Kabur

Dok ... Dok ... Dok ... Dok

"Hei bangun! Sampai jam berapa kau ingin tidur, huh ...?!" Teriak Tevin sembari menendang pintu kayu kamar Ellia.

Ellia langsung terkesiaP bangun dengan terkejut. Gerakan tiba-tibanya itu membuat kepalanya terbentur langit-langit kamarnya.

"Aduh!" Pekiknya meringis kesakitan. Ia mengusap-usap puncak kepalanya. Setelah itu ia segera keluar dan mendapati pamannya menatapnya dengan tajam.

"Dasar pemalas! Kalau kau menumpang, harusnya tau diri ... Sana segera ke dapur dan bantu bibimu membuat sarapan. Pelajarilah dengan baik, ke depannya kau yang harus membuat sarapannya." Kata Tevin mencibir.

"Iya, paman." Jawab Ellia sembari menunduk dan segera menuju ke dapur.

Sebelumnya setelah perdebatan sengit antara kedua paman dan bibinya. Akhirnya, diputuskan bahwa Ellia akan tinggal bersama Tevin, paman pertamanya. Alasannya karna Tevin di pandang paling mampu mengambil tugas itu

Ia hanya memiliki dua anak laki-laki yang saat ini sudah duduk di bangku SMP. Dan terlebih lagi Tevin adalah anak pertama. Jadi, tanggung jawab itu diserahkan padanya. Tak bisa megelak, akhirnya Tevin mau tak mau harus menampung Ellia di rumahnya.

Ellia di tempatkan di ruang kecil di bawah tangga. Sebenarnya ruangan itu terlalu kecil untuk disebut sebagai kamar. Namun, walaupun begitu Ellia tetap menerimanya dengan lapang dada dan senyuman di wajahnya. Tanpa mengeluh sedikitpun.

Dengan sigap ia pun menuju ke dapur dan membantu bibinya di dapur. Walaupun sikap pamannya sangat kasar. Sikap bibi padanya tidak terlalu buruk. Walaupun, bibi sendiri tak bisa banyak membantu Ellia, karna tekanan dari suaminya sendiri.

"Kamu duduk saja di sana Ellia. Biar bibi yang menyiapkan sarapannya." Ucap Dea yang merasa iba pada nasib malang ponakannya itu.

"Enggak masalah kok bi. Ellia akan membantu. Dulu, Ellia juga sering bantu mama masak kok." Jawabnya riang sembari menggulung lengan bajunya agar tak basah saat ia akan mulai mencuci sayuran.

"Baiklah kalo begitu. Tapi, jangan terlalu memaksakan diri ya ..." Dea memberikan senyuman yang tulus dan hangat pada ponakannya itu. Ellia pun merasa perasaannya jadi jauh lebih baik.

"Ehm!" Anggukan kecil diberikan Ellia dengan senyuman cerah dibibir kecilnya.

Setelah sibuk menyiapkan sarapan dan akan selesai Dea menyuruh Ellia segera bersiap untuk pergi ke sekolah. Dan membiarkannya menyelesaikan menata sarapan yang sudah mereka buat itu di atas meja. Tanpa bantahan kali ini Ellia pun menurut. Karna, ia juga tak mau jika harus terlambat sekolah.

Saat ia sudah selesai bersiap-siap dan akan bergabung dimeja makan bersama keluarga pamannya. Lagi-lagi ia mendapatkan perlakuan yang jahat.

"Mau apa kau?" Tanya Doni, anak kedua pamannya saat melihat Ellia akan duduk di salah satu kursi yang kosong.

"Ellia, mau ikut sarapan kak." Jawab Ellia ragu-ragu.

"Heh, sadar diri dong. Kau itu menumpang. Masa' juga mau ikut makan tiga kali juga di sini? Gak sadar kau kalau ayahku sudah banyak keluar uang juga untuk sekolahmu." Seru Dion sepupunya yang paling tua.

