Keesokan harinya di lobby Apartemen Emas, Anta dan Raja yang bersiap berangkat ke sekolah barunya bertemu dengan Pak Herdi dan anaknya Arya. Tatapan sinis lagi-lagi di berikan oleh Arya kepada Anta.
"Sayang, ini bekel buat anak-anak jangan lu— pa."
Mata Tante Dewi terbelalak saat melihat sosok Pak Herdi.
"Kamu, bukannya kamu sudah mati?" Tunjuk wanita itu pada sosok pria di samping Arya.
"Saya masih hidup, Bu."
"Heh sembarangan Ibu, Ibu, usia kita aja sama," sahut Tante Dewi dengan ketusnya.
"Tapi Anda kan ibunya dua anak ini, ya kan?" tanya Pak Herdi.
"Tapi jangan panggil ibu lah," ucap Tante Dewi masih berusaha keras tak mau dipanggil Ibu.
Plak!
Sebuah tamparan mendarat di pipi kiri Herdi.
"Aduh, sakit tuh!" gumam Andri seraya mengusap pipinya sendiri.
"Awww! Apa salah saya? Kenapa kamu pukul saya seperti itu?"
Pak Herdi bertanya dengan nada tinggi berseru pada Tante Dewi.
"Oh, sakit ya? Berarti memang benar kamu manusia, maaf ya."
Tante Dewi menepuk bahu Pak Herdi berkali-kali.
"Yah, sepertinya kita dikelilingi sama orang sinting deh, semuanya aneh," gumam Arya lalu menarik lengan Ayahnya agar segera menjauh dan beranjak menuju mobil mereka.
Pak Herdi masih menoleh pada Tante Dewi saat Arya menarik tangannya. Pipi kirinya masih terasa pedih dan panas.
"Anta, itu yakin bukan hantu?" tanya Tante Dewi pada Anta.
"Bukan, dia manusia. Sepertinya Pak Herdi dilahirkan kembali deh atau apa istilahnya rekreasi, ya?"
"Reinkarnasi Anta, kalau rekreasi mah jalan-jalan," sahut Tante Dewi.
"Oh, iya maksud Anta itu," ucap Anta.
"Berarti sama kayak Andri," gumam Tante Dewi.
"Apa? Sama kayak aku, maksudnya gimana?" Andri menunjuk dirinya sendiri.
"Bukan apa-apa, yuk ah kita jalan keburu telat nanti," ajak Tante Dewi yang segera melingkarkan tangannya di lengan Andri.
Anta meraih roti cokelat di tangan Raja yang tinggal setengah.
"Bagi, Ja."
"Huh, tau gitu Raja ludahin dulu tadi rotinya," keluh Raja.
Anta tersenyum senang.
***
Sesampainya mobil yang dikendarai Andri, Tante Dewi, Anta dan Raja, di sebuah gerbang warna hitam yang menjulang tinggi sekitar dua meter itu, membuat Raja takjub.
"Tinggi banget gerbangnya, nanti kalau Raja mau bolos sekolah gimana cara manjatnya, ya?" ucap Raja.
"Heh, bocah lima tahun udah mikirin bagaimana cara manjatnya," seru Anta yang menoyor kepala Raja dengan gemas.
"Kan, Raja mau ngikutin adegan yang Mama Dewi tonton di tv itu, anak sekolah pada bolos manjat pagar, tapi gak tinggi seperti ini," ucap Raja.
Anta dan Andri langsung menolehkan kepalanya melihat ke arah Tante Dewi.
"Kok, pada ngeliatin aku kayak gitu, sih?" tanya wanita itu, dia langsung pura-pura sibuk melihat layar ponsel di tangan.
"Kok, kamu ngajak Raja nonton sinetron?" tanya Andri.
"Iya nih, Mama Dewi kok gitu?" Anta ikut menyudutkan.
"Yeee siapa juga yang ajak Raja nonton sinetron, dia ngintip kali terus nyimak, ya kan, Ja?"
Kepala Raja menggeleng.
"Enggak ngintip, kan Mama Dewi yang ajak Raja duduk sambil bilang, Raja sini lihat tuh cowok-cowok abg pada cakep ya, gitu."
"Oh, yang itu, hehehe... maaf ya aku lupa. Sudah sana kalian masuk sekolah, awas ya jangan berulah dan bawa pulang hantu," ancam Tante Dewi.
"Dih emang Mama Dewi sama Papa Andri gak tau ya kalau Kak Anta semalam..."
Anta langsung membekap mulut Raja dan menarik lengan Raja menuju ke dalam sekolah. Ia takut Raja memberitahukan keberadaan hantu kuntilanak merah si Silla.
