Jalan Pulang Yang Tak Terduga

"Kadang, saat kita berhenti berharap, takdir justru datang membawa kejutan yang tak pernah kita duga."

 

Keputusan yang Mengubah Segalanya

Hari-hari terasa semakin berat bagi Fathir setelah percakapan panjang dengan Irwansyah tentang program pertukaran pelajar ke Indonesia. Hatinya berada di antara dua pilihan besar — melangkah maju atau tetap tinggal dan merelakan semuanya.

Di balkon asrama yang dingin, Fathir duduk termenung sambil memandangi langit malam. Ia kembali membuka pesan dari Irwansyah tentang program pertukaran itu. Rasanya seperti pintu yang tiba-tiba dibuka oleh Allah, tapi juga ujian untuk hatinya yang sedang belajar ikhlas.

Setelah berdoa panjang malam itu, ia mengetik pesan singkat kepada Irwansyah.

Fathir: “Yah, aku udah mutusin. Aku ikut program pertukaran itu. Aku pengen lihat langsung gimana keadaan semuanya. Kalau ini jalan dari Allah, aku akan ikuti.”

Tak butuh waktu lama, Irwansyah membalas dengan penuh semangat.

Irwansyah: “MasyaAllah! Gue bangga sama lo, bro. Apapun yang terjadi nanti, lo udah berani ngambil langkah ini. Gue yakin Allah udah nyiapin sesuatu buat lo.”

Fathir tersenyum tipis, meski hatinya masih diliputi kecemasan. Ia tahu, perjalanan pulang ini bukan sekadar soal jarak, tapi tentang keberanian menghadapi kenyataan — apapun hasil akhirnya.

 

Arpa yang Tak Menyangka

Sementara itu di Indonesia, Arpa masih menjalani rutinitas kuliahnya di Universitas Al-Hikmah. Meski dirinya terlihat sibuk dan kuat di luar, hatinya masih sesekali dihantui bayang-bayang masa lalu. Pesan dari Fathir beberapa minggu lalu membuatnya kembali tenggelam dalam harapan dan kebingungan.

Pagi itu, Arpa tengah duduk di taman kampus sambil mengerjakan tugas ketika Salma datang sambil membawa dua gelas kopi.

“Arpa! Ini buat kamu. Biar semangat ngerjain tugasnya,” sapa Salma sambil tersenyum.

“Wah, makasih, Salma! Pas banget lagi butuh kopi,” kata Arpa sambil tertawa kecil.

Salma menatap Arpa sejenak, lalu bertanya, “Kamu keliatan lebih ceria belakangan ini. Ada kabar baik?”

Arpa mengangguk pelan. “Fathir ngabarin aku beberapa waktu lalu. Kami akhirnya ngobrol panjang. Tapi… aku masih bingung harus gimana.”

Salma tersenyum lembut. “Aku ngerti. Tapi dengerin ini, Arpa. Kadang, hati kita udah punya jawaban, cuma kita yang belum berani ngakuin.”

Arpa terdiam, merenungi kata-kata itu. Ia tahu Salma benar. Di lubuk hatinya yang terdalam, ada bagian kecil yang masih berharap pada Fathir.

 

Beberapa minggu kemudian, kampus Arpa mengadakan acara tahunan Festival Budaya Islam yang menghadirkan mahasiswa dari berbagai negara. Arpa dan Salma menjadi panitia acara tersebut, mengatur segala persiapan mulai dari dekorasi hingga penerimaan tamu.

Di hari pembukaan festival, Arpa sibuk mengatur jalannya acara saat Salma tiba-tiba menghampirinya dengan wajah cemas.

“Arpa… kamu harus ikut aku sekarang,” kata Salma terburu-buru.

Arpa mengernyitkan dahi. “Kenapa? Ada masalah?”

Salma menarik tangan Arpa. “Ada seseorang yang harus kamu temui.”

Dengan langkah cepat, Salma membawa Arpa menuju aula belakang kampus, tempat di mana delegasi mahasiswa asing berkumpul.

Saat Arpa masuk ke ruangan itu, jantungnya berdebar kencang. Di antara kerumunan, berdiri sosok yang tak asing — Fathir.

Matanya membelalak tak percaya. “Fathir?” bisiknya pelan.

Fathir menoleh, dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, mereka saling bertatapan secara langsung. Ada kehangatan dan kebingungan dalam pandangan mereka.

