Doa yang terselip diantara bintang

"Kadang cinta tak harus diucapkan. Cukup dipanjatkan dalam doa, agar Allah yang menjaga dan merawatnya."

Langit malam di Malang tampak cerah, dihiasi taburan bintang yang bersinar tenang. Di pondok pesantren Al-Furqan, suasana mulai hening. Para santri telah kembali ke asrama setelah shalat Isya berjamaah. Namun, di salah satu kamar asrama yang sederhana, Fathir Alfarizi Mahendra masih terjaga.

Ia duduk di dekat jendela, membuka sedikit tirai dan menatap langit malam. Tangannya memegang tasbih kecil, sementara bibirnya melantunkan dzikir. Namun, pikirannya melayang jauh, bukan hanya tentang hafalan Al-Qur’an yang menjadi tugas pondok, tapi tentang seseorang yang akhir-akhir ini sering hadir di benaknya — Arpani Zahra Ramadhani.

Percakapan mereka beberapa hari lalu masih terngiang jelas. Kalimat sederhana dari Arpa seperti terukir di hati.

"Fath, kamu pernah mendoakan aku?"

Pertanyaan itu terus bergema dalam kepalanya. Ia menghela napas panjang dan menundukkan kepala.

"Ya Allah, kenapa rasanya semakin berat? Aku takut perasaan ini membuatku lalai."

Fathir tahu, perasaan cinta bukanlah dosa. Tapi bagaimana seseorang menjaga cinta itu yang menjadi ujian. Ia belajar banyak dari pesantren tentang pentingnya menjaga hati, tapi menghadapi realita ternyata tak semudah yang dia kira.

Ia menutup matanya, meresapi angin malam yang masuk lewat jendela.

"Ya Allah, jika rasa ini datang dari-Mu, jagalah. Tapi jika ini hanya ujian, kuatkan aku untuk melewatinya."

Doa itu mengalir lirih, tanpa diketahui siapapun. Ia sadar, mendoakan dari kejauhan jauh lebih menenangkan hatinya dibandingkan harus mengungkapkan langsung.

 

Di Rumah Arpa

Di tempat berbeda, Arpa duduk di balkon rumahnya sambil menatap bintang. Heningnya malam justru membuat pikirannya semakin gaduh. Ia menggenggam ponsel, membuka chat terakhir dari Fathir. Tidak ada kata-kata cinta, tapi percakapan mereka selalu meninggalkan jejak yang sulit hilang.

Arpa menggigit bibirnya, merasa canggung sendiri. Ia tahu perasaannya mulai tumbuh, tapi ia takut jika itu membuatnya salah melangkah.

"Ya Allah, aku takut. Takut kalau aku terlalu berharap pada sesuatu yang bukan milikku," bisiknya dalam hati.

Ia memejamkan mata, membiarkan air mata mengalir pelan.

"Kalau dia memang takdirku, dekatkanlah dengan cara yang Engkau ridhoi. Tapi kalau bukan, jauhkan perasaan ini tanpa menyakitiku."

Malam itu, tanpa disadari, ada dua doa yang dipanjatkan dari dua hati berbeda, namun dengan tujuan yang sama — menyerahkan cinta kepada Sang Pemilik Hati.

 

Pagi Hari di Pondok

Cahaya matahari pagi mulai masuk ke sela-sela jendela kamar pondok. Fathir bersiap menuju masjid untuk shalat Dhuha. Di lorong asrama, Irwansyah, sahabat dekatnya, menghampiri sambil membawa segelas teh hangat.

“Bro, dari kemarin kamu keliatan aneh. Lagi mikirin dia, ya?” goda Irwansyah dengan senyum lebar.

Fathir tersenyum kecil, tapi tak membantah.

“Iya... cuma bingung, gimana caranya menjaga hati ini tetap bersih.”

Irwansyah menepuk pundaknya. “Kalau cinta itu benar, dia nggak bakal bikin kamu lalai. Jangan terlalu keras sama diri sendiri. Doa itu udah cukup.”

Fathir merenung sejenak. Kata-kata Irwansyah benar. Ia tak perlu memaksakan segalanya. Mencintai dalam diam lewat doa sudah cukup membuat hatinya tenang.

 

Hari-hari berlalu, namun jarak antara Arpa dan Fathir tetap ada. Mereka mulai jarang berbicara, tapi ada satu hal yang tak pernah terputus — doa.

Di setiap sujud panjang Fathir di malam hari, ada nama Arpa yang ia sebut dalam diam.

"Ya Allah, jika dia takdirku, jaga hatinya untukku. Tapi jika bukan, jauhkan rasa ini tanpa menyakitiku."

Di tempat berbeda, Arpa pun melantunkan doa serupa.

"Ya Allah, kuatkan aku menjaga hati ini. Jangan biarkan aku terlalu berharap pada cinta yang belum halal."

Mereka sadar, terkadang cinta tak harus dimiliki. Kadang, cukup didoakan dan diserahkan sepenuhnya kepada Allah.

 

Malam itu menjadi saksi dua hati yang terhubung tanpa kata, tanpa janji, tapi dengan doa yang tulus.

“Karena cinta yang suci bukan tentang seberapa dekat jarakmu dengannya, tapi seberapa sering namanya kau sebut dalam doa.”

