Melihat dua pemimpin mereka telah tewas dan satu pemimpin yang masih hidup mengalami luka, anggota perampok Laba-laba Merah yang tersisa menjadi geram dan sangat marah.
"Bantu pemimpin!" salah satu dari mereka berteriak dengan lantang.
Dua puluh orang melesat dari kuda mereka dengan senjata terhunus mendekati pemimpinnya. Lalu membentuk formasi lingkaran untuk melindungi sang pemimpin.
Disaat bersamaan mereka menjejakkan kaki, Yao Zhi kembali menebaskan Pedang Pelangi kearah mereka secara mendatar. Seberkas sinar merah melesat dengan cepat dan menembus tubuh enam orang yang berada di bagian depan.
Pemimpin Laba-laba Merah itu segera melemparkan golok besarnya yang tinggal separuh kearah Yao Zhi, lalu melompat ke seekor kuda. Pemimpin tersebut sadar dirinya akan kehilangan nyawa bila tetap melawan pria tersebut.
"Mundur...!!" teriaknya sambil menggebrak kudanya.
Yao Zhi dengan mudah menghindari lemparan golok tersebut. Saat dirinya hendak melanjutkan serangan, pemimpin tersebut sudah melarikan diri dengan menaiki kuda.
Empat belas orang yang tersisa pun segera berlarian menuju ke kuda mereka. Dan mengikuti pimpinannya melarikan diri bersama seluruh kelompok mereka.
Yao Zhi membiarkan mereka pergi dengan menanamkan rasa takut jika ingin mengacau di kota Xinan. Yao Zhi mengalihkan pandangannya ke depan pintu gerbang kota.
Terlihat di depan gerbang, anggota laba-laba merah yang sedang bertarung menghadapi pasukan keamanan kota, menjadi ciut nyalinya saat melihat pemimpin dan rekan-rekannya melarikan diri.
Sekitar tiga puluh orang anggota perampok Laba-laba Merah yang tersisa, akhirnya menyerah dengan meletakan senjatanya.
"Terimakasih atas bantuan anda Tetua Zhi, anda telah berjasa besar kepada Kota Xinan "
Komandan Yun dan Walikota Xinan, segera menyampaikan rasa hormat dan terimakasih saat Yao Zhi tiba dihadapannya. Dengan bantuannya, separuh dari kelompok Laba-laba Merah yang hendak merampok dan menguasai kota, berhasil ditumpas dan sisanya melarikan diri.
"Komandan Yun, ini bukan apa-apa, kewajiban bagi kita semua untuk membela diri"
Yao Zhi pun segera mohon diri dan berjalan kembali kearah rumah makan Lao Qin.
Sementara Komandan Yun dan Walikota akan mengurusi jenazah beberapa prajurit yang terbunuh. Sedang mayat para perampok akan mereka kumpulkan dan dibuang ke jurang yang letaknya cukup jauh dari kota Xinan.
"Ayah.." teriak Yao Chan terlihat senang saat melihat ayahnya telah kembali. Yao Zhi tiba di rumah makan Lao Qin saat matahari sebentar lagi terbenam.
Yao Zhi akhirnya memutuskan untuk menginap di Kota Xinan dan melanjutkan perjalanannya esok hari. Karena perjalan dari kota Xinan ke Lembah Dewa, memakan waktu kurang dari setengah hari lagi.
****
Keesokan harinya, saat meatahari pagi baru memunculkan dirinya, dua dari sepuluh orang yang ditugaskan sudah kembali.
Mereka masing-masing membawa tiga orang anak yang berusia antara lima hingga tujuh tahun. Beberapa diantaranya, ditemani oleh orang tuanya yang sekaligus untuk mengunjungi Sekte Lembah Dewa.
Tiga jam kemudian kemudian seluruh Tetua yang ditugaskan akhirnya kembali. Total keseluruhan anak yang dibawa oleh para Tetua sebanyak enam puluh tiga orang.
Setelah berisitirahat sejenak, Guo Jin dan Tetua Ma Hua memerintahkan para tetua mengikutinya ke Tepi Jurang Dewa.
Satu persatu, anak-anak tersebut mencoba melewati Jembatan Kabut Petir. Wajah Guo Jin terlihat agak murung karena sudah enam puluh anak yang gagal melewati jembatan Kabut Petir. Kini hanya tersisa tiga anak saja.
Wajah Guo Jin menjadi semakin murung saat akhirnya ketiga anak tersebut, gagal melewati Jembatan Kabut Petir.
Saat Guo Jin dan Tetua lain hendak kembali ke Aula Sekte, mereka melihat empat orang berjalan menuju ke arah mereka. Satu diantara mereka adalah murid sekte yang mendapat tugas menjaga gerbang.
