Setelah menjaga jarang kepada nana, laura merasakan tidak enak hati kepada nana. Dan jaga jarak itu membuat ketiga gadis itu senang akan merusak persahabatan mereka berdua. Nana yang diperlakukan seperti itu merasa aneh. Karena setiap ia ingin mendekati laura, laura langsung beralasan yang sangat tidak masuk akal.
Dengan kepercayaan diri, nana saat ini sedang berlari menuju rooftop, dan sangat banyak murid murid yang berada disana. Nana yang baru datang ngos ngosan pun langsung menjadi perhatian orang. Saat nana menemukan laura yang sedang merana ia langsung berdiri dihadapan laura.
Laura yang mendapati nana dihadapannya terkejut. Dan ia tidak bisa kabur kemana mana. Saat ia ingin berdiri nana langsung melemparkan bingkisan yang sedari awal nana ingin berikan kepadanya. "KENAPA!?" teriak nana membuat laura terkejut termasuk yang masih menonton nana.
"KENAPA KAMU SELALU MENGHINDAR DARIKU LAURA?! APA KARENA TRIO IDIOT ITU? AKU SEDARI AWAL SAAT KAMU MENGHINDAR AKU INGIN MEMBERIMU ITU!"
"AKU INGIN MENGUCAPKAN SELAMAT ULANG TAHUN! Namun kenapa kamu menghindariku? Apa salahku laura? Kita ini sahabatan kan?" Tanya nana dengan frustasi membuat laura menatapnya dengan tangisan.
"Hikss.. Maafkan aku.. Aku hanya tidak ingin kamu kena imbas karnaku.. Hikss.. Aku tidak ingin kamu disakiti oleh mereka... Huwaaaa!!" Histeris laura membuat nana ikutan menangis. "Bodoh kamu.. Kenapa juga mereka dipeduliin? Kita ini sahabat yang tidak bisa dikalahkan oleh siapapun."
"Maafkan aku.. Dan terima kasih hadiahnya.. Hikss.."
"Berhentilah menangis bodoh. Hiks.." Ucap nana dan ia pun langsung menarik laura kedalam pelukannya. Suara tepuk tangan pun terdengar karena mereka yang mengerti arti dari persahabatan diantara kedua gadis itu. Keesokkannya, laura dan nana bergabung lagi berdua didalam kelas dengan tertawa riang. Dan itu dilihat oleh ketiga gadis yang dinamai oleh nana Trio Idiot.
"Wahh cit, sepertinya tidak terjadi apa apa oleh mereka." Ujar rena sembari menatap laura dan nana yang terlihat sangat bahagia. Membuat citra merasa terkalahkan oleh kedua gadis bodoh itu. Dan dia pun langsung mengumpat. "Sial."
👑👑👑
Laura sedang berada didepan kamar bryan lalu ia ketuk dan masuk kemudian ia mendekati bryan yang saat ini fokus dengan buku. "Ian.."
Panggil laura membuat ian menoleh kearahnya. "Oh laura ada apa?"
"Em, maukah kamu mengajariku matematik? Ada yang tidak ku mengerti."
"Baiklah kita belajar di bawah saja." Lalu laura langsung mengambil meja lipat dan mengarahkan ketempatnya dimana ian sudah siap dengan buku ditangannya. "Apa yang kamu tidak mengerti?" Tanya ian.
"Nomor ini."
Dan ian pun langsung mengajari laura dengan fokus seperti guru ke muridnya. Namun laura tiba tiba curhat sedikit terhadap ian. "Ian, aku ingin curhat padamu.. Sebenarnya aku pernah diajari oleh aksa, paman twins. Tapi kenapa rasanya berbeda? Saat didekatnya aku merasa grogi, dan gugup. Aku merasa jantungku berdebar cepat."
Ian yang mendengar curhatan itu langsung bertanya. "Lalu bagaimana denganku? Berdekatan denganku apa ada rasa?"
"Eh? Tidak.. Malah aku hanya merasa biasa saja.. Seperti aku ke yang lain." Jawab laura membuat ian berpikir suatu hal. Apa karena dia sudah masuk kedalam hatimu? Dan sekarang aku merasa kesal kenapa aku tidak menembak dirimu sebelum kedatangannya? "Apa yang kamu rasakan saat sedang bersamaku?"
"Aku hanya merasa, aku mempunyai abang sepertimu. Itu saja." Polos laura membuat ian mau tidak mau bertindak.
