Doa yang masih tersimpan

"Ada doa-doa yang tak pernah terucap, tapi tetap tersimpan di antara sujud dan air mata."

 

Menemukan Ketenangan

Hari itu langit tampak cerah, tapi hati Arpa masih dipenuhi rasa yang tak menentu. Meski sudah berusaha ikhlas, ada bagian kecil dalam hatinya yang masih menyimpan harapan — harapan bahwa suatu hari, jalan mereka mungkin akan bersilangan lagi.

Arpa duduk di teras rumahnya sambil memandangi anak-anak mengaji di halaman. Suara bacaan Al-Qur’an mereka mengisi udara sore yang tenang. Di tangannya, ada sebuah buku catatan yang selama ini menjadi tempat ia menuliskan doa-doanya.

Saat membuka halaman pertama, matanya tertuju pada sebuah tulisan yang ia buat beberapa bulan lalu:

"Ya Allah, jika Fathir adalah takdirku, dekatkan kami dengan cara-Mu. Tapi jika bukan, tolong jaga hati ini agar tidak terluka terlalu dalam."

Arpa menghela napas panjang. Rasanya seperti membaca ulang luka yang perlahan mulai mengering.

Tiba-tiba, suara tawa anak-anak membuyarkan lamunannya. Dinda, salah satu muridnya, berlari ke arahnya sambil membawa bunga liar di tangan.

“Kak Arpa! Ini buat Kakak!” serunya ceria.

Arpa tersenyum dan menerima bunga itu. “Makasih, Dinda. Kamu baik banget.”

Dinda duduk di samping Arpa dan bertanya polos, “Kak, Kakak pernah sedih nggak?”

Arpa terdiam sejenak. “Pernah, kok. Tapi Kakak belajar kalau sedih itu nggak apa-apa. Yang penting, kita tahu caranya bangkit lagi.”

Dinda mengangguk pelan. “Aku juga pernah sedih waktu kucingku hilang. Tapi Umi bilang, Allah pasti kasih ganti yang lebih baik.”

Arpa tertawa kecil. “Umi kamu pinter banget. Kadang, Allah memang ngambil sesuatu dari kita buat kasih yang lebih baik.”

Percakapan singkat itu terasa sederhana, tapi entah kenapa membuat hati Ara sedikit lebih ringan.

 

Di Pondok Pesantren

Sementara itu, di pondok pesantren Al-Furqan, Fathir duduk di taman kecil, membaca buku tafsir. Hatinya lebih tenang dibandingkan sebelumnya. Ia mulai bisa menerima kenyataan bahwa tidak semua doa harus langsung terjawab.

Irwansyah datang sambil membawa dua gelas teh hangat.

“Bro, ini teh favorit lo. Biar hati lo makin adem,” godanya sambil menyerahkan satu gelas.

Fathir tertawa kecil. “Makasih, Yah. Lo emang paling ngerti.”

Irwansyah duduk di sampingnya. “Gimana? Udah lebih tenang?”

Fathir mengangguk. “Iya. Gue mulai belajar ngelepasin. Tapi… kadang gue masih suka mikir, apa kabarnya Arpa sekarang?”

Irwansyah tersenyum. “Wajar lah. Namanya juga perasaan. Tapi gue yakin, kalau lo udah ikhlas, rasa itu nggak akan nyakitin lagi.”

Fathir menatap langit biru di atasnya. “Gue masih mendoakan dia, kok. Nggak tahu kenapa, tapi doa itu udah jadi kebiasaan.”

Irwansyah menepuk pundaknya. “Itu artinya rasa lo tulus, bro. Mendoakan orang tanpa berharap apa-apa.”

Percakapan sederhana itu membuat Fathir merasa damai. Mungkin, memang begini cara Allah mengajarkan tentang cinta — lewat doa yang tak harus selalu berujung pada kepemilikan.

Refleksi Malam Itu

Di dua tempat berbeda, Arpa dan Fathir duduk dalam keheningan malam, merenungi perjalanan hati mereka.

Arpa berdoa dalam hati,

"Ya Allah, kalau memang dia bukan takdirku, izinkan aku tetap mendoakannya dengan tulus. Tapi jika dia adalah jalanku menuju-Mu, pertemukan kami di waktu yang terbaik."

Sementara Fathir melantunkan doa yang hampir serupa,

"Ya Allah, jagalah hatinya. Berikan dia kebahagiaan, meskipun itu bukan bersamaku."

 

“Cinta yang tulus bukan tentang memiliki, tapi tentang mendoakan dalam diam, meski tak ada jaminan untuk bersama.”

Episodes
1 Bintang hatiku
2 Sore hari
3 menjaga jarak, merawat rasa
4 Pengenalan karakter
5 Doa yang terselip diantara bintang
6 Antara Rindu dan Batasan
7 Hati yang tak pernah diam
8 Doa dan Harapan
9 Takdir dalam sebuah pertemuan
10 Mengikhlaskan yang Belum Pasti
11 Luka yang mengajarkan ikhlas
12 Doa yang masih tersimpan
13 Merawat hati dalam Doa
14 Pandangan yang tertahan, Doa yang terucap
15 Antara takdir dan pilihan
16 Doa yang tak pernah jauh
17 Babak Baru, Hati yang masih sama
18 Saat hati mulai ragu
19 Antara Jawaban dan keputusan
20 Jalan Pulang Yang Tak Terduga
21 Di Antara Ragu dan Keyakinan
22 Pilihan Terakhir di Persimpangan Takdir
23 Jurnal Fathir Selama di Timur Tengah
24 Jurnal Fathir
25 Menyatukan Doa, Menguatkan Hati
26 Flasback Sebelum perpisahan
27 Dalam Penantian, Cinta Tetap Terjaga
28 Surat yang Tertunda
29 Di Bali Penantian, Ada Janji Yang Tersimpan
30 Penantian Yang mendewasakan
31 Di Persimpangan Takdir
32 Ujian Yang Semakin Nyata
33 Menjelang Kepulangan
34 Hati Yang Bimbang
35 Surat dari Fathir: Janji Yang Dijaga dalam Doa
36 Daffa's POV : Melepaskan dengan Ikhlas
37 Ketika Hati Menemukan Jalannya
38 Ujian Sebelum Halal
39 Keyakinan Yang Bertumbuh
40 Menjemput Keberkahan
41 Cahaya Yang kian dekat
42 Awal perjalanan baru
43 Pertemuan Yang dinanti
44 Langkah Menuju Kepastian
45 Melangkah dalam Ridho-NYA
46 Meniti Jalan Menuju Halal
47 Akad yang Menggetarkan Jiwa
48 Pagi pertama Sebagai Suami Istri
49 Bangun di Dunia yang baru
50 Tantangan Hari-hari Awal
51 Takdir Yang Mempertemukan
52 Saat Takdir Mulai Bekerja
53 Diskusi Di Rumah Fathir
54 Langkah Yang Semakin Jelas
55 Menyempurnakan Niat dalam Ikatan
56 Takdir Yang kembali mempertemukan
57 Cinta yang datang di Waktu Terbaik
58 Menyesuaikan Diri
59 Rumah Yang Penuh Cinta
Episodes

Updated 59 Episodes

1
Bintang hatiku
2
Sore hari
3
menjaga jarak, merawat rasa
4
Pengenalan karakter
5
Doa yang terselip diantara bintang
6
Antara Rindu dan Batasan
7
Hati yang tak pernah diam
8
Doa dan Harapan
9
Takdir dalam sebuah pertemuan
10
Mengikhlaskan yang Belum Pasti
11
Luka yang mengajarkan ikhlas
12
Doa yang masih tersimpan
13
Merawat hati dalam Doa
14
Pandangan yang tertahan, Doa yang terucap
15
Antara takdir dan pilihan
16
Doa yang tak pernah jauh
17
Babak Baru, Hati yang masih sama
18
Saat hati mulai ragu
19
Antara Jawaban dan keputusan
20
Jalan Pulang Yang Tak Terduga
21
Di Antara Ragu dan Keyakinan
22
Pilihan Terakhir di Persimpangan Takdir
23
Jurnal Fathir Selama di Timur Tengah
24
Jurnal Fathir
25
Menyatukan Doa, Menguatkan Hati
26
Flasback Sebelum perpisahan
27
Dalam Penantian, Cinta Tetap Terjaga
28
Surat yang Tertunda
29
Di Bali Penantian, Ada Janji Yang Tersimpan
30
Penantian Yang mendewasakan
31
Di Persimpangan Takdir
32
Ujian Yang Semakin Nyata
33
Menjelang Kepulangan
34
Hati Yang Bimbang
35
Surat dari Fathir: Janji Yang Dijaga dalam Doa
36
Daffa's POV : Melepaskan dengan Ikhlas
37
Ketika Hati Menemukan Jalannya
38
Ujian Sebelum Halal
39
Keyakinan Yang Bertumbuh
40
Menjemput Keberkahan
41
Cahaya Yang kian dekat
42
Awal perjalanan baru
43
Pertemuan Yang dinanti
44
Langkah Menuju Kepastian
45
Melangkah dalam Ridho-NYA
46
Meniti Jalan Menuju Halal
47
Akad yang Menggetarkan Jiwa
48
Pagi pertama Sebagai Suami Istri
49
Bangun di Dunia yang baru
50
Tantangan Hari-hari Awal
51
Takdir Yang Mempertemukan
52
Saat Takdir Mulai Bekerja
53
Diskusi Di Rumah Fathir
54
Langkah Yang Semakin Jelas
55
Menyempurnakan Niat dalam Ikatan
56
Takdir Yang kembali mempertemukan
57
Cinta yang datang di Waktu Terbaik
58
Menyesuaikan Diri
59
Rumah Yang Penuh Cinta

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!