Guo Jin dan Tetua lain membelalakkan mata saat kempat orang tersebut jaraknya hanya beberapa meter darinya. Seorang Lelaki tampan, yang mereka ketahui sudah tewas tujuh tahun lalu, kini berdiri dihadapan mereka. Lelaki yang menempati Kursi Tetua Nomor Satu, Pendekar Pedang Pelangi, Yao Zhi.
Yao Zhi segera berlutut di hadapan Guo Jin.
"Hormat kepada Guru, mohon maafkan murid yang baru menemui guru."
"Zhi'er... benarkah kau Zhi'er? kau masih hidup nak?" Guo Jin berkata sambil terbata-bata dan mengangkat bahu Yao Zhi lalu memeluknya dengan sangat erat, seakan takut akan kehilangan bila ia melepaskan pelukannya.
Hati Yao Zhi menjadi hangat saat melihat reaksi gurunya. Tujuh tahun sudah mereka tidak bertemu.
Sementara Guo Jin menjadi sangat gembira saat mengetahui salah satu murid kesayangannya yang dikabarkan tewas itu, ternyata masih hidup.
"Murid Lin Hua, memberi hormat kepada Guru." suara lembut seorang perempuan menyadarkan mereka. Guo Jin lalu melepaskan pelukannya dari Yao Zhi dan memperhatikan perempuan cantik yang berlutut di depannya bersama seorang anak yang seluruh tubuhnya bertato seperti sisik ular.
"Guru, perkenalkan ini Lin Hua Isteriku dan ini Yao Chan putera kami." Kata Yao Zhi sambil memperkenalkan Lin Hua dan Yao Chan.
"Bangunlah anakku, kamu benar-benar cocok dengan Zhi'er. Yang lelaki tampan dan yang perempuan sangat cantik. kalian benar-benar pasangan yang serasi. Hahahaha..." sapa Guo Jin yang tak lagi bisa menutupi rasa gembiranya.
"Anak yang gagah sia..." Belum sempat Guo Jin menyelesaikan kalimatnya, sesuatu yang ganjil terjadi, mengejutkan semua orang yang berada di Tepi Jurang Dewa.
Kabut yang mulanya menutupi jembatan, perlahan menggumpal menjadi sebuah bola raksasa. Setelah itu gumpalan kabut tersebut mengeluarkan letupan-letupan petir kecil.
Saat semua pandangan orang sedang tertuju melihat kabut berbentuk bola raksasa yang mengeluarkan petir, tak ada yang menyadari jika tubuh Yao Chan bergetar hebat. Lalu dari bagian pusar Yao Chan, melesat sebuah sinar keemasan.
Saat sinar keemasan tersebut menyentuh Bola kabut raksasa itu, tiba-tiba bola tersebut seperti terhisap ke dalam perut Yao Chan.
Yao Zhi dan Lin Hua terkejut dan berteriak bersamaan memanggil puteranya. Mereka hendak menyentuh Yao Chan, namun Guo Jin melarangnya. Lalu semua orang segera menjauh dari Yao Chan.
Seluruh kabut yang membentuk bola raksasa berpetir tersebut, akhirnya lenyap terhisap kedalam tubuh Yao Chan.
Semua pandangan mereka yang berada di tepi Jurang Dewa kini mengarah ke Yao Chan. Terlihat tubuh Yao Chan perlahan bersinar kuning keemasan. Semua orang menutup mata saat tubuh itu memancarkan cahaya yang sangat terang.
Sesaat kemudian cahaya tersebut perlahan-lahan meredup dan kini dihadapan mereka, terlihat seorang bocah laki-laki yang sangat tampan, berkulit putih bersih. Tidak lagi terlihat tato seperti sisik ular di kulitnya.
Guo Jin dan semua yang hadir di Tepi Jurang Dewa menatap takjub, mereka melihat anak itu memancarkan aura yang tidak biasa. Selain itu tubuhnya juga memancarkan energi yang sangat besar.
Sesaat kemudian, Guo Jin baru menyadari, bahwa angin berhenti berhembus, semua orang terlihat mematung kecuali dirinya,Yao Zhi, Lin Hua dan Yao Chan.
Guo Jin merasa tidak asing dengan situasi seperti ini, namun mereka bertiga terlihat kebingungan. Yao Chan memegang lengan Lin Hua dengan erat.
"Jin'er..." Sebuah suara sepuh penuh wibawa terdengar di belakang mereka.
*****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 305 Episodes
Comments
Yuda Suastika
manataappp
2024-06-18
0
Yuda Suastika
manataappp
2024-06-18
0
hcomrusnam meila
good
2024-02-07
0