"Ikut aku!" ucap cowok yang bernama Leo itu dengan pelan tapi tandas begitu lampu senter terarah padanya.
Setelah memastikan Shena mau mengikutinya, ia berbalik badan dan melangkah menaiki tangga tanpa menghiraukan raut ekspresi Shena yang dipenuhi dengan sejuta macam pertanyaan.
Anehnya, begitu Shena mengikuti Leo, semua lampu kembali menyala dan keadaan kembali menjadi terang. Namun, kondisinya tetap sama, sangat sepi dan tidak ada siapa-siapa, hanya ada mereka berdua.
Meski masih bingung dan tidak percaya dengan apa yang terjadi saat ini, Shena tidak punya pilihan lain, ia harus tetap mengikuti Leo yang entah membawanya ke mana.
Bagaimana caranya ia ada di sini? Pikir Shena.
Shena ingin mencari tahu ada apa di balik peristiwa aneh ini, dan hilangnya Laura yang secara tiba-tiba tanpa ia ketahui bagaimana caranya.
"Kenapa kamu ada di sini? Mana yang lainnya?" Shena mulai bertanya untuk mengurangi rasa penasarannya.
Leo tidak menjawab, Ia terus melangkah maju tanpa berbicara sepatah katapun. Ia juga tidak menoleh sedikitpun, pandangannya tetap lurus menatap anak tangga yang terus naik menuju lantai atas. Entah sekarang sudah sampai di lantai berapa.
Shena mengenal sangat siapa laki-laki ini. Dia adalah sahabatnya Roy yang terkenal playboy dan suka gonta ganti cewek. Karena itu, sebisa mungkin Shena menghindari cowok ini dan jangan sampai berurusan dengannya. Namun tidak disangka, sekarang ia malah terjebak dengannya, di gedung ini, hanya berdua.
Shena cuma bisa berharap semoga tidak ada hal buruk yang akan menimpanya mengingat saat ini ia sedang bersama dengan Leo, si buaya darat yang paling terkenal di kampus ini.
"Kita mau ke mana? Kamu lihat Laura, kan? Kamu tahu di mana dia, kan?" Shena masih saja penasaran.
Tetap tidak ada jawaban. Meski begitu, Shena terus mengajukan pertanyaan sampai Leo mau menjawabnya walaupun ia tahu kalau usahanya itu hanya akan sia-sia.
Shena baru bisa berhenti bertanya ketika Leo membuka sebuah pintu yang terbuat dari kaca. Begitu pintu tebal itu terbuka, udara dingin mulai menyerang tubuh Shena. Meski ia sudah memakai jaket tetap saja ia menggigil karena kedinginan. Setelah melewati pintu, barulah Shena sadar, ada di mana dia sekarang, mereka berdua ada di atap teras gedung paling atas, tepatnya di lantai tujuh.
"Ngapain kita ke sini?" Shena mulai bertanya lagi. Sebenarnya Shena merasa takjub karena atap gedung ini sangat menarik. Dari atas sini Shena bisa melihat bulan dan bintang-bintang yang bersinar terang. Namun, ia tidak bisa menikmati suasana ini karena Leo masih saja tidak mau bicara dengannya.
Leo masih juga belum menjawab. Ia berjalan lurus menuju pagar pembatas teras, berbalik badan lalu menatap Shena dengan tajam. Jarak keduanya hanya sekitar 5 meter saja.
Shena sendiri tidak mengerti dengan apa yang di lakukan Leo. Ia memandang sekeliling tempat itu dan betapa terkejutnya ia setelah melihat semua teman-teman sekelasnya berkumpul jadi satu di suatu tempat di pojok pinggir bibir lantai sebelah kanan.
Sekali lagi Shena memastikan penglihatannya dengan mengusap-usap matanya, berharap bahwa apa yang ia lihat hanyalah khayalannya saja, tapi kali ini ia benar-benar yakin, mereka semua adalah teman kuliah yang sekelas dengan Shena. Tidak hanya itu, yang ada di sana bukan hanya teman-teman sekelasnya saja, tetapi juga bersama orang lain yang wajah-wajah mereka juga tidak asing lagi bagi Shena. Mereka semua adalah anak-anak teknik, dan mereka semua menyandera teman sekelas Shena dengan mengikat tangan mereka menggunakan tali tambang manila, sedangkan mulut mereka di sumpal dengan kain. Mereka juga menyandera Laura.
