Pahlawan Berseragam

Malam itu juga Ellia pergi menuju ke kota B menggunakan kereta api. Karna uangnya tak cukup ia memohon untuk menumpang di gerbong barang. Ia duduk di sudut gerbong yang dingin beralaskan koran bekas yang ia temukan di stasiun.

Perjalanan dari kota A ke kota B ini cukuplah panjang. Bisa lebih dari 12 jam perjalanan. Dan sudah dipastikan ia akan sampai di kota B besok pada waktu tengah malam.

Ellia hanya bisa termenung menatap jalanan yang ia liat di sekitarnya bergerak dengan cepat. Tak seperti hidupnya yang terasa lama sekali berputar setelah kematian orang tuanya.

Berulang kali Ellia ingin sekali kabur dari semua ini dan ikut ke tempat orang tuanya berada. Tapi, berulang kali juga Ellia berusaha berpikir positif kalo semua ini akan segera berlalu dan dia akan kembali bahagia.

Begitu juga perjalannya ke kota B. Ia tak bisa menebak nasib apa yang sudah menunggunya diujung jalan panjang itu. Tapi, ia terus meyakinkan dirinya, kalo semua akan baik-baik saja.

Tak terasa waktu berlalu dan sampailah Ellia ke kota B. Ia turun dari kereta api dan melihat sekitarnya. Di sinilah ia akan menjalani hidupnya yang baru. Ia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan berat.

Stasiun masih terlihat ramai walaupun sudah tengah malam. Begitu banyak orang yang berlalu lalang. Banyak juga keluarga-keluarga yang sedang menantikan kedatangan anggota keluarganya yang lain. Saat mereka bertemu, mereka akan berpelukan dengan haru.

Melihat itu, sedikit membuat hati Ellia sesak. Ia kembali teringat akan kedua orang tuanya. Bahkan, ia juga ikut membayangkan bagaimana jika orang tuanya juga hadir dan berdiri diantara orang-orang di sana dan sedang menunggu kedatangannya. Senyum miris muncul di wajah Ellia. Ia segera menepuk kedua pipinya dengan keras, berusaha mengembalikan fokusnya.

"Aku akan baik-baik saja. Semua akan baik-baik saja." Lagi-lagi Ellia merapalkan mantra andalannya. Sembari berharap apa yang ia katakan bisa menjadi kenyataan.

Setelah cukup mengembalikan kesadarannya, kini ia dihadapkan masalah baru. Bagaimana ia bisa menemukan teman bibinya, hanya berbekal nama dan alamat. Bagaimana ia bisa kesana tanpa sepeserpun uang? Ellia hanya bisa menatap nanar kerumunan orang-orang yang berlalu lalang di sekitarnya.

Karna kelelahan juga kelaparan Ellia memutuskan untuk beristirahat sejenak di stasiun itu. Ia duduk di sudut stasiun dengan menekuk lututnya agar tubuh kecilnya tetap hangat di tengah dinginnya malam itu.

"Nak .. Nak bangun .."

Suara asing membuat Ellia terkesiap. Ia mengerjapkan matanya bingung. Sembari berusaha menyesuaikan matanya dengan cahaya matahari yang tenyata sudah bersinar terang. Tanpa sadar ia sudah cukup lama tertidur di stasiun.

"Nak, kamu ingin pergi ke mana?" Tanya seorang pria paruh baya dengan seragam lengkapnya. Sepertinya ia penjaga stasiun.

Ellia yang baru menyadari keberadaan pria itu cukup terkejut. Ternyata suara asing yang membangunkannya itu adalah suara pria itu. Belum sempat Ellia menjawab Pria itu kembali berkata.

"Paman sudah memperhatikanmu dari semalam. Kamu seperti kebingungan. Kamu mau ke mana nak? Bisa paman bantu?" Tanya pria paruh baya itu ramah. Senyumnya yang tulus membuat hati Ellia sedikit menghangat.

"Ah. Halo paman, saya ingin menemui seseorang. Apakah paman kenal orang ini?" Tanya Ellia sembari menunjukkan secarik kertas yang diberikan bibinya.

Pria paruh baya itu menerima secarik kertas tersebut. Ia melihat ada nama dan alamat di sana. Setelah membacanya sekilas ia tersenyum dengan lebar.

"Oh, kamu tamunya Yunus Amerta? Aku mengenalnya cukup baik." Mendengar hal itu mata Ellia berbinar senang. Tak ia sangka, orang pertama yang menawarkan bantuan padanya mengenal orang yang sedang ia cari.

"Benarkah paman? Syukurlah. Apakah alamat itu cukup juah dari sini? Bagaimana cara saya bisa sampai ke sana?" Tanya Ellia ragu-ragu. Ia harus memastikan bisa menemui pria bernama Yunus hari itu juga.

