“Sebenarnya ada apa ini? Jelaskan padaku!” desak Shena pada Leo yang berdiri di depannya.
Seorang pelayan datang dan mengetuk pintu. “Masuk!” teriak Leo.
Pelayan itu masuk dan membawa beberapa minuman. Salah satu minuman yang ada adalah minuman yang disukai Shena barusan. Saat melihat minuman itu, air liur Shena seakan menetes karena sejak tadi ia belum makan apa-apa.
“Ada lagi yang Tuan butuhkan?” tanya pelayan itu setelah meletakkan nampan berisi minuman yang kini menjadi minuman favorit Shena.
“Tidak, pergilah dan jangan biarkan siapapun masuk ke mari,” perintah Leo tanpa memandang pelayan itu. Ia hanya memerhatikan Shena yang sedang melihat minuman favoritnya berdiri tegak di atas meja.
“Baik, Tuan, saya permisi.” Pelayan itu membungkuk dan pergi meninggalkan Shena dan Leo berdua saja.
“Kamu ingin minum?” tanya Leo menawarkan minuman yang ia ambil dari atas meja. Shena yang sudah tidak tahan meletakkan gelas kosong yang ada di tangannya dan mengambil lagi minuman favoritnya lalu meneguknya dengan sekali teguk.
Setelah menghabiskan seluruh isi minumannya, Shena agak sedikit rileks, kemarahannya mereda. Ia bahkan bersikap lebih tenang dari biasanya.
“Mau tambah lagi?” tanya Leo lagi, ia melihat Shena sudah menghabiskan minumannya hanya dalam sekejap mata.
“Tidak usah, aku mengikutimu kemari bukan untuk minum-minum denganmu. Sekarang katakan, ada apa ini?” Shena sudah tidak sabar lagi menunggu penjelasan dari Leo.
Leo berjalan mendekat ke arah Shena, berdiri tegap lalu menatap wajah kekasihnya dengan tajam.
“Karena kamu sudah melihat Roy, maka aku akan langsung saja ke tujuan awalku mengajakmu ke mari. Aku ingin kita ... bertunangan hari ini,” jelas Leo yang tentu saja membuat Shena terkejut.
“Apa? Bertunangan?” Shena tertawa sinis. “Kamu sedang mengajakku bercanda? Ini tidak lucu tahu, kamu pikir aku cewek apaan? Kemarin jadian, hari ini tunangan, dan besok menikah, gitu? Aku bukan mainanmu! Jadi jangan coba-coba membuat lelucon bodoh seperti itu denganku!” Shena menatap tajam wajah Leo dengan marah.
Leo hanya tersenyum sinis membalas tatapan Shena.
“Aku sedang tidak bercanda, Sayang ... dan kamu bilang apa tadi, besok kita akan menikah, boleh juga ... aku setuju denganmu, jadi hari ini kita tunangan dulu, lalu besok kita akan menikah.” Leo manggut-manggut senang.
“Bukan begitu dodol! Kamu ini waras nggak sih? Bagaimana bisa kita melakukan hal yang tidak masuk akal seperti itu?” Shena ingin menangis saking marahnya.
“Siapa yang bilang pernikahan kita tidak masuk akal, aku bisa memaksamu jadi pacarku hanya dalam hitungan detik, tidak sulit bagiku untuk memaksamu bertunangan denganku bahkan menikah denganku kapanpun aku mau!”
Shena menghela nafas panjang, ia benar-benar tidak habis pikir dengan kampret yang bernama Leo ini.
“Kenapa kamu lakukan ini padaku? Apa salahku? Aku tidak pernah menyakitimu, bahkan mengenalmu pun aku juga tidak? Kenapa kamu terus saja merusak hidupku? Belum genap sehari jadi pacarmu saja aku sudah ingin mati bunuh diri, apalagi kamu memaksaku bertunangan denganmu hari ini? Kalau kamu dendam padaku, sebaiknya kamu bunuh saja aku? Daripada kamu menyiksaku seperti ini?” Shena terdengar putus asa karena Leo terus saja memaksanya melakukan hal-hal yang tidak pernah ia inginkan.
