Antara Rindu dan Batasan

"Kadang, rindu tak harus diungkapkan. Cukup dirasakan dalam diam, sambil berharap Allah menjaga hati ini tetap kuat."

Sudah hampir seminggu sejak Arpani Zahra Ramadhani dan Fathir Alfarizi Mahendra mengurangi intensitas percakapan mereka. Tak ada lagi pesan singkat di pagi hari atau obrolan ringan tentang cuaca dan aktivitas sehari-hari. Namun, justru dalam diam itulah rindu mulai tumbuh — rindu yang mereka sendiri tak berani akui.

Arpa duduk di teras rumahnya, menatap halaman kosong sambil memainkan ujung jilbabnya. Pikirannya melayang ke hari-hari saat ia dan Fathir masih sering bertukar pesan. Ia menghela napas pelan.

"Kenapa ya, justru saat nggak komunikasi malah makin kepikiran?" batinnya.

Ia mencoba mengalihkan perhatian dengan membaca Al-Qur’an, tapi pikirannya tetap melayang ke Fathir.

Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Nayla Azzahra, sahabat karibnya, masuk.

Nayla: “Arpaa! Lagi apa? Aku kangen nih ngobrol-ngobrol sama kamu! 😆”

Arpa: “Lagi santai di rumah, Nay. Aku juga kangen!”

Tak lama kemudian, ponselnya berdering. Nayla menelepon.

“Assalamualaikum, Arpa!” suara ceria Nayla langsung terdengar di telinga Arpa.

“Waalaikumsalam, Nay. Ada angin apa nih?”

“Haha, nggak ada angin apa-apa. Aku cuma ngerasa, kamu kok akhir-akhir ini agak beda, ya? Kayak ada yang dipikirin banget,” tanya Nayla penasaran.

Arpa terdiam sejenak. “Nggak, kok. Cuma lagi banyak mikir aja,” jawabnya berusaha mengelak.

Nayla tertawa. “Yaelah, Arpa. Aku ini sahabat kamu dari SMA, tahu banget gaya kamu kalau lagi mikirin cowok.”

Arpa menghela napas, akhirnya menyerah. “Iya, Nay… aku lagi mikirin Fathir.”

“Waduh, beneran, nih? Kenapa? Kalian masih ngobrol kan?” tanya Nayla.

“Udah jarang. Kita kayak sengaja jaga jarak. Tapi anehnya, malah makin kepikiran.”

Nayla terdiam sejenak sebelum bicara, kali ini dengan nada lebih serius. “Arpa, perasaan itu wajar kok. Tapi kamu harus ingat, jangan biarin perasaan itu jadi beban buat kamu. Kalau kamu rindu, doain dia. Itu cara paling aman.”

Arpa tersenyum kecil. “Iya, Nay. Makasih udah ngingetin.”

---------------------------------------------------------------------------------

Sementara Itu, di Pondok Pesantren

Di pondok pesantren Al-Furqan, suasana sore dipenuhi suara lantunan ayat suci Al-Qur’an dari para santri. Di kamar asramanya, Fathir duduk bersila dengan kitab tafsir terbuka di depannya. Namun, tatapannya kosong.

“Masih kepikiran dia, bro?” tanya Irwansyah Pratama, sahabat dekatnya, sambil masuk ke kamar membawa segelas teh.

Fathir tersenyum kaku. “Iya... cuma bingung, gimana caranya menjaga hati ini tetap bersih.”

Irwansyah duduk di sebelahnya dan menyeruput teh. “Kalau menurut gue sih, selama kamu nggak ngelakuin hal yang melanggar syariat, itu wajar kok. Tapi jangan dipendam sendirian. Doa itu cara terbaik, bro.”

Fathir menunduk. “Aku takut kalau makin lama, perasaan ini malah bikin aku lalai.”

Irwansyah menepuk pundaknya. “Gue tahu, lo anak baik, Fath. Tapi coba pikirin ini — mungkin Allah ngasih perasaan itu biar lo lebih ngerti gimana cara menjaga hati. Kalau cinta itu bener, lo nggak perlu ngejar. Doa aja cukup.”

Kata-kata Irwansyah membuat Fathir terdiam. Dalam hati, ia tahu sahabatnya benar.

---------------------------------------------------------------------------------

Takdir yang Mempertemukan

Beberapa hari kemudian, tanpa rencana apa pun, takdir mempertemukan mereka.

