Pesona Pria Matang

Ellia dan Ares terlihat sedang fokus berkutat dengan laptop, buku dan alat tulisnya masing-masing. Keduanya sama-sama fokus untuk belajar dan menyelesaikan tugas mereka. Walaupun, memang beberapa kali Ares akan melirik ke arah Ellia, tanpa gadis itu sadari.

"El, siang ini kita akan makan apa?" Tanya Ares santai. Sudah jadi kebiasaannya kalau sedang bermain ke rumah Ellia, ia akan ikut makan siang di sana.

"Aku belum memikirkannya. Sebentar, aku cek bahan-bahan di dapur dulu." Jawab Ellia, lalu dengan cepat ia segera melihat bahan-bahan yang ada.

Ternyata hampir tidak ada bahan masakan lagi, ia lupa belum belanja kemarin. Bahkan, pagi ini dia juga kesiangan setelah begadang untuk menyicil tugas kuliahnya yang sangat banyak.

"Res, sepertinya aku harus belanja dulu deh. Kamu tunggu di sini aku akan ke pasar dulu gimana?" Tawar Ellia sembari mengambil tas dan dompetnya di kamar.

"Akan aku antar. Ayoo." Ajak Ares yang lebih dulu keluar rumah. Ellia sampai geli dibuatnya.

Lalu, keduanya pun segera berjalan menyusuri jalan setapak sampai dimana Ares memakirkan sepeda motornya. Baru setelahnya, mereka segera berangkat ke pasar.

"Apa kita gak ke supermarket aja?" Tawar Ares, ketika melihat beberapa supermarket yang sudah mereka lewati di sepanjang jalan.

"Tidak. Boros tau. Harga barang di supermarket mahal dan hanya dapat dikit. Kalau di pasar, selain harga terjangkau, dapat banyak bisa dapat bonus lagi." Ucap Ellia menjelaskan dengan antusias.

"Haha. Baiklah."

Tak berapa lama kemudian, mereka berdua sampai di pasar. Setelah memarkirkan sepeda motor, Ellia segera berkeliling pasar berburu apa saja yang ingin ia beli. Tentu saja dengan Ares yang dengan patuh mengikutinya. Ares terus menerus merasa kagum melihat Ellia.

"Haduh-haduh, lihatlah pasutri muda ini. Lagi lengket-lengkatnya yaa." Tegur salah satu penjual di sana yang melihat interaksi Ellia dan Ares. Terlebih Ares yang terus menatap Ellia dengan tatapan hangat. Membuat siapa saja bisa salah paham.

"Kami bukan ..."

"Hahaha, terima kasih bibi." Seru Ares cepat saat Ellia ingin membantah ucapan penjual itu.

"Kamu sangat beruntung mendapatkan gadis cantik itu. Jaga dia baik-baik ya. Lengah sedikit saja, kamu bisa kehilangannya." Saran bibi penjual dan diangguki oleh Ares. Ellia, hanya bisa terdiam melihat itu. Kenapa pula Ares mengiyakan kesalah pahaman itu?

"Kalau begitu ini bibi kasih diskon ya. Itung-itung buat mendo'akan kalian berdua." Ucap penjual itu ramah. Seketika Ellia yang kebingungan jadi ikut antusias dengan kesalah pahaman itu. Ia segera merangkul lengan Ares dengan manja.

"Terima kasih banyak bibi. Saya dan suami akan menikmatinya." Ucap Ellia senang. Apalagi Ares yang terlihat terpaku dengan kata 'suami' dari Ellia.

Setelah di rasa semua keperluannya sudah selesai di beli. Mereka berdua segera pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, Ares membantu Ellia merapikan belanjaan. Baru setelahnya Ellia mulai memasak di bantu Ares. Beberapa saat kemudian masakan pun jadi, bertepatan dengan kedatangan paman Yunus.

"Selamat datang paman. Ayo makan siang, makanannya sudah siap." Panggil Ellia senang.

"Selamat datang paman". Sapa Ares sopan.

"Kau ini ya, tiap main ke rumahku pasti ujung-ujungnya numpang makan juga." Sindir Yunus saat duduk di samping Ares.

"Hehehe. Aku kan juga sudah seperti anak paman sendiri.* Jawab Ares menggoda. Sedangkan, Paman Yunus tak menanggapi dan mulai makan.

Mereka makan bersama dengan hangat, sambil mengobrol dan beberapa kali melemparkan candaan. Memang benar paman Yunus sudah lebih akrab dengan Ares. Ia tahu, Ares adalah pemuda yang baik dan sangat memperhatikan Ellia. Cuman, ia masih tetap mengawasi Ares dengan ketat. Restunya tidak akan semudah itu ia dapatkan. Baik Ares atau pemuda lain yang ingin membangun hubungan romantis dengan Ellia.

Setelah makan siang selesai, paman Yunus pamit untuk kembali bekerja. Sedangkan Ellia dibantu oleh Ares membersihkan peralatan makan tadi.

