Keluarga Adhitama

Menjelang malam di jalanan menuju kediaman Adhitama, melintaslah mobil sedan hitam. Di dalam mobil itu putra semata wayang keluarga Adhitama, Tuan muda Gavin Alvano Adhitama berada. Ia baru saja pulang dari sekolah dan urusan pekerjaan.

Sesampainya ia di rumah. Saat turun dari mobil semua pelayan yang bertugas di kediaman utama saat itu, segera menyambutnya datang. Berjajar rapi dengan badan setengah membungkuk hormat.

"Selamat datang tuan muda." Ucap mereka serempak menyambut tuan mudanya.

Diujung barisan itu, sang ibu nyonya Irene juga menyambut sang putra kebanggannya dengan senyum lebar. Gavin berjalan melewati barisan pelayan itu dan menatap mereka sekilas. Mengamati mereka dengan tatapan tajam. Gavin memang di kenal sebagai orang yang sangat menghargai kesempurnaan bahkan untuk detail-detail kecil. Ia benci pada hal-hal yang tidak sesuai aturan.

Senyum simpul muncul ketika ia melihat semua terlihat sempurna dimatanya. Baru ia berjalan ke arah ibu yang sudah menyambutnya.

"Aku pulang ibu. Bagaimana kondisi ibu hari ini?" Tanya Gavin sambil memeluk sang ibu. Memang hari ini sang ibu mengambil libur dari pekerjaannya karena merasa kurang enak badan.

"Selamat datang putraku. Kondisi ibu baik-baik saja. Ibu rasa besok sudah bisa kembali bekerja." Jawab ibu dengan menyentuh sebelah pipi putranya.

"Liburlah satu hari lagi ibu. Aku yang akan mengurus semuanya."

"Haha ... Baiklah. Jika, putraku meminta begitu aku akan melakukannya."

Kedua ibu dan anak itu berjalan masuk ke dalam rumah beriringan. Gavin dengan hangat menggandeng ibunya masuk dan menuju meja makan. Makan malam sudah siap di sana. Sesampainya di ruang makan, dengan sopan Gavin menarikkan kursi untuk ibunya di samping kanan kursi kepala keluarga. Kemudian ia sendiri duduk di kursi utama sebagai kepala keluarga.

Sudah semenjak empat tahun yang lalu setelah kepergian ayahnya, ialah yang mengisi posisi itu. Walaupun memang usianya masih muda, bahkan masih belum lulus sekolah. Dan memang sebagian besar pekerjaan masih dipegang oleh ibunya. Namun, ia ingin bisa jadi orang yang diandalkan oleh sang ibu setelah kepergian ayahnya. Jadi, ia berusaha menggantikan posisi sang ayah sebisanya saat itu.

"Bagaimana kondisi rumah hari ini ibu?" Tanya Gavin di tengah-tengah aktivitas makannya.

"Tidak ada hal yang spesial sayang. Semua berjalan seperti biasa."

"Begitukah? Baguslah ..." Jawab Gavin sambil terus menyantap makanannya dengan elegan.

"Ah, iya. Ibu baru ingat. beberapa waktu yang lalu, Yunus kepala kebun meminta izin pada ibu untuk mengizinkannya merawat seorang anak perempuan dari kerabat jauhnya." Seru nyonya Irene mengingat kejadian hari itu.

"Anak perempuan?" Tanya Gavin dengan alis sedikit terangkat.

"Iya, katanya anak itu berusia 12 tahun. Dia sudah berjanji pada ibu, kehadiran anak itu tidak akan mempengaruhi apapun di rumah ini. Jadi, ibu mengizinkan. Dan yah, sudah cukup lama anak itu tinggal di sini dan memang tidak terjadi apa-apa. Semua masih berjalan sebagaimana mustinya." jelas nyonya Irene pada putranya.

"Baiklah kalau begitu." Jawab Gavin tak terlalu tertarik. Baginya selama hal-hal itu tidak mengganggu kesehariannya yang sempurna, maka hal itu tidak terlalu penting.

Kemudian, ibu dan anak itu terus berbincang. Baik pembahasan santai ataupun membahas pekerjaan hari itu. Setelah malam semakin larut, nyonya Irene menyuruh putranya itu untuk segera beristirahat.

...

Suatu malam, di rumah kayu kecil di dalam hutan. Ellia dan Yunus juga sedang makan malam bersama. Ellia sedikit bertanya-tanya pada yunus tentang majikan-majikannya. Bagaimanapun, saat ini ia sudah menjadi bagian dari bawahan keluarga Adhitama, karena ia juga tinggal di tanah keluarga itu. Walaupun sudah kurang lebih sebulan berlalu ia tinggal bersama Yunus, ia masih belum pernah sekalipun bertemu dengan tuan rumah, karena banyak waktu yang ia habiskan di hutan atau di rumah susun.

