Bertemu

Malam hari itu, seperti biasa Ellia dan paman Yunus tengah menikmati makan malam bersama sambil berbagi cerita. Di situlah Ellia juga menceritakan bagaimana hari-harinya, apa saja yang ia pelajari di sekolah hari itu, juga teman-teman Ellia.

"Paman ... Ehm, kira-kira memungkinkan tidak ya? Kalau ada temen Ellia yang main ke rumah ini?" Tanya Ellia mencoba bertanya.

"Kenapa memangnya? Ada temanmu yang ingin bermain ke rumah?" Tanya paman Yunus cukup terkejut. Karena memang belum pernah ada situasi seperti itu.

"Ehm, yah ... Ada beberapa."

"Paman tidak tau Ellia. Memang belum ada situasi seperti ini. Nanti paman coba tanyakan dulu ke kepala pelayan ya ... Maaf ya Ellia, kamu tau sendiri kalau rumah ini bukan rumah paman sendiri." Ucap Paman Yunus sedikit merasa bersalah.

"Tidak paman! Gak papa kok kalau memang tidak bisa. Temen-temen Ellia juga pasti mengerti." Sanggah Ellia cepat. Ia tak mau membuat pamannya merasa sedih. Sudah cukup banyak hal yang diberikan paman Yunus padanya. Ia tak ingin merepotkannya lagi.

"Nanti kalo sudah ada keputusan dari kepala pelayan dan tuan rumah, paman akan memberitahumu." Ucap paman Yunus penuh kasih sayang. Ia menepuk-nepuk kepala Ellia dengan lembut. Elliapun menjawab dengan anggukan dan senyum manis.

...

Akhir pekan itu, setelah sedikit membantu paman Yunus di rumah. Ellia segera pergi untuk menjelajah hutan kediaman Adhitama. Hobi ini baru ia lakukan beberapa hari terakhir. Walaupun judulnya menjelajah hutan, Ia tak begitu takut. Karena ini bukan hutan asli, walaupun memang cukup luas, namun jalan setapak di sana yang sering di lalui membuat Ellia tak pernah tersesat. Kalaupun, ia menemui jalan yang kurang meyakinkan, Ellia akan mengikat kain di pepohonan sebagai tanda agar ia tak tersesat.

Ellia paling suka bermain di sekitaran sungai kecil di belakang kediaman Adhitama. Sungai itulah yang menjadi batas tanah milik Adhitama. Airnya jernih, bahkan terlihat beberapa ikan di sana. Terkadang Ellia akan mencari jamur-jamur liar yang bisa di makan, termasuk buah-buahan juga.

"Paman hari ini aku akan berjalan-jalan di hutan lagi yaa." Pamit Ellia dengan membawa keranjang dan peralatan lainnya yang ia butuhkan.

"Baiklah. Hati-hati jangan terlalu jauh dan jangan sampai tersesat." Seru Yunus mengingatkan.

"Iya paman." Jawab Ellia. Kemudian ia segera berlalu meninggalkan rumah.

Cuaca hari itu sangat sempurna untuk melakukan penjelajahan. Ellia berjalan santai menyusuri hutan. Di sepanjang jalan terdengar suara burung-burung yang saling bersahutan. Angin sepoi-sepoi menggerakkan dedaunan dan rambut panjangnya yang tergerai.

Suasana itu membuat hati Ellia merasa tenang dan nyaman. Sejenak rasanya ia bisa melupakan semua permasalahan yang pernah ia alami. Tak jarang kadang ia masih merindukan orang tuanya. Atau bertanya-tanya bagaimana kabar bibi Dea setelah kepergiannya. Namun, untuk saat ini Ellia masih belum punya kekuatan untuk kembali. Ia hanya bisa mendo'akan yang terbaik saja untuk bibinya.

