Antara Jawaban dan keputusan

"Kadang, saat kita sudah siap melepaskan, justru saat itulah takdir datang memberi jawaban."

---------------------------------

Pesan yang Mengubah Segalanya

Malam itu terasa berbeda. Setelah sekian lama, Arpa akhirnya menerima pesan dari Fathir—pesan yang selama ini ia tunggu, tapi juga ia takuti. Hatinya berdebar kencang saat membaca tulisan itu berulang kali.

Fathir: “Assalamualaikum, Arpa. Aku nggak tahu harus mulai dari mana. Tapi aku Fathir. Maaf selama ini aku nggak pernah kabarin kamu lagi. Aku cuma… aku butuh waktu untuk memastikan banyak hal. Tapi sekarang aku di sini, dan aku harap kita bisa bicara.”

Jari-jarinya bergetar saat mengetik balasan.

Arpa: “Waalaikumsalam, Fath. Aku nggak nyangka kamu ngabarin lagi. Tapi aku senang mendengar kabar kamu baik-baik saja. Kita bisa bicara, kapanpun kamu siap.”

Setelah mengirim pesan itu, Arpa meletakkan ponselnya di meja dan menarik napas panjang. Rasanya aneh. Ada bahagia yang muncul, tapi juga kegelisahan yang menempel di hatinya.

Malam itu, ia menunaikan shalat Tahajjud. Dalam sujudnya yang panjang, ia berdoa,

"Ya Allah, jika pesan ini adalah jalan dari-Mu, bimbing aku untuk membuat keputusan terbaik. Jika dia memang takdirku, mudahkanlah. Tapi jika tidak, kuatkan aku untuk merelakan."

---

Pertemuan Virtual yang Penuh Rasa

Keesokan harinya, Fathir mengirimkan pesan lagi.

Fathir: “Apa kamu keberatan kalau kita video call malam ini? Aku mau bicara langsung sama kamu.”

Arpa menelan ludah. Pertemuan virtual ini terasa seperti ujian besar. Tapi ia tahu, menghindar bukan lagi pilihan.

Arpa: “Iya, Fath. Kita bisa video call malam ini.”

Malam itu, tepat pukul 8, ponselnya berdering. Nama Fathir muncul di layar. Dengan jantung berdebar, Arpa mengangkat panggilan tersebut.

“Assalamualaikum, Arpa,” sapa Fathir dengan senyum kecil dari layar.

“Waalaikumsalam, Fath,” jawab Arpa pelan.

Untuk beberapa detik, mereka saling terdiam, saling menatap lewat layar yang memisahkan jarak ribuan kilometer. Wajah Fathir tampak sedikit lebih dewasa, dengan janggut tipis yang menghiasi dagunya.

“Aku… aku nggak tahu harus mulai dari mana,” kata Fathir, memecah keheningan.

Arpa tersenyum tipis. “Mulai aja dari apa yang pengen kamu sampaikan.”

Fathir menghela napas panjang. “Selama beberapa bulan terakhir, aku sengaja nggak menghubungimu. Bukan karena aku lupa atau nggak peduli. Tapi aku butuh waktu untuk berpikir, untuk memastikan semua perasaan ini masih murni dan tidak didasari emosi sesaat.”

Arpa mendengarkan dengan hati berdebar.

“Dan setelah semua proses ini, aku sadar satu hal, Arpa. Aku masih menyimpan rasa itu. Tapi… aku juga sadar bahwa kita nggak bisa selamanya bertahan dalam ketidakpastian. Itu nggak adil buat kamu.”

Air mata Arpa menggenang. “Aku ngerti, Fath. Aku juga sempat mikir, apa semua ini cuma penantian kosong. Tapi aku terus berdoa, berharap kalau memang ada takdir di antara kita, Allah pasti tunjukkan jalannya.”

Fathir tersenyum tipis. “Aku di sini bukan untuk kasih harapan kosong lagi. Aku mau kita punya kejelasan. Tapi aku juga sadar, mungkin perasaan kita udah berubah. Makanya, aku tanya ke kamu… apa kamu masih bersedia menunggu?”

Suasana menjadi hening. Arpa menunduk, mencoba menenangkan hatinya yang bergejolak.

