Takdir dalam sebuah pertemuan

"Ada pertemuan yang tidak pernah direncanakan, tapi disiapkan oleh Allah untuk menjawab doa-doa yang tulus."

 

Hari yang Dinanti

Mentari pagi menyinari halaman pondok pesantren Al-Furqan yang dipenuhi aktivitas. Para santri sibuk mempersiapkan acara pengajian akbar yang akan segera dimulai.

Fathir Alfarizi Mahendra berjalan di halaman masjid sambil membawa beberapa brosur acara. Pikirannya campur aduk. Entah kenapa, hari ini hatinya gelisah. Sejak pagi, ada firasat aneh yang membuat jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya.

“Fath, lo kenapa? Dari tadi kayak orang kehilangan arah,” tegur Irwansyah Pratama sambil membawa kotak air mineral.

Fathir tersenyum tipis. “Entah kenapa, Yah. Aku ngerasa hari ini beda.”

Irwansyah tertawa pelan. “Beda gimana? Jangan-jangan hari ini hari lo ketemu jodoh?”

Fathir menggeleng sambil tertawa kecil. “Jodoh? Jangan bercanda, Yah. Aku cuma… punya firasat aneh aja.”

Irwansyah menepuk pundaknya. “Kadang, firasat itu jawaban dari doa-doa yang udah lama lo panjatkan.”

Fathir hanya terdiam. Kata-kata Irwansyah mengendap dalam pikirannya. Mungkinkah hari ini menjadi hari di mana doa-doanya menemukan jawabannya?

 

Kedatangan yang Tak Disangka

Di sisi lain kota, Arpani Zahra Ramadhani sedang dalam perjalanan menuju pondok bersama ibunya, Siti Rahmawati. Mobil yang mereka tumpangi melaju perlahan melewati jalanan kota Malang yang sejuk.

Arpa duduk di samping jendela, memandang keluar. Hatinya berdebar tanpa alasan yang jelas.

“Ibu, aku kok deg-degan ya?” gumamnya sambil memegang dada.

Bu Rahma tersenyum bijak. “Mungkin ada sesuatu yang akan terjadi hari ini, Nak. Kadang, firasat itu cara Allah memberi kita petunjuk.”

Arpa hanya mengangguk pelan. Ia tak tahu kenapa hatinya merasa seperti ini. Tapi ada satu harapan kecil yang ia coba tepis — harapan untuk bertemu Fathir di acara ini.

Saat mobil mereka berhenti di depan pondok, Arpa melihat keramaian. Santri dan keluarga memenuhi halaman. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debaran di dadanya.

Namun, langkahnya terhenti begitu matanya menangkap sosok yang tak asing — Fathir, berdiri di dekat panggung kecil, sedang berbicara dengan panitia. Ia terlihat lebih dewasa dari terakhir kali mereka bertemu, dengan peci hitam yang menutupi rambutnya dan sorot mata yang penuh ketenangan.

Jantung Arpa berdebar kencang. Ia tak menyangka doanya dijawab secepat ini.

 

Pertemuan yang Menggetarkan Hati

Fathir, yang sedang sibuk berbicara dengan panitia, tiba-tiba merasa seperti ada seseorang yang memperhatikannya. Ia menoleh ke arah kerumunan, dan matanya langsung tertuju pada sosok Arpa.

Untuk beberapa detik yang terasa seperti selamanya, mereka saling menatap. Mata mereka saling berbicara tanpa suara — tentang rindu yang terpendam dan doa yang tak pernah berhenti.

Fathir segera menunduk, mencoba menjaga adab. Tapi dalam hatinya, ia tahu ini bukan kebetulan.

Irwansyah yang memperhatikan kejadian itu dari jauh tersenyum lebar. “Gue udah bilang, bro. Hari ini hari lo.”

Fathir menarik napas panjang, mencoba mengendalikan emosi yang bergejolak. Ia tahu, pertemuan ini adalah ujian. Ujian untuk menjaga hati dan adab, bahkan di saat rindu sudah tak tertahan.