Apa aku tidak salah lihat? Anak-anak teknik itu menyandera semua teman-temaku? gumam Shena dalam hati.
Apa yang ada dalam pikiran Shena memang benar. Anak-anak teknik itu menyandera semua teman-teman Shena yang satu kelas dengannya, tanpa ada satupun yang terlewat. Bahkan yang terlihat sedang sakit pun ikut tersandera juga.
"Apa yang kalian lakukan?" Shena hendak melangkah menghampiri teman-temannya, tapi langkahnya dihentikan oleh Leo.
"Berhenti,” cegah Leo. “Kalau kamu melangkah sedikit saja, maka teman-temanmu akan mati!" teriak Leo yang tetap bersandar di pagar pembatas gedung dengan santai. Seketika itu Shena menghentikan langkahnya dan mengurungkan niatnya untuk maju. Ia bergeser menghadap Leo dan menatap cowok itu dengan penuh kemarahan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
"Apa maksudnya ini?" Shena mencoba menahan emosi. Suaranya sampai bergetar saking marahnya.
"Maksudnya baik?" Leo menjawab kemarahan Shena dengan tenang dan masih saja santai seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
"Baik? Kamu bilang yang kamu lakukan ini, baik? Ini kriminalitas, tahu? Kamu gila, ya? Untuk apa kamu menyandera mereka?" bara api dari suara Shena terdengar menggelegar.
Shena tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang, tapi ia berusaha menerima kenyataan ini dengan kepala dingin, ia tidak ingin negatif thinking dulu sebelum ia tahu, apa maksud dan tujuan Leo melakukan semua ini.
"Gila? Mungkin juga." Leo melangkah mendekati Shena dengan cepat. "Dan itu semua gara-gara kamu," ujarnya tepat di depan wajah Shena.
"Aku? Kenapa denganku?" Shena berusaha bersikap tenang meski ia sendiri terkejut bahwa yang menyebabkan Leo menyandera teman-temannya ini adalah dirinya. Shena tidak mau bertindak gegabah, ia tahu benar, dalam situasi yang seperti ini, jika ia melakukan sedikit kesalahan maka teman-temannya bisa dalam bahaya besar, karena itu sebisa mungkin ia tidak boleh terbawa emosi. Shena berusaha meredam amarahnya sambil menghembuskan napas berat.
Aku tahu siapa Leopard, ia tidak akan pernah main-main. Menyandera, memaksa, bahkan membunuh juga mungkin bisa saja dilakukannya.
"Iya, semua yang aku lakukan ini gara-gara kamu. Kamu tahu, kenapa? Itu karena ... aku mau ... kamu ... jadi pacar aku! Se-ka-rang! Titik dan nggak pakek koma." Leo menjawab pertanyaan Shena dengan lantang.
Deg ... jantung Shena berdetak dengan kencang mendengar alasan Leo di balik aksi gilanya ini.
"Apa? Elo ... eh, kamu gila, apa? Kamu nggak lagi mabok, kan? Kamu melakukan ini cuma pengen aku jadi pacar kamu? Nggak salah? Ini nggak mungkin, elo ... eh kamu pasti cuma bercanda. Ini sama sekali nggak lucu." Kali ini Shena tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya lagi sampai nada bicaranya jadi tidak karuan. Begitu juga dengan teman-temannya yang sedang disandera.
“Iya, dan aku tidak mau jawaban ‘tidak’!” tandas Leo. Cowok itu terlihat sangat serius saat mengatakannya.
Ternyata, tujuan Leo menyandera semua teman-teman sekelasnya hanya untuk memaksa dirinya agar mau menjadi pacarnya. Benar-benar tidak bisa dipercaya.
