Luka yang mengajarkan ikhlas

"Kadang, orang-orang di sekitar kita adalah jembatan yang Allah kirimkan untuk membantu kita melewati luka dan menemukan makna ikhlas."

--------------------------------------------

Mengisi Kekosongan

Pagi itu, Arpani Zahra Ramadhani duduk di teras rumahnya dengan secangkir teh hangat. Hatinya masih terasa kosong sejak ia memutuskan untuk lebih ikhlas terhadap perasaannya kepada Fathir Alfarizi Mahendra. Meskipun keputusan itu membuatnya merasa lebih ringan, ada kekosongan yang belum sepenuhnya hilang.

Ponselnya bergetar, menandakan panggilan masuk. Nama Nayla Azzahra muncul di layar. Arpa langsung tersenyum kecil dan mengangkat panggilan itu.

“Assalamualaikum, Nay!” sapa Arpa ceria.

“Waalaikumsalam! Duh, akhirnya kamu angkat juga. Aku kangen banget ngobrol sama kamu!” jawab Nayla dengan suara ceria seperti biasa.

Arpa tertawa kecil. “Iya, maaf. Aku lagi banyak mikir belakangan ini.”

Nayla diam sejenak. “Mikirin Fathir lagi, ya?” tanyanya hati-hati.

Arpa terdiam, lalu mengangguk meski Nayla tak bisa melihatnya. “Iya. Tapi sekarang rasanya lebih lega. Aku udah coba merelakan.”

“Arpa, kamu kuat banget. Aku bangga sama kamu,” kata Nayla tulus. “Tapi kamu harus ingat, kamu nggak sendiri. Aku selalu ada buat kamu.”

Arpa merasa hangat di hatinya. Ia tahu, Nayla adalah salah satu orang yang Allah kirimkan untuk membantunya melewati masa sulit ini.

---------------------------------------------

Di Pondok Pesantren

Sementara itu, di pondok pesantren Al-Furqan, Fathir duduk di taman kecil dengan mushaf Al-Qur’an di tangannya. Namun, pandangannya kosong. Ia masih berjuang untuk benar-benar merelakan Arpa.

Irwansyah Pratama mendekat sambil membawa dua gelas teh hangat.

“Masih mikirin dia?” goda Irwansyah sambil menyerahkan segelas teh.

Fathir tersenyum tipis. “Sedikit. Tapi aku udah mulai belajar ikhlas.”

Irwansyah duduk di sampingnya. “Gue bangga sama lo, bro. Lo udah berjuang keras buat menjaga hati lo.”

Fathir menatap sahabatnya. “Yah, lo pernah ngerasa nggak? Meskipun lo udah berusaha ikhlas, tapi ada satu bagian di hati lo yang masih bertanya-tanya, ‘Gimana kalau dia benar-benar takdir gue?’”

Irwansyah tersenyum bijak. “Pernah. Tapi gue belajar satu hal — kalau memang dia takdir lo, lo nggak perlu khawatir. Allah pasti kasih jalan. Tapi kalau bukan, lo harus percaya kalau Allah punya rencana yang lebih baik.”

Fathir mengangguk, merasa sedikit lebih lega setelah mendengar kata-kata itu.

---------------------------------------

Percakapan yang Membuka Mata

Di sore hari, Arpa memutuskan untuk mengunjungi sahabat lamanya, Rafa Dimas Aditya, yang baru saja pulang dari luar kota. Rafa adalah sepupu yang selalu memberinya nasihat realistis.

“Arpa! Wah, udah lama banget kita nggak ketemu,” sapa Rafa dengan hangat saat membuka pintu rumahnya.

“Iya, Kak. Aku kangen banget!” jawab Arpa sambil tersenyum.

Mereka duduk di ruang tamu sambil menikmati teh hangat.

“Jadi, apa yang bikin kamu kelihatan lebih dewasa sekarang?” tanya Rafa sambil tertawa kecil.