 

Percakapan yang Tak Direncanakan

Usai acara pengajian, Arpa berjalan pelan di sekitar halaman pondok. Ia tak tahu harus bagaimana. Ada keinginan kuat untuk bicara dengan Fathir, tapi ada juga rasa canggung yang menahannya.

Namun, takdir kembali mengambil alih.

“Assalamualaikum, Arpa.”

Arpa menoleh cepat. Di hadapannya berdiri Fathir, dengan senyum tipis yang terlihat gugup.

“Waalaikumsalam, Fath,” jawab Arpa pelan, jantungnya berdegup kencang.

Mereka berdiri dalam keheningan selama beberapa detik sebelum Fathir memecah suasana.

“Kamu kelihatan sehat. Aku… senang bisa ketemu kamu di sini.”

Arpa tersenyum kecil. “Aku juga nggak nyangka bakal ketemu kamu di sini. Rasanya seperti…”

“Seperti jawaban dari doa?” potong Fathir.

Arpa mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca.

“Aku masih sering mendoakan kamu, Arpa,” ucap Fathir akhirnya, suaranya terdengar tulus.

“Aku juga, Fath. Aku selalu menyebut nama kamu dalam doa,” jawab Arpa dengan lirih.

Ada keheningan yang indah di antara mereka. Tak ada kata cinta yang terucap, tapi hati mereka saling berbicara.

“Aku nggak tahu gimana akhir cerita kita,” lanjut Fathir, “tapi aku percaya, kalau memang kamu takdirku, Allah pasti pertemukan kita lagi di waktu yang lebih baik.”

Arpa tersenyum sambil menahan air mata. “Dan aku akan terus mendoakan kamu… sampai waktu itu tiba.”

Mereka berdua saling mengangguk, menyadari bahwa cinta mereka bukan tentang memiliki saat ini, tapi tentang merawat rasa itu dalam doa dan kesabaran.

 

Malamnya, di pondok pesantren, Fathir duduk di dekat jendela kamarnya, menatap langit malam yang dipenuhi bintang.

Di tempat berbeda, Arpa duduk di balkon rumahnya, memandangi bintang yang sama.

Keduanya mengucapkan doa yang sama dalam hati.

"Ya Allah, jika dia memang takdirku, dekatkan kami dalam ridho-Mu. Tapi jika bukan, jaga hati kami hingga kami bisa merelakan."

 

“Terkadang, pertemuan yang sederhana adalah jawaban dari doa-doa yang selama ini dipanjatkan dalam diam. "

Episodes
1 Bintang hatiku
2 Sore hari
3 menjaga jarak, merawat rasa
4 Pengenalan karakter
5 Doa yang terselip diantara bintang
6 Antara Rindu dan Batasan
7 Hati yang tak pernah diam
8 Doa dan Harapan
9 Takdir dalam sebuah pertemuan
10 Mengikhlaskan yang Belum Pasti
11 Luka yang mengajarkan ikhlas
12 Doa yang masih tersimpan
13 Merawat hati dalam Doa
14 Pandangan yang tertahan, Doa yang terucap
15 Antara takdir dan pilihan
16 Doa yang tak pernah jauh
17 Babak Baru, Hati yang masih sama
18 Saat hati mulai ragu
19 Antara Jawaban dan keputusan
20 Jalan Pulang Yang Tak Terduga
21 Di Antara Ragu dan Keyakinan
22 Pilihan Terakhir di Persimpangan Takdir
23 Jurnal Fathir Selama di Timur Tengah
24 Jurnal Fathir
25 Menyatukan Doa, Menguatkan Hati
26 Flasback Sebelum perpisahan
27 Dalam Penantian, Cinta Tetap Terjaga
28 Surat yang Tertunda
29 Di Bali Penantian, Ada Janji Yang Tersimpan
30 Penantian Yang mendewasakan
31 Di Persimpangan Takdir
32 Ujian Yang Semakin Nyata
33 Menjelang Kepulangan
34 Hati Yang Bimbang
35 Surat dari Fathir: Janji Yang Dijaga dalam Doa
36 Daffa's POV : Melepaskan dengan Ikhlas
37 Ketika Hati Menemukan Jalannya
38 Ujian Sebelum Halal
39 Keyakinan Yang Bertumbuh
40 Menjemput Keberkahan
41 Cahaya Yang kian dekat
42 Awal perjalanan baru
43 Pertemuan Yang dinanti
44 Langkah Menuju Kepastian
45 Melangkah dalam Ridho-NYA
46 Meniti Jalan Menuju Halal
47 Akad yang Menggetarkan Jiwa
48 Pagi pertama Sebagai Suami Istri
49 Bangun di Dunia yang baru
50 Tantangan Hari-hari Awal
51 Takdir Yang Mempertemukan
52 Saat Takdir Mulai Bekerja
53 Diskusi Di Rumah Fathir
54 Langkah Yang Semakin Jelas
55 Menyempurnakan Niat dalam Ikatan
56 Takdir Yang kembali mempertemukan
57 Cinta yang datang di Waktu Terbaik
58 Menyesuaikan Diri
59 Rumah Yang Penuh Cinta
Episodes

