Antara takdir dan pilihan

"Cinta tak selalu tentang siapa yang datang lebih dulu, tapi tentang siapa yang Allah pilih untuk tinggal selamanya."

------------------

Kabar yang Menggetarkan Hati

Sudah beberapa hari berlalu sejak pertemuan singkat di kajian akbar. Arpa merasa hatinya jauh lebih tenang. Ia merasa sudah sampai di titik di mana rindu dan ikhlas berjalan beriringan. Tapi ketenangan itu perlahan terusik oleh satu kabar tak terduga.

Pagi itu, saat Arpa sedang membaca Al-Qur’an di ruang tamu, ponselnya berdering. Nama Nayla muncul di layar.

“Assalamualaikum, Nay!” sapa Arpa sambil tersenyum.

“Waalaikumsalam, Ara!” Nayla terdengar agak heboh. “Araaa! Aku punya kabar penting!”

Arpa tertawa kecil. “Hah? Apa lagi nih? Kamu kok heboh banget.”

“Gimana ya ngomongnya… Pokoknya ini tentang Fathir!” ucap Nayla, membuat jantung Arpa langsung berdebar.

“Fathir? Ada apa?”

“Jadi… temenku yang santri di pondok Fathir bilang kalau Fathir dapat tawaran untuk lanjut studi ke Timur Tengah! Beasiswa penuh!”

Arpa terdiam sejenak, mencoba mencerna kabar itu. Perasaan di hatinya bercampur aduk — ada bahagia, tapi juga ada rasa kosong yang tak bisa dihindari.

“Wah… itu kabar bagus, Nay. Aku… aku senang dengernya,” ucap Arpa, meski suaranya terdengar bergetar.

Nayla yang mengenalnya sangat baik langsung tahu perasaan sahabatnya. “Ara… kamu gapapa?”

“Iya, Nay. Aku gapapa kok. Aku senang Fathir dapet kesempatan sebesar itu,” jawab Arpa, kali ini mencoba lebih meyakinkan.

Tapi setelah panggilan berakhir, Arpa tak bisa menahan air matanya. Ia tahu, jarak yang selama ini sudah cukup jauh, akan semakin tak terjangkau.

---------------------------------

Di Pondok Pesantren

Di pondok pesantren Al-Furqan, Fathir duduk bersama Irwansyah di taman kecil belakang masjid.

“Jadi… lo beneran nerima beasiswa itu, bro?” tanya Irwansyah sambil menyeruput teh hangat.

Fathir mengangguk pelan. “Iya, Yah. Kesempatan ini nggak datang dua kali. Tapi… berat juga ninggalin semua ini.”

Irwansyah mengamati wajah sahabatnya. “Berat ninggalin pondok? Atau… berat ninggalin seseorang?”

Fathir tertawa kecil. “Dua-duanya. Tapi… jujur, yang paling berat itu… meninggalkan Arpa tanpa kejelasan.”

Irwansyah tersenyum tipis. “Lo masih punya waktu, bro. Kalau lo yakin, kenapa nggak bicara langsung?”

Fathir menghela napas panjang. “Gue takut… takut kalau perasaan ini malah jadi beban buat dia.”

Irwansyah menepuk pundaknya. “Kadang, jujur itu bukan soal meminta atau mengungkapkan, tapi tentang memberi kejelasan. Siapa tahu, dengan lo bicara, semuanya jadi lebih ringan.”

Fathir termenung. Ia tahu Irwansyah benar. Tapi apakah ia punya keberanian untuk itu?

-----------------------

Surat yang Tak Pernah Terkirim

Malam harinya, Arpa duduk di meja belajarnya. Di depannya ada sebuah kertas kosong dan pena. Ia ingin menuliskan semua yang ada di hatinya, meski ia tahu surat ini mungkin tak akan pernah terkirim.

"Untuk Fathir,

Selamat atas beasiswamu. Aku tahu ini adalah impianmu, dan aku benar-benar bahagia mendengarnya. Tapi, jujur, hatiku terasa berat. Ada banyak hal yang ingin aku sampaikan, tapi rasanya kata-kata tak cukup.