“Aku… aku nggak tahu, Fath. Aku udah lama belajar ikhlas. Tapi rasa itu kadang masih ada. Aku takut kalau aku jawab ‘iya’, aku malah berharap lebih. Tapi aku juga takut kehilangan kesempatan ini.”

Fathir mengangguk pelan. “Aku ngerti. Aku cuma mau jujur soal perasaanku. Aku masih mau memperjuangkan ini, tapi aku nggak akan memaksa.”

Air mata Arpa akhirnya jatuh. “Fath, aku butuh waktu. Tapi aku janji satu hal… aku akan terus mendoakan yang terbaik untuk kita.”

Fathir tersenyum hangat. “Itu lebih dari cukup. Terima kasih, Arpa.”

Malam itu, panggilan berakhir tanpa ada kepastian, tapi juga tanpa penyesalan. Mereka berdua tahu, perasaan mereka masih ada. Tapi bagaimana akhirnya? Hanya Allah yang tahu.

---

Hati yang Lebih Tenang

Setelah panggilan itu, Arpa merasa lega. Beban yang selama ini ia pendam perlahan terasa lebih ringan. Ia sadar, bukan kepastian yang membuatnya tenang, tapi keberanian untuk jujur terhadap perasaannya sendiri.

Di kampus, Arpa kembali fokus pada kuliahnya. Tapi ada perubahan kecil dalam dirinya. Ia tak lagi merasa terbebani oleh penantian yang selama ini menguras energinya.

“Arpa, kamu kelihatan lebih cerah sekarang,” komentar Salma saat mereka duduk di taman kampus.

Arpa tersenyum. “Iya, mungkin karena aku udah berani jujur sama diriku sendiri.”

Salma tersenyum hangat. “Aku seneng dengernya. Semoga apapun keputusannya nanti, itu adalah yang terbaik buat kamu.”

“Aamiin,” balas Arpa sambil menatap langit biru di atasnya.

---

Doa yang Sama, Tapi Lebih Ikhlas

Di malam yang sama, Arpa kembali menunaikan shalat Tahajjud. Ia bersujud lebih lama dari biasanya, air matanya jatuh membasahi sajadah.

"Ya Allah, jika dia memang untukku, mudahkan jalan kami untuk bersatu dalam ridho-Mu. Tapi jika tidak, kuatkan hatiku untuk menerima keputusan-Mu dengan ikhlas. Aku pasrahkan semuanya kepada-Mu, karena Engkau lebih tahu apa yang terbaik untukku."

Di negeri seberang, Fathir juga melakukan hal yang sama. Dalam sujud panjangnya, ia berdoa,

"Ya Allah, aku serahkan semuanya kepada-Mu. Jika cinta ini adalah anugerah-Mu, maka jagalah dia untukku. Tapi jika ini hanya ujian, maka kuatkan aku untuk melepasnya tanpa luka."

---

Sebuah Pertanda?

Beberapa hari kemudian, Arpa mendapat undangan untuk menghadiri acara kajian kampus yang diadakan oleh komunitas dakwah. Tema kajiannya menarik perhatiannya — “Takdir, Cinta, dan Penantian dalam Islam”.

Saat mendengar tema itu, hatinya berdebar kencang. Mungkin ini saatnya ia mendapatkan jawaban yang lebih jelas.

Sementara itu, Fathir juga mendapatkan kabar dari Irwansyah.

Irwansyah: “Bro, ada kabar baik. Aku denger kampus kita ada program pertukaran pelajar ke Indonesia selama satu semester. Lo tertarik?”

Fathir tertegun sejenak. “Serius?”

“Iya. Dan itu ke kota tempat Arpa kuliah,” jawab Irwansyah sambil tertawa kecil.

Fathir menatap layar ponselnya dengan campuran rasa haru dan bingung. Apakah ini pertanda dari Allah?

---------------------------------------------------------------------------------

Setelah menerima pesan dari irwansyah tentang program pertukaran pelajar ke Indonesia, fathir masih terdiam menatap layar ponselnya. Hatinya berdebar, seolah ada pertanda besar di depan matanya.

Tak lama kemudian, ponselnya kembali bergetar. Kali ini, panggilan masuk dari Irwansyah.

“Assalamualaikum, bro!” sapa Irwansyah ceria.

“Waalaikumsalam, Yah,” jawab Fathir sambil tersenyum tipis.