"perjalanan dari stasiun ini ke alamat itu cukup jauh nak. Bisa dua jam berkendara. Kamu bisa naik bus dari stasiun ini ke sana, karna kereta tidak ada yang ke sana." Jawab pria itu menjelaskan.

"Hm, kira-kira berapa ya pak biaya naik busnya?" Tanya Ellia lesu.

Pria itu menangkap ada kegelisahan dalam pertanyaan Ellia. Ia juga mengamati kondisi Ellia waktu itu. Dia bisa membaca apa maksud pertanyaan Ellia.

"Ayo biar paman antar mencari bus di depan stasiun." Ajak pria itu tanpa menjawab pertanyaan Ellia.

Walaupun bingung Ellia hanya bisa mengikuti langkah pria paruh baya di depannya itu dengan patuh.

Sesampainya di depan stasisun, pria itu langsung mengedarkan pandangannya. Tak lama kemudian ia kembali berjalan ke sebuah bus yang memang sedang berhenti menunggu penumpang di sana. Kemudian pria itu menemui kernet bus dan membeli selembar tiket. Ellia mengamati semua aktivitas itu dengan bingung dan bertanya-tanya.

"Naiklah bus ini nak. Pemberhentian terakhir adalah daerah tujuanmu." Ucap pria itu sembari memberi Ellia selembar tiket bus yang baru ia beli.

Ellia cukup terkejut menerima tiket dan kebaikan pria itu. Hari ini pertama kali mereka bertemu. Bahkan, ia sendiri belum mengetahui namanya. Namun, pria paruh baya itu begitu baik padanya.

"Te .. Terima kasih paman. Terima kasih banyak. Saya sungguh gak menyangka paman akan membantu saya. Paman kan belum mengenal saya. Bagaimana cara saya membalas kebaikan paman ini?" Ujar Ellia dengan suara gemetar menahan tangis. Air mata sudah menggenang di pelupuk matanya. Kebaikan sederhana yang baru ia terima membuat perasaannya campur aduk saat itu.

"Ini hanya hal kecil. Menolong seseorang itu tidak harus kalau sudah kenal. Tidak perlu membalasnya. Cukup suatu saat nanti kalau kamu bertemu paman lagi, jangan lupa disapa ya." Jawab pria itu dengan senyum tulus.

"Baik, tentu saja paman. Sekali lagi terima kasih banyak. Untuk terakhir, boleh saya tau nama paman siapa?" Tanya Ellia.

"Bram. Nama paman Bram. Kalau kamu sudah bertemu Yunus nanti, sampaikan salamku padanya ya." Jawab pria itu yang ternyata namanya Bram. Dan Ellia pun mengangguk sebagai jawaban.

Tak lama kemudian, kernet bus berteriak menandakan bus akan segera berangkat. Bram menyuruh Ellia untuk segera naik ke dalam bus. Ellia menurut, ia segera masuk ke dalam bus dan mengambil tempat duduk di sebelah kaca. Di sana ia bisa melihat Bram.

"Terima kasih paman. Sampai jumpa lagi." Teriak Ellia dari dalam bus. Kemudian ia melambaikan tangan pada Bram. Bram membalas dengan senyum dan lambaian tangan Ellia.

Perlahan bus pun mulai bergerak menjauh meninggalkan stasiun. Lambat laun ia sudah tak lagi bisa melihat Bram. Ellia kembali menyandarkan tubuhnya. Walau kantuk sudah menghilang. Perutnya yang lapar masih meronta ingin diisi.

Ia memeluk perutnya sendiri dengan kencang dan memaksa matanya untuk kembali terpejam saja agar ia tak merasakan laparnya. Sembari menunggu bus itu membawanya ke satu-satunya harapannya. Walaupun kekhawatiran masih terngiang, apakah orang itu mau menerimanya. Ellia menepis semua hal itu dan berusaha berpikir positif saja.

.

.

.

Bersambung ...