Aku selalu mendoakanmu. Meski mungkin kita tidak akan bertemu lagi dalam waktu dekat, aku percaya doa akan tetap menyatukan kita di langit yang sama.

Kalau memang kamu adalah takdirku, aku yakin Allah akan mempertemukan kita lagi di waktu terbaik. Tapi kalau bukan, semoga Allah menghapus rasa ini tanpa meninggalkan luka.

Arpa."

Air mata Arpa mengalir saat ia menyelesaikan surat itu. Ia melipatnya dan menyimpannya di dalam buku catatannya, seolah menyimpan semua perasaan yang belum siap diungkapkan.

-------------------

Pertemuan Terakhir Sebelum Kepergian

Beberapa hari kemudian, Arpa mendapat pesan dari Nayla.

Nayla: “Ara, besok Fathir berangkat ke bandara. Temanku bilang dia mau ke Timur Tengah dalam dua hari lagi. Kalau kamu mau… ini mungkin kesempatan terakhir buat lihat dia.”

Jantung Arpa berdebar kencang. Ia tahu ini bukan tentang bertemu atau berbicara, tapi tentang melihat dari kejauhan dan merelakan.

Keesokan harinya, Arpa dan Nayla berada di bandara, berdiri di sudut yang cukup jauh dari area keberangkatan. Di sana, Fathir sedang bersama beberapa teman pondoknya, termasuk Irwansyah.

Arpa memperhatikan dari kejauhan. Ia melihat Fathir tersenyum, tapi ada sesuatu di wajahnya — ketenangan yang bercampur dengan kesedihan.

Tanpa sadar, mata mereka bertemu. Jarak yang cukup jauh tak menghalangi mereka untuk saling mengirimkan pesan lewat tatapan. Tidak ada kata, tidak ada gerakan, hanya pandangan yang dipenuhi makna.

Fathir tersenyum tipis dan mengangguk kecil, seolah berkata, “Aku pamit.”

Arpa mengangkat tangan sedikit, membalas dengan isyarat yang sama, “Aku mendoakanmu.”

Tak lama kemudian, Fathir berjalan menuju gerbang keberangkatan. Arpa menunduk, air mata mulai jatuh, tapi kali ini tanpa rasa sesak. Ia tahu, ini saatnya merelakan sepenuhnya.

---

Refleksi Malam Itu

Malam harinya, Arpa duduk di balkon rumah, memandangi langit malam yang penuh bintang.

"Ya Allah, aku ikhlas. Aku pasrahkan semua rasa ini kepada-Mu. Jika memang dia takdirku, aku yakin Engkau akan mempertemukan kami lagi. Tapi jika bukan, aku percaya Engkau punya rencana yang lebih indah."

Di pesawat yang mengudara di atas awan, Fathir juga menutup mata, berdoa dalam hati.

"Ya Allah, jagalah dia. Meski jarak memisahkan, izinkan aku terus mendoakannya dalam diam. Dan jika Engkau mengizinkan, pertemukan kami di waktu terbaik."

---

“Terkadang, cinta bukan tentang bersama saat ini, tapi tentang saling menjaga dalam doa, bahkan ketika jarak memisahkan"