Mendengar itu Tevin tak melerai anak-anaknya. Senyum mengejek justru muncul di sudut bibirnya. Sedangkan Dea tak berani membuka suara dan menatap kasihan pada Ellia kecil yang akhirnya tak jadi duduk dan menatap makanan di meja dengan air mata yang sudah mulai menggenang di pelupuk matanya.

"Mending kau berangkat aja ke sekolah. Aku tak bisa mengantarmu. Kau urus saja dirimu sendiri." Tambah Tevin dengan entengnya dan tanpa menatap Ellia sedikitpun.

"Pa! Ellia masih kecil. Lagian kan kamu juga searah dengannya. Bawalah dia sekalian denganmu." Ucap Dea yang sudah tak tahan dengan kelakuan suami dan kedua putranya.

"Diam saja kau! Dan habiskan makananmu. Jangan ikut campur!" Bentak Tevin pada istrinya.

"Sudah bibi. Ellia gak apa kok. Sekolah Ellia kan dekat. Ellia bisa berjalan kaki ke sana, sekalian olah raga." Ujar Ellia menengahi suasana tegang antara paman dan bibinya. Ia tak mau merusak kedamaian keluarga pamannya. Terlebih ia tak ingin melihat bibinya yang baik dibentak oleh pamannya. Cukup dia saja.

Dengan langkah ringan dan senyum cerah Ellia pamit dan mulai berjalan ke sekolah. Di perjalanan ia selalu merapalkan mantranya berulang kali di dalam hati. Semua pasti akan baik-baik saja, katanya. Dan ia berusaha dengan keras menahan air mata agar tak jatuh membasahi pipinya lagi. Ia ingin berhenti menangis dan harus mencoba kuat.

Begitulah hari-hari panjang dan melelahkan terus berputar di hidup Ellia. Tak terasa waktu terus bergulir hingga empat tahun sudah waktu berlalu semenjak kepergian kedua orang tuanya. Dan dia yang tinggal di rumah pamannya.

Tak seharipun semenjak itu, Ellia merasa hidupnya tenang. Tiap hari ada saja bentakan dari pamannya. Bahkan, bukan hanya sekedar kata-kata saja. Jika, pamannya sudah sangat emosi maka pamannya itu tak segan main fisik. Dan memang itu sudah menjadi kebiasannya ternyata. Bukan hanya padanya saja, pada Dea bibinya, paman juga tak segan-segan main fisik. Itulah kenapa, bibi tak terlalu berani menentang apa kehendak paman.

Tabiat buruk pamannya ini juga sudah di contoh oleh anak-anaknya. Kedua sepupu Ellia itu juga sering sekali membully Ellia. mengacaukam pekerjaan Ellia sampai dia kena marah pamannya. Sudah jadi hal biasa bagi Ellia.

Tak jarang, tubuh kecil Ellia jadi pelampiasan kemarahan pamannya. Lebam dan darah sering kali muncul di tubuhnya. Namun begitu, Ellia berusaha tetap menahan semua rasa sakit itu dan berharap hari esok pasti semua akan baik-baik saja.

Puncak dari semua itu. Saat Ellia sudah lulus dari Sekolah Dasar. Pamannya yang saat itu sedang terhimpit masalah ekonomi, juga ada tuntutan untuk biaya kuliah anak-anaknya, mengusulkan sebuah ide gila.

Pada malam itu, Ellia tak sengaja mendengar pembicaraan paman dan bibinya.

"Aku uda enggak sanggup lagi kalo harus menampung Ellia. Putra-putraku sudah mau kuliah. Daripada aku menyekolahkan anak perempuan yatim piatu sepertinya, mending aku fokus untuk sekolah putra-putraku." Gerutu paman dan bibi hanya bisa diam.

"Dia kan hanya seorang perempuan, gak usahlah sekolah tinggi-tinggi. Sekolah Dasar sudah cukuplah untuknya. Mungkin beberapa tahun lagi dia bisa kita nikahkan dengan orang kaya, supaya kita bisa mendapatkan keuntungan karna sudah membesarkannya." Seru paman yang membuat bibi jadi terkejut.