Fathir tersenyum tipis. “Assalamualaikum, Arpa.”

“Waalaikumsalam…” jawab Arpa dengan suara bergetar.

Keheningan menyelimuti mereka selama beberapa detik. Rasanya seolah waktu berhenti.

Fathir akhirnya memecah keheningan. “Aku di sini… karena program pertukaran pelajar. Tapi sebenarnya… aku di sini buat nemuin kamu.”

Air mata mulai menggenang di mata Arpa. Ia tak tahu harus berkata apa. Semua yang selama ini hanya menjadi angan, kini ada di depannya.

 

Percakapan yang Selama Ini Tertunda

Setelah acara selesai, mereka duduk di taman kampus.

“Aku nggak nyangka kita bisa ketemu kayak gini,” kata Arpa pelan.

“Aku juga nggak nyangka. Tapi aku yakin, ini cara Allah menjawab doa-doa kita selama ini,” balas Fathir.

Mereka terdiam lagi sebelum akhirnya Arpa bertanya, “Fath, kenapa kamu memutuskan buat balik?”

Fathir tersenyum. “Awalnya aku ragu. Tapi aku sadar, aku nggak bisa terus-terusan hidup dalam ketidakpastian. Aku butuh kejelasan, bukan cuma buat aku… tapi buat kamu juga.”

Arpa menarik napas panjang. “Aku sempat mikir buat ngelepasin semuanya. Tapi ada bagian dari hatiku yang nggak bisa sepenuhnya pergi.”

Fathir menunduk sebentar sebelum berkata, “Arpa, aku nggak di sini buat kasih harapan kosong. Aku datang karena aku serius. Aku pengen tau… apa kamu masih mau memperjuangkan ini bersama aku?”

Suasana menjadi hening. Jantung Arpa berdebar kencang. Ia merasa ada dua pilihan besar di hadapannya — bertahan atau melepaskan.

Dengan suara bergetar, Arpa menjawab, “Fath, aku udah berusaha ikhlas selama ini. Tapi ternyata, meskipun aku mencoba, rasa itu nggak pernah benar-benar hilang.”

Mata Fathir berkaca-kaca. “Aku juga merasakan hal yang sama. Dan aku di sini… karena aku mau kita berjuang bareng-bareng.”

 

Doa yang Selalu Terkirim

Malam itu, Arpa dan Fathir kembali ke rumah masing-masing dengan perasaan campur aduk. Mereka tahu bahwa perjalanan ini belum selesai, tapi kali ini mereka punya keberanian untuk melangkah bersama.

Di kamarnya, Arpa menunaikan shalat Tahajjud. Dalam sujud panjangnya, ia berdoa,

"Ya Allah, jika ini adalah jalan-Mu, mudahkan langkah kami. Jika ini cinta yang Kau ridhoi, maka kuatkan hati kami untuk terus menjaga-Nya dalam batasan-Mu."

Di sisi lain kota, Fathir melakukan hal yang sama. Dalam sujudnya yang panjang, ia berbisik,

"Ya Allah, terima kasih atas kesempatan ini. Aku tahu perjalanan ini masih panjang, tapi aku percaya, selama Engkau di tengahnya, tak ada yang tak mungkin."

 

“Terkadang, doa yang paling lama kita panjatkan akhirnya menemukan jalannya pulang. Bukan karena kita memaksanya, tapi karena Allah tahu kapan waktu terbaik untuk mengabulkannya.”