"Paman kalau boleh tau, bagaimana karakter majikan paman? Nyonya irene dan tuan muda Gavin itu?" Tanya Ellia penasaran sekaligus ingin menyiapkan dirinya, agar tidak melakukan sesuatu yang tidak disukai oleh orang-orang itu agar ia terus bisa tinggal dikediaman Adhitama.

"Hm, ... Sempurna." jawab Yunus singkat.

"Hah?" Ellia bingung dengan jawaban Yunus itu.

"kau mungkin sudah banyak mendengar dari pekerja di sini. Pemegang aturan pertama dari keluarga ini adalah tuan muda Gavin. Beliau sangat suka kesempurnaan dan keteraturan. Akhirnya, nyonya Irene pun sama. Sudah menjadi hal umum, kalau kau ingin tetap bekerja di kediaman Adhitama yang harus dilakukan adalah jangan membantah dan lakukan semuanya sesuai aturan." Jelas Yunus panjang lebar. Ellia hanya mengangguk-angguk mengerti.

"Sudah habiskan makananmu, besok pagi adalah hari pertamamu sekolah. Tidurlah lebih awal. Besok pagi paman akan mengantarmu." Perintah Yunus yang melihat Ellia masih termenung.

Selain menerima Ellia di rumahnya. Yunus juga meyekolahkan Ellia. Ia tak ingin kepintaran Ellia jadi sia-sia. Ia berharap kelak Ellia akan menjadi orang yang sukses. Tak bisa dipungkiri, setelah sebulan bersama, perlahan Yunus mulai menyanyangi anak itu. Kepribadiannyapun pelan-pelan juga mulai berubah.

Sebelumnya Yunus terkenal memiliki aura yang suram, terlebih setelah kematian istrinya dan semenjak ia tinggal di rumah kayu yang sempat dirumorkan berhantu itu. Namun, setelah kedatangan Ellia, ia perlahan menjadi banyak senyum dan auranya jauh lebih baik. Dan hal ini sudah diakui juga oleh rekan-rekan pekerja di sana.

Pagi harinya setelah sarapan, Yunus menepati janjinya untuk mengantar Ellia ke sekolah menengah pertamanya. Di saat matahari belum sepenuhnya menampakkan diri paman Yunus dan Ellia berjalan beriringan di jalan keluarga Adhitama. Pohon tinggi di kanan kiri jalan semakin mencegah sinar matahari untuk masuk.

Di belakang mereka tak lama Gavin, juga baru berangkat menuju sekolahnya dengan menggunakan mobil. Dari dalam mobil dapat ia lihat Yunus sedang berjalan bergandengan dengan seorang anak perempuan berambut panjang bewarna hitam. Gavin bisa melihat rambut gadis itu seperti menari-nari tertiup angin dan bergerak mengikuti langkah kakinya.

Ia menatap kedua orang itu dengan tajam, dan setengah menerawang. Kedua orang itu terlihat sangat bahagia dengan sesekali mengobrol dan tertawa. Jika, orang yang tak mengenal mereka pasti percaya kalau kedua orang itu adalah ayah dan anak sungguhan.

"Bukankah itu Yunus si tukang kebun?" Tanya Gavin pada Fauzan asisten pribadinya. Ia adalah anak dari pak Hasan yang sebelumnya melayani ayahnya.

"Betul tuan muda. Dan gadis muda di sampingnya adalah anak yang dirawatnya."

"Dia tak bekerja hari ini?" Tanya Gavin sekali lagi.

"Bekerja tuan. Hanya saja, pagi ini ia izin terlambat sebentar karena mengantar gadis muda itu ke sekolah untuk pertama kalinya." Jawab Fauzan menjelaskan. Ia tau hal itu dari ayahnya.

Gavin tak lagi bertanya dan masih fokus menatap ke arah jalan. Sampailah mobil mereka menyalip Yunus dan Ellia. Karena kecepatan mobil, Gavin tak bisa melihat jelas wajah kedua orang itu.

Di lain sisi, Ellia juga mengamati mobil sedan yang baru saja melewati dirinya dan paman Yunus. Tanpa ia sadari tuan muda Gavin ada di dalamnya.

.

.

.

Bersambung ...