Begitu pula dengan Ellia. Dia sampai tak bisa berkata-kata mendengar ide gila pamannya itu. Ellia tak kuasa menahan kesedihannya. Ia hanya bisa menangis di dalam ruangan sempit miliknya itu.

Pada malam harinya, saat ia ketiduran karna lelah menangis. Ia terbangun karna mendengar ketukan dari pintu kamarnya. Ia segera membuka dan mendapati bibinya di sana.

"Ellia ... Nak, kamu harus kabur dari sini sekarang. Pamanmu sudah tak waras. Kalo kamu terus di sini, bibi gak tau lagi bagaimana nasib kamu ke depannya nak ... Pergilah dari sini sekarang." Ucap bibinya dengan sorot mata khawatir. Ellia yang masih diliputi rasa bingung akhirnya memutuskan mengikuti saran dari bibinya. Walau dia sendiri tak tahu harus kemana.

"pergilah dan tinggalkan kota ini nak. Coba cari orang bernama Yunus Amerta di kota B. Dia ini kenalan bibi. Orang terbaik yang pernah bibi kenal. Coba kamu temui dia, barangkali dia bisa memberimu bantuan." Ujar bibi sembari menyelipkan sebuah surat dan alamat serta identitas seseorang bernama Yunus tadi di secarik kertas di tangan Ellia, tak lupa bibi juga menyelipkan beberapa lembar uang untuk biaya perjalanannya.

"Terima kasih bibi ... Terima kasih atas bantuan bibi selama ini pada Ellia. Suatu saat nanti, Ellia pasti akan membalas kebaikan bibi." Ucapnya sedih sampai berlinang air mata.

Akhirnya, dengan langkah yang mantap. Ellia berjalan meninggalkan rumah pamannya, mengikuti secuil harapan dari bibinya di kota B.

Bisakah Ellia menemukan kebahagiaan di sana?

.

.

.

Bersambung ...

Terpopuler

Comments

Ita Xiaomi

Ita Xiaomi

Dah macam Harry Potter aja, kamar di bawah tangga. Sabar ya Ellia. Malah aku yg sedih😢

2025-02-15

2

irie kun 🖤

irie kun 🖤

yaampun paman namanya juga masih anak2 masa dikit2 di omelin kesel banget punya paman kek gtu udh biarinn aja Elia kaburr aja cari kebahagiaan yg layak buat kamu 😭

2025-02-01

1

Ita Xiaomi

Ita Xiaomi

Ellia ntar klo kamu nanti udah kaya raya jgn lupa ama kebaikan bibi Dea.

2025-02-15

1

lihat semua
Episodes
1 Anak-Anak yang Malang
2 Kabur
3 Pahlawan Berseragam
4 Akankah Diusir Lagi?
5 Paman Yunus
6 Orang-Orang Baik
7 Keluarga Adhitama
8 Si Narsis
9 Teman
10 Bertemu
11 Tuan Sempurna
12 Dunia yang Berbeda
13 Kukang
14 Bertolak Belakang
15 Upik Abu
16 Berpisah
17 Desiran Aneh
18 Rencana Ares
19 Pesona Pria Matang
20 Dia Kembali
21 Hukuman Apa?
22 Kencan Buta
23 Gadis yang Berpengaruh
24 Perubahan yang Akan Datang
25 Dorongan Aneh
26 Sudah Diputuskan
27 Aturan Tuan Muda
28 Bukan Milik Anda
29 Tekad Ares
30 Menjelajah Hutan
31 Kamu Membuatku Gila!
32 Dorongan Impulsif
33 Kepanikan Paman Yunus
34 Bibit Obsesi
35 Menghindar
36 Undangan Pesta
37 Peri Hutan
38 Aku Menginginkannya
39 Dansa Bersama
40 Sikap Tuan Muda
41 Merenggang
42 Teriakan Tanpa Suara
43 Rasa Haus yang Candu
44 Kesungguhan Ares
45 Tak Ingin Disentuh
46 Hati atau Logika?
47 Pernyataan Cinta
48 Usaha Ares
49 Penguntit yang Terpesona
50 Kebencian
51 Kebahagiaan Ares
52 Pertemuan Keluarga
53 Hyena yang Mengintai
54 Kejadian Tak Terduga
55 Tawaran Bantuan
56 Retak
57 Petir di Siang Hari
58 Kehangatan Saat Hujan
59 Terbongkar
60 Tak Bisa Pulih
61 Jangan Menangis
62 Rutinitas Baru
63 Keluarga Impian
64 Seperti Kencan?
65 Pelampiasan
66 Imbalan Bantuan
67 Simpanan?
68 Perawatan
69 Mulai Curiga
70 Kamu Sangat Cantik
71 Lipstik Merah
72 Tawa yang Menghangatkan
73 Tawa yang Hilang
74 Memanfaatkan Keadaan
75 Pengorbanan
76 Berangkat Penyembuhan
77 Ingin kabur
78 Mengambil Pembayaran
79 Kepuasan Tuan Muda (21+)
80 Tamu Tak Diundang
81 Kue Strawberry
82 Mengubah Panggilan (21+)
83 Kerinduan
84 Cara Membuatmu Bahagia (21+)
85 Kepulangan yang Tak Terduga
86 Pesuruh
Episodes

