"Ketua...! apa yang akan Ketua lakukan?"
Tetua Ma Hua memberanikan bertanya dengan nafas sedikit tersengal-sengal akibat aura tenaga dalam tersebut.
Tetua Ma Hua berusia Enam Puluh tahun dan merupakan orang terkuat setelah Guo Jin, sehingga dirinya sedikit mampu bertahan terhadap tekanan aura tenaga dalam ketua sektenya.
Guo Jin pun membalikkan tubuhnya seraya tersenyum tipis sebelum menanggapi pertanyaan Tetua Ma Hua.
"Tetua Ma... aku akan melakukan sesuatu untuk memastikan Rahasia terbesar sekte kita. Seandainya terjadi hal yang buruk terhadap diriku, simpanlah Lencana Ketua ini. Lencana ini merupakan kunci untuk memasuki Ruang Rahasia Ketua Sekte. Di dalam ruangan tersebut terdapat sebuah gulungan bersegel hijau. Kau akan mendapatkan jawabannya di sana. Ingatlah, isi gulungan tersebut adalah rahasia terbesar sekte dan hanya Ketua Sekte yang boleh mengetahuinya. Apakah kau memahaminya?"
"Ba.. baik Ketua.. Aku memahaminya."
Setelah terlepas dari rasa terkejutnya Tetua Ma Hua menjawab dengan suara sedikit bergetar, antara terharu karena kepercayaan yang diberikan kepadanya dan juga khawatir terhadap keselamatan Ketua Sektenya tersebut.
Melihat hal ini, Guo Jin pun tersenyum tipis sambil menepuk bahu Tetua Ma Hua dan menyerahkan Lencana Giok Ketua Sekte.
Sesaat kemudian tubuh Guo Jin melesat kearah Jembatan Kabut Petir.
Saat telapak kaki Guo Jin memijak lantai jembatan tersebut, terjadi ledakan yang menggelegar.
Sebuah petir yang cukup besar menyambar Guo Jin, membuat tubuhnya terpental dan melayang ke belakang. Dan baru berhenti setelah menabrak tubuh Tetua Ma Hua dan beberapa tetua lain hingga roboh.
Walau sudah menyadari adanya kemungkinan dirinya tersambar petir, namun tetap saja Guo Jin terkejut. Perisai tenaga dalam yang diciptakan, tidak mampu melindungi tubuhnya dari sambaran Petir secara penuh.
Dan hal ini membuat dirinya mengalami luka dalam yang tidak ringan. Darah segar pun tampak membasahi sudut bibirnya dengan sekujur tubuh yang terasa kebas.
"Ketua.."
Tiga Tetua lain yang masih berdiri, terkejut melihat kejadian tersebut, secara bersamaan lalu melesat untuk menolong Guo Jin berdiri.
"Terimakasih Tetua sekalian.."
Setelah berdiri Guo Jin menyeka darah disudut bibirnya, lalu mengeluarkan sebuah botol dari saku jubah. Diambilnya beberapa butir pil dan lalu menelannya. Setelah beberapa saat, perlahan-lahan rasa kebas di sekujur tubuhnya pun menghilang.
"Ketua... Bagaimana kondisi anda?. Apa yang sebenarnya terjadi?"
Setelah kembali berdiri dan menstabilkan kondisinya, Tetua Ma Hua tak lagi bisa menahan rasa penasarannya dengan situasi yang ada dihadapan mereka.
Guo Jin hanya tersenyum masam, namun ketika hendak menjawab pertanyaan Tetua Ma Hua, sesuatu yang diluar nalar manusia pun terjadi di hadapan mereka.
Segumpal awan hitam yang kini telah berada tepat di atas jembatan yang berkabut petir itu, mengeluarkan aura besar yang sangat mengintimidasi dirinya.
Suasana pun menjadi sangat hening bahkan semilir angin yang berhembus pun tidak lagi dirasakan oleh Guo Jin.
Guo Jin mengerutkan dahi saat berbalik dan mengamati situasi di sekelilingnya, baru disadarinya bahwa Tetua Ma Hua dan lainnya terdiam mematung. Awan pun berhenti bergerak, seolah waktu sedang berhenti.
Saat mencerna situasi yang sedang ada di hadapannya, Guo Jin kembali dikejutkan dengan suara letupan kecil yang berasal dari belakangnya. Setelah membalikkan badan, Guo Jin terpana dengan apa yang dilihatnya. Membuat mata tuanya melebar dengan mulut setengah terbuka.
Di atas gumpalan awan itu muncul sebuah cahaya yang sangat terang menyilaukan mata. Selang beberapa saat, sinar tersebut perlahan-lahan meredup dan memperlihatkan sosok seorang laki-laki tua berjubah putih dengan janggutnya yang panjang hingga mencapai dadanya.