Dan saat inilah ian langsung mendorong laura kelantai dengan tangan kirinya mencekal tangan kanan laura. "Mengapa kamu sangat tidak peka?! Kamu harus tau.. Bahwa aku mencintaimu, laura." Lirihnya diakhir kata. Ian yang sedang menatap laura terkejut akan ekspresi laura.
Sedikit ia mendengar bahwa laura bergumam kesakitan akibat cekalan ditangannya. "Ian kau menyakitiku."
Gumaman itu langsung menyadarkan ian untuk melepaskan tangannya laura lalu ia bangkit dari atas laura kemudian ia langsung pergi keluar dari kamarnya ntah menuju kamar mandi. Sedangkan laura masih mematung dari lantai, sampai ando masuk kekamarnya dengan suara terkejut dan melihat laura yang tergeletak dilantai.
"Uwahhh! Laura kau sedang apa disana?" Tanya ando "Maaf ando, jika itu mengagetkanmu. Aku permisi." ucapnya sembari membereskan buku dan melipat mejanya kembali kepada tempatnya. Terus berjalan keluar kamar ian dan ando dan langsung masuk kedalam kamarnya.
👑👑👑
Paginya. Nana sudah kesiangan bangunnya dia pun terburu buru. Sarapan dengan cepat sembari melihat berita yang merumorkan bahwa aksa sedang berkencan dengan salah satu model diacara tersebut. "Ehhh??? Apa itu maksudnya?!" Pekiknya dipagi hari dan langsung diomeli oleh abang dan mamanya
"Cepatlah kau berangkat, bukankah sudah terlambat?"
"Tau kau, pagi pagi sudah teriak sendiri." Kesal abangnya. "Kalau begitu aku berangkatt." Pamit nana
Sesampai dikelas ia menyapa teman temannya dan ia melihat laura yang sudah dipenuhi dengan burung burung berkicau diatas kepalanya. Nana pun langsung bertanya pada teman sekelasnya bernama lili..
"Ada apa dengan laura?"
"Tidak tau, saat aku datang dia sudah berdiam ditempatnya." Nana pun langsung menghampiri laura dengan menyapanya. "Selamat pagi laura." Biasanya sapaannya langsung tejawab namun anehnya ini tidak dijawab sama sekali. Nana pun langsung menyubit hidung laura agar laura sesak nafas.
"Lhephasinn nhana.." Ucapnya tidak teratur. Nana pun menghela nafas dengan membantin akhirnya sadar.
"Kamu kenapa lau?" Penasaran nana. Laura pun hanya menoleh kearahnya dan menyengir tidak jelas. Nana pun langsung minta penjelasan saat istirahat.
👑👑👑
"Ehhh?!" Nana pun terkejut dengar penjelasan laura di tangga dekat rooftop. Karena hari ini pintu rooftop dikunci karena penjaganya tidak masuk. "Nana, aku harus bagaimana? Aku tidak pernah mendapatkan pernyataan seperti ini karena setiap cowo mendekatiku selalu ian yang mengusir mereka." Jelas laura.
'Jelas sekali, ian mencintai laura sejak kecil. Tapi apa yang membuatnya ragu? Ahh karena aksa sepertinya.' Pikirnya. "Lalu apa yang kau katakan setelah dirinya menyatakan cinta padamu?"
"Aku.. Aku bilang kepadanya bahwa ia menyakitiku. Pergelanganku sampai membiru saat ini karena cekalannya." Lirihnya.
'Ahh itu perkataan yang buruk. Namun menyatakan cinta saat mereka sedang belajar?mengagumkan.' Pikir nana lagi. "Lebih baik kau langsung meminta maaf, bagaimana setelah ujian ini. Kamu langsung meminta maaf dan menjawab pernyataannya. Ikuti kata hatimu laura." Jelas nana membuat laura sedikit lega.
👑👑👑
Sepulang sekolah seperti biasanya laura langsung menjemput twins dan mengantarnya pulang kerumah sembari menunggu aksa pulang. Tak lama suara aksa terdengar dan saat laura ingin menyambutnya aksa langsung menjatuhkan tubuhnya dilantai. "Eh? Aksa kau baik baik saja?" Khawatir laura membuat aksa menatapnya.
"Ah tidak apa apa, hanya kelelahan.. Apakah twins sudah tidur?"
"15 menit sebelum kamu pulang mereka sudah terlelap."
