Mereka melihat di bagian pusar anak kecil tersebut memancarkan cahaya kuning keemasan. Setelah memperhatikan lebih teliti, barulah diketahui cahaya tersebut berasal dari sebuah mutiara sebesar ibu jari orang dewasa.
Mutiara tersebut setengah bagiannya sudah berada di dalam pusar si bocah. Hal itulah yang membuat si bocah berteriak-teriak kesakitan.
Ibu anak kecil itu terlihat sangat panik dan menangis melihat hal itu. Sementara sang Ayah terlihat sedang mengalirkan tenaga dalam kearah telapak tangan kanannya.
Sesaat kemudian, tangan lelaki tampan itu bergerak untuk mengambil Mutiara. Namun saat jarinya menyentuh mutiara tersebut, lelaki itu tersentak kaget. Karena dia merasakan mutiara itu menyerap tenaga dalamnya dengan cepat.
Lelaki itu berusaha melepas mutiara, namun kedua jarinya seperti menyatu dengan mutiara tersebut.
Alih-alih ingin mengambil mutiara, namun yang terjadi adalah sebaliknya. Mutiara tersebut justru semakin masuk kedalam dan akhirnya tak terlihat lagi. Barulah Jari-jari lelaki itu bisa ditarik kembali.
Setelah Mutiara tersebut seluruhnya masuk kedalam pusarnya, anak kecil itu pun berhenti berteriak. Nafasnya tersengal-sengal dan keringat bercucuran di dahinya.
Hal yang sama di alami oleh sang ayah. Separuh tenaga dalamnya telah terserap oleh mutiara itu.
"Chan'er..." Perempuan cantik itu segera memeluk anaknya dengan air mata yang berlinang.
"Ibu.. aku sudah tidak sakit lagi.. Ibu jangan menangis.." Anak lelaki itupun membalas pelukan ibunya.
Sementara para pengunjung rumah makan pun kembali ke meja masing-masing setelah melihat kondisi anak tersebut terlihat baik-baik saja.
"Apa yang sekarang kamu rasakan nak?"
Setelah berhasil menguasai diri, sang ibu pun segera merapikan jubah anaknya.
"Ibu... aku sudah tidak sakit lagi, tubuhku rasanya segar sekali.."
**
Keesokan pagi saat matahari belum menampakan wujudnya, suasana di Tepi Jurang Dewa telah riuh oleh ratusan anak kecil berumur antara lima hingga tujuh tahun.
Diantara dua ratus sepuluh anak tersebut, terlihat puluhan Tetua Sekte berada tengah-tengah mereka. Para Tetua bertugas mengarahkan anak-anak yang terpilih tersebut untuk melakukan tes di Jembatan Kabut Petir.
Mereka sedang menunggu Patriak Guo Jin yang datang sesaat setelah matahari pagi membiaskan sinarnya ke seluruh alam.
"Lapor Ketua...Ada dua ratus sepuluh anak terpilih sesuai dengan usianya. Dua puluh diantaranya adalah perempuan."
Lapor Tetua Ma Hua seraya menangkupkan kedua tangannya memberi hormat.
"Terimakasih Tetua Ma.. Apakah Lian'er juga mengikuti tes ini?" tanya Guo Jin. Lian'er yang dimaksud oleh Guo Jin adalah cucu perempuan Tetua Ma Hua yang bernama Yu Lian.
Yu Lian adalah anak perempuan berumur lima tahun. Walau masih kecil, Yu Lian sudah menunjukan kecantikan yang memikat.
Yu Lian saat ini sudah yatim piatu. Sang Ibu adalah putri Tetua Ma Hua yang meninggal saat melahirkan dirinya.
Sementara Ayahnya dikabarkan tewas dua tahun lalu saat menjalankan misi dari sekte. Namun hingga kini jasad sang ayah belum di ketahui rimbanya.
Yu Lian mewarisi wajah dan kecantikan sang ibu. Itulah sebabnya Tetua Ma Hua sangat menyayangi cucu semata wayangnya.
"Iya Ketua... Dua bulan lalu Lian'er genap berusia lima tahun. Dan telah memenuhi syarat untuk mengikuti tes ini."
"Baguslah kalau begitu.. Mari kita mulai proses yang diminta oleh leluhur kita." ujar Guo Jin yang juga senang karena Yu Lian ikut dalam tes ini.
"Baik Ketua!"
Lalu Guo Jin bersama Tetua Ma Hua segera menuju ke tepi Jurang Dewa. Guo Jin kemudian berlutut di tepi Jembatan Kabut Petir sambil menangkupkan kedua tangannya.
Tetua Ma Hua dan seluruh Tetua lain beserta Anak-anak murid Sekte Lembah Dewa serentak ikut berlutut.
"Hormat kepada Leluhur Sekte. Pagi ini hamba, Guo Jin, Ketua Sekte Lembah Dewa ke-24 dan seluruh murid Sekte Lembah Dewa, memohon restu leluhur untuk melaksanakan titah Leluhur."