"Kamu bener-bener gila atau apa, sih? Untuk apa kamu melakukan semua ini? Hanya supaya aku mau jadi cewek kamu? Kamu buta, ya? Kamu nggak liat banyak cewek-cewek di kampus ini yang jauh lebih pantes jadi pacar kamu? Kenapa kamu paksa aku dengan cara konyol seperti ini, ha? Pakai acara penyanderaan segala, asal kamu tahu, ya ... aku sama sekali nggak suka sama kamu. Dasar buaya darat yang nggak punya perasaan! " Shena tidak bisa lagi menahan emosinya. Ia terpaksa harus mengeluarkan kata-kata kasar seperti itu meskipun sebenarnya ia tidak terbiasa mengatakannya.
"Iya! Aku memang nggak punya perasaan! Mau tahu kenapa? Karena buaya darat ini pengen kamu yang jadi pacarku, bukan yang lainnya, dan kalau aku minta kamu baik-baik, kamu nggak akan pernah mau. Jadi, hanya ini satu-satunya cara supaya kamu mau jadi pacarku, karena kalau tidak, kamu tahu sendiri akibatnya." nada suara Leo terdengar seolah mengancam.
"Kamu ...." Shena ingin sekali mengumpat untuk melampiaskan emosinya. Tapi ia tidak bisa mengeluarkan kata-kata kasar seperti itu. "Ini pemaksaan tahu, dan ini juga pengancaman!"
"Pintar, kamu suka aku atau nggak, itu urusan belakang, yang terpenting sekarang adalah ... jawab secepatnya!” teriak Leo yang mengagetkan semua orang termasuk Shena juga. “Aku nggak mau semaleman ada di sini. Udara di sini dingin banget dan juga banyak dedemitnya. Kecuali kalau kamu ingin menyaksikan teman-temanmu loncat dari sini satu persatu untuk jadi teman mereka!" Leo menatap Shena dengan tajam dan menunggu jawaban dari gadis yang sudah berhasil merebut hatinya.
Shena masih terdiam. Air matanya mengalir menahan emosi. Ingin rasanya ia menghajar cowok yang ada di depannya ini, tapi ia tidak bisa melakukannya, sebab nyawa teman-temannya bisa melayang begitu saja.
Leo ini, selain terkenal playboy juga sangat berani dan nekat. Menolaknya, sama saja dengan bunuh diri.
“Apa kamu sadar dengan tindakan yang kamu lakukan ini? Kamu bisa di penjara atas tuduhan penculikan, pemaksaan dan juga pengancaman ... sadar nggak, sih?” teriak Shena sambil menangis saking marahnya.
"Sadar,” jelas Leo sambil masih terus menatap Shena. “Tapi aku nggak peduli, saat ini yang kamu cemaskan bukan aku, tapi teman-temanmu ini. Nyawanya ada di tangan kamu, gimana? Mau mulai pertunjukannya sekarang?"
Shena tetap bungkam. "Dasar curang, orang gila! Nggak waras!" gerutunya.
Leo sudah tidak sabar menunggu jawaban dari Shena. Ia hanya tersenyum kecut mendengar gerutuan gadis yang berdiri kaku di depannya. Ingin sekali Leo memeluk gadis itu dengan erat, namun hasrat itu ia tahan karena ada banyak sekali orang yang melihat mereka.
"Bran!" Leo memanggil salah satu temannya. "Bawa Laura!" Brandon menyeret Laura ke pinggir loteng. Gadis itu menjerit menolak dan berusaha berontak.
“Eh ... eh ... elo mau ngapain? Lepasin! Jangan pegang-pegang!” sumpalan mulut Laura terlepas sehingga ia bebas berteriak saat tubuhnya tiba-tiba di seret paksa oleh Brandon menuju bibir loteng. Sayangnya, gadis itu tidak bisa berbuat apa-apa karena kalah tenaga dengan Brandon yang berbadan gempal.
Satu hal yang membuat Laura bingung adalah tidak ada seorangpun yang bisa menolongnya, bahkan Shena dan teman-temannya yang lain juga tidak bisa berbuat apa-apa. Sekarang, hanya tinggal menunggu keputusan dari Shena saja.
