"Ibu, biar Manda bantu," ujar Manda yang bergegas menghampiri Maharani. Mengambil alih pot berukuran sedang yang hendak diangkat oleh wanita paruh baya itu. "Mau diletakkan dimana?" tanya Manda saat pot sudah beralih ke tangannya.
"Letakkan saja disitu, Ibu mau menaruh tanah di atasnya," tunjuk Maharani ke arah sebuah bangku kayu.
"Ada yang bisa Manda bantu lagi?" tanya Manda yang kini menawarkan bantuan, tapi seketika Maharani merespon dengan senyum dan gelengan kepala.
"Kamu sudah sarapan?"
"Su—sudah Bu," sahut Manda yang sedikit sungkan.
"Tadi Ibu berniat mau bangunkan kamu, tapi putra Ibu, Akram mengatakan kalau kamu sedang sakit. Bagaimana sekarang keadaan kaki kamu?" ujar Maharani yang beralih melirik kaki Manda.
"Sudah membaik Bu," sahutnya dan entah mengapa kini Manda spontan menggerakkan sedikit kakinya canggung akibat diperhatikan oleh Maharani. Lalu dengan saat tadi disebutkan nama Akram, tiba-tiba saja dalam hatinya terasa ada seperti yang berdenyut mengusik.
Manda pun berdehem sejenak, berusaha menormalkan perasaan aneh tadi. "Ibu hobi ya menanam bunga?" tanya Manda saat menoleh ke tempat sekitar terdapat berbagai macam tanaman.
"Hanya untuk mengisi waktu. Di hari tua Ibu seperti ini tak banyak yang bisa Ibu lakukan, berharap dengan sedikit Ibu menggerakkan tubuh bisa mengeluarkan keringat."
"Itung-itung olahraga maksud Ibu?" sahut Manda, dengan Maharani yang tersenyum menanggapinya.
"Oh ya. Putra Ibu, Akram apa sudah cerita kalau Manda ini adalah teman sekolahnya?"
"Anak Ibu belum cerita?"
Manda pun menipiskan bibir, kemudian menghela pendek napasnya. Maharani menyahuti tapi tak menoleh ke arahnya, dan pikir Manda mungkin ada baiknya dia berkenalan lebih jauh kepada Maharani. "Manda berfikir dunia itu begitu sempit. Dulu kami satu sekolah, hanya Akram satu tingkat lebih tinggi dari Manda, lebih tepatnya Akram itu kakak kelas Manda. Tapi meski begitu, kami dulu sempat dekat. Manda tahu pribadi Akram tak pernah ada yang berubah hingga sampai kemarin kami dipertemukan lagi. Manda sih gak menyangka, dan bertemu dengan teman lama yang seperti Akram rasanya bukan lah suatu keburukan. Lalu kalau boleh Manda tahu dimana istri Akram yang sekarang, karena Manda datang dari sore sampai sekarang belum bertemu sama sekali—," ucapan Manda serta merta berhenti saat Maharani menghentikan aktifitasnya dan menoleh menatapnya dengan pandangan tanpa ekspresi.
Manda hampir menduga kalau dia salah bicara, tapi dia kan juga merasa ingin tahu. Meski keponakannya telah menceritakan kalau Akram itu duda dengan status yang diragukan, tapi tepat kan dia bertanya pada orang yang semestinya, yakni Ibu dari Akram yang pasti tahu lebih jelas tentang informasi putranya itu, pikir Manda.
Tak lama Maharani mengulum senyum dan kembali melanjutkan aktivitasnya. "Jadi Nak Manda ini temannya anak Ibu? Kebetulan sekali," sahut Maharani yang mulai menancapkan batang tunas d atas tanah yang baru saja dibasahi air.
"Kebetulan?"
"Iya, kebetulan. Karena kamu sudah mengenal Akram, jadi Ibu percayakan Nagita untuk kamu jaga," sahut Maharani yang tersenyum menatap Manda. "Dan tolong Ibu, ini letaknya disana," perintah Maharani agar memindahkan pot yang telah selesai dikerjakan.
Manda pun mengangguk kaku menuruti, lalu meletakkan barang yang baru diambilnya ke atas rak bangku kayu yang telah berjejer beberapa pot tanaman lainnya. Kalau diperhatikan apa saja yang menjadi koleksi tanaman disini, Manda anggap bukan jenis bunga, melainkan dedaunan yang sedang kekinian.
To Be Continue
Part rada garing yaa, tp gpp Manda lagi kepo
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
Fenny Kirmalasari
lemes bgt y mulut si manda.. kmn2 blg prh deket sm akram,, gk sreg sm majikan kyk gt wlpn temen lama
2022-01-15
0
Josephine Yenish Kristanti
kok g sreg ya ma tokoh manda, kayak g ada sopN santunnya. kalo dia mntan akram trs knp? kok g tau diri ya
2020-12-27
14
Sayang Cinta
lanjut
2020-10-12
1