Updated 86 Episodes

1
Anak-Anak yang Malang
2
Kabur
3
Pahlawan Berseragam
4
Akankah Diusir Lagi?
5
Paman Yunus
6
Orang-Orang Baik
7
Keluarga Adhitama
8
Si Narsis
9
Teman
10
Bertemu
11
Tuan Sempurna
12
Dunia yang Berbeda
13
Kukang
14
Bertolak Belakang
15
Upik Abu
16
Berpisah
17
Desiran Aneh
18
Rencana Ares
19
Pesona Pria Matang
20
Dia Kembali
21
Hukuman Apa?
22
Kencan Buta
23
Gadis yang Berpengaruh
24
Perubahan yang Akan Datang
25
Dorongan Aneh
26
Sudah Diputuskan
27
Aturan Tuan Muda
28
Bukan Milik Anda
29
Tekad Ares
30
Menjelajah Hutan
31
Kamu Membuatku Gila!
32
Dorongan Impulsif
33
Kepanikan Paman Yunus
34
Bibit Obsesi
35
Menghindar
36
Undangan Pesta
37
Peri Hutan
38
Aku Menginginkannya
39
Dansa Bersama
40
Sikap Tuan Muda
41
Merenggang
42
Teriakan Tanpa Suara
43
Rasa Haus yang Candu
44
Kesungguhan Ares
45
Tak Ingin Disentuh
46
Hati atau Logika?
47
Pernyataan Cinta
48
Usaha Ares
49
Penguntit yang Terpesona
50
Kebencian
51
Kebahagiaan Ares
52
Pertemuan Keluarga
53
Hyena yang Mengintai
54
Kejadian Tak Terduga
55
Tawaran Bantuan
56
Retak
57
Petir di Siang Hari
58
Kehangatan Saat Hujan
59
Terbongkar
60
Tak Bisa Pulih
61
Jangan Menangis
62
Rutinitas Baru
63
Keluarga Impian
64
Seperti Kencan?
65
Pelampiasan
66
Imbalan Bantuan
67
Simpanan?
68
Perawatan
69
Mulai Curiga
70
Kamu Sangat Cantik
71
Lipstik Merah
72
Tawa yang Menghangatkan
73
Tawa yang Hilang
74
Memanfaatkan Keadaan
75
Pengorbanan
76
Berangkat Penyembuhan
77
Ingin kabur
78
Mengambil Pembayaran
79
Kepuasan Tuan Muda (21+)
80
Tamu Tak Diundang
81
Kue Strawberry
82
Mengubah Panggilan (21+)
83
Kerinduan
84
Cara Membuatmu Bahagia (21+)
85
Kepulangan yang Tak Terduga
86
Pesuruh

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!