"Kenapa Mbak?" Santi, pengasuh Nagita yang mendengar suara gaduh dari arah luar langsung terpancing keluar kamar guna mengetahui apa yang tengah terjadi, dan kini dia terkejut sebab melihat kaki Manda yang mengeluarkan darah.
"Mbak kenapa bisa begini, hati-hati duduk dulu disini Mbak," ujar Santi yang cepat mengambil kursi lalu menarik pelan lengan Manda, menuntunnya hingga sampai duduk di kursi.
Sementara orang yang bersangkutan hanya terdiam dengan pikiran kosong. Rasa sakit akibat pecahan beling yang dipijaknya seakan sudah tak dia rasa lagi. Pikirannya mengembara entah kemana, dan yang jelas dia sudah pasti menyesalkan keberadaannya yang bisa sampai sini.
"Tunggu disini Mbak, aku ambilkan obat."
Ucapan Santi bagaikan sekelebat ilusi semata, kini arah pandang Manda tertuju pada sosok Akram yang tengah berjongkok memunguti sisa beling lalu memasukkannya ke dalam tong sampah.
"Bukan kah tadi sudah kubilang untuk tidak banyak bergerak, dan kenapa kamu tak memakai alas kaki di dalam rumah?" tanya Akram yang melirik ke arah kaki Manda.
Manda masih tetap saja bungkam tapi sorot matanya tak teralihkan sedikit pun dari menatap Akram. Hingga sekembalinya Santi dengan membawa kotak obat, bersamaan dengan suara tangis Nagita dari arah kamar.
"Taruh saja disitu kotak obatnya," tunjuk Akram ke arah meja makan, lalu bangkit berdiri. "Kamu kembali saja ke kamar, Nagita pasti terbangun," timpal Akram memberi perintah agar Santi kembali menemani putrinya.
"Baik Pak," sahut Santi kemudian berlalu kembali masuk ke kamarnya untuk menenangkan Nagita.
Akram memutar langkahnya menuju kran air hendak mencuci tangannya, namun langkahnya terhenti sebab kini Manda berucap menyebut namanya.
"Akram?"
Orang yang bersangkutan pun sontak menoleh.
"Kamu tahu aku?" tanya Manda hati-hati.
"Tahu, namamu Manda," sahut Akram yang kemudian memutar tubuhnya melanjutkan kegiatannya untuk mencuci tangan.
Mendengar penuturan Akram pikiran Manda buntu. Dia tak tahu alasan apa yang hendak dia katakan setelah ini, yang tiba-tiba datang lalu meminta untuk berpamit pergi. Tidak, rasanya itu keputusan yang seakan menandakan kalau dirinya gengsi.
Atau dia jujur saja untuk mengatakan bahwa dia tengah butuh pekerjaan sementara, pekerjaan sebagai batu loncatan sebab dia kepepet akan kondisi yang tak kunjung tak dapat pekerjaan. Atau alasan lain, tapi rasanya untuk memikirkan hal lain dia tak bisa, sebab kini Akram tengah berjalan menuju ke arahnya. Menarik dan mengambil sesuatu dari dalam kotak obat di atas meja.
"Mungkin ini akan terasa sedikit perih. Kamu tahan, biar nanti tidak infeksi," ujar Akram yang berjongkok mulai melihat luka di telapak kaki Manda. Mengucurnya dengan alkohol, membersihkan serpihan beling kecil yang menancap di kaki Manda hingga sampai luka yang diobati itu selesai diperban.
"Lukanya tidak terlalu dalam, sepertinya tak perlu ke Rumah Sakit. Istirahat lah," ujar Akram yang tanpa disadari Manda telah berdiri tegap dan merapikan kotak obat.
"Kalau belum ada alas kaki, besok biar aku pesan pada Mbok Suti agar membelikan untukmu."
"Tadi kamu bilang tahu aku? Kenapa kamu gak tanya aku bisa ada disini dan bekerja di tempatmu? Akram— Apa jangan-jangan kamu memang gak mengenalku?"
Akram sontak menoleh pada Manda. "Tadi kamu menyebutkan namamu Manda?" sahutnya dengan Manda yang mengangguk.
"Iya. Harus lagi aku ingatkan kalau dulu kita saling mengenal. Sempat pacaran walau hanya hitungan kurang dari satu mingguan. Lalu— kamu memang tahu, apa sebenarnya lupa? Atau mungkin bisa saja kamu terkejut akan kedatanganku lalu bingung berbuat apa. Ingin tertawa atau bingung bersikap? Karena bisa saja kamu merasa kasihan dengan keadaanku yang datang sebagai pekerja di rumahmu—"
"Maaf, aku lupa," sahutan singkat Akram sontak membuat Manda terdiam akibat segala prasangkanya tadi.
Jadi dia salah mendefinisi? Batinnya. Lalu seketika dia mengatupkan mulutnya yang terbuka, menarik cepat kata-kata lain yang hendak dia lontarkan.
To be Continue
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
Ndhe Nii
lupaa krn lebih besar cintanya utk anak bos ortunya...alvina🤣🤣
2021-08-14
0
𝖚𝖓𝖙𝖚𝖐 𝖉𝖎𝖐𝖊𝖓𝖆𝖓𝖌
btw vina nya kemana yah?? apakah meninggal???
2020-10-02
0
rara dharma
tapi kan akram memang cinta pertamanya mba vina
2020-09-26
0