Tiga hari dua malam Manda mengurung dirinya di kamar. Tiap hari yang dilakukannya hanya menangis bila teringat dengan kejadian beberapa hari lalu.
Memalukan, memalukan, memalukan! Kata-kata itu yang selalu terngiang di pikiran Manda.
Dunia seakan telah runtuh baginya, menenggelamkan segenap harapan yang hendak dia bangun. Untuk menegapkan kepalanya saja rasanya itu sudah semakin sulit. Pikiran— apa kata orang, bagaimana orang akan menilai, siapa saja yang memandangnya sudah pasti akan berfikiran negatif.
Dan lagi kata pelakor yang ditudingkan pada wanita yang mengaku istri dari Haris selalu terngiang di kepalanya, padahal dia tak tahu sedikit pun jika Haris belum lah resmi bercerai dari istri pertamanya.
Siapa yang hendak disalahkan? Manda tak ingin lagi menyalahi siapa pun. Karena kini Manda justru kembali memutar semua ingatannya di masa lalu. Kejadian buruk yang baginya merupakan suatu kesialan ini dia anggap sebuah karma, yang bilamana hadir sebab kesalahan dan dosanya yang dulu.
Merebut pacar orang, selingkuh dengan lelaki lebih dari satu, pemberi harapan palsu...
Arggggg... Dulu dia bangga bisa melakukan itu, tapi kini Manda benar-benar menyesalinya. Lalu berfikir siapa saja yang perlu dia mintai pengampunan untuk membuang kesialan yang melekat padanya.
Tenggelam dalam pikirannya, kini lagi-lagi terdengar ketukan pintu dari arah luar kamarnya. Manda pun mengangkat kepala yang terbenam pada bantal, terdengar pula suara teriakan dari arah luar yang memberitahukan bahwa pihak wedding organizer ingin mengambil kelambu yang masih terpasang di dalam kamarnya.
Manda mendengus kesal dan mau tak mau dia bangkit untuk membuka pintu, sebab disamping itu dia juga sudah merasakan lapar yang amat luar biasa.
"Akhirnya Tante keluar juga dari kamar, Naya kira lama-lama di dalam sana Tante berencana buat bunuh diri," ucap Naya ketika pintu kamar Manda terbuka.
"Hussst... " Dengan cepat Ibunda dari Naya mengimbaskan tangannya kepada putrinya, mengingatkan untuk tak bicara sembarangan.
Tak mempedulikan ucapan dari orang-orang di sekitar, langkah Manda langsung tertuju pada meja makan. Mengambil piring lalu mengisinya dengan nasi dan mulai menyantapnya.
Dia memang sedang dalam kondisi terpuruk, tapi sedih pun juga butuh energi untuk tetap bisa bertahan hidup. Pikiran Manda tidaklah begitu sempit. Dia tak akan mengambil keputusan seperti yang keponakannya bilang tadi, bunuh diri.
Meski dalam kondisi mati pun, kehidupan manusia tidak hanya berhenti disitu. Masih ada alam-alam lain yang harus dia lewati sampai dengan tahapan dia menghadap kepada Tuhan. Itulah nasehat yang dulu pernah guru ngajinya katakan.
Tapi sebelum menghadap Tuhan pun akan ada malaikat yang bertanya apa alasannya mati, kalau jawabannya mati konyol karena bunuh diri sebab nikah dalam hitungan sehari sebab digerebek sama istri sah suami— rasanya bukan kah Manda yang rugi sendiri?
Lha wong dirasanya nasi campur ikan teri yang dilahapnya kini masih terasa nikmat sekali.
Tiga hari dua malam atas kesedihan dan keterpurukan yang dirasanya memang lah telah menguras segala emosi, air mata juga energi dari dalam tubuhnya. Dua piring nasi pun kini telah tandas dilahapnya.
Dan ketika acara makannya telah usai, Manda menatap satu persatu orang-orang di sekitarnya yang memang dari tadi sengaja menungguinya. Menunggui agar Manda selesai menghabiskan makanannya tanpa mengusiknya lebih dulu.
Dan kini lah saatnya Manda berujar, "Adakah yang mau ngomong, Manda persilakan."
To be Continue
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
Donna Armen
😍😍😍
2022-01-29
1
Fida gemoy 😉
kasiaan amat udah jomblo 30tahun sekali nya dapat laki orang, semoga bisa dapat jodoh yang terbaik dahhj
2021-10-27
1
Kanjeng Netizzen
Sakit hati jd butuh tenaga 😂😂😂
2021-08-15
0