Setelah Beberapa saat Guo Jin bangkit di ikuti seluruh Tetua Sekte dan lainnya.
Setelah itu Guo Jin memberi isyarat untuk memulai acara tersebut.
Satu persatu anak-anak yang telah diseleksi tersebut maju dan mencoba untuk melewati Jembatan Batu Petir.
Setiap anak yang mencoba melewati Jembatan tersebut selalu terpental saat kaki mereka memijak lantai jembatan. Berbeda dengan yang dialami oleh Guo Jin kemarin, anak-anak ini tidak tersambar petir.
Sementara itu, dua orang Tetua bersiaga di belakang setiap anak yang mencoba menapaki jembatan Kabut Petir.
Setelah lebih dari seratus anak yang mencoba melewati jembatan, belum satupun anak yang tidak terpental ke belakang. Mereka semua gagal untuk melewati jembatan tersebut.
Hal ini membuat hati Guo Jin terlihat khawatir. Satu jam kemudian, sebanyak seratus sembilan puluh murid laki-laki telah mencoba melewati Jembatan Kabut Petir. Dan mereka semua gagal melewatinya.
Wajah Guo Jin terlihat sedikit muram, kekhawatirannya semakin menjadi. Kini yang tersisa untuk melewati jembatan hanya dua puluh murid perempuan. Dan salah satunya membuat Guo Jin menjadi antusias.
Demikian juga dengan Tetua Ma Hua, dirinya semakin tidak sabar untuk mengetahui apa yang terjadi saat Yu Lian melewati jembatan tersebut. Dari antrian yang terlihat, Yu Lian mendapat urutan terakhir untuk melewati Jembatan Kabut Petir.
Sembilan belas murid perempuan telah mencoba melewati Jembatan Kabut Petir, namun mereka semua gagal.
Suasana menjadi tegang terutama untuk Patriak Guo Jin dan Tetua Ma Hua. Tetua yang lain pun mengalami hal yang serupa.
Saat ini, hanya Yu Lian yang belum melewati Jembatan Kabut Petir, benak semua Tetua yang hadir dipenuhi pertanyaan yang sama.
"Menurutmu apakah cucu Tetua Ma yang akan berhasil melewatinya?" tanya seorang Tetua pada rekannya. mereka berdua saat ini mendapat giliran untuk menjaga anak yang terpental nantinya.
"Sepertinya begitu, karena saat ini hanya cucu Tetua Tertinggi yang belum mencoba melewati jembatan tersebut." jawab Tetua yang lain.
Tetua Ma Hua menahan Nafas saat cucu kesayangannya melangkah menuju Jembatan. Saat tapak kaki Yu Lian menapak lantai, tubuhnya tidak terpental. Yu Lian melihat kebelakang kearah kakeknya.
Tetua Ma Hua tersenyum bahagia melihat cucunya tidak terpental. Lalu ia pun mengangguk sebagai tanda Yu Lian untuk meneruskan langkahnya.
Sementara wajah Patriak Guo Jin terlihat gembira. Demikian juga dengan para Tetua Sekte lainnya.
Melihat kakeknya mengangguk, Yu Lian meneruskan langkahnya. Satu langkah, dua langkah berhasil dilakukannya. Setelah melakukan langkah ke tiganya, Yu Lian merasakan suatu keanehan.
Yu Lian tidak dapat melangkahkan kakinya lagi. Dihadapannya seolah-olah ada tembok yang menghalangi kakinya untuk melangkah.
Yu Lian menoleh ke arah sang kakek yang kini tengah mengerutkan dahinya.
"Lian'er... ada apa nak?" Tanya Tetua Ma Hua dengan rasa penasaran.
"Kakek... aku tidak bisa melangkah lagi.. kakiku seperti membentur tembok" jawab Yu Lian ketakutan.
Saat dirinya ingin mundur, tubuh Yu Lian terhalang sesuatu seperti membentur sebuah dinding. Yu Lian ketakutan karena tidak bisa mundur ataupun melangkah maju.
Melihat wajah ketakutan cucunya, Tetua Ma Hua ingin segera menyusul sang cucu. Namun Suara petir yang tiba-tiba menggelegar, menghentikan langkahnya.
*****
Salam Noveltoon
Hai Reader Setia Noveltoon...
Mohon Dukungan Like, Vote dan Ratingnya untuk Pendekar Tiga Dunia ya..
Oh iya Pendekar Tiga Dunia akan Update 1 Chapter setiap hari pada pukul 19:00 WIB.
Kritik dan saran yang membangun, sangat dinanti oleh Author agar Novel pertama ini dapat menjadi lebih baik lagi.
Terimakasih.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 305 Episodes
Comments
Agus Rahmat
komentar terbaik dapat hadiah ya Thor
2025-03-18
0
Yuda Suastika
?????
2024-06-18
0
hcomrusnam meila
beneran dapat piring gelas
2024-02-07
0