Tak mau bersedih, Ellia segera memulai aksi berburunya. Ia menemukan beberapa jamur hutan liar yang aman di makan. Ia segera mengambil jamur-jamur itu dengan riang. Kemudian ia juga menemukan rumpunan buah blueberry liar yang sedang berbuah banyak. Ellia merasa senang dan segera memetik buah-buah itu. Sesekali ia mencicipi buahnya. Rasa manis dan segar langsung masuk ke dalam kerongkongannya. Membuta Ellia tersenyum senang.

Setelah ia rasa cukup, Ellia melanjutkan perjalanan ke sungai. Di sana ia membasuh wajahnya, kemudian merendam kakinya di dalam air untuk menyegarkan diri. Cukup lama waktu berlalu. Sampai Ellia memutuskan untuk kembali.

Saat mau kembali, pandangannya tak sengaja melihat sebuah rumah kayu lain di kejauhan. Karena penasaran Ellia mendekati rumah itu. Ketika jarak semakin dekat, baru ia sadari kalau ternyata rumah itu adalah rumah pohon yang cukup besar dan bagus.

Ellia meletakkan keranjang berisi jamur dan blueberrynya tadi di bawah tangga. Dan ia pun menaiki anak tangga untuk melihat rumah pohon itu dari dekat.

Pintu rumah pohon itu tertutup dan Ellia tak berani masuk. Ia mencoba mengintip suasana di dalam ruangan melalui jendela yang ditutupi kain tipis. Ia bisa melihat di dalam rumah pohon itu cukup luas. Hanya ada satu ruangan dengan beberapa perabot sederhana di sana. Seperti tempat tidur, meja dan kursi serta sudah dilengkapi oleh lampu.

"Pasti rumah ini milik tuan rumah kalau ingin bersantai." Gumam Ellia mengagumi rumah pohon itu. Tanpa ia sadari, sedari tadi ia sudah diamati oleh pria muda di belakangnya.

"Siapa kamu?" Tanya Gavin yang sudah berdiri di bawah anak tangga. Ellia terkesiap dengan suara rendah dan berat itu.

Ia segera menoleh ke belakang dan melihat ada seorang pemuda dengan setelan kemeja putih. Rambutnya hitam bergerak-gerak terkena angin. Pupil matanya bewarna coklat, ketika terkena sinar matahari mata itu terlihat berkilau. Namun, ia bisa melihat sorot mata pemuda itu sangat tajam, sampai membuat Ellia sedikit bergetar.

...

Akhir pekan itu, Gavin yang tidak ada agenda memutuskan untuk berjalan-jalan di hutan kediamannya. Hal yang biasa ia lakukan jika sedang senggang. Ia berniat menuju ke rumah pohonnya untuk bersantai dan menghabiskan waktu.

Namun, setibanya ia di sana. Ia mengernyitkan alisnya saat melihat seorang gadis muda sedang berjinjit-jinjit berusaha mengintip ke dalam rumah pohonnya dari jendela. Rambut hitam panjang gadis itu yang terurai sedikit bergoyang tertiup angin. Ia pun segera memanggil gadis itu.

"Siapa kamu?" Tanya Gavin sekali lagi saat melihat Ellia tak menjawab dan mematung manatapnya. Perlahan ia menaiki tangga dan berjalan menuju Ellia. Bisa ia lihat gadis itu kebingungan setengah ketakutan melihatnya mendekat. Tanpa sadar sudut bibirnya terangkat melihat itu.

"Apakah kamu pencuri?" Tanya Gavin setelah tepat berada di depan Ellia. Ia melihat penampilan gadis itu yang cukup sederhana. Dress lusuh bewarna coklat serta sepatu usang dengan warna senada menghiasi tubuh mungil gadis itu.

"Bukan! Saya bukan pencuri tuan." Seru Ellia menyanggah tuduhan itu. Ia mendongak menatap pemuda di depannya. Di sana Gavin bisa melihat mata gadis itu. Hitam gelap, seperti langit malam.