Wajahnya memancarkan aura yang berbeda dari umumnya manusia. Aura yang memaksa Guo Jin menjatuhkan kedua lututnya seraya menangkupkan kedua tangan didepan wajahnya untuk memberi hormat.
Walaupun dirinya tak mengenali sosok tersebut namun Guo Jin meyakini sosok dihadapannya ini bukanlah manusia biasa, bahkan bisa jadi seorang Dewa. Karena pemikiran ini, tubuhnya pun menjadi bergetar hebat.
"Jin'er ... Janganlah takut dengan semua fenomena yang ada hadapanmu saat ini, juga kedatanganku menemui dirimu. Tujuan kedatanganku untuk menyampaikan sesuatu hal penting yang berkaitan dengan Rahasia Sekte Lembah Dewa dan juga kedamaian dunia ini. Tenangkan dirimu dan ingatlah baik-baik apa yang akan aku sampaikan ini."
"Am..Ampuni hamba wahai Dewa, hamba....hamba belum mengerti sepenuhnya dengan semua ini."
Guo Jin menjawab dengan terbata-bata dan suara yang bergetar.
"Jin'er.. Aku bukanlah Dewa, yang kau lihat ini adalah Rohku. Aku diutus oleh Dewa naga untuk menemuimu demi menyelesaikan tugas terakhirku darinya. Dengarlah baik-baik apa yang akan aku sampaikan ini."
Sosok sepuh berjubah putih itu akhirnya mengenalkan dirinya sebagai Zhu Long, pendiri Sekte Lembah Dewa. Kedatangannya menjelaskan bahwa lubang bercahaya keemasan itu bernama Pintu Alam Kultiva. Pintu ini menghubungkan alam manusia dengan sebuah alam dari dunia lain yaitu Alam Kultiva Naga.
Alam Kultiva Naga adalah alam kecil yang diciptakan sendiri oleh Dewa Naga. Tujuan diciptakan alam ini adalah untuk melatih manusia yang kelak akan menjadi seorang pendekar tingkat tinggi. Dan setelah menjalani masa latihan itu, Pendekar terpilih tersebut akan mengemban tanggung jawab di Tiga Dunia.
Dengan munculnya Pintu Alam Kultiva di dunia ini, merupakan pertanda bahwa Dewa Naga akan memilih lagi seorang pendekar dari alam manusia.
Setelah dirinya yang terpilih 500 tahun lalu, Dewa Naga belum pernah memilih lagi pendekar dari alam manusia. Zhu Long menjelaskan juga bahwa pendekar pilihan ini akan menggantikan dirinya yang telah gagal dan tewas di alam dunia lain.
Karena kegagalan itulah, Dewa Naga menghukum Zhu Long. Saat Roh Zhu Long terbang melayang ke alam keabadian Dewa Naga datang memohon kepada Sang Maha Agung.
Dewa Naga memohon agar kepindahan roh Zhu Long ditunda sementara waktu, tujuannya untuk menjalani hukuman darinya. Hukuman itu adalah mencari dan melatih pendekar untuk menggantikan tugas Zhu Long.
Sesaat sebelum munculnya Pintu Alam Kultiva, Zhu Long telah diberitahu oleh Dewa Naga bahwa sosok pengganti dirinya telah lahir beberapa tahun lalu dan sosok ini sepertinya berhubungan erat dengan Sekte Lembah Dewa yang didirikan olehnya lima ratus tahun lalu.
Zhu Long juga menjelaskan bahwa manusia yang terpilih untuk berlatih di Alam Kultiva Naga adalah seseorang yang bisa melewati Jembatan Kabut Petir tanpa tersambar Petirnya.
Untuk itulah Zhu Long memerintahkan kepada Guo Jin untuk membawa anak-anak berusia lima hingga tujuh tahun ke tepi Jurang Lembah Dewa.
Anak tersebut haruslah keturunan murid Sekte Lembah Dewa. Hal itu bertujuan untuk melakukan semacam tes kepada anak anak tersebut, yaitu dengan melewati Jembatan Kabut Petir.
Apabila ada seorang anak bisa melewati Jembatan Kabut Petir tanpa tersambar Petirnya, maka anak itulah yang dapat memasuki Alam Kultiva Naga.
****
Salam Noveltoon
Hai Reader Setia Noveltoon...
Mohon Dukungan Like, Vote dan Ratingnya untuk Pendekar Tiga Dunia ya..
Oh iya Pendekar Tiga Dunia akan Update 1 Chapter setiap hari pada pukul 19:00 WIB.
Kritik dan saran yang membangun, sangat dinanti oleh Author agar Novel pertama ini dapat menjadi lebih baik lagi.
Terimakasih.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 305 Episodes
Comments
Agus Rahmat
sedikit berbeda samacerita yang lain.ok
2025-03-18
0
Yuda Suastika
lanjuuut
2024-06-18
0
Mas Uan
tak cb baca dulu thood.
2024-03-10
0