Arpa menemani ibunya, Siti Rahmawati, berbelanja di pasar tradisional. Ia sibuk memilih sayuran saat tiba-tiba suara yang familiar terdengar dari kejauhan.

“Bu, ini cabainya ambil yang segar ya,” ucap seorang pemuda.

Arpa menoleh. Di depan salah satu kios, berdiri Fathir dengan peci hitam dan jaket abu-abu, membawa kantong belanjaan. Ia terlihat membantu seorang ibu tua memilih bahan makanan.

Hati Arpa berdebar. Ia tak menyangka akan bertemu Fathir di tempat sederhana seperti ini.

Namun, sebelum Arpa sempat memutuskan untuk menyapa atau tidak, Fathir menoleh. Mata mereka saling bertemu. Ada jeda beberapa detik — cukup untuk membuat jantung mereka berdegup kencang.

Fathir tersenyum sopan dan mengangguk kecil. “Assalamualaikum, Arpa.”

Arpa membalas senyumnya dengan canggung. “Waalaikumsalam, Fath.”

Suasana menjadi kikuk. Tak ada kata-kata yang keluar setelahnya. Hanya suara bising pasar yang mengisi keheningan di antara mereka.

Fathir akhirnya berbicara lagi, menjaga adab. “Apa kabar? Sudah lama ya nggak ngobrol.”

Arpa mengangguk. “Alhamdulillah, baik. Iya, sudah agak lama.”

Di tengah kebingungan itu, Bu Rahma menghampiri Arpa. “Siapa, Nak?”

Arpa tersenyum gugup. “Ini Fathir, Bu. Teman lama.”

Fathir menunduk sopan. “Assalamualaikum, Bu.”

“Waalaikumsalam, Nak. Wah, bantuin belanja juga ya?” tanya Bu Rahma ramah.

“Iya, Bu. Kebetulan lagi ada waktu kosong,” jawab Fathir.

“Bagus. Anak muda rajin kayak gini jarang, lho,” puji Bu Rahma sambil tersenyum.

Arpa merasa wajahnya memanas, tapi ia juga merasakan kehangatan di momen singkat itu.

“Jaga diri ya, Arpa,” ucap Fathir sambil tersenyum sebelum beranjak pergi.

Arpa membalas dengan lembut. “Kamu juga, Fath.”

-------------------------------------------------------------------------------

Refleksi Malam Itu

Malam harinya, Arpa duduk di balkon rumahnya, menatap langit. Ia memegang mushaf Al-Qur’an, tapi pikirannya melayang ke pertemuan singkat tadi.

"Ya Allah, jika pertemuan tadi adalah petunjuk-Mu, bimbing aku untuk menjaga hati ini. Jangan biarkan aku larut dalam harapan yang tak pasti."

Di pondok, Fathir melakukan hal yang sama. Ia mengambil wudhu dan melaksanakan shalat Tahajjud. Dalam sujud panjangnya, ia berdoa,

"Ya Allah, jika dia baik untukku, dekatkan dengan cara terbaik-Mu. Tapi jika bukan, tolong jaga hatiku dan hatinya dari rasa yang salah."

“Terkadang, cinta tak butuh kata-kata. Doa dan pertemuan singkat bisa lebih bermakna dari ribuan percakapan.”