"Lalu siapa kamu? Aku merasa tak pernah punya pelayan sepertimu. Lalu, sikapmu yang baru saja mengintip rumah pohon rahasiaku sangat mencurigakan." Ucap Gavin tajam.

Ellia sudah bisa menebak siapa pemuda yang ada di depannya ini, dari awal kali ia melihatnya. Ia tak lain adalah tuan muda Gavin yang sering ia dengar. Ellia tak menyangka pertemuan pertamanya akan ada disituasi ini. Ia takut akan menjawab salah dan tak disukai oleh Gavin.

"Maafkan saya tuan. Saya Ellia Naresha, putri yang diadopsi oleh paman Yunus, tukang kebun anda. Saya tak berniat buruk tuan. Tadi saya hanya berkeliling hutan dan tak sengaja melihat rumah pohon ini. Saya penasaran dan hanya melihat sebentar saja tuan." Ucap Ellia berusaha menjelaskan. Ia cukup ketakutan dan tanpa sadar mencengkram rok bajunya.

Gavin tak menjawab dan hanya mengamati Ellia. Ellia yang ditatap begitu tajam semakin tak nyaman dan ketakutan.

"Saya tidak akan mengganggu anda lagi tuan. Saya akan pergi. Permisi." Seru Ellia, lalu ia segera membungkuk dan berlari menuruni tangga. Tak lupa ia bawa keranjangnya tadi dan akan berlari.

"Kemari." Satu kata dari Gavin kembali menghentikan langkahnya. Ellia memejamkan matanya sekilas, sebelum berbalik menatap Gavin lagi.

"Aku tak pernah menyuruhmu pergi. Kemari dan bawa itu juga ke sini." Seru Gavin sambil menunjuk keranjang di tangan Ellia. Kemudian, Gavin berbalik dan membuka pintu rumah pohon itu.

Ellia melihat semua itu dan bingung apa yang harus ia lakukan. Lalu perkataan paman Yunus kembali terngiang di benaknya. Untuk tidak membantah perintah tuan muda si sempurna itu. Akhirnya, dengan langkah lesu Ellia kembali menaiki tangga mengikuti Gavin.

Apa yang akan terjadi padaku?

.

.

.

Bersambung ...

Terpopuler

Comments

irie kun 🖤

irie kun 🖤

akhirnya ketemu lagi Gavin dan Ellia

2025-02-06

1

lihat semua
Episodes
1 Anak-Anak yang Malang
2 Kabur
3 Pahlawan Berseragam
4 Akankah Diusir Lagi?
5 Paman Yunus
6 Orang-Orang Baik
7 Keluarga Adhitama
8 Si Narsis
9 Teman
10 Bertemu
11 Tuan Sempurna
12 Dunia yang Berbeda
13 Kukang
14 Bertolak Belakang
15 Upik Abu
16 Berpisah
17 Desiran Aneh
18 Rencana Ares
19 Pesona Pria Matang
20 Dia Kembali
21 Hukuman Apa?
22 Kencan Buta
23 Gadis yang Berpengaruh
24 Perubahan yang Akan Datang
25 Dorongan Aneh
26 Sudah Diputuskan
27 Aturan Tuan Muda
28 Bukan Milik Anda
29 Tekad Ares
30 Menjelajah Hutan
31 Kamu Membuatku Gila!
32 Dorongan Impulsif
33 Kepanikan Paman Yunus
34 Bibit Obsesi
35 Menghindar
36 Undangan Pesta
37 Peri Hutan
38 Aku Menginginkannya
39 Dansa Bersama
40 Sikap Tuan Muda
41 Merenggang
42 Teriakan Tanpa Suara
43 Rasa Haus yang Candu
44 Kesungguhan Ares
45 Tak Ingin Disentuh
46 Hati atau Logika?
47 Pernyataan Cinta
48 Usaha Ares
49 Penguntit yang Terpesona
50 Kebencian
51 Kebahagiaan Ares
52 Pertemuan Keluarga
53 Hyena yang Mengintai
54 Kejadian Tak Terduga
55 Tawaran Bantuan
56 Retak
57 Petir di Siang Hari
58 Kehangatan Saat Hujan
59 Terbongkar
60 Tak Bisa Pulih
61 Jangan Menangis
62 Rutinitas Baru
63 Keluarga Impian
64 Seperti Kencan?
65 Pelampiasan
66 Imbalan Bantuan
67 Simpanan?
68 Perawatan
69 Mulai Curiga
70 Kamu Sangat Cantik
71 Lipstik Merah
72 Tawa yang Menghangatkan
73 Tawa yang Hilang
74 Memanfaatkan Keadaan
75 Pengorbanan
76 Berangkat Penyembuhan
77 Ingin kabur
78 Mengambil Pembayaran
79 Kepuasan Tuan Muda (21+)
80 Tamu Tak Diundang
81 Kue Strawberry
82 Mengubah Panggilan (21+)
83 Kerinduan
84 Cara Membuatmu Bahagia (21+)
85 Kepulangan yang Tak Terduga
86 Pesuruh
Episodes

