Leo menjauh dari Shena untuk menerima panggilan telepon. Shena menggunakan kesempatan itu untuk melarikan diri ke tengah kerumunan orang yang berlalu lalang saat Leo yang sedang sibuk berbicara di telepon. Gadis itu berlari sekencang-kencangnya menjauh dari Leo meski ia sendiri tidak tahu ke mana ia akan bersembunyi.
“Hadeuhh ... akhirnya aku bisa bernapas lega sekarang. Dasar Leo gila, dia pikir dia itu siapa? Ngapain juga ngajakin aku ke tempat seperti ini? pakek acara bolos kuliah segala lagi.” Nafas Shena tersengal-sengal karena kebanyakan berlari. Setelah dirasa aman, ia berdiri di samping kedai yang menjual berbagai macam mainan. Gadis itu celingak celinguk memeriksa apakah Leo mengejarnya atau tidak.
“Kayaknya udah aman nih, sekarang tinggal mencari jalan ke luar dari sini,” gumam Shena.
Ia berjalan lurus ke depan tanpa tahu tempat apa yang akan ia tuju. Shena terus berjalan dan berjalan, dan tanpa ia sadari ia telah masuk ke sebuah pemukiman. Jalanan yang tadinya ramai mendadak berubah menjadi sepi. Sebenarnya Shena merasa ada yang aneh dengan tempat ini, tapi karena ia tidak tahu menahu seluk beluk daerah di sini, maka ia memutuskan untuk melanjutkan saja perjalanannya.
Tujuan Shena hanya satu, yaitu menemukan jalan utama dan mencari alat transportasi baik gojek atau angkot yang bisa membawanya pulang kembali ke kosannya. Sayangnya sudah satu jam lebih ia berjalan tapi tidak juga menemukan jalan umum. Sepertinya Shena tersesat masuk ke sebuah perkampungan yang lumayan kumuh. Tidak banyak penduduk di area ini, dan lingkungannya sangatlah sepi untuk ukuran sebuah kampung.
“Ini kampung apa kuburan, sih? Sepi amat.” Shena memerhatikan sekeliling rumah yang ia lewati. Rata-rata rumah di sini tak terurus dan berantakan. Sampah juga berserakan di mana-mana.
Tiba-tiba saja dari kejauhan, ia dihadang oleh seseorang yang berbadan gempal, berwajah sangar dan berkumis tebal. Orang yang berpenampilan layaknya preman itu semakin mendekat ke arah Shena. Gadis itu agak panik, ia memutuskan untuk berbalik arah menjauhi orang yang mencurigakan itu. Namun, Shena sedang sial karena dari belakang, ia juga dihadang oleh orang yang perpenampilan tidak kalah sangar dari sebelumnya. Seluruh badan orang itu malah dipenuhi dengan tato dan tindikan di mana-mana.
Kepanikan Shena semakin bertambah ketika di samping kanan dan kirinya banyak berdatangan preman yang berwajah menyeramkan mulai mengepung Shena. Gadis itu tidak bisa berkutik. Dia kebingungan karena tidak ada lagi celah untuk melarikan diri.
“Sial, aku terjebak.” Shena berusaha mengingat ilmu bela diri yang pernah ia pelajari semasa sekolah di SMA dulu. Ia memasang kuda-kuda dan bersiap-siap untuk menghadapi para preman kampung itu bila mereka memang berniat menyerang Shena.
Dugaan Shena benar, perlahan tapi pasti para preman itu mulai berlari mendekat ke arah Shena dan menyerang gadis itu. Shena memutar tubuhnya untuk memprediksi siapakah diantara mereka yang sampai padanya lebih dulu.
Begitu preman pertama yang ia lihat datang mendekat, Shena langsung melakukan jurus rahasianya, yaitu menendang alat vital si preman dan langsung tepat mengenai sasaran. Tendangan Shena mampu membuat preman itu langsung berteriak kesakitan karena pedang berharganya yang tidur nyenyak di tendang dengan kuat oleh Shena.
“Arrrgghhhh ...” teriak preman itu sambil memegangi pedangnya. Preman itu tersungkur karena kesakitan. Semua preman yang ada di situ pun berhenti bergerak menyaksikan temannya merintih-rintih. Suara teriakannya juga terdengar menggelegar memekikkan telinga.
Tidak terima temannya tumbang dengan cara seperti itu, para preman yang lain langsung menyerang Shena bersamaan. Shena pun juga bersiap-siap lagi dan berhasil menjegal salah satu preman dengan kakinya. Gadis itu langsung berguling ke samping untuk menghindari serangan preman yang lainnya. Ternyata, jumlah preman-preman itu jauh lebih banyak dari prediksi Shena. Tanpa di duga, dari belakang ada preman lain yang tiba-tiba mengangkat tubuh Shena dan memiting kedua pergelangan tangan Shena sehingga gadis itu meringis kesakitan. Ia terkunci dan tidak bisa bergerak.
