Sebuah sedan putih meluncur di hadapan Tasya dan Doni lalu berhenti persis di hadapan mereka untuk parkir.
"Tante..." seru Anta yang baru turun dari sedan itu.
"Anta, kamu dari mana? Terus naik mobil siapa itu?" tanya Tasya.
"Aku dari rumah Bunda sama Yanda. Oh iya, Anta punya kejutan, Tante Tasya sama Om Doni pasti kaget deh kayak Anta tadi," ucap Anta.
"Kejutan? Kejutan kayak apa, sih?" tanya Tasya yang saling menatap dengan Doni secara bergantian.
Pak Herdi dan Arya turun dari mobilnya dengan gaya elegan yang bersamaan. Mereka terlihat sangat keren. Mulut Doni dan Tasya terbuka lebar saat melihat wajah pria itu serupa dengan Pak Herdi.
"Ayah artis, ya? Kenapa semua pada ngeliatin Ayah seperti itu sih?" tanya Arya yang melihat raut wajah Doni dan Tasya seperti baru saja bertemu idola mereka.
"Entahlah, Ayah jadi risih diliatin kayak gitu," gumam Herdi.
"Pak Herdi....!" teriak Tasya yang hendak menuju pria di samping mobil itu namun Doni dengan sigap menahan lengan Tasya.
"Gak boleh peluk!" seru Doni menatap Tasya dengan pandangan tajam.
Tasya menoleh kesal pada Doni.
"Aku aja yang peluk."
Doni langsung berlari dan menghamburkan tubuhnya memeluk pria yang mirip dengan Pak Herdi itu.
"Pak Herdi... kangen banget saya sama Bapak, apa kabar?" ucap Doni seraya memeluk pria itu dengan erat.
"Hidih... lepas, lepas, lepas!" Pak Herdi mendorong tubuh Doni agar melepas pelukannya.
Arya tertawa melihat sang ayah yang dipeluk oleh laki-laki itu.
"Kalian pada kenapa, sih? Kalian semua mengenal saya?" Pak Herdi menunjuk dirinya sendiri.
Tasya, Doni, dan Anta mengangguk bersamaan.
"Kok bisa? Saya aja enggak kenal sama kalian," ucap pria itu.
Tasya perlahan menghampiri Pak Herdi. Kedua bola matanya berkaca-kaca. Ia mengamati sosok pria itu dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan seksama.
"Mungkinkah kamu itu reinkarnasi Pak Herdi seperti aku yang mirip Anita sahabat Dita dulu?" tanya Tasya lirih.
"Saya gak ngerti ya kamu bilang apa, yang jelas saya gak kenal sama kalian dan saya gak punya kembaran," ucapnya tegas.
"Tasya Sayang, udahlah jangan dipaksakan, toh kalaupun dia reinkarnasi Pak Herdi ya wajarlah ingatannya juga bukan ingatan Pak Herdi, ya kan?Yuk, kita udah di tungguin Tante Dewi dari tadi!" ajak Doni.
Tasya akhirnya menyerah dan melangkah mengikuti Doni. Meskipun wajahnya tak pernah bisa lepas dari Pak Herdi.
"Orang-orang yang aneh ya, Yah," ucap Arya lalu menoleh pada Anta.
"Apa liat-liat! Dasar aneh juga kamu!" seru Arya mencibir Anta.
"Ih males Anta lihat kamu, Pak Herdi, eh Om Herdi, makasih ya sudah anter Anta pulang," ucap Anta seraya tersenyum manis.
"Ih kepedean, jangan geer kamu, siapa juga yang niat antar kamu, ini kan rumah baru aku dan kita searah makanya Ayah angkut kamu sekalian ke sini, bukannya niat mau nganterin, pede!" Arya menatap tajam ke arah Anta.
"Emangnya Anta barang apa main angkut aja, wlek!" Anta mulai tak tahan balas mencibir.
"Udah, udah, udah berantem terus nih, nanti jodoh lho!" celetuk Pak Herdi menengahi keduanya.
"Amit-amit...!" seru keduanya bersamaan.
"Cie barengan, uhuy jangan-jangan beneran jodoh nih," celetuk Silla menggoda Anta.
"Diem kamu!" sahut Anta menoleh pada Silla.
Arya dan Pak Herdi saling menatap.
"Siapa yang kamu suruh diem, Anta?" tanya Pak Herdi.
"Ummm... itu, anu, nyamuk di samping Anta berisik banget, makanya Anta suruh diem," sahut Anta berbohong dengan menjawab asal saja.