“Gimana? Gue serius nih soal program pertukaran pelajar itu. Kampus udah buka pendaftarannya, dan itu pas banget ke kota tempat Arpa kuliah.”

Fathir terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata, “Yah, ini kayak… terlalu kebetulan, ya?”

Irwansyah tertawa kecil. “Bro, nggak ada yang namanya kebetulan. Semua udah diatur. Mungkin ini jawaban dari doa-doa lo selama ini.”

Fathir menghela napas panjang. “Tapi gue takut, Yah. Takut kalau ini cuma harapan kosong. Gue udah belajar ikhlas selama ini, terus sekarang malah dikasih kesempatan kayak gini.”

Irwansyah menanggapi dengan bijak, “Gue ngerti kok perasaan lo. Tapi coba pikir gini, Fath. Bukankah kita diajarin untuk berikhtiar sebaik mungkin? Kalau ini memang jalan dari Allah, kenapa nggak lo coba? Kalau memang bukan takdirnya, ya setidaknya lo udah berusaha.”

Fathir terdiam. Kata-kata Irwansyah benar-benar mengena di hatinya.

“Gue takut ngerepotin Arpa,” kata Fathir lirih.

Irwansyah tersenyum. “Lo nggak harus mikir sejauh itu dulu. Gue yakin Arpa juga pasti pengen lihat lo dalam keadaan yang udah dewasa dan siap. Lo datang bukan buat ngebebanin dia, tapi buat memastikan apa yang hati lo rasa selama ini.”

Fathir mengangguk, meski Irwansyah tak bisa melihatnya. “Iya, Yah. Gue bakal pikirin ini baik-baik. Tapi jujur, gue nggak tahu harus berharap atau justru harus makin ikhlas.”

Irwansyah menepuk pundaknya dari jauh lewat telepon, seolah bisa merasakan kegundahan sahabatnya. “Gue cuma bisa bilang satu hal, Fath. Kalau lo ngerasa dia bawa lo makin deket ke Allah, berarti lo harus berjuang. Tapi kalau ternyata ini cuma buat nyakitin hati lo lagi, mungkin ini saatnya lo bener-bener merelakan.”

Fathir tersenyum kecil. “Lo selalu punya jawaban bijak ya, Yah.”

Irwansyah tertawa. “Yah, belajar dari pengalaman juga, bro. Tapi serius, gue bakal dukung apapun keputusan lo.”

Fathir menghela napas pelan, merasa sedikit lebih tenang. “Makasih, Yah. Doain gue ya. Mungkin ini jalannya. Atau… mungkin ini cuma kesempatan terakhir buat ngelepasin dengan tenang.”

“Gue doain yang terbaik buat lo, bro. Apa pun hasilnya nanti, inget… Allah pasti kasih yang paling baik.”

“InsyaAllah. Makasih, Yah.”

Setelah telepon berakhir, Fathir menatap langit malam lewat jendela asramanya. Ia merasa lebih damai, meski keputusan di depannya masih menggantung.

"Ya Allah, jika ini jalan-Mu, kuatkan aku untuk melangkah. Tapi jika bukan, beri aku kekuatan untuk menerima dengan ikhlas."

---

“Ketika hati sudah siap merelakan, kadang takdir datang memberi kesempatan kedua. Bukan untuk membuat ragu, tapi untuk menguji seberapa kuat hati bertahan.”

