Marwah menepati janjinya, tiga jam berselang mobilnya sudah terparkir di halaman rumah orangtua Manda.
Manda yang mendapati hal itu seakan dibuat terkejut tak percaya. "Kamu beneran datang?" ucap Manda usai keluar dari kamar, tadi kakak iparnya mengetuk pintu memberitahukan kalau ada temannya yang datang dan ternyata Marwah menepati ucapannya. "Aku kira kamu cuma basa-basi doang," imbuh Manda meringis lalu bergabung duduk di kursi ruang tamu.
"Ya aku serius lah. Udah kemasi barang-barangmu belum?" tanya Marwah memelankan suaranya.
"Belum, pamit aja belum," tukas Manda yang sontak membuat Marwah memberengutkan bibirnya.
"Aku gak bisa lama-lama disini. Tadi Rizki sama Risma aku titipin mertua. Buruan pamit sama Emak dan Abah," perintah Marwah yang seakan buru-buru.
"Kamu kesini sama siapa?" tanya Manda bingung kemudian melongokan kepalanya ke depan rumah, teras.
"Aku nyetir sendiri, makanya cepat. Pamit, berkemas. Aku tunggu, keburu kesorean," sahut Marwah yang lantas membuat Manda berdiri bergegas mencari kedua orangtuanya.
Untuk mendapatkan ijin dari kedua orangtua cukuplah sulit bagi Manda, Abah sempat menolak sementara Emak berat mengiklaskan putri satu-satunya kembali ke perantauan usai kejadian tak mengenakan yang menimpa putrinya beberapa hari lalu.
Namun Manda bersikeras dan beralasan hidup di kampung halaman pastilah lebih berat, karena sudah pasti cibiran dan gunjingan akan ditudingkan kepadanya. Lagi pula pikir Manda dengan adanya kegiatan diluaran sana pikirannya bisa berputar, terseling dengan kesibukan hingga bisa sedikit meredakan kekacauan dalam hatinya.
Berdasarkan pertimbangan pula kini Abah mengangguk setuju, berpesan kemanapun dan sejauh mana Manda pergi orangtua tetap tempatnya untuk kembali.
"Pasti Bah, Manda akan pulang suatu saat nanti. Manda sayang sama Abah dan Emak, dan mungkin ini memang sudah nasib dan garis hidup Manda yang harus banyak bersabar. Doain Abah— Emak, agar anakmu ini kelak dan segera bertemu dengan kebahagiaan yang semestinya," ujar Manda berpamit kepada kedua orangtuanya.
"Doa Emak dan Abah selalu menyertaimu. Kalau sudah sampai disana, nanti telpon. Kabari Emakmu ini, seminggu sekali," ujar Emak yang memeluk Manda.
Manda mengangguk. Dia merasa bersalah karena selama ini memang jarang sekali menelpon kedua orangtuanya. Keterlaluan memang, tapi itu dia lakukan karena kesal ditanya sudah siap nikah atau sudah punya pasangan atau belum.
Tapi kedepannya Manda berfikir akan mulai memperbaiki pola pikirnya, bila mendapatkan pertanyaan yang demikian mungkin dia akan menanggapi dengan kata meminta doa yang terbaik untuknya, karena bukan kah bila banyak orang yang mengaminkan harapannya maka akan cepat terkabulkan segala bentuk keinginannya.
Sesudah waktu ashar Manda dan Marwah pun memulai perjalanannya untuk kembali ke Ibukota. Tiga jam lebih waktu yang mereka tempuh sebab sedikit terkendala macet di jalan, hingga saat sudah keluar dari pintu tol Manda meminta agar dirinya diantarkan saja ke apartemen tempat dulu dia tinggal.
"Kamu yakin mau balik ke apartement?" tanya Marwah sebab awal mulanya dia hendak mengajak sahabatnya itu tinggal bersama dengannya.
Manda pun mengangguk. "Iya, lagian ada Naya yang masih tinggal disana."
"Ya udah kalau gitu, tapi kalau ada apa-apa dan butuh sesuatu telpon aku. Jangan sungkan pokoknya," pesan Marwah yang hanya diangguki oleh Manda.
Tiba di apartemen pun waktu telah menunjukkan hampir pukul tujuh malam. Dan beruntung passcode apartemen belum diganti, jadi Manda langsung masuk begitu saja tanpa menekan bell atau mengetuk pintu.
Dan berapa terkejutnya dia saat pintu terbuka dan mendapati dua orang yang tengah bercumbu di sofa ruang tamu. Sontak Manda yang geram dan emosi melempar kasar koper yang dia bawa hingga menghantam keras di lantai dekat dua orang belum memiliki status sah itu.
"Nay! Begini ternyata kelakuan kamu selama Tante gak ada!" Teriak Manda bersamaan dengan suara hantaman keras kopernya, hingga menjadikan dua insan yang tengah bercumbu saling merasakan nikmatnya dunia tersentak gelagapan.
To be Continue
Bakal tinggal dimana nanti Manda, tetap ikuti kisahnya
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
ummi_Շɧ𝐞𝐞ՐՏ🍻muneey☪️
haduh nayaaaaa
2021-01-27
1
Elly Kurnia
walah naya ternyata sudah sejauh itu
2020-12-14
0
Anita puspa Rini
lho kok si naya tb2 udh ampe jkt si? udh blik apartemen pula
2020-11-20
0