“Aku? Menyiksamu? Kapan? Aku bahkan menyelamatkanmu saat para preman itu mau mencelakaimu? Siksaan macam apa yang kamu maksud?” tanya Leo dengan nada tinggi.
Shena tidak bisa menjawab, ia sendiri juga membenarkan bahwa yang dilakukan Leo saat ini tidak bisa disebut penyiksaan.
“Aku jatuh cinta padamu Shena, dan aku ingin memilikimu seutuhnya, tapi reputasiku dimatamu sudah buruk. Kamu pasti menolakku jika aku memintamu menjadi pacarku secara baik-baik. Dan aku tidak suka dengan yang namanya penolakan. Kamu selalu menghindariku, bahkan kamu tidak pernah sekalipun melihatku. Sikapmu yang menganggapku seolah tidak ada, membuatku berpikir keras untuk merencanakan sebuah cara supaya kamu mau menerimaku tanpa syarat.” Leo mulai menjelaskan apa yang ia rasakan selama ini.
“Rencana? Apa maksudmu? Kamu sengaja menyandera semua teman-temanku supaya aku mau menerimamu?” Shena mulai emosi lagi jika mengingat peristiwa yang membuat dirinya terpaksa jadi pacar Leo.
“Tepat, tapi ... membuat mereka mau masuk ke dalam perangkapku tidaklah mudah, aku harus memutar otak supaya mereka semua terjebak dalam jebakanku melalui sahabatmu, Laura.”
Shena terkejut karena Leo menyebut nama sahabatnya. “Ada apa dengan Laura? Apa dia bersekongkol dengamu?” Shena sangat penasaran dengan maksud kata-kata Leo.
“Tidak, justru dia juga terjebak sama sepertimu dan teman-temanmu yang lain.” Leo sangat tenang menjawab semua pertanyaan Shena yang menggebu-gebu.
“Jangan bertele-tele lagi, jebakan apa yang sudah kamu siapkan untuk Laura?” Shena sudah berada di puncak kemarahannya. Gadis itu menatap marah pada Leo yang duduk rileks disebuah kursi sambil menikmati minumannya.
Dasar Leo brengsek, berani-beraninya dia menjebak Laura demi mencapai semua tujuannya.
“Sabar Sayang ... ceritanya sangat panjang dan kita masih punya banyak sekali waktu, kamu tahu? Aku juga bisa menghancurkan hidup Laura jika kamu macam-macam denganku,” ujar Leo dengan lembut tapi terdapat nada ancaman dalam ucapannya.
“Apa maksudmu sebenarnya? Kenapa kamu berputar-putar daritadi?” Shena semakin geram dengan Leo yang bertele-tele.
“Baiklah, jawab dulu ... kamu setuju kita bertunangan hari ini?” tanya Leo.
Shena menatap tak percaya wajah Leo, bisa-bisanya dia memaksa Shena bertunangan hari ini juga. “Kamu serius? Ini cuma lelucon, kan? Kamu cuma ingin bermain-main denganku.”
“Tidak, aku serius, semua ini sudah aku rencanakan jauh-jauh hari sebelum aku mendapatkanmu. Makanya jawab sekarang, atau kalau tidak, akan berakibat fatal pada seluruh teman-temanmu, terutama Laura!” ancam Leo.
Dasar brengsek! Kampret ini tidak ada bedanya dengan para penjahat tadi!
“Bagaimana kalau aku menolak?” tegas Shena.
“Kamu yakin?” Leo menatap Shena untuk mencari tahu apakah jawaban Shena itu sudah pasti apa belum.
“Aku sangat yakin.” Shena sudah tidak tahan lagi dengan intimidasi Leo. Dia ingin mengakhiri semuanya dengan Leo kalau bisa walaupun Shena sendiri tidak yakin.