Arpa tersenyum getir. “Aku lagi belajar ikhlas, Kak. Tentang seseorang…”

Rafa mengangguk pelan. “Fathir, ya?”

Arpa terkejut. “Kakak tahu?”

“Dari cara kamu cerita waktu dulu, aku udah bisa nebak. Tapi kamu tahu nggak, kadang kita harus ngelewatin luka dulu biar kita ngerti apa arti ikhlas sebenarnya,” kata Rafa bijak.

Arpa terdiam, merenungi kata-katanya.

“Kamu tahu, Arpa? Cinta itu bukan soal seberapa keras kamu menggenggam, tapi seberapa ikhlas kamu melepas kalau ternyata bukan untukmu,” lanjut Rafa.

Kata-kata itu membuat air mata Arpa mengalir. Ia merasa dikuatkan, seolah luka di hatinya mulai sembuh perlahan.

------------------------------------------

Langkah Kecil Menuju Ikhlas

Beberapa hari kemudian, Arpa memutuskan untuk kembali aktif mengajar mengaji anak-anak di lingkungannya. Ia menyadari bahwa terlalu lama tenggelam dalam perasaan sendiri justru membuat hatinya rapuh.

Saat sedang mengajar, seorang anak kecil bernama Dinda bertanya polos, “Kak Arpa, kenapa hari ini Kakak kelihatan bahagia?”

Arpa tersenyum hangat. “Karena Kakak sedang belajar ikhlas, Dinda.”

Dinda mengangguk polos. “Ikhlas itu apa, Kak?”

Arpa berpikir sejenak, lalu menjawab, “Ikhlas itu saat kita belajar menerima sesuatu meskipun itu nggak sesuai keinginan kita, tapi kita percaya Allah punya rencana yang lebih baik.”

Anak kecil itu tersenyum, meski mungkin belum sepenuhnya mengerti. Tapi bagi Arpa, itu adalah langkah kecil yang membawanya menuju ikhlas.

---

Refleksi Malam

Malam harinya, di dua tempat berbeda, Arpa dan Fathir menatap langit malam yang dipenuhi bintang.

Arpa berdoa dalam hatinya,

"Ya Allah, terima kasih karena telah mengajarkanku arti ikhlas. Jika dia bukan untukku, aku pasrahkan segalanya kepada-Mu."

Di pondok, Fathir menunduk dalam sujud panjang,

"Ya Allah, kuatkan hatiku untuk menerima takdir-Mu. Aku percaya, Engkau tahu yang terbaik untuk kami."

---

“Ikhlas bukan tentang melupakan, tapi tentang menerima bahwa tidak semua hal harus kita miliki"

Episodes
1 Bintang hatiku
2 Sore hari
3 menjaga jarak, merawat rasa
4 Pengenalan karakter
5 Doa yang terselip diantara bintang
6 Antara Rindu dan Batasan
7 Hati yang tak pernah diam
8 Doa dan Harapan
9 Takdir dalam sebuah pertemuan
10 Mengikhlaskan yang Belum Pasti
11 Luka yang mengajarkan ikhlas
12 Doa yang masih tersimpan
13 Merawat hati dalam Doa
14 Pandangan yang tertahan, Doa yang terucap
15 Antara takdir dan pilihan
16 Doa yang tak pernah jauh
17 Babak Baru, Hati yang masih sama
18 Saat hati mulai ragu
19 Antara Jawaban dan keputusan
20 Jalan Pulang Yang Tak Terduga
21 Di Antara Ragu dan Keyakinan
22 Pilihan Terakhir di Persimpangan Takdir
23 Jurnal Fathir Selama di Timur Tengah
24 Jurnal Fathir
25 Menyatukan Doa, Menguatkan Hati
26 Flasback Sebelum perpisahan
27 Dalam Penantian, Cinta Tetap Terjaga
28 Surat yang Tertunda
29 Di Bali Penantian, Ada Janji Yang Tersimpan
30 Penantian Yang mendewasakan
31 Di Persimpangan Takdir
32 Ujian Yang Semakin Nyata
33 Menjelang Kepulangan
34 Hati Yang Bimbang
35 Surat dari Fathir: Janji Yang Dijaga dalam Doa
36 Daffa's POV : Melepaskan dengan Ikhlas
37 Ketika Hati Menemukan Jalannya
38 Ujian Sebelum Halal
39 Keyakinan Yang Bertumbuh
40 Menjemput Keberkahan
41 Cahaya Yang kian dekat
42 Awal perjalanan baru
43 Pertemuan Yang dinanti
44 Langkah Menuju Kepastian
45 Melangkah dalam Ridho-NYA
46 Meniti Jalan Menuju Halal
47 Akad yang Menggetarkan Jiwa
48 Pagi pertama Sebagai Suami Istri
49 Bangun di Dunia yang baru
50 Tantangan Hari-hari Awal
51 Takdir Yang Mempertemukan
52 Saat Takdir Mulai Bekerja
53 Diskusi Di Rumah Fathir
54 Langkah Yang Semakin Jelas
55 Menyempurnakan Niat dalam Ikatan
56 Takdir Yang kembali mempertemukan
57 Cinta yang datang di Waktu Terbaik
58 Menyesuaikan Diri
59 Rumah Yang Penuh Cinta
Episodes