Episodes
1 Bintang hatiku
2 Sore hari
3 menjaga jarak, merawat rasa
4 Pengenalan karakter
5 Doa yang terselip diantara bintang
6 Antara Rindu dan Batasan
7 Hati yang tak pernah diam
8 Doa dan Harapan
9 Takdir dalam sebuah pertemuan
10 Mengikhlaskan yang Belum Pasti
11 Luka yang mengajarkan ikhlas
12 Doa yang masih tersimpan
13 Merawat hati dalam Doa
14 Pandangan yang tertahan, Doa yang terucap
15 Antara takdir dan pilihan
16 Doa yang tak pernah jauh
17 Babak Baru, Hati yang masih sama
18 Saat hati mulai ragu
19 Antara Jawaban dan keputusan
20 Jalan Pulang Yang Tak Terduga
21 Di Antara Ragu dan Keyakinan
22 Pilihan Terakhir di Persimpangan Takdir
23 Jurnal Fathir Selama di Timur Tengah
24 Jurnal Fathir
25 Menyatukan Doa, Menguatkan Hati
26 Flasback Sebelum perpisahan
27 Dalam Penantian, Cinta Tetap Terjaga
28 Surat yang Tertunda
29 Di Bali Penantian, Ada Janji Yang Tersimpan
30 Penantian Yang mendewasakan
31 Di Persimpangan Takdir
32 Ujian Yang Semakin Nyata
33 Menjelang Kepulangan
34 Hati Yang Bimbang
35 Surat dari Fathir: Janji Yang Dijaga dalam Doa
36 Daffa's POV : Melepaskan dengan Ikhlas
37 Ketika Hati Menemukan Jalannya
38 Ujian Sebelum Halal
39 Keyakinan Yang Bertumbuh
40 Menjemput Keberkahan
41 Cahaya Yang kian dekat
42 Awal perjalanan baru
43 Pertemuan Yang dinanti
44 Langkah Menuju Kepastian
45 Melangkah dalam Ridho-NYA
46 Meniti Jalan Menuju Halal
47 Akad yang Menggetarkan Jiwa
48 Pagi pertama Sebagai Suami Istri
49 Bangun di Dunia yang baru
50 Tantangan Hari-hari Awal
51 Takdir Yang Mempertemukan
52 Saat Takdir Mulai Bekerja
53 Diskusi Di Rumah Fathir
54 Langkah Yang Semakin Jelas
55 Menyempurnakan Niat dalam Ikatan
56 Takdir Yang kembali mempertemukan
57 Cinta yang datang di Waktu Terbaik
58 Menyesuaikan Diri
59 Rumah Yang Penuh Cinta
Episodes

Updated 59 Episodes

1
Bintang hatiku
2
Sore hari
3
menjaga jarak, merawat rasa
4
Pengenalan karakter
5
Doa yang terselip diantara bintang
6
Antara Rindu dan Batasan
7
Hati yang tak pernah diam
8
Doa dan Harapan
9
Takdir dalam sebuah pertemuan
10
Mengikhlaskan yang Belum Pasti
11
Luka yang mengajarkan ikhlas
12
Doa yang masih tersimpan
13
Merawat hati dalam Doa
14
Pandangan yang tertahan, Doa yang terucap
15
Antara takdir dan pilihan
16
Doa yang tak pernah jauh
17
Babak Baru, Hati yang masih sama
18
Saat hati mulai ragu
19
Antara Jawaban dan keputusan
20
Jalan Pulang Yang Tak Terduga
21
Di Antara Ragu dan Keyakinan
22
Pilihan Terakhir di Persimpangan Takdir
23
Jurnal Fathir Selama di Timur Tengah
24
Jurnal Fathir
25
Menyatukan Doa, Menguatkan Hati
26
Flasback Sebelum perpisahan
27
Dalam Penantian, Cinta Tetap Terjaga
28
Surat yang Tertunda
29
Di Bali Penantian, Ada Janji Yang Tersimpan
30
Penantian Yang mendewasakan
31
Di Persimpangan Takdir
32
Ujian Yang Semakin Nyata
33
Menjelang Kepulangan
34
Hati Yang Bimbang
35
Surat dari Fathir: Janji Yang Dijaga dalam Doa
36
Daffa's POV : Melepaskan dengan Ikhlas
37
Ketika Hati Menemukan Jalannya
38
Ujian Sebelum Halal
39
Keyakinan Yang Bertumbuh
40
Menjemput Keberkahan
41
Cahaya Yang kian dekat
42
Awal perjalanan baru
43
Pertemuan Yang dinanti
44
Langkah Menuju Kepastian
45
Melangkah dalam Ridho-NYA
46
Meniti Jalan Menuju Halal
47
Akad yang Menggetarkan Jiwa
48
Pagi pertama Sebagai Suami Istri
49
Bangun di Dunia yang baru
50
Tantangan Hari-hari Awal
51
Takdir Yang Mempertemukan
52
Saat Takdir Mulai Bekerja
53
Diskusi Di Rumah Fathir
54
Langkah Yang Semakin Jelas
55
Menyempurnakan Niat dalam Ikatan
56
Takdir Yang kembali mempertemukan
57
Cinta yang datang di Waktu Terbaik
58
Menyesuaikan Diri
59
Rumah Yang Penuh Cinta

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!