Episodes
1 Bintang hatiku
2 Sore hari
3 menjaga jarak, merawat rasa
4 Pengenalan karakter
5 Doa yang terselip diantara bintang
6 Antara Rindu dan Batasan
7 Hati yang tak pernah diam
8 Doa dan Harapan
9 Takdir dalam sebuah pertemuan
10 Mengikhlaskan yang Belum Pasti
11 Luka yang mengajarkan ikhlas
12 Doa yang masih tersimpan
13 Merawat hati dalam Doa
14 Pandangan yang tertahan, Doa yang terucap
15 Antara takdir dan pilihan
16 Doa yang tak pernah jauh
17 Babak Baru, Hati yang masih sama
18 Saat hati mulai ragu
19 Antara Jawaban dan keputusan
20 Jalan Pulang Yang Tak Terduga
21 Di Antara Ragu dan Keyakinan
22 Pilihan Terakhir di Persimpangan Takdir
23 Jurnal Fathir Selama di Timur Tengah
24 Jurnal Fathir
25 Menyatukan Doa, Menguatkan Hati
26 Flasback Sebelum perpisahan
27 Dalam Penantian, Cinta Tetap Terjaga
28 Surat yang Tertunda
29 Di Bali Penantian, Ada Janji Yang Tersimpan
30 Penantian Yang mendewasakan
31 Di Persimpangan Takdir
32 Ujian Yang Semakin Nyata
33 Menjelang Kepulangan
34 Hati Yang Bimbang
35 Surat dari Fathir: Janji Yang Dijaga dalam Doa
36 Daffa's POV : Melepaskan dengan Ikhlas
37 Ketika Hati Menemukan Jalannya
38 Ujian Sebelum Halal
39 Keyakinan Yang Bertumbuh
40 Menjemput Keberkahan
41 Cahaya Yang kian dekat
42 Awal perjalanan baru
43 Pertemuan Yang dinanti
44 Langkah Menuju Kepastian
45 Melangkah dalam Ridho-NYA
46 Meniti Jalan Menuju Halal
47 Akad yang Menggetarkan Jiwa
48 Pagi pertama Sebagai Suami Istri
49 Bangun di Dunia yang baru
50 Tantangan Hari-hari Awal
51 Takdir Yang Mempertemukan
52 Saat Takdir Mulai Bekerja
53 Diskusi Di Rumah Fathir
54 Langkah Yang Semakin Jelas
55 Menyempurnakan Niat dalam Ikatan
56 Takdir Yang kembali mempertemukan
57 Cinta yang datang di Waktu Terbaik
58 Menyesuaikan Diri
59 Rumah Yang Penuh Cinta
Episodes

Updated 59 Episodes

1
Bintang hatiku
2
Sore hari
3
menjaga jarak, merawat rasa
4
Pengenalan karakter
5
Doa yang terselip diantara bintang
6
Antara Rindu dan Batasan
7
Hati yang tak pernah diam
8
Doa dan Harapan
9
Takdir dalam sebuah pertemuan
10
Mengikhlaskan yang Belum Pasti
11
Luka yang mengajarkan ikhlas
12
Doa yang masih tersimpan
13
Merawat hati dalam Doa
14
Pandangan yang tertahan, Doa yang terucap
15
Antara takdir dan pilihan
16
Doa yang tak pernah jauh
17
Babak Baru, Hati yang masih sama
18
Saat hati mulai ragu
19
Antara Jawaban dan keputusan
20
Jalan Pulang Yang Tak Terduga
21
Di Antara Ragu dan Keyakinan
22
Pilihan Terakhir di Persimpangan Takdir
23
Jurnal Fathir Selama di Timur Tengah
24
Jurnal Fathir
25
Menyatukan Doa, Menguatkan Hati
26
Flasback Sebelum perpisahan
27
Dalam Penantian, Cinta Tetap Terjaga
28
Surat yang Tertunda
29
Di Bali Penantian, Ada Janji Yang Tersimpan
30
Penantian Yang mendewasakan
31
Di Persimpangan Takdir
32
Ujian Yang Semakin Nyata
33
Menjelang Kepulangan
34
Hati Yang Bimbang
35
Surat dari Fathir: Janji Yang Dijaga dalam Doa
36
Daffa's POV : Melepaskan dengan Ikhlas
37
Ketika Hati Menemukan Jalannya
38
Ujian Sebelum Halal
39
Keyakinan Yang Bertumbuh
40
Menjemput Keberkahan
41
Cahaya Yang kian dekat
42
Awal perjalanan baru
43
Pertemuan Yang dinanti
44
Langkah Menuju Kepastian
45
Melangkah dalam Ridho-NYA
46
Meniti Jalan Menuju Halal
47
Akad yang Menggetarkan Jiwa
48
Pagi pertama Sebagai Suami Istri
49
Bangun di Dunia yang baru
50
Tantangan Hari-hari Awal
51
Takdir Yang Mempertemukan
52
Saat Takdir Mulai Bekerja
53
Diskusi Di Rumah Fathir
54
Langkah Yang Semakin Jelas
55
Menyempurnakan Niat dalam Ikatan
56
Takdir Yang kembali mempertemukan
57
Cinta yang datang di Waktu Terbaik
58
Menyesuaikan Diri
59
Rumah Yang Penuh Cinta

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!