Manda pulang sambil membawa kantung kresek berisi pesanan keponakannya yang dia beli di warung seberang jalan tempatnya tinggal.
"Loh Tante, kok cuma beli nasi kucing sama gorengan? Bukannya tadi nongki-nongki di Cafe?" ucap keponakannya bernama Naya yang tinggal bersamanya di apartemen yang dia sewa.
"Lha maunya apa?" sahut Manda melirik sekilas sebelum masuk ke dalam kamar untuk meletakkan tasnya.
"KFC. Kan cuma di samping Cafe tempat Tante janjian sama temen Tante," ujar Naya tapi tetap membuka bungkusan nasi.
"Kamu kirim pesan pas Tante sampai depan. Ya Tante belinya asal," sahut Manda yang baru saja keluar dari kamar. Telah melepas pakaiannya dan hanya menyisakan tang top juga telah berganti dengan bawahan celana kolor di atas lutut.
"Udah, makan seadanya aja," ujar Manda usai mencuci tangan di wastafel dan mendudukan diri di kursi makan berhadapan dengan keponakannya.
"Tante udah bales pesan dari Mama belum?" tanya Naya mengingatkan.
Sambil mengunyah makanannya Manda menggeleng. "Malah Tante belum baca," sahutnya sedikit tak jelas.
"Cepetan baca deh, Naya rasa itu penting. Soalnya Papa juga ngingetin ke Nay."
Kening Manda mengernyit. Papanya Naya adalah kakak kandungnya, memang jarang mereka saling berkomunikasi. Tapi sekalinya telpon atau kirim pesan adalah hal penting. "Memang Papa-mu ngomong apa?"
"Bukan Papa sih, tapi Om Ridwan katanya udah cariin jodoh buat Tante," sahut Naya, dan nama Ridwan yang tadi disebutkan adalah kakak ke dua dari Manda, sebelum Rizal kakak pertamanya, selaku papa dari Naya.
Manda, yang memiliki nama lengkap Amanda Ganesha merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara. Hanya dirinya yang belum berkeluarga, sedangkan saudara-saudaranya telah memiliki keluarga dan keturunan. Bahkan di hadapannya sekarang inilah anak dari saudaranya, mereka hanya terpaut usia delapan tahun.
Pilihan Manda hidup mandiri dan jauh dari keluarga merupakan alasannya agar terhindar dari bisik-bisik tetangga. Awal mula saat usianya mengijak lebih dari dua puluh lima tahun dan belum menikah, Manda sering kali risih akan slentingan kalimat tak kunjung menikah.
Juga keberadaannya disini merupakan usul dari sahabatnya Marwah yang kebetulan ikut dengan suami tinggal di Jakarta. Jadi telah enam tahun lamanya Manda dan juga Naya tinggal bersama disini.
Enam tahun yang dilaluinya dirasa hidupnya sama saja, datar. Bahkan dulu dia sempat berfikir jodohnya ada di sekitaran Jakarta, tapi...
"Udah lah Tante pulang aja, barang kali itu memang sudah jadi jodohnya Tante. Sekali pun Tante lari ke ujung dunia, kalau jodohnya di kampung halaman, ya Tante bakal balik pulang juga," ucap Naya yang serta merta membuat Manda terdiam.
"Coba dulu deh, Tante ketemu dulu. Kali aja cocok," bujuk Naya lagi.
***
Hari berlalu, Manda telah mengajukan cuti dua hari untuk pulang ke kampung halamannya di Sukabumi. Dengan menaiki bus kota jarak yang ditempuh perlu waktu dua setengah jam. Begitu tiba di terminal kakak tertuanya, Rizal telah bersiap menjemputnya.
"Gimana kabar Abah sama Emak, Bang?" tanya Manda usai menyalim Abangnya.
"Mereka sehat. Kenapa gak diusahakan pulang, apa sibuk banget disana?" sahut Rizal yang mulai menjalankan mobilnya.
Manda merasa tak enak hati. Sengaja memang dirinya jarang pulang, terakhir dua tahun lalu saat lebaran. Keterlaluan memang, tapi ya selalu saja Manda kesal tiap kali ada di rumah. Karena pasti ada kalimat cibiran yang sampai ke telinganya yang mengatakan Manda tak kunjung naik ke pelaminan.
"Udah dengarkan alasannya kenapa Abang suruh kamu pulang?"
Manda mengangguk. "Memang Bang Rizal sama Bang Ridwan udah kenal dengan orang yang mau dijodohkan ke Manda?"
"Abang udah pernah lihat, dia juga datang ke rumah. Paman Santoso yang kenalin sebenarnya."
"Kok malah jadi Paman Santoso yang kenalin?" Manda makin bingung dan tak paham ucapan kakaknya.
"Paman Santoso kan jadi pengawas di kebun kelapa sawit yang ada di Kalimantan. Dan yang dikenalkan ke kamu itu kebetulan koleganya. Statusnya duda, kamu udah tahukan?"
Manda serta merta menggeleng. "Aku malah tahunya dari Abang," sahutnya.
"Tapi kamu gak keberatan kan dengan statusnya?" tanya Rizal sebelum membelokan mobilnya ke kiri, dan beberapa meter lagi mereka akan sampai di rumah milik orangtuanya.
Sesaat Manda berfikir lalu menggeleng. "Asal statusnya jelas aja sih Bang. Sama lihat dulu orangnya," ucap Manda seraya meringis. Dia tak mau sebenarnya dicap sebagai orang yang pilih-pilih, tapi baginya kan jodoh memang gak bisa sembarangan asal jelas status dan orangnya.
Mobil pun terhenti dan terparkir di halaman rumah orangtua mereka. Sebelum Rizal mematikan mesinnya, dirinya menoleh kepada Manda. "Duda belum memiliki anak. Usianya tiga puluh lima tahun dan itu dia ternyata orangnya sudah datang," tunjuk Rizal pada mobil yang telah terparkir tak jauh dari tempat mereka.
To be Continue
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
susi 2020
🙄🙄🙄😘
2023-07-14
0
susi 2020
🤔🤔🤔🤔
2023-07-14
0
Maliqa Effendy
Sukabumi mah bukan abang atuh..tapi Aa..😋😋
2022-12-29
0