Episodes
1 Anak-Anak yang Malang
2 Kabur
3 Pahlawan Berseragam
4 Akankah Diusir Lagi?
5 Paman Yunus
6 Orang-Orang Baik
7 Keluarga Adhitama
8 Si Narsis
9 Teman
10 Bertemu
11 Tuan Sempurna
12 Dunia yang Berbeda
13 Kukang
14 Bertolak Belakang
15 Upik Abu
16 Berpisah
17 Desiran Aneh
18 Rencana Ares
19 Pesona Pria Matang
20 Dia Kembali
21 Hukuman Apa?
22 Kencan Buta
23 Gadis yang Berpengaruh
24 Perubahan yang Akan Datang
25 Dorongan Aneh
26 Sudah Diputuskan
27 Aturan Tuan Muda
28 Bukan Milik Anda
29 Tekad Ares
30 Menjelajah Hutan
31 Kamu Membuatku Gila!
32 Dorongan Impulsif
33 Kepanikan Paman Yunus
34 Bibit Obsesi
35 Menghindar
36 Undangan Pesta
37 Peri Hutan
38 Aku Menginginkannya
39 Dansa Bersama
40 Sikap Tuan Muda
41 Merenggang
42 Teriakan Tanpa Suara
43 Rasa Haus yang Candu
44 Kesungguhan Ares
45 Tak Ingin Disentuh
46 Hati atau Logika?
47 Pernyataan Cinta
48 Usaha Ares
49 Penguntit yang Terpesona
50 Kebencian
51 Kebahagiaan Ares
52 Pertemuan Keluarga
53 Hyena yang Mengintai
54 Kejadian Tak Terduga
55 Tawaran Bantuan
56 Retak
57 Petir di Siang Hari
58 Kehangatan Saat Hujan
59 Terbongkar
60 Tak Bisa Pulih
61 Jangan Menangis
62 Rutinitas Baru
63 Keluarga Impian
64 Seperti Kencan?
65 Pelampiasan
66 Imbalan Bantuan
67 Simpanan?
68 Perawatan
69 Mulai Curiga
70 Kamu Sangat Cantik
71 Lipstik Merah
72 Tawa yang Menghangatkan
73 Tawa yang Hilang
74 Memanfaatkan Keadaan
75 Pengorbanan
76 Berangkat Penyembuhan
77 Ingin kabur
78 Mengambil Pembayaran
79 Kepuasan Tuan Muda (21+)
80 Tamu Tak Diundang
81 Kue Strawberry
82 Mengubah Panggilan (21+)
83 Kerinduan
84 Cara Membuatmu Bahagia (21+)
85 Kepulangan yang Tak Terduga
86 Pesuruh
Episodes

Updated 86 Episodes

1
Anak-Anak yang Malang
2
Kabur
3
Pahlawan Berseragam
4
Akankah Diusir Lagi?
5
Paman Yunus
6
Orang-Orang Baik
7
Keluarga Adhitama
8
Si Narsis
9
Teman
10
Bertemu
11
Tuan Sempurna
12
Dunia yang Berbeda
13
Kukang
14
Bertolak Belakang
15
Upik Abu
16
Berpisah
17
Desiran Aneh
18
Rencana Ares
19
Pesona Pria Matang
20
Dia Kembali
21
Hukuman Apa?
22
Kencan Buta
23
Gadis yang Berpengaruh
24
Perubahan yang Akan Datang
25
Dorongan Aneh
26
Sudah Diputuskan
27
Aturan Tuan Muda
28
Bukan Milik Anda
29
Tekad Ares
30
Menjelajah Hutan
31
Kamu Membuatku Gila!
32
Dorongan Impulsif
33
Kepanikan Paman Yunus
34
Bibit Obsesi
35
Menghindar
36
Undangan Pesta
37
Peri Hutan
38
Aku Menginginkannya
39
Dansa Bersama
40
Sikap Tuan Muda
41
Merenggang
42
Teriakan Tanpa Suara
43
Rasa Haus yang Candu
44
Kesungguhan Ares
45
Tak Ingin Disentuh
46
Hati atau Logika?
47
Pernyataan Cinta
48
Usaha Ares
49
Penguntit yang Terpesona
50
Kebencian
51
Kebahagiaan Ares
52
Pertemuan Keluarga
53
Hyena yang Mengintai
54
Kejadian Tak Terduga
55
Tawaran Bantuan
56
Retak
57
Petir di Siang Hari
58
Kehangatan Saat Hujan
59
Terbongkar
60
Tak Bisa Pulih
61
Jangan Menangis
62
Rutinitas Baru
63
Keluarga Impian
64
Seperti Kencan?
65
Pelampiasan
66
Imbalan Bantuan
67
Simpanan?
68
Perawatan
69
Mulai Curiga
70
Kamu Sangat Cantik
71
Lipstik Merah
72
Tawa yang Menghangatkan
73
Tawa yang Hilang
74
Memanfaatkan Keadaan
75
Pengorbanan
76
Berangkat Penyembuhan
77
Ingin kabur
78
Mengambil Pembayaran
79
Kepuasan Tuan Muda (21+)
80
Tamu Tak Diundang
81
Kue Strawberry
82
Mengubah Panggilan (21+)
83
Kerinduan
84
Cara Membuatmu Bahagia (21+)
85
Kepulangan yang Tak Terduga
86
Pesuruh

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!