Kemudian aksa bangkit dan laura pun mengikutinya dengan mengambil tas kantor aksa dan mantel aksa. Aksa yang diperlakukan begitu merasa senang, seperti dirinya sudah menikah. Ahh memikirkan itu ia langsung berpikir beruntungnya yang menjadi suami laura kelak.
"Apa kamu ingin makan? Atau mandi dulu?" Tanya laura. "Aku sudah makan diluar, jadi lebih baik aku mandi saja."
"Baiklah kalau begitu aku taruh barangmu dikamarmu.. Dan aku ingin pamit pulang karena sudah telat." Sembari mengambil tas dan jaketnya lalu ia memakaikan sepatu. "Ah iya, terima kasih kerja samanya. Dan hati hati di jalan pulang." Ujar aksa saat laura sudah berada diluar pintu rumahnya.
Setelah sampai rumah. "Aku pulang." Ia masuk dan bertepatan dengan ian yang keluar dari ruangan mesin cuci.
"Ah ian.." Ucapan laura menggantung karena ian lebih dulu kabur masuk kekamarnya. Membuat dirinya tidak bisa berbicara empat mata. Dilain tempat, setelah masuk kamar.. Ando yang melihat wajah murung ian langsung bertanya tanya. Dan ian pun langsung terduduk didekat jendela dan membelakangi jendela seperti menyender.
Ia pun langsung menatapi tangan kirinya, ia masih mengingat bahwa tangan kirinya ini yang sudah menyakiti gadis itu. Betapa menyesalnya dia sekarang.. Sampai saat ini ia belum bisa menatap laura atau berbicara dengan gadis itu. Walau ia tau bahwa laura ingin berbicara dengannya.
👑👑👑
Ujian pun sudah selesai.. Dan ian masih saja murung, sahabatnya yang peka dengan wajah murungnya itu ingin bertanya langsung namun ia hanya bisa bertanya di dalam kepalanya saja. Sampai suara menyadarkan lamunan ian dengan menampakkan laura di arah belakangnya. "Ian!" Laura meneriaki namanya dengan tubuh yang lelah seperti habis lari marathon.
Lalu temannya satu lagi yang sangat konyol, itu langaung cinta pandangan pertama. Melihat laura dengan wajah manisnya tanpa make up alias natural. "Laura? Kenapa kesini?" Tanya ian. "Bolehkah kita berbicara sebentar? Ada yang ingin ku katakan padamu." Lalu teman pekanya ian langsung menarik teman konyolnya.
"Yasudah kalau begitu kita berdua duluan.. Ian lain kali saja kita kumpulnya." Ujarnya lalu pergi begitu saja.
Sebelum mereka pergi laura menunduk tanda maaf mengganggu acara mereka. Ian yang sedari tadi diam langsung mengajak laura untuk berjalan sedikit menjauhi area sekolahnya. "Ayo, sambil jalan saja."
"Oke." Saling terdiam membuat mereka enggan menoleh atau menatap. Sesampai jembatan penyebrangan laura langsung menahan lengan ian agar berhenti.
"Aku ingin menjawab pertanyaanmu.. Maaf ian aku sudah menyukai pria lain." Ah sudah kuduga. "Maaf karena aku hanya bisa menganggapmu sebagai abang atau keluarga."
Sepertinya lebih bagus seperti itu.
"Karena kau sudah kuanggap keluarga.. Aku mengerti sifatmu walaupun kamu galak atau ketus namun dibalik itu kamu sangat perhatian dan khawatir.. Dan maafkan aku karena sudah berbicara buruk seperti kemarin." Sesal laura membuat ia berani menatap ian. Ian yang mendengar penjelasan laura hanya bisa menghela nafas.
"Ya sudah.. Aku juga minta maaf karena sudah menyakitimu. Kalau begitu aku pamit untuk kerja."
"Ian!" Panggil laura membuat ian menghentikan langkahnya dan menoleh sedikit. "Terima kasih." Dengan senyuman di wajahnya, ian pun membalas senyumannya dengan manis. Yang selalu ia sembunyikan dari semua orang.
Setelah ian pergi jauh dari hadapan laura. Laura langsung menjatuhkan diri dan menangis tersedu sedu.. Karena ia merasakan bahwa tempat yang mereka berdua rasai sama. Ia mencintai aksa namun ia tidak tau aksa mencintainya atau tidak. Begitu pula ian yang mencintainya namun ia tidak mencintai ian.
Maafkan aku ian, dan terima kasih.
👑👑👑
---Bersambung---
Jangan lupa like dan mampir keceritaku yang lain.
Terima kasih.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments