Saat hati mulai ragu

"Kadang, bukan waktu yang membuat kita lelah menunggu, tapi ketidakpastian yang perlahan mengikis harapan."

---

Kehidupan Baru, Luka Lama

Sudah hampir satu tahun sejak Fathir berangkat ke Timur Tengah dan Arpa memulai kuliahnya di Universitas Al-Hikmah. Hari-harinya semakin padat dengan kegiatan akademik, organisasi, dan komunitas dakwah kampus. Namun, meski terlihat sibuk di luar, hatinya masih sesekali dihantui oleh bayang-bayang masa lalu.

Arpa duduk di taman kampus, menatap layar laptop sambil mempersiapkan materi untuk presentasi. Namun, pikirannya melayang ke pesan singkat terakhir dari Fathir beberapa bulan lalu. Sejak saat itu, tak ada lagi kabar. Hanya doa-doa yang terus dipanjatkan dalam diam.

“Arpa!” panggil Salma dari kejauhan sambil melambaikan tangan.

Arpa tersenyum dan menutup laptopnya. “Salma! Duduk sini.”

Salma duduk di sebelahnya sambil membawa dua gelas jus. “Aku beliin kamu jus strawberry, favoritmu.”

“Wah, makasih! Pas banget lagi haus,” kata Arpa sambil mengambil gelas itu.

Salma menatap Arpa sejenak sebelum akhirnya bertanya, “Kamu lagi mikirin sesuatu, ya?”

Arpa terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk. “Iya, tentang Fathir.”

Salma menghela napas. “Masih suka kepikiran, ya?”

Arpa menunduk. “Iya. Aku kira setelah sibuk kuliah dan ikut kegiatan ini-itu, pikiranku akan lebih tenang. Tapi ada momen-momen kayak gini… di mana aku masih mikirin dia.”

Salma tersenyum lembut. “Arpa, nggak ada yang salah kok sama rasa itu. Tapi jangan biarkan perasaan itu menguasai hatimu. Kadang, kita perlu belajar untuk benar-benar melepaskan.”

Kata-kata Salma menusuk hati Arpa. Ia tahu sahabatnya benar, tapi melepaskan bukan hal yang mudah, terutama ketika perasaan itu sudah lama tertanam dalam.

----------------

Malam harinya, Arpa sedang mengerjakan tugas kuliah di kamar kosnya saat ponselnya berdering. Nama Rafa.kakak tingkat yang selama ini menjadi mentor dalam kegiatan dakwah kampus — muncul di layar.

“Assalamualaikum, Kak,” sapa Arpa setelah mengangkat telepon.

“Waalaikumsalam, Arpa. Maaf ganggu malam-malam. Aku cuma mau kasih kabar kalau besok ada acara kajian spesial di masjid kampus. Tema kajiannya tentang 'Menjaga Hati dalam Penantian'. Aku pikir kamu mungkin tertarik ikut.”

Arpa terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab, “InsyaAllah, Kak. Aku datang.”

Setelah telepon berakhir, Arpa merenung. Tema kajian itu seolah menjadi jawaban atas kebingungan yang selama ini menghantuinya.

---

Kajian yang Membuka Mata

Keesokan harinya, aula masjid kampus dipenuhi mahasiswa yang ingin mengikuti kajian. Arpa duduk di barisan tengah bersama Salma. Di depan, seorang ustadz muda memulai ceramah dengan ayat Al-Qur’an:

"Dan bersabarlah bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari dengan mengharap keridhaan-Nya, dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan dunia ini." (QS. Al-Kahfi: 28)

“Saudaraku sekalian,” sang ustadz memulai, “menunggu adalah ujian. Tapi yang lebih berat dari menunggu adalah menjaga hati saat penantian berlangsung.”

Arpa menyimak setiap kata dengan seksama, seolah ceramah itu ditujukan langsung kepadanya.