"Mencurigakan," gumam Tante Dewi.
"Eh, kok kalian gak pada salim?" tanya Andri yang berseru memanggil Raja dan Anta.
"Oh iya lupa, Kakak sih tarik Raja," ucap Raja.
Anta dan Raja bergegas berbalik badan dan memberi kecupan pada punggung tangan Papa Andri dan Mama Dewi itu, Lalu melambaikan tangan mereka saat kedua orang tua asuhnya itu masuk ke dalam mobil dan melaju pergi.
"Gedung SD sebelah kiri, gedung Kakak sebelah kanan, ya."
Anta menunjuk ke arah kiri dan kanan.
"Ok, sip. Dah Kak Anta."
"Raja," panggil Anta.
Adik laki-lakinya itu menoleh, "Apa?"
"Inget, jangan buat macam-macam dab berurusan dengan...."
"Iya, Raja tau, dah Kak Anta..."
Raja melambaikan tangannya dan bergegas pergi dari Anta.
"Tapi, Raja gak janji hehehehe..." gumam Raja.
***
Baru saja gadis itu sampai di depan sebuah papan yang bertuliskan majalah dinding SMP Karya Bangsa, Anta sudah dikejutkan oleh keberadaan sosok hantu anak perempuan yang memakai seragam yang sama dengannya.
Di leher gadis itu terlihat jeratan tali yang meninggalkan bekas luka warna merah. Lidah hantu anak perempuan sampai terjulur ke luar dengan bola mata yang membulat seolah hendak ke luar dari rongga matanya.
"Ih, ngagetin aja si Kakak. Kakak artis ya, kayak pernah lihat di hape Anta?" tanya Anta dengan suara berbisik di samping majalah dinding sekolah itu.
Hantu itu mencoba menjawab, "Bukan."
Akan tetapi karena lidahnya terus berada di luar mulutnya, saat hantu perempuan itu berbicara ia selalu meneteskan air liurnya membasahi seragam bahkan jatuh ke lantai di samping sepatu Anta.
"Duh, hampir aja, untung gak kena. Beneran lho Kakak mirip yang lagi viral itu, bentar Anta lihat di pihak Anta.
Gadis itu mengeluarkan ponselnya. Di sekolah Anta memang masih diperbolehkan untuk para murid membawa ponsel. Anta memperlihatkan sesuatu di layar ponselnya pada hantu anak perempuan itu.
"Tuh kan mirip, ya kan?" tanya Anta.
Hantu anak perempuan itu makin melotot menatap Anta dengan kesal.
"Tuh kan, kalau melotot gitu makin mirip sama artis ini, si Hantu Momo," ucap Anta.
Anta memasukkan ponselnya lagi ke dalam tas dan berusaha menahan tawanya. Hantu anak perempuan itu menghentikan langkah Anta, dia menarik lengan Anta.
"Apa lagi?" tanya Anta.
Hantu anak perempuan itu menunjukkan name tag di dada sebelah kanan pada seragam warna putih itu.
"Monic Suherman," ucap Anta membaca nama hantu perempuan itu.
"Oh Kak Monic, nah mirip kan bisa dipanggil Kak Momo hehehe..."
BRUG!
Anta ditabrak oleh seorang pria yang berlari dari balik siku dinding di samping Anta. Anta dan anak laki-laki itu sampai terjatuh ke lantai bersamaan. Keduanya saling meringis dan mengeluh sakit.
"Kalau jalan pakai kaki dong, terus matanya juga fokus biar gak nabrak orang," ucap Anta.
"Ma-maaf ya, habisnya saya tadi di kejar sama— Anta, itu kamu, kan?"
Anak laki-laki itu menunjuk ke arah Anta.
*******
To be continue...
Mohon dukungannya, mampir juga ke Novelku lainnya.
- Pocong Tampan
- With Ghost
- 9 Lives
- Kakakku Cinta Pertamaku
- Forced To Love
- Diculik Cinta
Vie Love You All...😘😘😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 358 Episodes
Comments
Hati Yang Terkilan
Asekkkk Arga nongollll🥰🥰🥰🥰🥰
2024-09-25
1
Hati Yang Terkilan
Ngomong omong si Momo...matinya emang bunuh diri apa di bunuh ya🤔🤔🤔🤔jadi penasaran aku🤔🤔🤔🤔
2024-09-25
1
Hati Yang Terkilan
iya mirip....bisa juga tu Nta di panggil Kak Momo🤣🤣🤣🤣🤣
2024-09-25
1