Doa yang tak pernah jauh

"Kadang, jarak bukan penghalang untuk cinta yang dijaga dalam doa. Karena hati yang saling mendoakan selalu bertemu di langit yang sama."

 

Hari-hari Tanpa Fathir

Sudah hampir dua bulan sejak fathirberangkat ke Timur Tengah untuk melanjutkan studinya. Arpa perlahan mulai terbiasa menjalani hari-hari tanpanya. Tak ada lagi momen canggung saat melihat notifikasi pesan atau harapan untuk sebuah kabar singkat. Namun, di balik semua ketenangan yang mulai tumbuh, masih ada ruang kecil di hatinya yang terus berdoa untuknya.

Pagi itu, Arpa duduk di teras rumah sambil menyalakan ponsel. Ia membuka aplikasi Al-Qur’an digital dan membaca beberapa ayat. Rasanya menenangkan, seolah setiap ayat yang ia baca menjadi kekuatan untuk menghadapi hari-hari sepi ini.

Tak lama kemudian, Nayla datang sambil membawa dua gelas es teh.

“Pagi, Arpa!” sapa Nayla ceria.

“Pagi juga, Nay! Wah, es teh pagi-pagi? Spesial banget,” kata Arpa sambil tertawa kecil.

Nayla duduk di sebelah Arpa. “Aku bawa ini buat ngerayain sesuatu.”

Arpa mengerutkan dahi. “Rayain apa?”

“Rayain… kamu yang udah bisa move on sedikit-sedikit,” goda Nayla.

Arpa tertawa tapi ada sedikit getir di hatinya. “Iya sih, Nay. Tapi jujur ya, masih ada momen-momen di mana aku kangen banget sama dia.”

Nayla tersenyum. “Itu wajar, Ara. Tapi aku salut banget sama kamu. Kamu kuat. Aku yakin, Allah pasti punya rencana yang lebih indah.”

Arpa mengangguk pelan. “Iya, aku juga percaya itu.”

 

Kabar dari jauh

Sore itu, setelah mengajar mengaji anak-anak di masjid, Arpa duduk di sudut masjid sambil membuka ponselnya. Sebuah notifikasi masuk dari grup pesantren. Ia membaca beberapa pesan ringan, hingga matanya tertuju pada satu pesan dari irwansyah — sahabat Fathir.

irwansyah: “Assalamualaikum, teman-teman. Aku baru dapet kabar dari Fathir. Dia alhamdulillah baik-baik aja di sana. Katanya dia baru selesai ikut kajian besar di kampusnya. Dan… dia titip salam buat semuanya.”

Jantung Arpa berdebar. Meski pesannya umum, ia tahu ada bagian kecil dalam salam itu yang ditujukan untuknya. Ia tersenyum tipis, merasa hangat di tengah sepi yang selama ini ia rasakan.

Dalam hatinya, Arpa berbisik, “Semoga kamu selalu dalam lindungan Allah, Fath.”

 

Sementara itu, di sebuah kota kecil di Timur Tengah, Fathir duduk di balkon asramanya sambil memandangi langit malam. Udara dingin menusuk, tapi hatinya terasa hangat. Ia baru saja selesai mengikuti kajian tentang menjaga hati dan cinta dalam Islam.

Irwansyah, yang kebetulan mengambil program yang sama dengannya, duduk di sampingnya.

“Bro, lo masih mikirin dia, ya?” tanya Irwansyah sambil menyeruput teh hangat.

Fathir tersenyum kecil. “Kadang iya, kadang nggak. Tapi jujur, setiap kali gue lagi di momen tenang kayak gini, gue inget Arpa.”

Irwansyah mengangguk. “Wajar kok. Tapi lo hebat, bro. Lo bener-bener jaga semuanya dalam batasan.”

Fathir menghela napas panjang. “Gue cuma berusaha menjaga apa yang masih bisa dijaga. Gue masih mendoakan dia, Yah. Gue nggak tahu gimana kabarnya sekarang, tapi gue yakin… kalau dia jodoh gue, Allah pasti mempertemukan kami lagi.”

Irwansyah tersenyum sambil menepuk pundaknya. “Aamiin, bro. Semoga doa lo dikabulkan.”

Malam itu, Fathir menulis di jurnal pribadinya.

"Hari ini aku belajar sesuatu. Bahwa cinta sejati bukan tentang seberapa dekat kita, tapi seberapa kuat doa yang kita panjatkan untuknya. Aku masih mendoakanmu, Arpa, meski jarak memisahkan kita sejauh ini."

 

Pesan yang Tak Pernah Dikirim

Di malam yang sama, Arpa duduk di balkon rumahnya sambil menatap langit malam. Ia mengambil buku jurnalnya dan mulai menulis.

"Untuk Fathir,

Di bawah langit yang sama, aku masih mendoakanmu. Meski jarak memisahkan kita, aku percaya doa-doa kita masih saling bertemu di langit.

Aku nggak tahu kapan takdir akan mempertemukan kita lagi. Tapi kalau memang waktu itu tiba, aku harap kita dipertemukan dalam keadaan terbaik — saat kita sama-sama sudah siap.

Arpa."

Ia menutup jurnal itu dan tersenyum. Ia tahu surat ini mungkin tak akan pernah terkirim. Tapi rasanya cukup. Cukup untuk menenangkan hatinya bahwa cinta yang dijaga dalam doa adalah cinta yang tak akan pernah hilang.

 

Refleksi Malam Itu

Di dua tempat berbeda, di bawah langit yang sama, Arpa dan Fathir menatap bintang dan berdoa dalam diam.

Arpa berbisik lirih, “Ya Allah, jagalah dia di sana. Jika dia memang takdirku, pertemukan kami di waktu terbaik. Tapi jika bukan, tenangkan hatiku untuk merelakannya.”