“Kadang kita terlalu fokus pada hasil akhirnya — apakah akan bersama atau tidak. Tapi kita lupa bahwa penantian itu sendiri adalah proses mendewasakan diri. Jangan biarkan penantian mengubahmu menjadi orang yang penuh keluh kesah. Jadikan penantian sebagai ladang pahala.”

Mata Arpa mulai berkaca-kaca. Ia menunduk, mencoba menahan air mata yang hendak jatuh.

“Dan ingat,” lanjut ustadz, “jika seseorang benar-benar ditakdirkan untukmu, maka jarak, waktu, dan keadaan bukanlah penghalang. Tapi jika tidak, sebanyak apapun usaha yang kau lakukan, tak akan pernah cukup.”

Kata-kata itu seolah menjadi pukulan telak bagi Arpa. Ia sadar, selama ini ia terlalu banyak berharap, terlalu sibuk menunggu, hingga lupa memperbaiki dirinya sepenuhnya.

---

Ragu yang Muncul di Hati

Setelah kajian selesai, Arpa duduk di taman kampus sambil memandangi kolam kecil yang ada di sana. Salma duduk di sampingnya tanpa berkata apa-apa, menunggu Arpa memulai percakapan.

“Aku jadi mikir, Salma…” kata Arpa pelan.

“Mikir apa?”

“Kalau ternyata selama ini aku bukan sedang menunggu Fathir… tapi malah menunggu luka yang nggak pernah sembuh.”

Salma terdiam sejenak sebelum menjawab, “Arpa, mungkin ini saatnya kamu benar-benar merelakan. Bukan buat Fathir, tapi buat diri kamu sendiri.”

Air mata Arpa jatuh tanpa bisa ditahan. Ia menyeka pipinya perlahan. “Iya, aku harus mulai belajar ikhlas. Aku nggak bisa terus kayak gini.”

---

Sebuah Pesan yang Membingungkan

Malam itu, saat Arpa baru saja menyelesaikan shalat Tahajjud, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari nomor asing masuk.

Pesan: “Assalamualaikum, Arpa. Aku nggak tahu harus mulai dari mana. Tapi aku Fathir. Maaf selama ini aku nggak pernah kabarin kamu lagi. Aku cuma… aku butuh waktu untuk memastikan banyak hal. Tapi sekarang aku di sini, dan aku harap kita bisa bicara.”

Arpa menatap layar ponsel dengan perasaan campur aduk — rindu, haru, dan kebingungan.

Ia menarik napas panjang lalu berbisik lirih, “Ya Allah, aku pasrahkan semuanya kepada-Mu.”

--------------------------------------------

“Kadang, ketika kita hampir menyerah, takdir memberi satu kesempatan lagi — bukan untuk kembali berharap, tapi untuk menguji seberapa kuat hati kita bertahan.