“Baiklah, berarti aku akan menyuruh Roy untuk menghancurkan hidup Laura, akan aku suruh dia menghamili Laura dan meninggalkannya begitu saja, bagaimana? Menarik bukan? Atau setelah Laura melahirkan, akan aku culik bayinya lalu kubuang anaknya ke panti asuhan untuk meringankan beban Laura. Sepertinya itu kisah yang sangat mengharukan.” Kata-kata Leo langsung membuat Shena terbujur kaku.
Shena terperangah bahkan mulutnya sampai menganga mendengar kata-kata sadis yang keluar dari mulut bejat Leo. “Dasar ******** tengik kamu!” Shena menangis menahan amarahnya, ingin rasanya ia menggampar cowok yang ada di depannya ini. “Jadi selama ini, Roy hanya pura-pura mencintai Laura?” teriak Shena penuh emosi.
“Pintar,” jawab Leo dengan senyuman manis yang ia buat. Cowok itu berdiri dari tempat duduknya dan mendekati Shena yang sedang marah padanya. “Saat tahu Laura jatuh cinta pada Roy, aku meminta Roy menembak sahabatmu itu dan berpura-pura mencintainya sampai rencana penembakan untukmu dilakukan. Aku akui, akting Roy sangat luar biasa, dia playboy luar bisa dan lebih handal dariku.” Leo menundukkan wajahnya supaya bisa sejajar dengan wajah Shena. Gadis itu menangis karena marah, bahkan tangannya sampai mengepal saking emosinya.
“Apa? Roy? Playboy?” tanya Shena tidak percaya, “Kamu bohong, Roy yang aku tahu sangat sayang sama Laura, dia nggak mungkin mempermainkan Laura, kamu cuma gertak aku aja, kan?”
“Terserah, kamu mau percaya apa tidak, yang jelas keputusanmu saat ini menentukan bagaimana hidup Laura selanjutnya.” Leo kembali berdiri tegap, mengambil salah satu minuman, dan meneguknya sambil menikmati rasanya.
“Apa maksudmu?” nada suara Shena bergetar menahan amarah yang bergejolak.
“Jika kamu setuju kita bertunangan hari ini, maka Roy akan membahagiakan Laura selama yang kamu mau. Sebaliknya, jika kamu menolak pertunangan ini, detik ini juga akan aku buat hidup Laura menderita, dan kamu cuma bisa menyaksikannya dari sini. Setelah itu, aku akan melepaskanmu pergi dari sini setelah Laura benar-benar hancur.” Ancaman Leo terdengar serius dan bukan gertakan saja.
Deg ... Shena langsung terhuyung ke belakang beberapa langkah. Tubuhnya lemas mendengar ancaman Leo yang seperti buah simalakama. Hanya ada dua pilihan di sini. Mengorbankan dirinya sendiri demi kebahagaiaan Laura, atau mengorbankan kebahagiaan Laura demi Shena sendiri.
Shena tidak tahu harus bagaimana, ia tidak tahu harus memilih apa. Wajahnya tertunduk lesu, air matanya terus mengalir membasahi pipi.
“Semua pilihan tergantung padamu! Cepatlah, karena waktu kita tidak banyak.” Leo hanya menatap nanar gadis yang di cintainya.
Cuma dengan cara ini aku bisa memilikimu seutuhnya, Shena. Batin Leo.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 220 Episodes
Comments
siti yanti
huh mau nyumpahin Leo sayang dia ganteng tapi ikut sedih dan nyesek sama Shena
2023-12-24
0
Abinaya Albab
mpe bingung mo komen apa tty Leo
2023-09-20
0
Qaisaa Nazarudin
Ku bilang juga apa,Roy itu seorg playboy,Laura juga keliatan banget ngejar2 Roy kek gitu..
2023-05-30
0