Fathir menutup matanya dan berdoa, “Ya Allah, kuatkan aku untuk menjaga rasa ini tetap suci. Jika dia memang jodohku, jangan biarkan jarak ini memisahkan hati kami.”

“Kadang, cinta tak butuh kata-kata atau kehadiran. Doa yang tulus sudah cukup untuk menjaga hati yang saling mencintai dalam diam.”

Episodes
1 Bintang hatiku
2 Sore hari
3 menjaga jarak, merawat rasa
4 Pengenalan karakter
5 Doa yang terselip diantara bintang
6 Antara Rindu dan Batasan
7 Hati yang tak pernah diam
8 Doa dan Harapan
9 Takdir dalam sebuah pertemuan
10 Mengikhlaskan yang Belum Pasti
11 Luka yang mengajarkan ikhlas
12 Doa yang masih tersimpan
13 Merawat hati dalam Doa
14 Pandangan yang tertahan, Doa yang terucap
15 Antara takdir dan pilihan
16 Doa yang tak pernah jauh
17 Babak Baru, Hati yang masih sama
18 Saat hati mulai ragu
19 Antara Jawaban dan keputusan
20 Jalan Pulang Yang Tak Terduga
21 Di Antara Ragu dan Keyakinan
22 Pilihan Terakhir di Persimpangan Takdir
23 Jurnal Fathir Selama di Timur Tengah
24 Jurnal Fathir
25 Menyatukan Doa, Menguatkan Hati
26 Flasback Sebelum perpisahan
27 Dalam Penantian, Cinta Tetap Terjaga
28 Surat yang Tertunda
29 Di Bali Penantian, Ada Janji Yang Tersimpan
30 Penantian Yang mendewasakan
31 Di Persimpangan Takdir
32 Ujian Yang Semakin Nyata
33 Menjelang Kepulangan
34 Hati Yang Bimbang
35 Surat dari Fathir: Janji Yang Dijaga dalam Doa
36 Daffa's POV : Melepaskan dengan Ikhlas
37 Ketika Hati Menemukan Jalannya
38 Ujian Sebelum Halal
39 Keyakinan Yang Bertumbuh
40 Menjemput Keberkahan
41 Cahaya Yang kian dekat
42 Awal perjalanan baru
43 Pertemuan Yang dinanti
44 Langkah Menuju Kepastian
45 Melangkah dalam Ridho-NYA
46 Meniti Jalan Menuju Halal
47 Akad yang Menggetarkan Jiwa
48 Pagi pertama Sebagai Suami Istri
49 Bangun di Dunia yang baru
50 Tantangan Hari-hari Awal
51 Takdir Yang Mempertemukan
52 Saat Takdir Mulai Bekerja
53 Diskusi Di Rumah Fathir
54 Langkah Yang Semakin Jelas
55 Menyempurnakan Niat dalam Ikatan
56 Takdir Yang kembali mempertemukan
57 Cinta yang datang di Waktu Terbaik
58 Menyesuaikan Diri
59 Rumah Yang Penuh Cinta
Episodes

Updated 59 Episodes

1
Bintang hatiku
2
Sore hari
3
menjaga jarak, merawat rasa
4
Pengenalan karakter
5
Doa yang terselip diantara bintang
6
Antara Rindu dan Batasan
7
Hati yang tak pernah diam
8
Doa dan Harapan
9
Takdir dalam sebuah pertemuan
10
Mengikhlaskan yang Belum Pasti
11
Luka yang mengajarkan ikhlas
12
Doa yang masih tersimpan
13
Merawat hati dalam Doa
14
Pandangan yang tertahan, Doa yang terucap
15
Antara takdir dan pilihan
16
Doa yang tak pernah jauh
17
Babak Baru, Hati yang masih sama
18
Saat hati mulai ragu
19
Antara Jawaban dan keputusan
20
Jalan Pulang Yang Tak Terduga
21
Di Antara Ragu dan Keyakinan
22
Pilihan Terakhir di Persimpangan Takdir
23
Jurnal Fathir Selama di Timur Tengah
24
Jurnal Fathir
25
Menyatukan Doa, Menguatkan Hati
26
Flasback Sebelum perpisahan
27
Dalam Penantian, Cinta Tetap Terjaga
28
Surat yang Tertunda
29
Di Bali Penantian, Ada Janji Yang Tersimpan
30
Penantian Yang mendewasakan
31
Di Persimpangan Takdir
32
Ujian Yang Semakin Nyata
33
Menjelang Kepulangan
34
Hati Yang Bimbang
35
Surat dari Fathir: Janji Yang Dijaga dalam Doa
36
Daffa's POV : Melepaskan dengan Ikhlas
37
Ketika Hati Menemukan Jalannya
38
Ujian Sebelum Halal
39
Keyakinan Yang Bertumbuh
40
Menjemput Keberkahan
41
Cahaya Yang kian dekat
42
Awal perjalanan baru
43
Pertemuan Yang dinanti
44
Langkah Menuju Kepastian
45
Melangkah dalam Ridho-NYA
46
Meniti Jalan Menuju Halal
47
Akad yang Menggetarkan Jiwa
48
Pagi pertama Sebagai Suami Istri
49
Bangun di Dunia yang baru
50
Tantangan Hari-hari Awal
51
Takdir Yang Mempertemukan
52
Saat Takdir Mulai Bekerja
53
Diskusi Di Rumah Fathir
54
Langkah Yang Semakin Jelas
55
Menyempurnakan Niat dalam Ikatan
56
Takdir Yang kembali mempertemukan
57
Cinta yang datang di Waktu Terbaik
58
Menyesuaikan Diri
59
Rumah Yang Penuh Cinta

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!