"Oh ya El, kamu gak mendengar sama sekali kapan tuan muda Gavin akan kembali?" Tanya Ares tiba-tiba.

"Hmm, enggak tahu. Gak ada info atau rumor apapun terkait kepulangannya." Jawab Ellia mengingat-ingat.

Setelah sekian lama, Ellia mendengar nama itu lagi. Mungkin beberapa kali ia mendengar gosip dari kakak-kakak pelayan. Hanya saja semua kabar itu simpang siur. Sudah delapan tahun berlalu, semenjak terakhir kali ia bertemu dengan Gavin. Terlebih tiga tahun belakangan ini ia sudah tak berkirim pesan lagi dengan tuan mudanya itu.

Sebelumnya, Ellia masih cukup sering berikirim pesan dengan Gavin untuk melaporkan pekerjaannya. Ataupun melakukan pekerjaan random yang Gavin berikan padanya. Namun, karena ponselnya rusak saat kelulusan sebelum masuk kuliah waktu itu. Semua komunikasi dengan Gavin jadi terputus. Ia juga tidak bisa dengan sengaja meminta nomor Gavin pada kepala pelayan ataupun nyonya Irene.

Akhirnya, perlahan selama tiga tahun belakangan ini Ellia semakin lupa dengan Gavin. Ia masih sesekali datang ke rumah pohon untuk membersihkannya, namun Gavin masih belum pulang juga. Yah, mungkin Gavin sudah betah dan memutuskan untuk tinggal di luar negeri saja pikirnya.

"Kenapa memangnya?" Tanya Ellia penasaran.

"Enggak. Hanya saja izin buat aku mengunjungi rumahmu kan saat beliau tak ada di sini. Aku takut saja, kalau dia tiba-tiba kembali dan mencabut izin itu. Aku kan tak bisa main ke sini lagi." Jelas Ares.

"Haha. Kamu mengkhawatirkan sesuatu yang gak perlu Res. Kalau kita tak bisa bertemu di rumahku. Aku yang bisa ke rumahmu, kalau kamu izinkan sih. Atau kita juga bisa ketemu di luar, lagian kita juga satu kampus." Tawa Ellia mendengar ketakutan Ares. Sedangkan, Ares hanya mengerucutkan bibirnya tanda kesal mendengar ejekan Ellia. Terdengar sepele memang. Tapi, bagi Ares itu sangat berarti.

...

Di sebuah apartement mewah di negera yang berbeda. Seorang pemuda dewasa sedang fokus menatap layar komputer di depannya. Kaca mata kerja yang bertengger di hidungnya terpasang dengan sempurna. Garis rahangnya tajam dan alisnya juga tebal. Sesekali ia menyesap kopi yang ada di mejanya. Lengan baju yang ia gulung sampai siku mengekspos otot lengannya yang indah dan maskulin.

Pemuda itu adalah Gavin. Tuan muda Gavin Alvano Adhitama. Pesona Gavin yang memang sudah tampan dari usia remajanya, kini semakin terlihat mempesona. Pesona pria matang. Usianya kini 26 tahun.

Setelah menyelesaikan studynya tepat waktu, ia memang berencana untuk kembali. Namun, pembukaan perusahaan barunya ternyata cukup menyita waktu lebih lama dari prediksinya. Ia baru akan meninggalkan perusahaannya itu di bawah komando manager yang ia tunjuk dan ketika kondisinya sudah stabil. Seperti saat itu.

"Akhirnya, selesai ... Aku bisa pulang." Ucap pemuda itu puas setelah melihat diagram yang menunjukkan peningkatan pesat dari omset dan perkembangan perusahaannya.

Gavin menatap pemandangan lewat kaca di belakangnya. Banyaknya gedung-gedung tinggi dan lalu lalang kendaraan menghiasi kota itu. Pemandangan yang sudah ia lihat selama tujuh tahun belakangan. Dan kini ia sangat merindukan kampung halamannya. Rumahnya yang hangat dengan ibunya di sana, tamannya yang indah, hutannya yang rindang, dan rumah pohonnya yang nyaman. Sekilas ia mengingat seorang gadis kecil juga ada di rumah pohonnya itu.

"Bagaimana penampilannya sekarang ya?" Gumam Gavin dengan sudut bibirnya yang sedikit terangkat.

.

.

.

Bersambung ...