Episodes
1 Bintang hatiku
2 Sore hari
3 menjaga jarak, merawat rasa
4 Pengenalan karakter
5 Doa yang terselip diantara bintang
6 Antara Rindu dan Batasan
7 Hati yang tak pernah diam
8 Doa dan Harapan
9 Takdir dalam sebuah pertemuan
10 Mengikhlaskan yang Belum Pasti
11 Luka yang mengajarkan ikhlas
12 Doa yang masih tersimpan
13 Merawat hati dalam Doa
14 Pandangan yang tertahan, Doa yang terucap
15 Antara takdir dan pilihan
16 Doa yang tak pernah jauh
17 Babak Baru, Hati yang masih sama
18 Saat hati mulai ragu
19 Antara Jawaban dan keputusan
20 Jalan Pulang Yang Tak Terduga
21 Di Antara Ragu dan Keyakinan
22 Pilihan Terakhir di Persimpangan Takdir
23 Jurnal Fathir Selama di Timur Tengah
24 Jurnal Fathir
25 Menyatukan Doa, Menguatkan Hati
26 Flasback Sebelum perpisahan
27 Dalam Penantian, Cinta Tetap Terjaga
28 Surat yang Tertunda
29 Di Bali Penantian, Ada Janji Yang Tersimpan
30 Penantian Yang mendewasakan
31 Di Persimpangan Takdir
32 Ujian Yang Semakin Nyata
33 Menjelang Kepulangan
34 Hati Yang Bimbang
35 Surat dari Fathir: Janji Yang Dijaga dalam Doa
36 Daffa's POV : Melepaskan dengan Ikhlas
37 Ketika Hati Menemukan Jalannya
38 Ujian Sebelum Halal
39 Keyakinan Yang Bertumbuh
40 Menjemput Keberkahan
41 Cahaya Yang kian dekat
42 Awal perjalanan baru
43 Pertemuan Yang dinanti
44 Langkah Menuju Kepastian
45 Melangkah dalam Ridho-NYA
46 Meniti Jalan Menuju Halal
47 Akad yang Menggetarkan Jiwa
48 Pagi pertama Sebagai Suami Istri
49 Bangun di Dunia yang baru
50 Tantangan Hari-hari Awal
51 Takdir Yang Mempertemukan
52 Saat Takdir Mulai Bekerja
53 Diskusi Di Rumah Fathir
54 Langkah Yang Semakin Jelas
55 Menyempurnakan Niat dalam Ikatan
56 Takdir Yang kembali mempertemukan
57 Cinta yang datang di Waktu Terbaik
58 Menyesuaikan Diri
59 Rumah Yang Penuh Cinta
Episodes

Updated 59 Episodes

1
Bintang hatiku
2
Sore hari
3
menjaga jarak, merawat rasa
4
Pengenalan karakter
5
Doa yang terselip diantara bintang
6
Antara Rindu dan Batasan
7
Hati yang tak pernah diam
8
Doa dan Harapan
9
Takdir dalam sebuah pertemuan
10
Mengikhlaskan yang Belum Pasti
11
Luka yang mengajarkan ikhlas
12
Doa yang masih tersimpan
13
Merawat hati dalam Doa
14
Pandangan yang tertahan, Doa yang terucap
15
Antara takdir dan pilihan
16
Doa yang tak pernah jauh
17
Babak Baru, Hati yang masih sama
18
Saat hati mulai ragu
19
Antara Jawaban dan keputusan
20
Jalan Pulang Yang Tak Terduga
21
Di Antara Ragu dan Keyakinan
22
Pilihan Terakhir di Persimpangan Takdir
23
Jurnal Fathir Selama di Timur Tengah
24
Jurnal Fathir
25
Menyatukan Doa, Menguatkan Hati
26
Flasback Sebelum perpisahan
27
Dalam Penantian, Cinta Tetap Terjaga
28
Surat yang Tertunda
29
Di Bali Penantian, Ada Janji Yang Tersimpan
30
Penantian Yang mendewasakan
31
Di Persimpangan Takdir
32
Ujian Yang Semakin Nyata
33
Menjelang Kepulangan
34
Hati Yang Bimbang
35
Surat dari Fathir: Janji Yang Dijaga dalam Doa
36
Daffa's POV : Melepaskan dengan Ikhlas
37
Ketika Hati Menemukan Jalannya
38
Ujian Sebelum Halal
39
Keyakinan Yang Bertumbuh
40
Menjemput Keberkahan
41
Cahaya Yang kian dekat
42
Awal perjalanan baru
43
Pertemuan Yang dinanti
44
Langkah Menuju Kepastian
45
Melangkah dalam Ridho-NYA
46
Meniti Jalan Menuju Halal
47
Akad yang Menggetarkan Jiwa
48
Pagi pertama Sebagai Suami Istri
49
Bangun di Dunia yang baru
50
Tantangan Hari-hari Awal
51
Takdir Yang Mempertemukan
52
Saat Takdir Mulai Bekerja
53
Diskusi Di Rumah Fathir
54
Langkah Yang Semakin Jelas
55
Menyempurnakan Niat dalam Ikatan
56
Takdir Yang kembali mempertemukan
57
Cinta yang datang di Waktu Terbaik
58
Menyesuaikan Diri
59
Rumah Yang Penuh Cinta

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!