"Masuk, yuk!" Anta mengajak Silla masuk namun Arya salah paham.
"Ogah gue masuk bareng elo, cih!" sahut Arya.
"Ih pede, emangnya saya ngomong sama kamu," ucap Anta lalu berlalu menyusul Doni dan Tasya.
"Dasar cewek aneh!" gumam Arya.
"Jodoh lho nanti," sahut Pak Herdi.
"Ayah apaan sih? Aku gak suka ya Ayah bercandain aku sama dia," tunjuk Arya.
***
Saat pintu lift terbuka di lantai dua puluh, Anta melihat hantu Susi sedang bergandengan mesra dengan Tomo. Tasya dan Doni masih bergidik ngeri melihat kondisi Tomo sampai mereka jalan menyamping merapatkan tubuh mereka ke dinding untuk menghindar lalu buru-buru mengetuk pintu apartemen Tante Dewi.
Raja membuka pintu tersebut, dan langsung bertabrakan dengan Doni yang terburu-buru masuk ke dalam. Raja mendaratkan bokongnya di atas lantai seraya merintih.
"Om Doni apa-apaan sih, sakit kan nih pant*t Raja," keluhnya.
"Maaf, Ja. Om Doni gak lihat!" sahut Doni yang langsung menyerahkan bungkusan makanan di tangannya pada Andri. Tasya langsung menggendong Raja dan ikut meminta maaf.
"Cie... makin mesra aja nih pasangan," tegur Anta pada Hantu Susi dan Tomo.
"Iya, dong!" sahut Susi dengan bangganya.
Namun, langkah Tomo terhenti dan menghentikan langkah Susi juga karena lengannya terkunci di lengan Tomo. Hantu pria itu terpesona melihat kecantikan yang dimiliki hantu Silla si kuntilanak merah itu. Kibasan rambut Silla bak layaknya model iklan shampo yang melintas di hadapan Tomo.
"Hai..." sapa Silla.
"Hai..." ucap Tomo balas menyapa dengan senyum sumringah bagai melihat bidadari lewat di sampingnya.
Hantu Susi yang kesal melihat kelakuan Tomo seperti itu langsung melepas tangannya dari lengan Tomo. Ia menoyor kepala Tomo dengan kesal dan marah sampai satu bola mata Tomo jatuh menggelinding di lantai. Silla tak sengaja menginjaknya.
"Aduh, Sayang, kamu kenapa sih, tuh bola mata aku lepas tuh!" keluh Tomo.
"Dasar cowok buaya, gak bisa liat hantu cewek bening dikit!" seru Susi.
Anta yang melihat kericuhan itu malah tertawa sampai terpingkal-pingkal. Ia sampai memegangi perutnya karena sakit akibat tertawanya yang berlebihan.
Hantu Susi yang kesal pergi meninggalkan Tomo. Ia terjun menembus kaca jendela. Bukannya mengejar si Tomo malah masih asik memandangi wajah Silla.
"Mas, ini bola matanya saya balikin, maaf ya gak sengaja keinjek," ucap Silla seraya menyerahkan bola mata milik Tomo itu.
"Aduh gak apa-apa kok, udah biasa. Bisa tolong pasangin!" pinta Tomo.
Silla dengan berat hati memasang bola mata Tomo pada kelopak mata yang berongga itu, apalagi tangannya menyentuh beberapa belatung kecil yang menggeliat di dalam rongga tersebut.
"Udah ya, saya permisi," ucap Silla lalu masuk ke dalam apartemen Anta.
"Eh, nama kamu siapa?" tanya Tomo yang mau menyusul masuk tapi Anta mencegah.
"Om Tomo gak boleh masuk! Sana kejar Tante Susi, kasian tuh patah hati nanti hilang lho," ucap Anta yang tawanya mulai mereda.
"Oh iya Susi, aku lupa! Dah Anta...!"
*******
To be continue...
Mohon dukungannya, mampir juga ke Novelku lainnya.
- Pocong Tampan
- With Ghost
- 9 Lives
- Kakakku Cinta Pertamaku
- Forced To Love
- Diculik Cinta
Vie Love You All...😘😘😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 358 Episodes
Comments
Hati Yang Terkilan
ooo masi rada² takut ni si Doni sama si Tasya🤭🤭🤭🤭
2024-09-24
0
Hati Yang Terkilan
Ni bahasa si Arya kenapa selalu bikin kesel ya 😮💨😮💨😮💨😮💨
2024-09-24
1
Hati Yang Terkilan
🤣🤣🤣🤣🤣 Auto bingung Pak Herdi nya🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2024-09-24
1