Begitu preman lain berusaha menyerangnya ia melompatkan kedua kakinya sehingga menghantam dada preman itu dengan kuat dan bersalto ria ke belakang sambil membenturkan kepalanya pada kepala preman yang memiting kedua tangannya sehingga preman itu jatuh terjerembab dan tangan Shena terlepas.
Gadis itu langsung berlari mencari perlindungan dari banyaknya preman yang mengepungnya. Ia melemparkan segala macam benda seperti tongkat, tumpukan kardus dan benda-benda kasar lainnya yang ia temukan berserakan pada preman-preman yang berusaha menangkapnya.
“Ke sini kau! Jangan lari!” teriak salah satu preman itu.
Shena tidak menggubris teriakan preman yang ada dibelakangnya. Ia fokus berlari dan mencari jalan ke luar supaya bisa mencari bantuan.
Ketua preman mendadak berhenti di di sebuah perempatan jalan, ia membagi komplotannya menjadi dua tim, satu berlari ke arah kiri, satunya lagi berlari ke arah kanan, sedangkan ia dan beberapa anggotanya berlari lurus ke depan mengejar Shena.
Di perempatan berikutnya, lagi-lagi Shena terkepung. Sudah tidak ada jalan keluar lagi bagi Shena. Kampung ini memang tidak berpenghuni, makanya tempat ini dijadikan sarang penjahat seperti kelompok preman-preman ini.
“Gawat, aku terkepung lagi, kenapa aku bisa sesial ini, sih?” gumam Shena dengan Kesal. Sebenarnya ia sangat takut dan panik. Ingin sekali ia berteriak minta tolong, tapi tidak akan ada yang bisa menolongnya karena tempat ini tidak ada penghuninya.
Karena Leo tadi menculiknya, Shena jadi lupa tidak membawa ponsel. Gaunnya yang ribet membuat Shena tidak bisa bebas bergerak padahal ia sudah membuang jauh-jauh high heels yang ia pakai tadi saat berlari meninggalkan Leo.
“Mau lari ke mana, lagi kau, ha?” teriak salah satu preman dengan geram.
Shena menoleh ke segala arah mengamati preman-preman yang bersiap-siap menyerangnya. Kali ini Shena harus lebih serius lagi menghadapi mereka. Ia sangat berharap ada seseorang yang datang menolongnya, karena Shena sudah sangat terdesak.
“Jangan buang-buang waktu! Cepat tangkap gadis itu! dan bawa dia kemari!” perintah ketua preman yang langsung dituruti oleh seluruh anak buahnya untuk menyerang Shena.
Shena berjongkok mengambil segenggam pasir yang ada di bawah kakinya dan melemparkannya ke segala arah ketika para preman itu mendekatinya. Alhasil mata beberapa preman yang sampai lebih dulu mengalami kelilipan akibat pasir yang dilemparkan oleh Shena. Kesempatan itu ia gunakan untuk memukul wajah dan kepala beberapa preman itu sehingga mereka jatuh bersamaan.
Sementara preman-preman yang lainnya tidak gentar dan tetap maju menyerang Shena. Gadis itu berusaha melawan beberapa preman itu tapi ia kalah jumlah. Taktik sama yang ia gunakan tidak mempan karena para preman itu bisa menghindar dari hantaman pasir yang Shena tebarkan.
Dengan sigap salah satu preman menangkap tangan Shena dan memiting tangan gadis itu ke belakang punggung Shena. Namun, Shena masih belum menyerah, dia mencoba memukul dengan tangan yang satunya tapi lagi-lagi gagal. Tangan itupun juga tertangkap dan langsung dipiting juga ke belakang.
Akhirnya Shena berhasil tertangkap dengan kedua tangannya dipiting sehingga gadis itu meringis kesakitan. Preman iu memaksa maju membawa Shena ke hadapan ketua preman yang menyaksikan aksi laga Shena dan anak buahnya.
“Lepaskan aku! Siapa kalian? Kenapa kalian menyerangku?” teriak Shena meronta-ronta berusaha melepaskan diri.
****
jangan lupa komen, vote dan like nya ya ...😄😄😄
happy reading ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 220 Episodes
Comments
Mara
Anak buah nya Leo bukan 🤔
2023-04-23
0
🍾⃝ͩ sᷞuͧ ᴄᷠIͣ Hiatus🕊️⃝ᥴͨᏼᷛ
keren untung punya keahlian bela diri yaa shena,,.
jan jan org suruhan ny leo lg itu mereka yaak,,
2023-01-02
1
Erni Fitriana
ini yg bikin shwna semakin digila gilai leo....cewek super👍🏾👍🏾👍🏾👍🏾
2022-11-02
0