Updated 59 Episodes

1
Bintang hatiku
2
Sore hari
3
menjaga jarak, merawat rasa
4
Pengenalan karakter
5
Doa yang terselip diantara bintang
6
Antara Rindu dan Batasan
7
Hati yang tak pernah diam
8
Doa dan Harapan
9
Takdir dalam sebuah pertemuan
10
Mengikhlaskan yang Belum Pasti
11
Luka yang mengajarkan ikhlas
12
Doa yang masih tersimpan
13
Merawat hati dalam Doa
14
Pandangan yang tertahan, Doa yang terucap
15
Antara takdir dan pilihan
16
Doa yang tak pernah jauh
17
Babak Baru, Hati yang masih sama
18
Saat hati mulai ragu
19
Antara Jawaban dan keputusan
20
Jalan Pulang Yang Tak Terduga
21
Di Antara Ragu dan Keyakinan
22
Pilihan Terakhir di Persimpangan Takdir
23
Jurnal Fathir Selama di Timur Tengah
24
Jurnal Fathir
25
Menyatukan Doa, Menguatkan Hati
26
Flasback Sebelum perpisahan
27
Dalam Penantian, Cinta Tetap Terjaga
28
Surat yang Tertunda
29
Di Bali Penantian, Ada Janji Yang Tersimpan
30
Penantian Yang mendewasakan
31
Di Persimpangan Takdir
32
Ujian Yang Semakin Nyata
33
Menjelang Kepulangan
34
Hati Yang Bimbang
35
Surat dari Fathir: Janji Yang Dijaga dalam Doa
36
Daffa's POV : Melepaskan dengan Ikhlas
37
Ketika Hati Menemukan Jalannya
38
Ujian Sebelum Halal
39
Keyakinan Yang Bertumbuh
40
Menjemput Keberkahan
41
Cahaya Yang kian dekat
42
Awal perjalanan baru
43
Pertemuan Yang dinanti
44
Langkah Menuju Kepastian
45
Melangkah dalam Ridho-NYA
46
Meniti Jalan Menuju Halal
47
Akad yang Menggetarkan Jiwa
48
Pagi pertama Sebagai Suami Istri
49
Bangun di Dunia yang baru
50
Tantangan Hari-hari Awal
51
Takdir Yang Mempertemukan
52
Saat Takdir Mulai Bekerja
53
Diskusi Di Rumah Fathir
54
Langkah Yang Semakin Jelas
55
Menyempurnakan Niat dalam Ikatan
56
Takdir Yang kembali mempertemukan
57
Cinta yang datang di Waktu Terbaik
58
Menyesuaikan Diri
59
Rumah Yang Penuh Cinta

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!