Mengikhlaskan yang Belum Pasti

"Terkadang, mencintai berarti melepaskan — bukan karena menyerah, tapi karena percaya bahwa Allah tahu waktu yang terbaik."

-------------------------------------------

Hari yang Hening

Sudah tiga hari berlalu sejak pertemuan tak terduga di pondok pesantren Al-Furqan. Namun, hati Arpani Zahra Ramadhani masih dipenuhi gelombang emosi. Setiap detik pertemuan dengan Fathir Alfarizi Mahendra terputar berulang-ulang di kepalanya. Tatapan mata itu, kata-kata tulus yang terucap, hingga jeda panjang yang diisi oleh keheningan penuh makna.

Tapi ada satu hal yang belum ia temukan — kepastian.

Arpa duduk di balkon rumahnya, memandangi senja yang perlahan tenggelam. Warna jingga kemerahan di langit seolah menggambarkan hatinya yang penuh dengan rasa yang tak jelas. Ia meraih ponselnya, membuka chat terakhir dengan Fathir.

Tak ada pesan baru.

“Kenapa ya, aku malah makin bingung?” gumamnya pelan, suaranya hampir tak terdengar.

Ibunya, Siti Rahmawati, keluar membawa secangkir teh hangat. Ia duduk di samping Arpa, mengamati wajah putrinya yang tampak gundah.

“Kamu masih mikirin Fathir, ya?” tanya Bu Rahma lembut.

Arpa mengangguk pelan. “Iya, Bu. Aku bingung… Aku tahu dia orang baik, dan aku tahu dia juga punya rasa. Tapi kenapa rasanya makin berat?”

Bu Rahma tersenyum bijak. “Karena kamu sedang belajar ikhlas, Nak. Kadang, ikhlas itu lebih berat dari mencintai.”

Arpa menunduk. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. “Aku takut, Bu… Takut kalau aku berharap terlalu banyak.”

Bu Rahma mengelus punggung Arpa. “Kalau memang dia takdirmu, kamu nggak perlu berlari mengejarnya. Takdir akan selalu menemukan jalannya. Tapi kalau bukan, percayalah, Allah pasti ganti dengan yang lebih baik.”

Kata-kata itu menampar Arpa, tapi juga memberi ketenangan yang aneh. Ia tahu ibunya benar.

----------------------------------------------

Di Pondok Pesantren

Di sisi lain, Fathir duduk di ruang belajar pondok. Di hadapannya terbuka mushaf Al-Qur’an, tapi pikirannya melayang entah ke mana. Bayangan Arpa, pertemuan mereka, dan semua doa yang selama ini ia panjatkan terus berputar di kepalanya.

Irwansyah Pratama masuk dan melihat Fathir termenung.

“Masih mikirin dia, ya?” godanya sambil duduk di sebelah Fathir.

Fathir tersenyum tipis. “Iya, Yah. Tapi sekarang rasanya beda.”

“Beda gimana?”

“Aku ngerasa… makin aku berdoa, makin aku sadar kalau mungkin aku harus belajar merelakan.”

Irwansyah mengangguk pelan. “Kadang, doa itu bukan buat ngedeketin, tapi buat ngeringanin hati. Gue salut sama lo, bro. Lo berjuang menjaga perasaan lo dengan cara yang paling tulus.”

Fathir menunduk. “Aku cuma takut… takut harapan ini malah jadi dosa.”

Irwansyah menepuk pundaknya. “Selama lo menjaga adab dan tetap mendoakan dalam diam, itu bukan dosa, bro. Tapi jangan lupa, kadang mencintai juga berarti merelakan.”

Kata-kata Irwansyah seolah menjadi jawaban dari semua kebingungan yang Fathir rasakan. Ia menghela napas panjang, lalu berdoa dalam hati.

"Ya Allah, jika aku harus merelakan dia, ajarkan aku cara yang paling lembut agar hatiku tidak hancur."

-------------------------------------------------

Sebuah Keputusan Berat

Malam itu, Arpa duduk di meja belajarnya. Di depannya terbuka jurnal pribadinya. Ia menulis sebuah surat — bukan untuk Fathir, tapi untuk dirinya sendiri.

"Arpa, mencintai bukan berarti memiliki. Kadang, mencintai adalah melepaskan dengan ikhlas dan percaya bahwa Allah tahu apa yang terbaik. Jangan takut kehilangan, karena yang benar-benar ditakdirkan untukmu tak akan pernah pergi.”

Ia menutup jurnal itu dengan air mata yang mengalir. Hatinya berat, tapi ada rasa damai yang perlahan menyusup.

Di waktu yang hampir bersamaan, Fathir menulis di jurnal pribadinya.

"Fathir, mencintai dalam diam adalah ujian terbesar. Tapi yakinlah, jika dia takdirmu, Allah akan mempertemukan kalian lagi di waktu yang paling indah. Dan jika bukan, Allah akan menggantinya dengan cinta yang lebih kuat dan lebih tulus.”

------------------------------

Di dua tempat berbeda, dua hati yang saling mendoakan akhirnya menemukan jawaban yang sama — melepaskan bukan berarti menyerah. Kadang, melepaskan adalah bentuk cinta paling tulus.

Arpa menatap langit malam dan berbisik,

"Ya Allah, jagalah dia. Meski aku bukan takdirnya, izinkan aku terus mendoakan kebahagiaannya."

Di pondok, Fathir memandang bintang yang sama dan berkata dalam hati,

"Ya Allah, kuatkan hatiku untuk menerima apapun takdir-Mu. Aku percaya, Engkau tahu yang terbaik untuk kami."