Updated 59 Episodes

1
Bintang hatiku
2
Sore hari
3
menjaga jarak, merawat rasa
4
Pengenalan karakter
5
Doa yang terselip diantara bintang
6
Antara Rindu dan Batasan
7
Hati yang tak pernah diam
8
Doa dan Harapan
9
Takdir dalam sebuah pertemuan
10
Mengikhlaskan yang Belum Pasti
11
Luka yang mengajarkan ikhlas
12
Doa yang masih tersimpan
13
Merawat hati dalam Doa
14
Pandangan yang tertahan, Doa yang terucap
15
Antara takdir dan pilihan
16
Doa yang tak pernah jauh
17
Babak Baru, Hati yang masih sama
18
Saat hati mulai ragu
19
Antara Jawaban dan keputusan
20
Jalan Pulang Yang Tak Terduga
21
Di Antara Ragu dan Keyakinan
22
Pilihan Terakhir di Persimpangan Takdir
23
Jurnal Fathir Selama di Timur Tengah
24
Jurnal Fathir
25
Menyatukan Doa, Menguatkan Hati
26
Flasback Sebelum perpisahan
27
Dalam Penantian, Cinta Tetap Terjaga
28
Surat yang Tertunda
29
Di Bali Penantian, Ada Janji Yang Tersimpan
30
Penantian Yang mendewasakan
31
Di Persimpangan Takdir
32
Ujian Yang Semakin Nyata
33
Menjelang Kepulangan
34
Hati Yang Bimbang
35
Surat dari Fathir: Janji Yang Dijaga dalam Doa
36
Daffa's POV : Melepaskan dengan Ikhlas
37
Ketika Hati Menemukan Jalannya
38
Ujian Sebelum Halal
39
Keyakinan Yang Bertumbuh
40
Menjemput Keberkahan
41
Cahaya Yang kian dekat
42
Awal perjalanan baru
43
Pertemuan Yang dinanti
44
Langkah Menuju Kepastian
45
Melangkah dalam Ridho-NYA
46
Meniti Jalan Menuju Halal
47
Akad yang Menggetarkan Jiwa
48
Pagi pertama Sebagai Suami Istri
49
Bangun di Dunia yang baru
50
Tantangan Hari-hari Awal
51
Takdir Yang Mempertemukan
52
Saat Takdir Mulai Bekerja
53
Diskusi Di Rumah Fathir
54
Langkah Yang Semakin Jelas
55
Menyempurnakan Niat dalam Ikatan
56
Takdir Yang kembali mempertemukan
57
Cinta yang datang di Waktu Terbaik
58
Menyesuaikan Diri
59
Rumah Yang Penuh Cinta

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!