Episodes
1 Anak-Anak yang Malang
2 Kabur
3 Pahlawan Berseragam
4 Akankah Diusir Lagi?
5 Paman Yunus
6 Orang-Orang Baik
7 Keluarga Adhitama
8 Si Narsis
9 Teman
10 Bertemu
11 Tuan Sempurna
12 Dunia yang Berbeda
13 Kukang
14 Bertolak Belakang
15 Upik Abu
16 Berpisah
17 Desiran Aneh
18 Rencana Ares
19 Pesona Pria Matang
20 Dia Kembali
21 Hukuman Apa?
22 Kencan Buta
23 Gadis yang Berpengaruh
24 Perubahan yang Akan Datang
25 Dorongan Aneh
26 Sudah Diputuskan
27 Aturan Tuan Muda
28 Bukan Milik Anda
29 Tekad Ares
30 Menjelajah Hutan
31 Kamu Membuatku Gila!
32 Dorongan Impulsif
33 Kepanikan Paman Yunus
34 Bibit Obsesi
35 Menghindar
36 Undangan Pesta
37 Peri Hutan
38 Aku Menginginkannya
39 Dansa Bersama
40 Sikap Tuan Muda
41 Merenggang
42 Teriakan Tanpa Suara
43 Rasa Haus yang Candu
44 Kesungguhan Ares
45 Tak Ingin Disentuh
46 Hati atau Logika?
47 Pernyataan Cinta
48 Usaha Ares
49 Penguntit yang Terpesona
50 Kebencian
51 Kebahagiaan Ares
52 Pertemuan Keluarga
53 Hyena yang Mengintai
54 Kejadian Tak Terduga
55 Tawaran Bantuan
56 Retak
57 Petir di Siang Hari
58 Kehangatan Saat Hujan
59 Terbongkar
60 Tak Bisa Pulih
61 Jangan Menangis
62 Rutinitas Baru
63 Keluarga Impian
64 Seperti Kencan?
65 Pelampiasan
66 Imbalan Bantuan
67 Simpanan?
68 Perawatan
69 Mulai Curiga
70 Kamu Sangat Cantik
71 Lipstik Merah
72 Tawa yang Menghangatkan
73 Tawa yang Hilang
74 Memanfaatkan Keadaan
75 Pengorbanan
76 Berangkat Penyembuhan
77 Ingin kabur
78 Mengambil Pembayaran
79 Kepuasan Tuan Muda (21+)
80 Tamu Tak Diundang
81 Kue Strawberry
82 Mengubah Panggilan (21+)
83 Kerinduan
84 Cara Membuatmu Bahagia (21+)
85 Kepulangan yang Tak Terduga
86 Pesuruh
Episodes

Updated 86 Episodes

1
Anak-Anak yang Malang
2
Kabur
3
Pahlawan Berseragam
4
Akankah Diusir Lagi?
5
Paman Yunus
6
Orang-Orang Baik
7
Keluarga Adhitama
8
Si Narsis
9
Teman
10
Bertemu
11
Tuan Sempurna
12
Dunia yang Berbeda
13
Kukang
14
Bertolak Belakang
15
Upik Abu
16
Berpisah
17
Desiran Aneh
18
Rencana Ares
19
Pesona Pria Matang
20
Dia Kembali
21
Hukuman Apa?
22
Kencan Buta
23
Gadis yang Berpengaruh
24
Perubahan yang Akan Datang
25
Dorongan Aneh
26
Sudah Diputuskan
27
Aturan Tuan Muda
28
Bukan Milik Anda
29
Tekad Ares
30
Menjelajah Hutan
31
Kamu Membuatku Gila!
32
Dorongan Impulsif
33
Kepanikan Paman Yunus
34
Bibit Obsesi
35
Menghindar
36
Undangan Pesta
37
Peri Hutan
38
Aku Menginginkannya
39
Dansa Bersama
40
Sikap Tuan Muda
41
Merenggang
42
Teriakan Tanpa Suara
43
Rasa Haus yang Candu
44
Kesungguhan Ares
45
Tak Ingin Disentuh
46
Hati atau Logika?
47
Pernyataan Cinta
48
Usaha Ares
49
Penguntit yang Terpesona
50
Kebencian
51
Kebahagiaan Ares
52
Pertemuan Keluarga
53
Hyena yang Mengintai
54
Kejadian Tak Terduga
55
Tawaran Bantuan
56
Retak
57
Petir di Siang Hari
58
Kehangatan Saat Hujan
59
Terbongkar
60
Tak Bisa Pulih
61
Jangan Menangis
62
Rutinitas Baru
63
Keluarga Impian
64
Seperti Kencan?
65
Pelampiasan
66
Imbalan Bantuan
67
Simpanan?
68
Perawatan
69
Mulai Curiga
70
Kamu Sangat Cantik
71
Lipstik Merah
72
Tawa yang Menghangatkan
73
Tawa yang Hilang
74
Memanfaatkan Keadaan
75
Pengorbanan
76
Berangkat Penyembuhan
77
Ingin kabur
78
Mengambil Pembayaran
79
Kepuasan Tuan Muda (21+)
80
Tamu Tak Diundang
81
Kue Strawberry
82
Mengubah Panggilan (21+)
83
Kerinduan
84
Cara Membuatmu Bahagia (21+)
85
Kepulangan yang Tak Terduga
86
Pesuruh

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!