Updated 86 Episodes

1
Anak-Anak yang Malang
2
Kabur
3
Pahlawan Berseragam
4
Akankah Diusir Lagi?
5
Paman Yunus
6
Orang-Orang Baik
7
Keluarga Adhitama
8
Si Narsis
9
Teman
10
Bertemu
11
Tuan Sempurna
12
Dunia yang Berbeda
13
Kukang
14
Bertolak Belakang
15
Upik Abu
16
Berpisah
17
Desiran Aneh
18
Rencana Ares
19
Pesona Pria Matang
20
Dia Kembali
21
Hukuman Apa?
22
Kencan Buta
23
Gadis yang Berpengaruh
24
Perubahan yang Akan Datang
25
Dorongan Aneh
26
Sudah Diputuskan
27
Aturan Tuan Muda
28
Bukan Milik Anda
29
Tekad Ares
30
Menjelajah Hutan
31
Kamu Membuatku Gila!
32
Dorongan Impulsif
33
Kepanikan Paman Yunus
34
Bibit Obsesi
35
Menghindar
36
Undangan Pesta
37
Peri Hutan
38
Aku Menginginkannya
39
Dansa Bersama
40
Sikap Tuan Muda
41
Merenggang
42
Teriakan Tanpa Suara
43
Rasa Haus yang Candu
44
Kesungguhan Ares
45
Tak Ingin Disentuh
46
Hati atau Logika?
47
Pernyataan Cinta
48
Usaha Ares
49
Penguntit yang Terpesona
50
Kebencian
51
Kebahagiaan Ares
52
Pertemuan Keluarga
53
Hyena yang Mengintai
54
Kejadian Tak Terduga
55
Tawaran Bantuan
56
Retak
57
Petir di Siang Hari
58
Kehangatan Saat Hujan
59
Terbongkar
60
Tak Bisa Pulih
61
Jangan Menangis
62
Rutinitas Baru
63
Keluarga Impian
64
Seperti Kencan?
65
Pelampiasan
66
Imbalan Bantuan
67
Simpanan?
68
Perawatan
69
Mulai Curiga
70
Kamu Sangat Cantik
71
Lipstik Merah
72
Tawa yang Menghangatkan
73
Tawa yang Hilang
74
Memanfaatkan Keadaan
75
Pengorbanan
76
Berangkat Penyembuhan
77
Ingin kabur
78
Mengambil Pembayaran
79
Kepuasan Tuan Muda (21+)
80
Tamu Tak Diundang
81
Kue Strawberry
82
Mengubah Panggilan (21+)
83
Kerinduan
84
Cara Membuatmu Bahagia (21+)
85
Kepulangan yang Tak Terduga
86
Pesuruh

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!