Episodes
1 Bintang hatiku
2 Sore hari
3 menjaga jarak, merawat rasa
4 Pengenalan karakter
5 Doa yang terselip diantara bintang
6 Antara Rindu dan Batasan
7 Hati yang tak pernah diam
8 Doa dan Harapan
9 Takdir dalam sebuah pertemuan
10 Mengikhlaskan yang Belum Pasti
11 Luka yang mengajarkan ikhlas
12 Doa yang masih tersimpan
13 Merawat hati dalam Doa
14 Pandangan yang tertahan, Doa yang terucap
15 Antara takdir dan pilihan
16 Doa yang tak pernah jauh
17 Babak Baru, Hati yang masih sama
18 Saat hati mulai ragu
19 Antara Jawaban dan keputusan
20 Jalan Pulang Yang Tak Terduga
21 Di Antara Ragu dan Keyakinan
22 Pilihan Terakhir di Persimpangan Takdir
23 Jurnal Fathir Selama di Timur Tengah
24 Jurnal Fathir
25 Menyatukan Doa, Menguatkan Hati
26 Flasback Sebelum perpisahan
27 Dalam Penantian, Cinta Tetap Terjaga
28 Surat yang Tertunda
29 Di Bali Penantian, Ada Janji Yang Tersimpan
30 Penantian Yang mendewasakan
31 Di Persimpangan Takdir
32 Ujian Yang Semakin Nyata
33 Menjelang Kepulangan
34 Hati Yang Bimbang
35 Surat dari Fathir: Janji Yang Dijaga dalam Doa
36 Daffa's POV : Melepaskan dengan Ikhlas
37 Ketika Hati Menemukan Jalannya
38 Ujian Sebelum Halal
39 Keyakinan Yang Bertumbuh
40 Menjemput Keberkahan
41 Cahaya Yang kian dekat
42 Awal perjalanan baru
43 Pertemuan Yang dinanti
44 Langkah Menuju Kepastian
45 Melangkah dalam Ridho-NYA
46 Meniti Jalan Menuju Halal
47 Akad yang Menggetarkan Jiwa
48 Pagi pertama Sebagai Suami Istri
49 Bangun di Dunia yang baru
50 Tantangan Hari-hari Awal
51 Takdir Yang Mempertemukan
52 Saat Takdir Mulai Bekerja
53 Diskusi Di Rumah Fathir
54 Langkah Yang Semakin Jelas
55 Menyempurnakan Niat dalam Ikatan
56 Takdir Yang kembali mempertemukan
57 Cinta yang datang di Waktu Terbaik
58 Menyesuaikan Diri
59 Rumah Yang Penuh Cinta
Episodes

Updated 59 Episodes

1
Bintang hatiku
2
Sore hari
3
menjaga jarak, merawat rasa
4
Pengenalan karakter
5
Doa yang terselip diantara bintang
6
Antara Rindu dan Batasan
7
Hati yang tak pernah diam
8
Doa dan Harapan
9
Takdir dalam sebuah pertemuan
10
Mengikhlaskan yang Belum Pasti
11
Luka yang mengajarkan ikhlas
12
Doa yang masih tersimpan
13
Merawat hati dalam Doa
14
Pandangan yang tertahan, Doa yang terucap
15
Antara takdir dan pilihan
16
Doa yang tak pernah jauh
17
Babak Baru, Hati yang masih sama
18
Saat hati mulai ragu
19
Antara Jawaban dan keputusan
20
Jalan Pulang Yang Tak Terduga
21
Di Antara Ragu dan Keyakinan
22
Pilihan Terakhir di Persimpangan Takdir
23
Jurnal Fathir Selama di Timur Tengah
24
Jurnal Fathir
25
Menyatukan Doa, Menguatkan Hati
26
Flasback Sebelum perpisahan
27
Dalam Penantian, Cinta Tetap Terjaga
28
Surat yang Tertunda
29
Di Bali Penantian, Ada Janji Yang Tersimpan
30
Penantian Yang mendewasakan
31
Di Persimpangan Takdir
32
Ujian Yang Semakin Nyata
33
Menjelang Kepulangan
34
Hati Yang Bimbang
35
Surat dari Fathir: Janji Yang Dijaga dalam Doa
36
Daffa's POV : Melepaskan dengan Ikhlas
37
Ketika Hati Menemukan Jalannya
38
Ujian Sebelum Halal
39
Keyakinan Yang Bertumbuh
40
Menjemput Keberkahan
41
Cahaya Yang kian dekat
42
Awal perjalanan baru
43
Pertemuan Yang dinanti
44
Langkah Menuju Kepastian
45
Melangkah dalam Ridho-NYA
46
Meniti Jalan Menuju Halal
47
Akad yang Menggetarkan Jiwa
48
Pagi pertama Sebagai Suami Istri
49
Bangun di Dunia yang baru
50
Tantangan Hari-hari Awal
51
Takdir Yang Mempertemukan
52
Saat Takdir Mulai Bekerja
53
Diskusi Di Rumah Fathir
54
Langkah Yang Semakin Jelas
55
Menyempurnakan Niat dalam Ikatan
56
Takdir Yang kembali mempertemukan
57
Cinta yang datang di Waktu Terbaik
58
Menyesuaikan Diri
59
Rumah Yang Penuh Cinta

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!