Episodes
1 Bintang hatiku
2 Sore hari
3 menjaga jarak, merawat rasa
4 Pengenalan karakter
5 Doa yang terselip diantara bintang
6 Antara Rindu dan Batasan
7 Hati yang tak pernah diam
8 Doa dan Harapan
9 Takdir dalam sebuah pertemuan
10 Mengikhlaskan yang Belum Pasti
11 Luka yang mengajarkan ikhlas
12 Doa yang masih tersimpan
13 Merawat hati dalam Doa
14 Pandangan yang tertahan, Doa yang terucap
15 Antara takdir dan pilihan
16 Doa yang tak pernah jauh
17 Babak Baru, Hati yang masih sama
18 Saat hati mulai ragu
19 Antara Jawaban dan keputusan
20 Jalan Pulang Yang Tak Terduga
21 Di Antara Ragu dan Keyakinan
22 Pilihan Terakhir di Persimpangan Takdir
23 Jurnal Fathir Selama di Timur Tengah
24 Jurnal Fathir
25 Menyatukan Doa, Menguatkan Hati
26 Flasback Sebelum perpisahan
27 Dalam Penantian, Cinta Tetap Terjaga
28 Surat yang Tertunda
29 Di Bali Penantian, Ada Janji Yang Tersimpan
30 Penantian Yang mendewasakan
31 Di Persimpangan Takdir
32 Ujian Yang Semakin Nyata
33 Menjelang Kepulangan
34 Hati Yang Bimbang
35 Surat dari Fathir: Janji Yang Dijaga dalam Doa
36 Daffa's POV : Melepaskan dengan Ikhlas
37 Ketika Hati Menemukan Jalannya
38 Ujian Sebelum Halal
39 Keyakinan Yang Bertumbuh
40 Menjemput Keberkahan
41 Cahaya Yang kian dekat
42 Awal perjalanan baru
43 Pertemuan Yang dinanti
44 Langkah Menuju Kepastian
45 Melangkah dalam Ridho-NYA
46 Meniti Jalan Menuju Halal
47 Akad yang Menggetarkan Jiwa
48 Pagi pertama Sebagai Suami Istri
49 Bangun di Dunia yang baru
50 Tantangan Hari-hari Awal
51 Takdir Yang Mempertemukan
52 Saat Takdir Mulai Bekerja
53 Diskusi Di Rumah Fathir
54 Langkah Yang Semakin Jelas
55 Menyempurnakan Niat dalam Ikatan
56 Takdir Yang kembali mempertemukan
57 Cinta yang datang di Waktu Terbaik
58 Menyesuaikan Diri
59 Rumah Yang Penuh Cinta
Episodes

Updated 59 Episodes

1
Bintang hatiku
2
Sore hari
3
menjaga jarak, merawat rasa
4
Pengenalan karakter
5
Doa yang terselip diantara bintang
6
Antara Rindu dan Batasan
7
Hati yang tak pernah diam
8
Doa dan Harapan
9
Takdir dalam sebuah pertemuan
10
Mengikhlaskan yang Belum Pasti
11
Luka yang mengajarkan ikhlas
12
Doa yang masih tersimpan
13
Merawat hati dalam Doa
14
Pandangan yang tertahan, Doa yang terucap
15
Antara takdir dan pilihan
16
Doa yang tak pernah jauh
17
Babak Baru, Hati yang masih sama
18
Saat hati mulai ragu
19
Antara Jawaban dan keputusan
20
Jalan Pulang Yang Tak Terduga
21
Di Antara Ragu dan Keyakinan
22
Pilihan Terakhir di Persimpangan Takdir
23
Jurnal Fathir Selama di Timur Tengah
24
Jurnal Fathir
25
Menyatukan Doa, Menguatkan Hati
26
Flasback Sebelum perpisahan
27
Dalam Penantian, Cinta Tetap Terjaga
28
Surat yang Tertunda
29
Di Bali Penantian, Ada Janji Yang Tersimpan
30
Penantian Yang mendewasakan
31
Di Persimpangan Takdir
32
Ujian Yang Semakin Nyata
33
Menjelang Kepulangan
34
Hati Yang Bimbang
35
Surat dari Fathir: Janji Yang Dijaga dalam Doa
36
Daffa's POV : Melepaskan dengan Ikhlas
37
Ketika Hati Menemukan Jalannya
38
Ujian Sebelum Halal
39
Keyakinan Yang Bertumbuh
40
Menjemput Keberkahan
41
Cahaya Yang kian dekat
42
Awal perjalanan baru
43
Pertemuan Yang dinanti
44
Langkah Menuju Kepastian
45
Melangkah dalam Ridho-NYA
46
Meniti Jalan Menuju Halal
47
Akad yang Menggetarkan Jiwa
48
Pagi pertama Sebagai Suami Istri
49
Bangun di Dunia yang baru
50
Tantangan Hari-hari Awal
51
Takdir Yang Mempertemukan
52
Saat Takdir Mulai Bekerja
53
Diskusi Di Rumah Fathir
54
Langkah Yang Semakin Jelas
55
Menyempurnakan Niat dalam Ikatan
56
Takdir Yang kembali mempertemukan
57
Cinta yang datang di Waktu Terbaik
58
Menyesuaikan Diri
59
Rumah Yang Penuh Cinta

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!