkatkan kewaspadaan kita."
"Berapa hari lagi kita akan sampai Zhi Gege?" Balas sang isteri.
"Jika tidak ada halangan yang berarti, dua hari lagi kita akan sampai Hua'er."
"Adduuh....Ayah... perutku sakit!!"
Sesaat setelah menjawab pertanyaan sang isteri, tiba-tiba putera mereka berteriak kesakitan dengan memegangi bagian perutnya.
Lelaki tampan itu dengan sigap membuka jubah putranya. Saat semua kain jubah tersingkap, mata lelaki tersebut terbelalak saat melihat ke arahku pusar sang anak. Sang isteri pun tak kalah terkejutnya.
Sementara pengunjung rumah makan mulai berdiri untuk melihat lebih jauh apa yang terjadi pada anak kecil itu. Bahkan beberapa orang mulai mendekat dan mengerumuni mereka bertiga.
Tak berbeda dengan kedua orang tua si anak, para pengunjung rumah makan yang sudah mendekat, matanya pun terbelalak melihat apa yang terjadi pada Anak kecil yang masih terbaring di pangkuan sang Ibu.
Para pengunjung yang rata-rata sudah berusia diatas dua puluh tahun itu, sangat heran dengan apa yang mereka lihat. Selama hidupnya, belum pernah melihat seperti apa yang terlihat di hadapannya saat ini.
****
Salam Noveltoon
Hai Reader Setia Noveltoon...
Mohon Dukungan Like, Vote dan Ratingnya untuk Pendekar Tiga Dunia ya..
Oh iya Pendekar Tiga Dunia akan Update 1 Chapter setiap hari pada pukul 19:00 WIB.
Kritik dan saran yang membangun, sangat dinanti oleh Author agar Novel pertama ini dapat menjadi lebih baik lagi.
Terimakasih.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 305 Episodes
Comments
Agus Rahmat
siap Thor, jika ada yang perlu dikomentari takritik habis
2025-03-18
0
Yuda Suastika
penasaran
2024-06-18
0
hcomrusnam meila
sekali lagi di chapter selanjutnya ada salam, alan dapat piring atau gelas nih
2024-02-07
0