-----------------------------

“Cinta sejati bukan tentang seberapa keras kamu menggenggam, tapi seberapa ikhlas kamu melepaskan ketika tahu belum saatnya memiliki. "

Terpopuler

Comments

✨♡vane♡✨

✨♡vane♡✨

Baca cerita ini adalah cara terbaik untuk menghabiskan waktu luangku

2025-02-23

1

lihat semua
Episodes
1 Bintang hatiku
2 Sore hari
3 menjaga jarak, merawat rasa
4 Pengenalan karakter
5 Doa yang terselip diantara bintang
6 Antara Rindu dan Batasan
7 Hati yang tak pernah diam
8 Doa dan Harapan
9 Takdir dalam sebuah pertemuan
10 Mengikhlaskan yang Belum Pasti
11 Luka yang mengajarkan ikhlas
12 Doa yang masih tersimpan
13 Merawat hati dalam Doa
14 Pandangan yang tertahan, Doa yang terucap
15 Antara takdir dan pilihan
16 Doa yang tak pernah jauh
17 Babak Baru, Hati yang masih sama
18 Saat hati mulai ragu
19 Antara Jawaban dan keputusan
20 Jalan Pulang Yang Tak Terduga
21 Di Antara Ragu dan Keyakinan
22 Pilihan Terakhir di Persimpangan Takdir
23 Jurnal Fathir Selama di Timur Tengah
24 Jurnal Fathir
25 Menyatukan Doa, Menguatkan Hati
26 Flasback Sebelum perpisahan
27 Dalam Penantian, Cinta Tetap Terjaga
28 Surat yang Tertunda
29 Di Bali Penantian, Ada Janji Yang Tersimpan
30 Penantian Yang mendewasakan
31 Di Persimpangan Takdir
32 Ujian Yang Semakin Nyata
33 Menjelang Kepulangan
34 Hati Yang Bimbang
35 Surat dari Fathir: Janji Yang Dijaga dalam Doa
36 Daffa's POV : Melepaskan dengan Ikhlas
37 Ketika Hati Menemukan Jalannya
38 Ujian Sebelum Halal
39 Keyakinan Yang Bertumbuh
40 Menjemput Keberkahan
41 Cahaya Yang kian dekat
42 Awal perjalanan baru
43 Pertemuan Yang dinanti
44 Langkah Menuju Kepastian
45 Melangkah dalam Ridho-NYA
46 Meniti Jalan Menuju Halal
47 Akad yang Menggetarkan Jiwa
48 Pagi pertama Sebagai Suami Istri
49 Bangun di Dunia yang baru
50 Tantangan Hari-hari Awal
51 Takdir Yang Mempertemukan
52 Saat Takdir Mulai Bekerja
53 Diskusi Di Rumah Fathir
54 Langkah Yang Semakin Jelas
55 Menyempurnakan Niat dalam Ikatan
56 Takdir Yang kembali mempertemukan
57 Cinta yang datang di Waktu Terbaik
58 Menyesuaikan Diri
59 Rumah Yang Penuh Cinta
Episodes

Updated 59 Episodes

1
Bintang hatiku
2
Sore hari
3
menjaga jarak, merawat rasa
4
Pengenalan karakter
5
Doa yang terselip diantara bintang
6
Antara Rindu dan Batasan
7
Hati yang tak pernah diam
8
Doa dan Harapan
9
Takdir dalam sebuah pertemuan
10
Mengikhlaskan yang Belum Pasti
11
Luka yang mengajarkan ikhlas
12
Doa yang masih tersimpan
13
Merawat hati dalam Doa
14
Pandangan yang tertahan, Doa yang terucap
15
Antara takdir dan pilihan
16
Doa yang tak pernah jauh
17
Babak Baru, Hati yang masih sama
18
Saat hati mulai ragu
19
Antara Jawaban dan keputusan
20
Jalan Pulang Yang Tak Terduga
21
Di Antara Ragu dan Keyakinan
22
Pilihan Terakhir di Persimpangan Takdir
23
Jurnal Fathir Selama di Timur Tengah
24
Jurnal Fathir
25
Menyatukan Doa, Menguatkan Hati
26
Flasback Sebelum perpisahan
27
Dalam Penantian, Cinta Tetap Terjaga
28
Surat yang Tertunda
29
Di Bali Penantian, Ada Janji Yang Tersimpan
30
Penantian Yang mendewasakan
31
Di Persimpangan Takdir
32
Ujian Yang Semakin Nyata
33
Menjelang Kepulangan
34
Hati Yang Bimbang
35
Surat dari Fathir: Janji Yang Dijaga dalam Doa
36
Daffa's POV : Melepaskan dengan Ikhlas
37
Ketika Hati Menemukan Jalannya
38
Ujian Sebelum Halal
39
Keyakinan Yang Bertumbuh
40
Menjemput Keberkahan
41
Cahaya Yang kian dekat
42
Awal perjalanan baru
43
Pertemuan Yang dinanti
44
Langkah Menuju Kepastian
45
Melangkah dalam Ridho-NYA
46
Meniti Jalan Menuju Halal
47
Akad yang Menggetarkan Jiwa
48
Pagi pertama Sebagai Suami Istri
49
Bangun di Dunia yang baru
50
Tantangan Hari-hari Awal
51
Takdir Yang Mempertemukan
52
Saat Takdir Mulai Bekerja
53
Diskusi Di Rumah Fathir
54
Langkah Yang Semakin Jelas
55
Menyempurnakan Niat dalam Ikatan
56
Takdir Yang kembali mempertemukan
57
Cinta yang datang di Waktu Terbaik
58
Menyesuaikan Diri
59
Rumah Yang Penuh Cinta

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!