Pandangan yang tertahan, Doa yang terucap

"Ada cinta yang tak terucap, tapi tersampaikan lewat pandangan yang terjaga dan doa yang tulus."

-------------------------------------------

Hari Kajian Akbar

Langit pagi terlihat cerah, seolah menyambut para jamaah yang datang berbondong-bondong ke masjid dekat alun-alun kota. Hari itu, kajian akbar akan digelar, menghadirkan Ustadz Abdul Muhaimin sebagai penceramah utama.

Di antara kerumunan, Arpa berjalan pelan bersama Nayla. Hatinya berdebar tanpa alasan yang jelas. Sejak pagi, ia sudah mempersiapkan diri, baik lahir maupun batin, tapi tetap saja ada rasa gugup yang sulit dihilangkan.

“Nanti kita duduk di bagian depan ya, Ara!” kata Nayla bersemangat.

Arpa tersenyum kecil. “Iya, Nay. Tapi... jangan terlalu depan banget, ya.”

Nayla tertawa pelan. “Masih takut ketemu dia?”

Arpa hanya tersenyum tanpa menjawab. Dalam hatinya, ia berdoa agar Allah membimbing hatinya hari ini, apapun yang akan terjadi.

---------------------------------------

Di Sisi Lain Masjid

Sementara itu, Fathir duduk di barisan khusus santri di sisi kanan masjid. Ia mengenakan peci hitam dan gamis sederhana. Hatinya pun berdebar sama seperti Arpa. Ia tahu acara ini terbuka untuk umum, dan kemungkinan bertemu Arpa bukan hal yang mustahil.

Irwansyah, yang duduk di sampingnya, menepuk pundaknya pelan.

“Gimana? Deg-degan?” godanya.

Fathir tersenyum kaku. “Banget. Tapi aku udah niat, hari ini fokus dengerin ceramah.”

Irwansyah mengangguk. “Mantap. Kalau jodoh, nggak bakal ke mana, bro. Tapi yang penting, jaga pandangan.”

Fathir menarik napas dalam-dalam. Ia tahu, menjaga pandangan adalah cara menjaga hati.

--------------------------------

Ceramah yang Menyentuh

Setelah beberapa saat, Ustadz Abdul Muhaimin naik ke mimbar. Suasana masjid menjadi hening.

“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,” sapa Ustadz dengan suara tenang namun tegas.

“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab jamaah serempak.

Ustadz memulai ceramahnya dengan lantunan ayat Al-Qur’an:

"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan dari jenismu sendiri, agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang." (QS. Ar-Rum: 21)

“Saudaraku sekalian,” Ustadz memulai, “cinta adalah fitrah. Ia hadir tanpa kita undang, tanpa kita duga. Tapi di sinilah letak ujian terbesar — bagaimana kita menjaga cinta itu tetap suci dan diridhoi Allah.”

Arpa menyimak setiap kata dengan hati bergetar. Ia merasa seolah ceramah ini ditujukan langsung kepadanya.

“Cinta sebelum halal adalah amanah. Jangan biarkan rasa itu membawa kita ke jalan yang salah. Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Pandangan adalah panah beracun dari panah-panah setan. Barang siapa yang menundukkan pandangannya karena Allah, maka Allah akan memberikan manisnya iman dalam hatinya.’”

Mata Arpa mulai berkaca-kaca. Ia menunduk, berusaha menyembunyikan air mata yang mulai jatuh.

Di sisi lain masjid, Fathir pun merasakan hal yang sama. Hatinya bergetar mendengar kata-kata itu. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya.

--------------------------------------

Pandangan yang Tertahan

Setelah ceramah selesai, jamaah mulai berdiri dan bersiap untuk pulang. Arpa dan Nayla berjalan pelan menuju pintu keluar. Namun, tanpa sengaja, pandangan Arpa tertuju ke sisi lain masjid — dan di sanalah Fathir berdiri.

Mereka saling melihat. Untuk beberapa detik yang terasa seperti selamanya, mata mereka bertemu. Tak ada kata-kata, tak ada senyuman. Hanya tatapan yang dipenuhi perasaan yang sulit dijelaskan.

Tapi kemudian, Fathir dengan cepat menundukkan pandangannya. Ia teringat ceramah tadi — tentang menjaga pandangan sebagai bentuk menjaga hati.

Arpa pun melakukan hal yang sama. Hatinya berdebar kencang, tapi ada rasa damai yang perlahan mengalir.

Nayla, yang melihat kejadian itu, tersenyum tipis. “Aku lihat tadi. Tapi aku bangga sama kamu, Ara. Kamu kuat.”

Arpa menarik napas panjang. “Iya, Nay. Aku belajar kalau nggak semua rasa harus diungkapkan. Kadang, cukup dijaga dalam doa.”

---

Refleksi Malam Itu

Malamnya, Arpa duduk di kamarnya, memandangi bintang di langit. Ia membuka mushaf Al-Qur’an dan membaca beberapa ayat sebelum menutupnya dan berdoa.

"Ya Allah, terima kasih karena telah memberiku kesempatan untuk melihatnya lagi. Tapi lebih dari itu, terima kasih karena telah menguatkanku untuk menjaga pandanganku dan hatiku. Jika dia memang takdirku, dekatkanlah dalam ridho-Mu. Tapi jika bukan, tenangkan hatiku untuk merelakannya."

Di pondok pesantren, Fathir duduk di kamarnya, menulis di jurnal pribadinya.