Episodes
1 Bintang hatiku
2 Sore hari
3 menjaga jarak, merawat rasa
4 Pengenalan karakter
5 Doa yang terselip diantara bintang
6 Antara Rindu dan Batasan
7 Hati yang tak pernah diam
8 Doa dan Harapan
9 Takdir dalam sebuah pertemuan
10 Mengikhlaskan yang Belum Pasti
11 Luka yang mengajarkan ikhlas
12 Doa yang masih tersimpan
13 Merawat hati dalam Doa
14 Pandangan yang tertahan, Doa yang terucap
15 Antara takdir dan pilihan
16 Doa yang tak pernah jauh
17 Babak Baru, Hati yang masih sama
18 Saat hati mulai ragu
19 Antara Jawaban dan keputusan
20 Jalan Pulang Yang Tak Terduga
21 Di Antara Ragu dan Keyakinan
22 Pilihan Terakhir di Persimpangan Takdir
23 Jurnal Fathir Selama di Timur Tengah
24 Jurnal Fathir
25 Menyatukan Doa, Menguatkan Hati
26 Flasback Sebelum perpisahan
27 Dalam Penantian, Cinta Tetap Terjaga
28 Surat yang Tertunda
29 Di Bali Penantian, Ada Janji Yang Tersimpan
30 Penantian Yang mendewasakan
31 Di Persimpangan Takdir
32 Ujian Yang Semakin Nyata
33 Menjelang Kepulangan
34 Hati Yang Bimbang
35 Surat dari Fathir: Janji Yang Dijaga dalam Doa
36 Daffa's POV : Melepaskan dengan Ikhlas
37 Ketika Hati Menemukan Jalannya
38 Ujian Sebelum Halal
39 Keyakinan Yang Bertumbuh
40 Menjemput Keberkahan
41 Cahaya Yang kian dekat
42 Awal perjalanan baru
43 Pertemuan Yang dinanti
44 Langkah Menuju Kepastian
45 Melangkah dalam Ridho-NYA
46 Meniti Jalan Menuju Halal
47 Akad yang Menggetarkan Jiwa
48 Pagi pertama Sebagai Suami Istri
49 Bangun di Dunia yang baru
50 Tantangan Hari-hari Awal
51 Takdir Yang Mempertemukan
52 Saat Takdir Mulai Bekerja
53 Diskusi Di Rumah Fathir
54 Langkah Yang Semakin Jelas
55 Menyempurnakan Niat dalam Ikatan
56 Takdir Yang kembali mempertemukan
57 Cinta yang datang di Waktu Terbaik
58 Menyesuaikan Diri
59 Rumah Yang Penuh Cinta
Episodes

Updated 59 Episodes

1
Bintang hatiku
2
Sore hari
3
menjaga jarak, merawat rasa
4
Pengenalan karakter
5
Doa yang terselip diantara bintang
6
Antara Rindu dan Batasan
7
Hati yang tak pernah diam
8
Doa dan Harapan
9
Takdir dalam sebuah pertemuan
10
Mengikhlaskan yang Belum Pasti
11
Luka yang mengajarkan ikhlas
12
Doa yang masih tersimpan
13
Merawat hati dalam Doa
14
Pandangan yang tertahan, Doa yang terucap
15
Antara takdir dan pilihan
16
Doa yang tak pernah jauh
17
Babak Baru, Hati yang masih sama
18
Saat hati mulai ragu
19
Antara Jawaban dan keputusan
20
Jalan Pulang Yang Tak Terduga
21
Di Antara Ragu dan Keyakinan
22
Pilihan Terakhir di Persimpangan Takdir
23
Jurnal Fathir Selama di Timur Tengah
24
Jurnal Fathir
25
Menyatukan Doa, Menguatkan Hati
26
Flasback Sebelum perpisahan
27
Dalam Penantian, Cinta Tetap Terjaga
28
Surat yang Tertunda
29
Di Bali Penantian, Ada Janji Yang Tersimpan
30
Penantian Yang mendewasakan
31
Di Persimpangan Takdir
32
Ujian Yang Semakin Nyata
33
Menjelang Kepulangan
34
Hati Yang Bimbang
35
Surat dari Fathir: Janji Yang Dijaga dalam Doa
36
Daffa's POV : Melepaskan dengan Ikhlas
37
Ketika Hati Menemukan Jalannya
38
Ujian Sebelum Halal
39
Keyakinan Yang Bertumbuh
40
Menjemput Keberkahan
41
Cahaya Yang kian dekat
42
Awal perjalanan baru
43
Pertemuan Yang dinanti
44
Langkah Menuju Kepastian
45
Melangkah dalam Ridho-NYA
46
Meniti Jalan Menuju Halal
47
Akad yang Menggetarkan Jiwa
48
Pagi pertama Sebagai Suami Istri
49
Bangun di Dunia yang baru
50
Tantangan Hari-hari Awal
51
Takdir Yang Mempertemukan
52
Saat Takdir Mulai Bekerja
53
Diskusi Di Rumah Fathir
54
Langkah Yang Semakin Jelas
55
Menyempurnakan Niat dalam Ikatan
56
Takdir Yang kembali mempertemukan
57
Cinta yang datang di Waktu Terbaik
58
Menyesuaikan Diri
59
Rumah Yang Penuh Cinta

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!