Terpopuler

Comments

simta dila

simta dila

sedih sama nasib elia 🥲

2025-02-14

1

irie kun 🖤

irie kun 🖤

untung ada paman Bram yg baik banget sama Ellia

2025-02-02

1

Ita Xiaomi

Ita Xiaomi

/Sob//Sob//Sob/

2025-02-15

1

lihat semua
Episodes
1 Anak-Anak yang Malang
2 Kabur
3 Pahlawan Berseragam
4 Akankah Diusir Lagi?
5 Paman Yunus
6 Orang-Orang Baik
7 Keluarga Adhitama
8 Si Narsis
9 Teman
10 Bertemu
11 Tuan Sempurna
12 Dunia yang Berbeda
13 Kukang
14 Bertolak Belakang
15 Upik Abu
16 Berpisah
17 Desiran Aneh
18 Rencana Ares
19 Pesona Pria Matang
20 Dia Kembali
21 Hukuman Apa?
22 Kencan Buta
23 Gadis yang Berpengaruh
24 Perubahan yang Akan Datang
25 Dorongan Aneh
26 Sudah Diputuskan
27 Aturan Tuan Muda
28 Bukan Milik Anda
29 Tekad Ares
30 Menjelajah Hutan
31 Kamu Membuatku Gila!
32 Dorongan Impulsif
33 Kepanikan Paman Yunus
34 Bibit Obsesi
35 Menghindar
36 Undangan Pesta
37 Peri Hutan
38 Aku Menginginkannya
39 Dansa Bersama
40 Sikap Tuan Muda
41 Merenggang
42 Teriakan Tanpa Suara
43 Rasa Haus yang Candu
44 Kesungguhan Ares
45 Tak Ingin Disentuh
46 Hati atau Logika?
47 Pernyataan Cinta
48 Usaha Ares
49 Penguntit yang Terpesona
50 Kebencian
51 Kebahagiaan Ares
52 Pertemuan Keluarga
53 Hyena yang Mengintai
54 Kejadian Tak Terduga
55 Tawaran Bantuan
56 Retak
57 Petir di Siang Hari
58 Kehangatan Saat Hujan
59 Terbongkar
60 Tak Bisa Pulih
61 Jangan Menangis
62 Rutinitas Baru
63 Keluarga Impian
64 Seperti Kencan?
65 Pelampiasan
66 Imbalan Bantuan
67 Simpanan?
68 Perawatan
69 Mulai Curiga
70 Kamu Sangat Cantik
71 Lipstik Merah
72 Tawa yang Menghangatkan
73 Tawa yang Hilang
74 Memanfaatkan Keadaan
75 Pengorbanan
76 Berangkat Penyembuhan
77 Ingin kabur
78 Mengambil Pembayaran
79 Kepuasan Tuan Muda (21+)
80 Tamu Tak Diundang
81 Kue Strawberry
82 Mengubah Panggilan (21+)
83 Kerinduan
84 Cara Membuatmu Bahagia (21+)
85 Kepulangan yang Tak Terduga
86 Pesuruh
Episodes

Updated 86 Episodes

1
Anak-Anak yang Malang
2
Kabur
3
Pahlawan Berseragam
4
Akankah Diusir Lagi?
5
Paman Yunus
6
Orang-Orang Baik
7
Keluarga Adhitama
8
Si Narsis
9
Teman
10
Bertemu
11
Tuan Sempurna
12
Dunia yang Berbeda
13
Kukang
14
Bertolak Belakang
15
Upik Abu
16
Berpisah
17
Desiran Aneh
18
Rencana Ares
19
Pesona Pria Matang
20
Dia Kembali
21
Hukuman Apa?
22
Kencan Buta
23
Gadis yang Berpengaruh
24
Perubahan yang Akan Datang
25
Dorongan Aneh
26
Sudah Diputuskan
27
Aturan Tuan Muda
28
Bukan Milik Anda
29
Tekad Ares
30
Menjelajah Hutan
31
Kamu Membuatku Gila!
32
Dorongan Impulsif
33
Kepanikan Paman Yunus
34
Bibit Obsesi
35
Menghindar
36
Undangan Pesta
37
Peri Hutan
38
Aku Menginginkannya
39
Dansa Bersama
40
Sikap Tuan Muda
41
Merenggang
42
Teriakan Tanpa Suara
43
Rasa Haus yang Candu
44
Kesungguhan Ares
45
Tak Ingin Disentuh
46
Hati atau Logika?
47
Pernyataan Cinta
48
Usaha Ares
49
Penguntit yang Terpesona
50
Kebencian
51
Kebahagiaan Ares
52
Pertemuan Keluarga
53
Hyena yang Mengintai
54
Kejadian Tak Terduga
55
Tawaran Bantuan
56
Retak
57
Petir di Siang Hari
58
Kehangatan Saat Hujan
59
Terbongkar
60
Tak Bisa Pulih
61
Jangan Menangis
62
Rutinitas Baru
63
Keluarga Impian
64
Seperti Kencan?
65
Pelampiasan
66
Imbalan Bantuan
67
Simpanan?
68
Perawatan
69
Mulai Curiga
70
Kamu Sangat Cantik
71
Lipstik Merah
72
Tawa yang Menghangatkan
73
Tawa yang Hilang
74
Memanfaatkan Keadaan
75
Pengorbanan
76
Berangkat Penyembuhan
77
Ingin kabur
78
Mengambil Pembayaran
79
Kepuasan Tuan Muda (21+)
80
Tamu Tak Diundang
81
Kue Strawberry
82
Mengubah Panggilan (21+)
83
Kerinduan
84
Cara Membuatmu Bahagia (21+)
85
Kepulangan yang Tak Terduga
86
Pesuruh

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!