"Hari ini aku belajar sesuatu. Bahwa mencintai dalam diam adalah salah satu bentuk ibadah — saat kita menjaga pandangan dan perasaan kita demi Allah. Aku masih mendoakannya, tapi kali ini dengan hati yang lebih tenang."

---

“Kadang, cukup dengan satu pandangan yang tertahan, kita belajar arti menjaga hati dan cinta dalam jalan Allah.”

Episodes
1 Bintang hatiku
2 Sore hari
3 menjaga jarak, merawat rasa
4 Pengenalan karakter
5 Doa yang terselip diantara bintang
6 Antara Rindu dan Batasan
7 Hati yang tak pernah diam
8 Doa dan Harapan
9 Takdir dalam sebuah pertemuan
10 Mengikhlaskan yang Belum Pasti
11 Luka yang mengajarkan ikhlas
12 Doa yang masih tersimpan
13 Merawat hati dalam Doa
14 Pandangan yang tertahan, Doa yang terucap
15 Antara takdir dan pilihan
16 Doa yang tak pernah jauh
17 Babak Baru, Hati yang masih sama
18 Saat hati mulai ragu
19 Antara Jawaban dan keputusan
20 Jalan Pulang Yang Tak Terduga
21 Di Antara Ragu dan Keyakinan
22 Pilihan Terakhir di Persimpangan Takdir
23 Jurnal Fathir Selama di Timur Tengah
24 Jurnal Fathir
25 Menyatukan Doa, Menguatkan Hati
26 Flasback Sebelum perpisahan
27 Dalam Penantian, Cinta Tetap Terjaga
28 Surat yang Tertunda
29 Di Bali Penantian, Ada Janji Yang Tersimpan
30 Penantian Yang mendewasakan
31 Di Persimpangan Takdir
32 Ujian Yang Semakin Nyata
33 Menjelang Kepulangan
34 Hati Yang Bimbang
35 Surat dari Fathir: Janji Yang Dijaga dalam Doa
36 Daffa's POV : Melepaskan dengan Ikhlas
37 Ketika Hati Menemukan Jalannya
38 Ujian Sebelum Halal
39 Keyakinan Yang Bertumbuh
40 Menjemput Keberkahan
41 Cahaya Yang kian dekat
42 Awal perjalanan baru
43 Pertemuan Yang dinanti
44 Langkah Menuju Kepastian
45 Melangkah dalam Ridho-NYA
46 Meniti Jalan Menuju Halal
47 Akad yang Menggetarkan Jiwa
48 Pagi pertama Sebagai Suami Istri
49 Bangun di Dunia yang baru
50 Tantangan Hari-hari Awal
51 Takdir Yang Mempertemukan
52 Saat Takdir Mulai Bekerja
53 Diskusi Di Rumah Fathir
54 Langkah Yang Semakin Jelas
55 Menyempurnakan Niat dalam Ikatan
56 Takdir Yang kembali mempertemukan
57 Cinta yang datang di Waktu Terbaik
58 Menyesuaikan Diri
59 Rumah Yang Penuh Cinta
Episodes

Updated 59 Episodes

1
Bintang hatiku
2
Sore hari
3
menjaga jarak, merawat rasa
4
Pengenalan karakter
5
Doa yang terselip diantara bintang
6
Antara Rindu dan Batasan
7
Hati yang tak pernah diam
8
Doa dan Harapan
9
Takdir dalam sebuah pertemuan
10
Mengikhlaskan yang Belum Pasti
11
Luka yang mengajarkan ikhlas
12
Doa yang masih tersimpan
13
Merawat hati dalam Doa
14
Pandangan yang tertahan, Doa yang terucap
15
Antara takdir dan pilihan
16
Doa yang tak pernah jauh
17
Babak Baru, Hati yang masih sama
18
Saat hati mulai ragu
19
Antara Jawaban dan keputusan
20
Jalan Pulang Yang Tak Terduga
21
Di Antara Ragu dan Keyakinan
22
Pilihan Terakhir di Persimpangan Takdir
23
Jurnal Fathir Selama di Timur Tengah
24
Jurnal Fathir
25
Menyatukan Doa, Menguatkan Hati
26
Flasback Sebelum perpisahan
27
Dalam Penantian, Cinta Tetap Terjaga
28
Surat yang Tertunda
29
Di Bali Penantian, Ada Janji Yang Tersimpan
30
Penantian Yang mendewasakan
31
Di Persimpangan Takdir
32
Ujian Yang Semakin Nyata
33
Menjelang Kepulangan
34
Hati Yang Bimbang
35
Surat dari Fathir: Janji Yang Dijaga dalam Doa
36
Daffa's POV : Melepaskan dengan Ikhlas
37
Ketika Hati Menemukan Jalannya
38
Ujian Sebelum Halal
39
Keyakinan Yang Bertumbuh
40
Menjemput Keberkahan
41
Cahaya Yang kian dekat
42
Awal perjalanan baru
43
Pertemuan Yang dinanti
44
Langkah Menuju Kepastian
45
Melangkah dalam Ridho-NYA
46
Meniti Jalan Menuju Halal
47
Akad yang Menggetarkan Jiwa
48
Pagi pertama Sebagai Suami Istri
49
Bangun di Dunia yang baru
50
Tantangan Hari-hari Awal
51
Takdir Yang Mempertemukan
52
Saat Takdir Mulai Bekerja
53
Diskusi Di Rumah Fathir
54
Langkah Yang Semakin Jelas
55
Menyempurnakan Niat dalam Ikatan
56
Takdir Yang kembali mempertemukan
57
Cinta yang datang di Waktu Terbaik
58
Menyesuaikan Diri
59
Rumah Yang Penuh Cinta

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!