Laura memberi isyarat kepada sahabatnya dengan menggelengkan kepala agar Shena tidak menuruti kemauan Leo dengan anggapan semua ini hanya sekedar ancaman belaka. Namun, Shena tidak bisa membaca isyaratnya.
Satu-satunya yang menjadi harapan Laura adalah Roy segera datang menolongnya. Namun, kekasihnya itu tidak terlihat di sini sejak dirinya di bawa ke mari.
Ada di mana Roy sekarang? Apa ia juga terlibat dalam kospirasi ini? Laura mencemaskan di mana Roy sekarang.
"Apa yang kamu lakukan?" Bentak Shena yang tidak terima melihat Laura di seret mendekati bibir lantai. Pandangan Shena memang terpusat pada Laura tetapi pikirannya tidak.
"Makanya kamu jawab sekarang!" Leo balas membentak. "Atau kamu bakal jadi saksi temen kamu sebagai tamu penghormatan pertama pertunjukan ini!"
“Tapi dia pacarnya, Roy! Temen kamu sendiri? Masa elo ... eh kamu tega sama dia?” Shena ingin sekali menjerit saat mengatakan itu.
“Aku nggak peduli! Mau dia pacar temen atau saudara, yang penting adalah apa yang aku inginkan terwujud bagaimanapun caranya.” Leo menatap tajam mata Shena.
Leo? Kau sungguh sudah tidak waras? Ada, ya? Manusia gila sepertimu? Dasar psikopat! jerit Shena dalam hati.
Shena menatap sekilas wajah-wajah sahabatnya yang ketakutan. Ingin rasanya ia menggampar cowok yang ada di depannya ini karena sudah menyakiti teman-temannya, tapi ia tidak bisa melakukannya. Tidak ada pilihan lain selain menuruti kemauan Leo.
Sudah tidak ada jalan lain lagi, juga sudah tidak ada waktu lagi. Shena mulai menyerah agar teman-temannya tidak terluka karena dirinya.
"Oke ... oke, lepasin dia, aku mau ... aku mau jadi cewek kamu, aku mau." Shena menunduk lesu dan pasrah.
Hatinya benar-benar sakit dan semakin benci melihat Leo. Ia tahu sudah tidak ada pilihan lain lagi baginya. teman-temannya jauh lebih penting dari apapun.
"Bagus. Mulai detik ini, kamu resmi jadi cewekku. Sampai di sini dulu, Sayang. Sampai ketemu lagi, oke! Dan saat kita ketemu nanti, kamu harus lebih siap dari ini." Leo mengecup kening Shena yang membuat gadis itu bergidik mundur darinya.
Leo hanya tersenyum sinis melihat aksi cewek barunya itu, ia lalu memberi syarat pada Brandon dan pasukannya untuk melepaskan Laura dan teman-temannya. Setelah itu, Leo dan komplotannya, meninggalkan tempat ini tanpa bicara apa-apa.
“It’s oke kalau kamu bersikap kasar seperti ini. Aku paham, tapi lain kali ... tidak ada toleransi!” bisik Leo di telinga Shena.
****
Visual ada di episode 66 ...
mohon dukungan untuk like, rate bintang 5, vote dan komentarnya ya ... trimakasih🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 220 Episodes
Comments
yeonjunlope
hahaa harus bgt nyandra gitu 🤣
2024-01-24
0
Qaisaa Nazarudin
Kalo gitu Shena kamu kasih aja syarat ke Leo,Kalo dia mau kamu jd pacarnya dia gak boleh pacaran sama cewek mana pun,gak holeh ada hubungan apapun,Gimana,liat aja dia setuju apa gak,secara dia kan playboy,mana bisa dia hidup dgn satu cewek,,
2023-05-30
0
Qaisaa Nazarudin
Harusnya kamu turun aja,ngapain bego ngikutin dia..kalo diapa apaiin siapa yg nolongin kamu,udah tempatnya sepi lagi ck🤦🏻♀️🤦🏻♀️
2023-05-30
0